Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Tungku Tiga Alam dan Puasa Mutih
Rumah Joglo itu kini bukan lagi sekadar tempat tinggal. Ia telah berubah menjadi benteng pertahanan spiritual, dan dapurnya adalah ruang komando pusat.
Seno meletakkan dua bahan legendaris itu di atas meja kayu jati yang sudah dialasi kain putih bersih.
Di sisi kiri: Bunga Wijayakusuma yang dibungkus sutra. Meski sudah dipetik, bunga itu tidak layu. Kelopaknya masih putih bersinar, memancarkan hawa hangat yang membuat udara di sekitarnya bergetar.
Di sisi kanan: Bambu berisi Air Panguripan. Bambu itu terasa dingin sedingin es, dan jika telinga ditempelkan ke dinding bambunya, terdengar suara deburan ombak samar.
Api (Bunga) dan Air (Samudra). Dua elemen yang bertolak belakang.
Alya berdiri di seberang meja, masih mengenakan pakaian basah yang mulai kering di badan, meninggalkan rasa lengket garam yang gatal. Gulo duduk di atas lemari, menatap kedua bahan itu dengan takjub bercampur takut, ekornya melilit leher toples kerupuk.
"Jadi..." Alya memecah keheningan sakral itu. "Kita mau masak apa dengan dua benda ajaib ini, Pak? Sup Bunga? Sayur Asem Laut?"
Seno mengambil papan tulisnya. Wajahnya sangat serius, tidak ada jejak canda sedikitpun.
BUBUR SURO SAMUDRA LANGIT.
"Bubur Suro?" Alya mengernyit. "Bubur yang biasa dibagiin pas Tahun Baru Islam itu? Yang isinya kacang, perkedel, sama telur dadar?"
Seno mengangguk, lalu menulis lagi.
TAPI INI BUKAN BUBUR BIASA. INI ADALAH SIMBOL KEHIDUPAN. BUBUR ADALAH MAKANAN PERTAMA MANUSIA SAAT LAHIR (BAYI) DAN MAKANAN TERAKHIR SAAT SAKIT ATAU TUA. IA LEMBUT TAPI MENGHIDUPKAN.
Seno menjelaskan filosofinya. Sang Penagih adalah entitas keputusasaan. Dia tidak butuh makanan yang "enak" di lidah karena dia tidak punya lidah fisik. Dia butuh makanan yang mengingatkannya pada Siklus Kehidupan. Bahwa segala sesuatu yang keras akan melunak, dan segala sesuatu yang mati akan hidup kembali.
Untuk memasak bubur ini, berasnya bukan beras biasa. Seno mengeluarkan kantong kain beludru berisi beras yang warnanya tidak putih, tidak merah, tidak hitam. Warnanya Emas Pucat.
Beras Pari Alang. Beras dari padi liar yang tumbuh di tengah hutan larangan, yang tidak pernah disentuh pupuk kimia, hanya minum air hujan dan sinar matahari.
"Oke. Kapan kita mulai masak?" tanya Alya, menyingsingkan lengan bajunya. "Saya siap ngaduk."
Seno menggeleng tegas. Dia menunjuk Alya, lalu menunjuk kalender.
BELUM. BADANMU MASIH KOTOR. PIKIRANMU MASIH BISING. KALAU KAMU MENYENTUH PANCI DENGAN KONDISI SEKARANG, MASAKANNYA AKAN BASI DALAM SEDETIK.
MULAI HARI INI SAMPAI PURNAMA (7 HARI LAGI), KITA HARUS 'PUASA MUTIH'.
Alya melongo. "Puasa Mutih? Yang cuma boleh makan nasi putih sama air putih doang? Nggak boleh garem? Nggak boleh gula?"
Seno mengangguk.
TANPA RASA. UNTUK MENAJAMKAN RASA BATIN. KITA HARUS MENGOSONGKAN DIRI AGAR BISA MENGISI MASAKAN INI DENGAN ENERGI MURNI.
Alya lemas membayangkannya. Seminggu makan nasi tawar? Gulo di atas lemari tertawa mengejek sambil memakan gula jawa dengan provokatif. Nyam nyam.
"Gulo nggak puasa?" protes Alya.
Seno menatap Gulo tajam. Gulo langsung berhenti mengunyah, menyembunyikan gula jawanya di balik punggung.
GULO TUGASNYA MENJAGA API. DIA PERI HUTAN, DIA TIDAK PERLU PUASA. TAPI KAMU MANUSIA. KAMU WADAHNYA.
Alya menghela napas panjang. "Baiklah. Demi hidup. Demi Pak Seno. Nasi tawar, here I come."
Hari ke-1 sampai ke-3 Puasa Mutih adalah neraka duniawi bagi Alya.
Lidahnya terasa hambar. Kepalanya pusing. Perutnya kembung. Setiap kali melihat Gulo makan pisang goreng (yang dibelinya sendiri di pasar pakai uang curian—atau entah dapat dari mana), Alya ingin menangis.
Tapi Seno menjalaninya dengan tenang. Dia bahkan tidak makan nasi. Dia Ngeblow—hanya minum air putih.
Pada malam ke-4, proses memasak dimulai.
Seno tidak menggunakan kompor gas atau anglo tanah liat biasa. Dia mengeluarkan Tungku Tiga Kaki yang terbuat dari batu andesit (batu candi).
Kayu bakarnya adalah Kayu Asem (Tamarind) yang sudah tua. Kayu ini menghasilkan panas yang stabil dan tahan lama, serta abunya bisa menetralkan racun.
Api dinyalakan. Bukan dengan korek api, tapi dengan gesekan dua batu api kuno.
Crak... crak... Wush.
Api menyala biru.
Seno meletakkan Kendi Tanah Liat Besar di atas tungku. Kendi itu bernama Genthong Kyai Plered (versi mininya).
Langkah pertama: Penyatuan Air.
Seno menuangkan air biasa ke dalam kendi sebagai dasar. Lalu, dengan gerakan seremonial, dia membuka bambu Air Panguripan.
Dia menuangkan air tawar dari dasar samudra itu.
Tess... tess... tess...
Saat air itu menyentuh dasar kendi yang panas, tidak terdengar suara mendesis cesss. Melainkan suara dengung.
Huuuunggggg....
Suara itu seperti nyanyian paus di dalam laut dalam. Kendi itu bergetar. Air di dalamnya berputar sendiri membentuk pusaran kecil, padahal belum diaduk.
Langkah kedua: Beras Emas.
Seno memasukkan segenggam beras Pari Alang.
Cemplung.
Air mendadak tenang. Beras itu tenggelam, lalu perlahan mengapung kembali, bersinar di dalam air yang mulai mendidih.
Langkah ketiga: Sang Bunga.
Ini bagian tersulit.
Seno membuka bungkusan sutra Bunga Wijayakusuma. Bunga itu masih segar bugar.
Seno tidak memotongnya. Dia memasukkannya utuh—kelopak, putik, benang sari—ke dalam kendi yang mendidih itu.
Reaksinya instan dan keras.
DUAR! (Suara letupan kecil).
Tutup kendi terlempar ke udara (ditangkap dengan sigap oleh Gulo).
Asap putih tebal keluar dari kendi. Baunya harum semerbak, tapi bercampur dengan bau ozon (bau petir).
Air di dalam kendi bergejolak liar. Bunga Wijayakusuma (Elemen Langit/Api Putih) bertarung melawan Air Panguripan (Elemen Laut/Air Dingin). Mereka menolak untuk bersatu.
Kendi itu berguncang hebat di atas tungku. Batu tungku mulai retak.
Seno memegang kedua sisi kendi dengan tangan telanjang (yang sudah dialiri tenaga dalam). Wajahnya merah padam menahan panas dan getaran. Urat-urat di lehernya menonjol.
Dia mencoba memaksa kedua elemen itu untuk kawin.
Tapi energinya terlalu besar. Seno sendirian tidak kuat.
Kendi itu akan meledak. Jika meledak, rumah Joglo ini akan hancur lebur seperti terkena bom.
"PAK!" Alya berteriak dari sudut dapur.
Seno menoleh, matanya melotot, memberi isyarat: BANTU!
Alya berlari mendekat. Dia tidak punya tenaga dalam. Dia tidak punya ilmu kebal.
"Saya harus ngapain?!"
Seno menunjuk sutil kayu Kayu Setigi (kayu bertuah yang tenggelam di air) yang sudah disiapkan.
ADUK! ADUK DENGAN ARAH LAWAN JARUM JAM! LAWAN ARUSNYA!
Alya menyambar sutil itu. Dia memasukkannya ke dalam kendi yang bergejolak.
Rasanya seperti mengaduk semen basah yang sedang gempa bumi. Berat sekali. Sutil itu serasa mau terlempar dari tangannya.
"Aaaaaaa!" Alya berteriak, mengerahkan seluruh tenaga kurusnya yang lemas karena puasa mutih.
Dia memutar sutil itu ke kiri. Melawan putaran air.
Benturan energi terjadi. Tangan Alya terasa panas, menjalar sampai ke bahu. Rasa sakit yang luar biasa.
Tapi Alya tidak melepaskannya.
Dia teringat rasa lapar puasa mutihnya. Rasa hambar nasi putih.
Kekosongan itu... ternyata berguna sekarang.
Karena tubuh Alya "kosong" (bersih dari rasa duniawi), dia menjadi Grounding (penalur petir) yang sempurna. Energi liar dari kendi itu mengalir lewat sutil, masuk ke tubuh Alya, lalu dibuang ke tanah lewat kaki telanjangnya.
Alya menjadi kabel penangkal petir hidup.
"Terus... terus..." Alya menggeretakkan gigi.
Perlahan, gejolak di dalam kendi mereda.
Warna air yang tadinya bening (air) dan putih (bunga), mulai menyatu. Beras Pari Alang mulai hancur dan mengental.
Cairan itu berubah warna menjadi Putih Mutiara yang berkilauan.
Seno melepaskan pegangannya dari kendi. Dia ambruk terduduk di lantai, napasnya habis.
Alya masih mengaduk pelan, memastikan adonan stabil.
Baunya...
Tidak ada bau bubur ayam. Tidak ada bau bumbu.
Baunya adalah bau Hening.
Bau udara pagi hari di puncak gunung setelah badai malam berlalu. Bau yang membuat siapa saja yang menciumnya ingin menangis haru.
Seno menatap Alya dengan bangga.
Puasa Mutih gadis itu berhasil. Ketulusannya telah menjadi "Bumbu Penyeimbang" yang menyatukan Langit dan Laut.
Seno menulis di lantai berdebu dengan jarinya:
TAHAP KRITIS SELESAI. SEKARANG KITA HANYA PERLU MENJAGA API INI TETAP MENYALA KECIL SELAMA 3 HARI 3 MALAM SAMPAI PURNAMA. TIDAK BOLEH MATI SEDETIKPUN.
Alya merosot duduk di samping tungku, sutil masih di tangan.
"Tiga hari lagi?" desahnya. "Gila. Bapak aja yang jaga shift malem ya. Saya ngantuk."
Gulo melompat turun dari lemari. Dia membawa kipas sate dari anyaman bambu. Dia duduk di depan tungku dengan gaya serius.
Dia menepuk dadanya sendiri.
Serahkan pada Gulo.
Seno tersenyum lemah.
Tim dapur ini sudah solid.
Malam itu, mereka tidur bergantian di dapur. Tidak ada yang berani meninggalkan "Bayi Ajaib" di dalam kendi itu sendirian.
Di luar rumah, bulan semakin bulat. Sinar peraknya mulai menyinari genteng-genteng Kotagede.
Dan di suatu tempat di dimensi lain, Sang Penagih sedang mengasah garpu dan pisaunya, bersiap untuk jamuan makan malam yang akan menentukan nasib jiwa Seno.
Namun, ada satu masalah yang luput dari perhatian mereka.
Bunga Wijayakusuma yang dimasak itu... aromanya tidak hanya tercium di dapur.
Aromanya menembus dimensi.
Dan aroma itu mulai mengundang makhluk-makhluk kelaparan lainnya. Bukan hantu biasa. Tapi Raja-Raja Siluman yang mencium bau keabadian.
Mereka mulai bergerak menuju rumah Joglo.
Malam Purnama nanti tidak akan menjadi makan malam privat.
Itu akan menjadi Pesta Pora Perebutan Makanan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.