Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Rumah sederhana Lulu biasanya selalu tenang, hanya dihiasi suara denting sendok dan obrolan mengenai nilai-nilai sekolah yang membanggakan. Namun belakangan ini, suasana di sana berubah menjadi tegang dan penuh kecurigaan.
Malam itu, Ibu Lulu menata piring di meja makan dengan dahi berkerut. Ia melirik ke arah kamar Lulu yang pintunya tertutup rapat sejak pulang sekolah. Biasanya, Lulu akan keluar untuk membantu menyiapkan makan malam sambil bercerita tentang pelajaran Biologi yang baru ia pelajari. Tapi hari ini? Sunyi total.
"Lulu! Makan malam sudah siap!" panggil Ibunya.
Tak lama, Lulu keluar. Penampilannya membuat Ibunya terperanjat. Kacamata tebalnya tampak miring, rambutnya kusut, dan yang paling mencolok: tangannya yang biasanya bersih kini kosong tanpa buku atau alat tulis yang biasanya selalu ia bawa bahkan sampai ke meja makan.
"Kamu sakit, Lu?" tanya Ayah Lulu, meletakkan korannya. "Muka kamu pucat sekali. Dan... di mana tas sekolahmu? Kenapa Ayah lihat kamu pulang tidak membawa tas hari ini?"
Lulu tersentak, ia duduk di kursi dengan gerakan kaku. "Tas... tasnya tertinggal di loker, Yah. Lulu sengaja biar nggak berat bawa-bawa buku."
Ibu Lulu menghentikan kegiatan menyendok nasi. "Tertinggal? Sejak kapan anak Ibu yang paling rajin ini berani meninggalkan buku di sekolah? Bukannya kamu harus persiapan buat ujian akhir semester bulan Juni nanti?"
Lulu menunduk dalam, memain-mainkan nasinya tanpa nafsu makan. "Lulu sudah hafal semua materinya, Bu. Nggak perlu belajar berlebihan lagi."
"Tunggu dulu," Ayah Lulu menatap putrinya tajam, menyadari ada yang tidak beres. "Ibu tadi dapat telepon dari sekolah. Pak Guru bilang kamu sudah dua kali tidak ikut pembinaan olimpiade. Benar begitu?"
Suasana meja makan seketika membeku. Lulu merasa jantungnya berdegup kencang. Ia teringat ancaman Arlan bahwa orang-orang pinter itu "aneh" dan hanya Arlan yang bisa menerimanya.
"Lulu mengundurkan diri, Yah. Capek," jawab Lulu lirih.
BRAK!
Ayah Lulu memukul meja pelan, tapi cukup untuk membuat Lulu gemetar. "Mengundurkan diri? Itu mimpi kamu sejak SMP, Lu! Kamu bilang ingin masuk universitas lewat jalur prestasi itu. Ada apa dengan kamu? Apa ini ada hubungannya dengan laki-laki yang sering Ayah lihat mengantarmu pulang dengan mobil mewah itu?"
"Arlan orang baik, Yah! Jangan bawa-bawa dia!" Lulu tiba-tiba membentak, membela Arlan dengan nada yang belum pernah orang tuanya dengar sebelumnya.
"Arlan? Jadi namanya Arlan?" Ibu Lulu mendekati putrinya, mencoba memegang tangannya, namun Lulu menarik tangannya menjauh. "Lu, Ibu perhatikan kamu sekarang berbeda. Kamu jadi sering melamun, buku-buku catatanmu juga hilang dari meja belajar. Kamu seperti kehilangan dirimu sendiri."
"Ibu nggak paham!" Lulu berdiri, kursi makannya berdecit keras di lantai. "Dunia luar itu jahat. Temen-temen sekolah jahat. Guru-guru cuma mau manfaatin aku. Cuma Arlan yang peduli sama aku! Dia bilang aku nggak perlu jadi jenius buat dicintai!"
Lulu langsung berlari kembali ke kamarnya dan mengunci pintu, meninggalkan kedua orang tuanya dalam kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam.
Di dalam kamar, Lulu melempar dirinya ke atas kasur. Ia menangis sesenggukan, namun tangannya segera mencari ponsel di bawah bantal. Ia butuh "dosis" ketenangan dari Arlan.
Lulu: Arlan... Ayah dan Ibu marah padaku. Mereka bilang aku berubah. Aku takut...
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Arlan: Tuh kan, aku bilang juga apa. Bahkan orang tua kamu pun nggak bisa nerima kamu kalau kamu nggak berprestasi. Mereka cuma sayang sama 'nilai' kamu, bukan sama kamu. Cuma aku yang sayang kamu apa adanya, Lu. Jangan dengerin mereka.
Lulu membaca pesan itu sambil menghapus air matanya. Kata-kata Arlan seperti racun yang terasa seperti obat. Ia merasa Ayah dan Ibunya adalah "musuh" yang hanya menginginkan kepintarannya, sementara Arlan adalah "pelindung" yang mencintai jiwanya.
Sementara itu, di luar kamar, Ibu Lulu berdiri di depan pintu yang terkunci dengan perasaan hancur. Ia mencium bau asap yang samar dari baju sekolah Lulu tadi—bau abu kertas yang terbakar yang Lulu bawa dari belakang sekolah tadi siang.
"Ada yang salah, Yah," bisik Ibu Lulu pada suaminya. "Anak kita... dia bukan lagi Lulu kita. Dia seperti sedang dicuci otaknya."
Mereka tidak tahu bahwa di kalender kamar Arlan, tanggal 25 Juni sudah dilingkari dengan warna merah darah. Arlan telah berhasil menciptakan jarak tidak hanya antara Lulu dan sahabatnya, tapi juga antara Lulu dan keluarganya. Lulu kini benar-benar terisolasi, sendirian di dalam kegelapan, hanya ditemani oleh cahaya dari layar ponselnya yang menampilkan pesan-pesan palsu dari seorang Arlan Wiraguna.
Ayah Lulu tidak bisa tinggal diam. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, memikirkan perubahan drastis putrinya yang biasanya selalu bercerita tentang struktur sel atau teori fisika, kini malah meledak hanya karena satu nama. "Aku tidak suka cara anak itu menatap Lulu tempo hari saat menurunkan di depan gerbang. Tatapannya dingin, seperti tidak ada hormat sedikit pun," ujar Ayah dengan suara rendah yang penuh kecemasan.
Ibunya hanya terduduk lemas di meja makan, menatap nasi yang mendingin. "Yang paling menakutkan adalah tatapan mata Lulu, Yah. Matanya seperti kosong. Biasanya kalau kita bahas masa depan, matanya berbinar. Tadi? Dia seolah tidak peduli jika harus kehilangan beasiswanya." Sang Ibu teringat bagaimana Lulu biasanya sangat teliti menjaga seragamnya, tapi tadi ada noda hitam abu di ujung lengan bajunya—sisa-sisa dari buku catatannya yang telah hangus.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, di dalam kamar, Lulu sedang meringkuk di balik selimut. Ia menatap kalender di meja belajarnya yang sudah bersih dari buku-buku berat. Hatinya merasa sangat berdosa pada orang tuanya, namun setiap kali rasa bersalah itu muncul, suara Arlan kembali terngiang: "Mereka menuntut kamu jadi sempurna, Lu. Aku nggak."
Lulu merasa terjepit di antara dua dunia. Dunia lamanya yang penuh dengan ekspektasi tinggi dari orang tua dan guru, serta dunia baru yang ditawarkan Arlan yang terasa begitu membebaskan namun penuh rahasia. Ia tidak sadar bahwa kebebasan yang ditawarkan Arlan sebenarnya adalah cara untuk melumpuhkan kakinya agar tidak bisa lari ke mana pun.
Malam itu berakhir dengan keheningan yang menyesakkan di rumah tersebut. Sebuah tembok besar mulai terbangun antara Lulu dan kedua orang yang paling mencintainya. Sementara di tempat lain, Arlan sedang bersantai di kamarnya, tersenyum miring melihat notifikasi ponselnya. Baginya, pertengkaran Lulu dengan orang tuanya adalah kemenangan besar. Satu per satu sandaran hidup Lulu telah ia patahkan, dan kini Lulu benar-benar hanya memiliki dirinya untuk bergantung. Tanggal 25 Juni terasa semakin dekat, dan rencana Arlan berjalan jauh lebih mulus dari yang ia bayangkan