Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Ren menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, kulit sintetik kursi itu menopang dengan nyaman punggung Ren. Suara mesin pendingin ruangan di kantor AFC itu mendesing rendah, seperti nyamuk raksasa yang sedang bermeditasi.
"Lima lewat satu menit," gumamnya.
Ia mematikan monitor dengan satu sentakan telunjuk. Baginya, bunyi klik dari tombol power itu adalah suara paling merdu di dunia, jauh lebih indah dari simfoni kemenangan tim Mercenary yang sukses menjalankan misinya.
Ren berdiri, merenggangkan otot leher yang terasa seperti tumpukan kerikil kering. Di sampingnya, tumpukan dokumen administrasi masih menggunung, tapi itu masalah Ren versi besok pagi.
Ia menyambar jaket hoodie berwarna abu-abu pudar dari sandaran kursi. Baunya campuran antara detergen murah dan sisa-sisa aroma kopi instan. Di kantong celana kargonya, jemari Ren mengelus permukaan sebuah koin kecil—bukan uang, melainkan Scarstone saku yang sengaja ia simpan sebagai jimat keberuntungan.
"Misi pembersihan sektor pinggiran sudah terbuka," bisik Ren pada diri sendiri.
Ia melirik layar admin pusat di meja rekan kerjanya yang sudah pulang. Tangannya dengan lincah mengetikkan perintah di keyboard. Tanpa perlu izin atasan, ia memasukkan namanya ke dalam daftar relawan untuk Rift Kategori 1 di Distrik Luar.
Status di sistem: Otoritas Admin Terkonfirmasi.
Bagi sistem, ia hanya seorang staf pendukung yang rajin lembur. Namun bagi Ren, itu adalah kesempatan untuk melaksanakan aktivitas sampingannya tanpa gangguan.
***
Ren sampai di depan pintu apartemennya, pintu itu cukup mewah untuk sebuah apartemen tingkat menengah—cukup terawat seperti baru.
setelah merogoh kunci di kantongnya, ia membuka pintu itu. Perlahan, pemandangan dari dalam apartemen itu terlihat.
Di dalam, tidak ada barang mewah. Hanya sebuah apartemen biasa; rak sepatu yang tersusun rapi, koridor yang menghubungkan langsung ke ruang tengah dan dapur. Ruangan itu dipenuhi oleh kegelapan dan cahaya remang—tidak ada penerangan kecuali cahaya bulan yang menerangi melewati jendela.
Melihat itu, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kegelapan. langkahnya jelas, Ia meraih kepada sakelar lampu yang berada dekat dari arah pintu masuk.
Kali ini ruangan terlihat dengan jelas. Ia melangkah ke tengah ruangan.
Ren duduk bersila di lantai kayu yang mendingin. Ia menutup mata.
Ia mulai melatih fokus mentalnya. Di dalam kepalanya, ia membayangkan sebuah titik statis di tengah badai yang mengamuk. Itulah inti dari kekuatannya—atau setidaknya itu yang ia pahami. Tak melakukan apapun, sebuah kekuatan yang bergerak pasif, juga mempengaruhi realitas itu sendiri. Seolah pusat gravitasi ada padanya.
"Mari kita mulai," bisiknya.
Ia merasa seolah menjadi pusat gravitasi itu sendiri. Napasnya melambat. Setiap detak jantungnya terasa seperti dentuman drum di ruangan hampa.
Kekuatan mental teresap, melelahkan, seperti mencoba menahan air terjun dengan telapak tangan. Namun, pertahanan fisiknya—selubung pasif yang melindunginya—tetap kokoh tanpa perlu usaha sedikit pun. Itulah anomali yang ia miliki.
Ia membuka mata setelah tiga puluh menit. Peluh membasahi pelipisnya.
"Cukup untuk pemanasan," ucapnya sambil bangkit.
Ia mengganti kemeja kantornya dengan kaos hitam polos, memakai hoodie, dan memastikan tudungnya menutupi separuh wajah. Malam ini, Distrik Luar Qilin sedang berkabut. Aroma aspal basah dan besi berkarat menusuk indra penciumannya saat ia melompat turun dari balkon lantai tujuh.
Ia mendarat tanpa suara. Beton di bawah kakinya bahkan tidak retak.