Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Enam belas tahun yang lalu, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama oleh kedua orang tuanya “Brian Narendra.” Ia lahir di Jakarta, ibu kota Indonesia, pada tanggal delapan Agustus.
Ibunya yang melahirkan dirinya bernama Evelyn Grace Whittaker, yang saat itu berstatus sebagai CEO perusahaan Zaasla cabang Singapura. Sedangkan ayahnya, Kevin Kusuma, merupakan wakilnya.
Namun, masalah besar muncul—siapakah yang akan merawat Brian? Kedua orang tuanya harus sibuk bekerja, sering ke luar negeri untuk urusan perusahaan. Tentu saja, mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk merawat Brian. Karena itu, Brian akhirnya dititipkan kepada Hannah, sahabat sekaligus orang kepercayaan Evelyn.
Hannah Laurent bukan hanya sahabat biasa, melainkan sahabat yang sudah seperti saudara. Evelyn sendiri dibesarkan oleh orang tua Hannah, karena kedua orang tua Evelyn sangat sibuk pada waktu itu. Mereka tumbuh bersama sejak bayi hingga dewasa. Setelah dewasa, Evelyn belajar hidup mandiri hingga akhirnya memegang kendali penuh atas perusahaan Zaasla. Maka dari itu, Hannah dipercaya sepenuhnya untuk merawat dan membesarkan Brian di Indonesia, dengan alasan lingkungan yang nyaman karena budayanya.
Brian pun tinggal berdua dengan Hannah di Jakarta. Ia dirawat dan dibesarkan dengan sepenuh hati. Sementara itu, kedua orang tuanya hanya sesekali menjenguknya, meski sebentar. Evelyn sangat sedih karena putranya tidak sempat merasakan air susu ibu kandungnya sendiri, dan justru tumbuh di pangkuan orang lain.
Brian tumbuh menjadi anak yang cerdas, berkat didikan Hannah. Ia cepat tanggap, teliti, bijak, dan memiliki kepribadian yang matang meski masih berusia balita. Namun justru di sanalah awal kehancuran masa kecilnya dimulai.
Sejak kecil, Brian tidak memiliki teman, bahkan ketika ia masuk taman kanak-kanak. Alasannya pun membingungkan—hanya karena dirinya memiliki pola pikir dan kepribadian yang berbeda dengan anak-anak seusianya.
Brian jarang membuang waktu untuk bermain atau mengobrol hal-hal yang dianggapnya tidak penting. Ia lebih memilih membaca buku atau belajar. Setiap kali ada yang ingin mendekatinya, Brian selalu menolak karena ingin melakukan kegiatannya sendiri.
Anak seusianya di sekitarnya mulai menjauhinya, merasa Brian sulit untuk diajak berteman. Mereka menganggap ia tidak bisa diajak bicara, terlalu berbeda. Akibatnya, Brian tumbuh dalam kesepian. Tidak ada yang ingin menjadi temannya, bahkan tetangganya pun jarang menyapa atau tersenyum padanya. Beberapa orang bahkan menyarankan Hannah agar “membuat Brian jadi anak normal seperti yang lain.”
Hannah sempat khawatir. Ia bertanya pada Brian mengapa tidak memiliki teman. Sebagai pengasuh yang menyayangi anak asuhnya, Hannah ingin melihat Brian bahagia bersama anak-anak seusianya.
Brian menjelaskan alasannya dengan hati-hati, takut membuat Hannah marah. Namun Hannah justru tersenyum dan berkata, “Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan. Cukup jadi dirimu sendiri, dan bersenang-senanglah dengan caramu sendiri. Carilah teman yang menurutmu cocok denganmu.”
Ucapan itu melekat di hati Brian. Ia memutuskan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Setelah lulus taman kanak-kanak, Brian melanjutkan ke sekolah dasar. Namun keadaannya tetap sama—ia tidak memiliki teman. Ia selalu menyendiri, jarang berbicara dengan siapa pun. Guru-guru sempat berusaha membantunya agar lebih terbuka, tetapi Brian tetap bersikeras bahwa ia akan menemukan teman dengan caranya sendiri.
Namun, Brian membuktikan dirinya dengan cara lain. Ia meraih peringkat pertama sejak kelas satu sekolah dasar. Banyak yang iri padanya—bagaimana bisa anak pendiam sepertinya selalu menjadi yang terbaik? Tapi Brian tidak peduli. Ia hanya melakukan apa yang ia sukai, tanpa mengharapkan pengakuan siapa pun.
Hingga suatu hari, hidupnya mulai berubah warna. Saat duduk di kelas lima sekolah dasar, Brian bertemu dengan seorang anak perempuan yang kemudian mengubah segalanya.
Hari itu, Brian tengah serius mengerjakan tugas ketika tanpa sengaja penghapusnya jatuh ke lantai. Ia hendak mengambilnya, tetapi seseorang mendahuluinya. Anak perempuan di sebelah kirinya memungut penghapus itu dan menyerahkannya dengan senyum cerah.
“Ini punya kamu? Nih, aku ambilin,” katanya santai sambil menyerahkan penghapus itu.
Brian sedikit kaget. “M-makasih,” jawabnya kaku.
“Nama kamu Brian, kan?” tanyanya lagi.
“Iya. Memangnya kenapa?” jawab Brian singkat.
“Cuma nanya aja. Aku penasaran soalnya kamu jarang ngobrol sama orang lain di kelas,” katanya sambil tersenyum. “Memangnya kamu nggak punya teman?”
“Aku memang nggak punya teman,” jawab Brian datar.
“Eh? Kenapa?”
“Orang lain bilang aku nggak asik, nggak pantas ditemani,” jawab Brian lagi.
Anak perempuan itu tampak sedih. “Ih, kok jahat banget sih mereka? Cuma karena kamu beda, bukan berarti kamu buruk.”
Ia tersenyum lembut. “Malahan menurutku kamu keren, tahu.”
Brian mengernyit. “Keren?”
“Karena kamu berani jadi diri sendiri! Kamu nggak maksain diri buat nyenengin orang lain. Itu hebat, Brian.”
Brian terdiam. Ia tidak terbiasa mendengar pujian semacam itu.
“Lagian, gimana bisa mereka bilang kamu nggak asik, padahal mereka aja belum kenal kamu?” lanjutnya. “Mereka nggak tahu apa-apa soal kamu, jadi mereka nggak berhak menilai.”
Brian berkata pelan, “Itu berarti aku aneh, dong? Soalnya biasanya seseorang punya teman, minimal satu.”
Tapi anak itu tersenyum manis. “Aneh itu bukan sesuatu yang buruk, kok! Menyendiri juga nggak salah. Orang yang menyendiri memang kelihatannya kesepian, tapi kadang justru hati mereka yang paling luas.”
Brian menatapnya heran. “Kenapa kamu ngomong sejauh itu?”
Anak itu menutup mata sejenak, lalu berkata pelan, “Karena aku pernah ngerasain hal yang sama. Aku tahu rasanya sendirian dan nggak dianggap siapa pun.”
Ia kemudian menirukan ucapan pamannya, “Pamanku pernah bilang, ‘Kamu cukup. Nggak perlu nyenengin siapa pun. Lakuin aja hal yang kamu suka.’”
Ucapan itu menenangkan hati Brian.
“Dan mungkin,” lanjut gadis itu dengan senyum lembut, “nggak ada salahnya kalau aku jadi orang itu buat kamu.”
Brian mengerti maksudnya. “Itu berarti…”
Gadis itu memejamkan mata sambil tersenyum. “Brian, kamu mau nggak jadi temanku?”
Brian terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku nggak tahu gimana caranya punya teman. Aku nggak pernah punya sebelumnya.”
“Kan udah kubilang, cukup jadi diri kamu sendiri aja!” jawab gadis itu ceria.
“Bagaimana kalau aku membosankan?” tanya Brian ragu.
Gadis itu kembali tersenyum. “Aku baru kenal kamu, jadi aku belum bisa menilai. ‘Jangan menilai buku dari sampulnya,’ kan?”
Brian tertegun. Dalam dirinya muncul perasaan baru—nyaman, hangat, dan asing. Gadis ini berbeda. Dia mengerti dirinya.
Namanya Kayla Sabrina Putri, murid pindahan yang menempati peringkat kedua di bawah Brian. Sejak lama ia ingin berbicara dengan Brian karena penasaran, tapi selalu terhalang oleh anak-anak lain yang menyukainya. Namun kali ini, ia berhasil.
“Sepertinya nggak ada salahnya berteman dengan dia,” batin Brian.
Brian pun mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, aku akan jadi temanmu.”
Kayla tersenyum lebar. “Ya!” jawabnya penuh semangat.
Sejak itu, hari-hari Brian mulai berwarna. Mereka sering mengobrol, belajar, dan makan siang bersama. Kayla sering bercerita panjang lebar, sementara Brian hanya mendengarkan dengan sabar. Kadang, di tengah pelajaran, Kayla berbisik, “Brian, Brian.”
Brian menoleh, dan Kayla menunjuk ke arah guru yang sedang mengajar—seorang guru botak, dan seekor kupu-kupu bertengger di kepalanya. Kayla menahan tawa, sementara Brian hanya menatap bingung, tak paham kenapa ia tertawa begitu keras.
Mereka menjadi pasangan teman yang unik—Brian yang pendiam dan cerdas, Kayla yang ceria dan mudah bergaul. Namun, perhatian banyak orang kepada mereka justru menimbulkan masalah.
Suatu hari, saat Brian pulang sendirian, ia diantar oleh tujuh siswa laki-laki di sebuah gang kecil, dengan iming-iming bahwa mereka ingin berteman dengannya. Tentu saja Brian percaya dan menginginkan lebih banyak teman. Ia merasa sangat senang.
“Lu deket sama si Kayla, kan?” kata salah satunya dengan tatapan tajam.
Brian menjawab datar, “Ya, kenapa?”
“Kenapa? Karena gua nggak seneng liat lu deket sama dia!” seru anak itu dengan nada marah.
“Kenapa lu bisa nggak seneng?”
“Karena gua suka sama dia! Dan gua nggak suka kalo ada cowok lain deketin dia!” ujarnya sambil menatap Brian dari dekat. “Lu siapa, hah? Anak siapa?”
“Lu pacarnya?” tanya Brian tenang.
“Belum! Tapi dia pasti bakal suka sama gua. Gua ganteng, kaya, terkenal. Lu siapa coba?!” ujarnya sambil tertawa jahat.
Brian memilih diam. Ia tahu, bicara tidak akan mengubah apa pun.
“Udah lah, langsung aja, bang,” kata salah satu dari mereka.
Tanpa peringatan, mereka memukuli Brian bersama-sama. Tujuh orang melawan satu. Brian tak bisa melawan. Ia hanya bisa menahan rasa sakit, tubuhnya lemah, kesadarannya perlahan memudar. Dalam benaknya, ia sempat bertanya, “Apakah ini karena aku mencoba punya teman?”
Sebelum semuanya gelap, ia sempat melihat Kayla berlari ke arahnya.
“Brian!” teriaknya.
Kayla menjerit saat melihat wajah Brian penuh luka dan dar*h. Ia gemetar, muntah, lalu pingsan di tempat.
Keduanya akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Berita itu membuat kedua orang tua Brian segera datang dari luar negeri. Mereka sangat terpukul. Kevin, ayah Brian, bahkan hampir kehilangan kendali. Ia mendatangi keluarga pelaku dengan amarah membara, mengancam akan membawa semuanya ke pengadilan.
Namun, ketika Brian sadar, ia menghentikan ayahnya. “Aku baik-baik saja. Jangan perpanjang masalah ini,” katanya lemah.
Kevin ingin melawan, tapi akhirnya menyerah setelah melihat mata putranya yang tulus. Evelyn, ibunya, lalu menyarankan agar Brian pindah ke Amerika Serikat bersama mereka.
“Ibu dan Ayah khawatir padamu, Brian. Kami hanya ingin kamu hidup damai dan bahagia.”
Brian sempat ragu, tapi akhirnya setuju. Sebelum pergi, ia memutuskan untuk menjenguk Kayla yang juga dirawat di rumah sakit yang sama. Namun saat tiba, Kayla masih tak sadarkan diri. Brian hanya bisa memandangi dari pintu masuk.
“Kayla didiagnosis menderita penyakit jantung sejak dua tahun lalu,” kata ayahnya lirih. “Ia pingsan karena terkena serangan jantung setelah melihat keadaanmu.”
Brian terdiam, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia ingin berpamitan, tapi tak sanggup membangunkan gadis itu. Maka, ia hanya menitipkan pesan kepada keluarga Kayla dan meminta maaf.
“Tidak apa-apa,” kata orang tua Kayla lembut. “Kamu teman baiknya Kayla. Ini bukan salahmu. Nanti kami sampaikan ke dia.”
Brian menunduk. “Terima kasih.”
Dengan berat hati, ia meninggalkan rumah sakit, meninggalkan tanah airnya, dan juga satu-satunya teman yang pernah membuatnya merasa hidup.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Sudah dua hari Brian tidak masuk sekolah. Lena, yang biasanya duduk di sampingnya, tak bisa menyembunyikan rasa cemas. Menurut William, Brian sedang sakit, namun tak ada penjelasan lebih lanjut ketika Lena mencoba menggali informasi.
Saat jam istirahat baru saja dimulai, Lena akhirnya memberanikan diri.
"John, ada yang ingin aku tanyakan," ujarnya.
John menoleh ke arahnya. "Ada apa?"
"Aku penasaran… sebenarnya apa yang terjadi pada Brian?" tanya Lena, nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.
John terdiam sejenak, lalu menatap Lena dengan ekspresi datar. "Maaf, tapi aku tidak tahu."
"Jangan bohongi aku," kata Lena tegas. "Kamu teman dekatnya. Tidak mungkin kamu setenang itu saat dia tidak ada di sekolah."
Wajah John berubah murung. Kekhawatiran di matanya bahkan tampak lebih dalam dibanding Lena.
"Brian dirawat di rumah sakit," ucapnya akhirnya, datar namun berat.
"Eh…?" Lena terkejut.
Sepulang sekolah, Lena ditemani John langsung menuju rumah sakit tempat Brian dirawat.
"Kenapa Brian bisa sampai dirawat di rumah sakit?" tanya Lena sepanjang jalan, wajahnya masih tampak cemas.
"Dia koma," jawab John singkat. "Korban pengeroyokan."
Langkah Lena terhenti sejenak. "Siapa pelakunya?"
"Rafael," jawab John santai, meski raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan.
"Eh…?" Lena semakin terkejut. Ia jelas tidak menyangka nama itu.
Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju bagian admisi dan meminta izin untuk menjenguk Brian.
"Wali pasien bernama Brian hanya mengizinkan beberapa nama untuk menjenguk," ujar seorang petugas wanita.
"Nama saya John, dan ini Lena," jawab John.
"Boleh lihat kartu identitas kalian?"
Keduanya menunjukkan kartu identitas sekolah. Setelah mencocokkan data, petugas itu mengangguk.
"Kalian boleh masuk, tapi hanya lima belas menit."
Lena mengangguk pelan. Mereka pun segera menuju ruang rawat Brian.
Di dalam ruangan itu, ternyata sudah ada Amayah. Ia duduk di sebuah kursi di samping ranjang Brian, menunduk, sementara Brian terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat medis terpasang.
Aura kesedihan memenuhi ruangan, seolah bersumber dari Amayah seorang diri.
"Itu… Amayah, ya?" tanya Lena pelan, ragu.
"Ya," jawab John singkat.
Di sisi lain, air mata Amayah jatuh perlahan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah menghantam pikirannya tanpa henti. Meski ia tahu apa yang terjadi pada Brian bukan kesalahannya, Amayah tetap merasa telah gagal melindunginya.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Amayah tersentak dan cepat-cepat mengusap air matanya. Ia menoleh, lalu terdiam melihat Lena dan John berdiri di dekat pintu.
"Amayah…" panggil Lena pelan.
Amayah berdiri, mengenakan kembali jaketnya, lalu meraih tas sekolahnya. Ia berniat pergi. Keberadaan Lena di ruangan itu membuat hatinya kembali dipenuhi perasaan yang tak ingin ia hadapi.
Ekspresinya murung. Kebencian yang lama terpendam kembali muncul. Ia mengepalkan tangan dan melangkah menuju pintu.
Namun sebelum itu, Lena meraih pergelangan tangannya.
"Tunggu, Amayah," katanya.
Amayah tidak menoleh. Ia mencoba melepaskan genggaman itu, namun Lena memegangnya erat.
"Lepaskan," kata Amayah datar.
"Tidak," jawab Lena. "Aku ingin bicara denganmu…"
Bersambung.
semangat terus bang!!!