NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18 — Peluru di Dada

Waktu tidak berhenti—ia pecah.

Dimas terjatuh berlutut, lalu tubuhnya menghantam lantai kayu dengan bunyi tumpul. Dunia berputar. Asap menari seperti kabut tebal, suara tembakan menjadi gema jauh, seolah datang dari dasar sumur. Dadanya terasa panas—bukan nyeri, melainkan tekanan yang meremas dari dalam, semakin kuat setiap detik.

Ia menatap ke bawah. Darah merembes cepat, merah gelap, membasahi kemejanya. Satu peluru. Tepat di dada.

“Napas… tarik,” gumamnya, entah kepada diri sendiri atau kepada dunia yang menolak mendengar. Udara masuk setengah, keluar setengah. Setiap tarikan terasa seperti menggesek pecahan kaca.

Di sekelilingnya, kaki-kaki berlari. “Kontak di kamar!” teriak seseorang. “Medis!” suara lain menyahut, panik namun terlatih. Sirene meraung semakin dekat, lalu menjauh—atau mungkin hanya di kepalanya.

Dimas menggeser tangan ke saku. Ponsel. Ia harus—harus—menghubungi rumah sakit. Aluna. Digo. Ia meraba, jari-jarinya licin oleh darah. Layar ponsel menyala sebentar, lalu mati. Baterai? Atau tangannya yang gemetar tak mampu menekan?

“Mas…” bibirnya bergerak, memanggil nama yang tak terdengar. “Alun…”

Bayangan melintas: Aluna kecil di halaman, tertawa mengejar kupu-kupu. Bros perak berkilau di dadanya hari itu—hadiah ayah. Kupu-kupu terbang… sayapnya tiga… lagu itu mengalun pelan di kepalanya, suara anak kecil yang rapuh dan keras kepala.

Tembakan lain meledak. Pecahan kayu beterbangan. Seseorang jatuh tak jauh darinya—anak buah Marco, atau polisi, Dimas tak tahu. Semua wajah melebur.

“Jangan tidur!” suara Pak Arif menembus kabut. Ia berlutut di sisi Dimas, tangannya menekan luka. “Dengar saya! Jangan tutup mata!”

Tekanan di dada meningkat. Dimas berusaha patuh. Ia membuka mata—atau mencoba. Langit-langit rumah tampak retak, catnya mengelupas. Rumah ini… rumah. Tempat ia pernah belajar berjalan, pernah tertawa, pernah bersembunyi dari hujan.

“Pak… Arif,” bisiknya. “Rekaman… sudah…”

“Sudah aman,” jawab Pak Arif cepat. “Kau aman. Bertahan.”

Aman. Kata itu terasa aneh. Dimas tersenyum tipis. Aman untuk siapa?

Ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh dengan bunyi kecil. Layar menyala lagi—satu notifikasi tertinggal, tak terbaca. Dimas mencoba meraih, lengannya berat, seolah terbuat dari batu. Jari-jarinya menyentuh tepi ponsel—terpeleset. Gagal.

“Alun,” gumamnya lagi. “Mas di sini.”

Darah mengalir lebih cepat. Dunia menyempit menjadi terowongan cahaya. Suara berubah jadi dengung rendah. Di kejauhan, teriakan “Letakkan senjata!” terdengar seperti bisikan angin.

Marco. Wajah itu muncul sekilas—bukan di depan, tapi di ingatan. Senyum dingin. Mata yang tak pernah menyesal. Dimas ingin marah, tapi marah memerlukan tenaga. Yang tersisa hanya lelah.

Ia teringat Digo. Kakaknya yang selalu berdiri di depan, yang mengorbankan kaki untuk menyelamatkannya. “Bang,” bisiknya, suaranya patah. “Maaf.”

Pak Arif menekan lebih kuat. “Medis sudah di jalan!”

Dimas mengangguk kecil. Ia ingin mengatakan banyak hal—tentang bros, tentang lagu, tentang kupu-kupu tiga sayap yang satu hitam dan terpotong. Tentang bagaimana trauma bisa menyamar menjadi kegilaan. Tentang bagaimana cinta bertahan bahkan ketika ingatan runtuh.

Ponsel bergetar sekali, lalu diam. Dimas tersenyum lagi—kali ini lebih lemah. “Kalau… Aluna… tanya,” katanya terputus-putus, “bilang… Mas pulang.”

“Dimas!” Pak Arif memanggil namanya, keras.

Lampu di lorong berkedip. Asap menipis. Suara tembakan berkurang—lebih teratur, lebih jarang. Seperti hujan yang mulai reda.

Dimas menutup mata sepersekian detik—lalu membukanya lagi, memaksa. “Jangan… kunci… pintu,” katanya, kata-kata itu terasa asing, mungkin bukan untuk Pak Arif. Mungkin untuk masa lalu.

Napasnya semakin dangkal. Detak jantungnya bukan lagi irama, melainkan jeda-jeda panjang yang menakutkan. Di sela-sela jeda itu, ia mendengar lagu itu sekali lagi—jernih, polos.

Kupu-kupu terbang…

Bayangan terakhir yang muncul bukan wajah Marco, bukan senjata, bukan darah. Melainkan Aluna, memegang bros perak, tersenyum kecil—bukan senyum gila, melainkan senyum anak yang akhirnya aman.

Dimas mencoba mengangkat tangan—sekadar satu isyarat. Tangannya jatuh kembali.

Gelap datang bukan sebagai ledakan, melainkan sebagai selimut.

Dan di tengah tembakan yang tersisa, satu kehidupan meredup—tanpa pesan terkirim, tanpa pelukan perpisahan—hanya niat yang selesai.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!