Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Sejak hari ibunya datang dan semuanya terasa saling terhubung, ada satu kebiasaan baru yang tanpa sadar terbentuk.
Setiap pulang sekolah, Dira nggak langsung pulang ke rumah peninggalan kakek.
Dia lebih sering ikut Kenzo ke kantor pusat Bagaskara Group.
Alasannya sederhana.
“Aku cuma nemenin Abang ,” katanya tiap ditanya.
Padahal Kenzo tahu, 70% alasan itu karena seseorang.
Awalnya Dira cuma duduk di sofa lobi, main HP, atau ngerjain PR sambil ngeluh.
“Tugas Matematika ini kejam banget,” gerutunya. “Lebih kejam dari tatapan Om Elvan.”
Kenzo cuma menggeleng. “Jangan ribut.”
Hari pertama, Dira ketemu Elvan di lift.
Hari kedua, di lorong.
Hari ketiga, tanpa sengaja berpapasan di pantry.
Seolah-olah gedung besar itu mengecil tiap kali mereka ada di dalamnya bersamaan.
“Masih suka tidur di sofa?” tanya Elvan suatu sore, nadanya datar seperti biasa.
Dira mendengus. “Sekarang nggak. Aku upgrade jadi duduk elegan om .”
Elvan melirik buku di tangan Dira. “Belajar?”
“Iya. Biar nggak dibilang cuma bisa ribut.”
“Bagus,” jawabnya singkat.
Jawaban singkat itu anehnya bikin Dira senyum sendiri.
Lama-lama, rutinitas itu terasa biasa.
Dira hafal jam meeting Elvan.
Hafal langkah kakinya di koridor.
Hafal cara dia berdiri diam sambil baca laporan.
Kadang kalau Elvan keluar ruangan dengan wajah serius, Dira refleks nyeletuk,
“Om , jangan lupa ya ketawa hari ini.”
Elvan nggak pernah jawab panjang.
Tapi suatu kali dia bilang pelan,
“Kamu berisik.”
Dira nyengir. “Iya, Om .”
“…tapi gedung ini tidak terlalu sepi kalau kamu ada.”
Dira langsung bengong lima detik.
Kenzo yang berdiri di sampingnya cuma batuk kecil. “Ahem.”
Suatu sore, hujan turun deras. Kenzo masih di dalam ruangan HR. Dira berdiri di dekat jendela besar kantor, melihat kota yang basah.
“Elvan,” panggilnya refleks, lupa pakai “Om ”.
Elvan berhenti.
Dira langsung sadar dan panik. “Eh—maksud saya—Om —”
“Tidak apa,” katanya.
Dira menatap hujan. “Gedung ini tinggi banget ya. Tapi kok kadang terasa sepi.”
Elvan berdiri di sampingnya, menjaga jarak wajar.
“Sepi itu relatif.”
Dira mengangguk pelan. “Iya sih. Tapi sekarang nggak terlalu.”
Elvan tidak menjawab. Tapi dia tidak pergi juga.
Dan tanpa mereka sadari, rutinitas kecil itu mulai terasa seperti sesuatu yang dinanti.
Setiap hari sepulang sekolah, Dira datang dengan energi ributnya.
Setiap hari juga, Elvan yang dingin itu sedikit demi sedikit terbiasa.
Bukan berubah drastis.
Bukan jadi orang berbeda.
Tapi senyumnya yang dulu langka, sekarang muncul sedikit lebih sering.
Dan di tengah gedung besar yang penuh angka dan rapat, ada satu suara yang selalu terdengar berbeda.
Suara Dira.
***
Hari ini terasa aneh.
Di lantai dua puluh tiga Bagaskara Group semuanya berjalan seperti biasa. Rapat tepat waktu. Laporan masuk sesuai jadwal. Tidak ada kesalahan angka.
Tapi tetap… ada yang berbeda.
Elvan keluar dari ruang meeting sore itu dan refleks melirik ke arah sofa di ujung lorong.
Kosong.
Tidak ada tas sekolah bersandar sembarangan.
Tidak ada suara protes tentang PR.
Tidak ada kalimat, “Om , hari ini jangan lupa senyum.”
Sunyi.
Kenzo lewat membawa map.
“Elvan,” sapa Kenzo singkat.
“Elvan,” balasnya.
Hening sebentar.
“Dira tidak ikut?” tanya Elvan akhirnya, nada suaranya tetap datar.
Kenzo sedikit terkejut. “Oh… nggak. Dia ada kegiatan sekolah. Lomba debat. Pulangnya sore.”
“Elok,” jawab Elvan singkat.
Tapi setelah Kenzo pergi, Elvan berdiri lebih lama dari biasanya di koridor itu.
Sepi memang relatif.
Dan hari itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Bersambung........