Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Malam di Sentul mencapai titik paling kelamnya ketika badai petir kembali mengamuk di luar vila. Namun, di dalam "kuil bawah tanah" yang telah disiapkan Gunawan, suasana terasa jauh lebih menyesakkan. Ruangan itu kedap suara, berdinding batu dingin yang dilapisi kain beludru merah darah, menciptakan atmosfer yang menyeramkan sekaligus intim.
Harum dupa cendana bercampur dengan aroma minyak esensial yang tajam, memenuhi indra penciuman Mayang yang kini tengah berjuang di ambang batas kemampuannya.
Kandungan Mayang telah memasuki usia 39 minggu. Sejak pagi, kontraksi hebat telah menghantam rahimnya setiap sepuluh menit, dan pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa pembukaan sudah mencapai angka empat. Namun, alih-alih membiarkan Mayang beristirahat atau memanggil tim medis ke dalam ruangan, Gunawan justru menginginkan ritual terakhir sebelum "aset" berharganya keluar.
Mayang terbaring polos di atas meja kayu jati yang dilapisi kain sutra. Tubuhnya yang hamil besar tampak sangat kontras dengan permukaan kayu yang keras. Keringat bercucuran, mengalir dari pelipisnya hingga ke sela-sela payudaranya yang menegang.
"Nghhh... ahhh! Tuan... sakit sekali... pembukaannya sudah mulai melebar," rintih Mayang, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih.
Gunawan, yang hanya mengenakan jubah sutra terbuka, mendekat dengan mata yang berkilat oleh gairah gelap. Ia tidak mempedulikan wajah Mayang yang pucat pasi. Baginya, rasa sakit Mayang adalah pemandangan yang paling menggairahkan.
"Belum waktunya kau menyerah pada rasa sakit itu, Mayang," desis Gunawan. Tanpa peringatan, ia merangsek maju, mengklaim haknya untuk terakhir kali sebelum jalan lahir itu benar-benar tertutup oleh kepala bayi.
"Ahh! Tuan Gunawan! Sakit... jangan di sana... ahhh!" Mayang memekik, suaranya pecah menjadi rintihan yang menyayat. Setiap kali gerakan Gunawan menabrak mulut rahimnya yang sedang membuka, rasa panas seperti disayat pisau menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Rintihlah lagi, Mayang! Aku ingin anakku tahu siapa ayahnya sebelum dia melihat dunia!" Gunawan terengah-engah, gerakannya liar dan tanpa ampun.
"Nghhh... ahh... ahhh! Berhenti... Tuan... saya... saya tidak kuat lagi!" rintih Mayang dengan desahan yang penuh dengan kepedihan. Air mata meluncur di sudut matanya, namun bukan karena cinta, melainkan karena tekanan fisik yang luar biasa.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian bagi Mayang, Gunawan akhirnya mencapai puncaknya dan mengakhiri permainan kasarnya. Ia menarik diri, meninggalkan Mayang yang terkulai lemas dengan napas tersengal-sengal.
Gunawan tidak membiarkan Mayang bersantai. Ia segera mengambil tali sutra merah yang sudah disiapkan. Dengan cekatan, ia mengikat kedua tangan Mayang ke tiang kayu di atas kepala, memaksa tubuhnya tetap dalam posisi terbuka lebar. Aris menyukai ketaatan, tapi Gunawan menyukai ketidakberdayaan yang artistik.
Gunawan mengambil kursi kayu, meletakkannya tepat di depan jalan lahir Mayang, lalu duduk di sana dengan segelas wiski di tangan. Ia ingin menonton setiap inci perubahan yang terjadi.
"Sekarang, berjuanglah untukku, Mayang. Aku akan duduk di sini sampai kepalanya muncul," ujar Gunawan dingin.
Mayang mengerang, kontraksi kini datang setiap dua menit, jauh lebih kuat dan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Perutnya mengeras seperti batu. "Tuan... panggil... panggil perawat... ahhh! Saya merasa... ingin mengejan... nghhh!"
"Tidak ada perawat sampai aku melihat rambutnya, Mayang!" bentak Gunawan. "Ingat kontrak kita! Sepuluh persen saham untuk perjuangan tanpa obat bius! Sebut namaku!"
"ARISSS... eh, GUNAWAN! TUAN GUNAWANNN! AHHH!" Mayang berteriak, nyaris salah menyebut nama karena ingatannya yang tumpang tindih dengan trauma masa lalunya. Rasa sakit ini jauh lebih hebat daripada saat bersama Aris.
Gunawan menatapnya dengan pandangan lapar, menikmati setiap ekspresi penderitaan di wajah Mayang yang kini acak-acakan; rambutnya basah oleh keringat, bibirnya pecah karena digigit menahan nyeri.
Pembukaan meningkat pesat. Rasa panas di area intinya kini terasa seperti terbakar api. Mayang bisa merasakan tekanan hebat di tulang panggulnya. Tubuhnya secara alami mulai mengejan, sebuah dorongan yang tak bisa ia bendung.
"Dorong, Mayang! Dorong dan tunjukkan padaku kekuatan rahimmu!" perintah Gunawan, ia memajukan kursinya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari pusat rasa sakit Mayang.
"Nghhh... HHHHNNNGGGHHH! AHHHH!" Mayang mengejan sekuat tenaga, urat-urat di leher dan dahinya menonjol mengerikan. Matanya melotot, menatap langit-langit kuil bawah tanah yang remang.
"Lagi! Lebih kuat!"
"SAKITTT! AHGGHHH... TUANNN... NGHHH!" Mayang merintih dengan suara yang sudah hampir hilang. Area intinya meregang hingga batas maksimal, rasa perih yang murni tanpa bantuan medis apa pun membuat indranya hampir mati rasa.
Setelah perjuangan yang memakan waktu berjam-jam, diiringi teriakan dan desahan keputusasaan, akhirnya terdengar suara tangisan yang memecah kesunyian ruang bawah tanah itu. Bayi perempuan lahir dengan susah payah ke tangan Gunawan yang sudah menunggu.
Gunawan memegang bayi yang masih berlumuran darah itu, namun matanya tetap tertuju pada area intim Mayang yang kini tampak hancur dan bergetar hebat. Ia tertawa puas, sebuah tawa kemenangan yang menggema di seluruh ruangan.
"Luar biasa... Mahakarya yang indah," gumam Gunawan. Ia mendekatkan bayi itu ke arah wajah Mayang yang sudah sangat lemas. "Lihat, Mayang. Aku sangat suka melihat anakku berada di vaginamu sebelum aku mengangkatnya tadi. Pemandangan itu... adalah hal paling menggairahkan yang pernah kulihat seumur hidupku."
Mayang memejamkan matanya, napasnya dangkal dan berat. Tubuhnya terasa seperti bukan miliknya lagi. Namun, ketika mendengar kata-kata Gunawan, nuraninya yang sudah membatu justru memercikkan api keserakahan yang baru.
"Aku ingin kau melahirkan lebih banyak lagi anak untukku, Mayang. Aku akan membangunkanmu rumah yang lebih besar dari ini," ujar Gunawan dengan nada obsesif.
Mayang perlahan membuka matanya. Meski area bawahnya masih berdenyut sakit dan tubuhnya hancur, ia memaksakan sebuah senyum tipis yang dingin di bibirnya yang pucat.
"Tentu... Tuan Gunawan," bisik Mayang parau, suaranya terdengar seperti iblis yang baru bangkit. "Selama kontraknya bertambah... selama sahamku bertambah... saya akan memberikan Anda... seluruh anak yang Anda inginkan. Rasa sakit ini... sudah memiliki harganya sendiri."
Gunawan mencium kening Mayang yang basah, lalu ia menekan tombol untuk memanggil tim medis masuk guna membersihkan sisa-sisa persalinan tersebut. Mayang melihat para perawat masuk, namun pikirannya sudah melayang jauh. Ia tidak lagi memikirkan bayi yang baru lahir itu. Di kepalanya, ia sedang menghitung angka-angka saham logistik yang kini membuatnya menjadi salah satu wanita terkaya di negeri ini.
Persalinan kedua telah selesai. Mayang Puspita Sari tidak lagi merasa kesakitan; ia hanya merasa... menang. Ia telah benar-benar menjadi ibu dari sebuah ambisi, bukan dari anak-anak yang ia lahirkan.
Bersambung ....