NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berharap Romantis

Sapporo

Setelah memilih pakaian segera Rio membayar belanjaan mereka dan meninggalkan toko untuk mencari hotel.

"Oke kita istirahat dulu, sampai nanti malam menikmati indahnya Sapporo di malam hari," ujar Rio saat berdiri di depan pintu kamar hotel.

"Oke dan terima kasih untuk traktir pakaian ini, ya," ujar Aruna tersenyum sambil mengangkat paper bag yang berisi pakaian tidur serta satu setel pakaian resmi dan tak lupa tadi secara diam-diam mengambil pula pakaian dalam.

"Kembali kasih ..." ujar Rio bercanda lalu masuk ke kamar.

Begitu juga dengan Aruna memasuki kamar pula dan mereka menempati kamar hotel yang berhadapan.

Aruna tertegun sejenak di depan cermin rias yang kosong. Menatap wajahnya di cermin, tapi sungguh pikiran dan perasaannya bukan pada kecantikannya, namun pada kesempatan bisa berdua dengan seorang Rio yang hampir empat tahun lalu terpisah darinya, setelah diam-diam naksir hampir tiga tahun semasa menjadi teman sekelas.

Rio yang lebih banyak diam serta terkenal kutu buku sangat sulit tergoda oleh senyuman manis serta wajah cantiknya.

Selain main basket serta ke perpustakaan hampir tak pernah melihat Rio yang kalah itu masih usia remaja, melakukan yang lain diluar kelas.

Saat istirahat selain makan di kantin Rio akan kembali ke kelas untuk membuka buku pelajaran, mengulang kembali apa yang telah diajarkan guru mereka.

Pokoknya tidak ada hari tanpa buku. Itulah Rio si bintang kelas. Barulah sekarang dia mengerti jika sikap serius Rio saat sekolah dulu karena di pundaknya telah dipersiapkan sebuah beban untuk menjaga dan meneruskan perusahaan keluarganya, karena sang ayah pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Tanggung jawab itu kini telah dipikulnya dan saat ini pemuda yang sudah menjelma menjadi seorang lelaki dewasa yang tampan dan gagah itu, menjadi sang pewaris dan terlihat tanggung jawab pada sorot matanya. Dan lelaki yang sulit digapai itu kini berada di seberang kamarnya. Siap untuk menikmati suasana malam hari yang hanya menunggu hitungan jam, bersamanya.

Kedua tangan Aruna menepuk kedua pipinya. Oh aku tak sedang bermimpi, batinnya menatap wajahnya di cermin.

"Ayo Aruna cinta remajamu datang dan jangan sia-siakan kehadirannya, harus kamu rebut ..." ada bisikan dalam dirinya.

Aruna tersenyum. Dan dia memang tak akan menyia-nyiakan waktu yang kini berpihak pada dirinya.

Sedangkan Rio di kamar yang berada di depan kamar Aruna sedang menikmati masa istirahatlah tanpa memikirkan yang lainnya.

Sesuai janji mereka untuk menikmati suasana patung salju di malam hari.

Mereka sama-sama keluar dari kamar. Dan sama-sama mengenakan pakaian yang mereka baru beli. Pakaian yang tak resmi namun tetap sopan.

Rio mengenakan kaos lengan panjang yang dipadu dengan celana panjang yang terbuat dari bahan semacam cordere.

Aruna mengenakan baju terusan yang terbuat dari bahan lembut, yang memiliki dua saku dalam serta berpotongan krah melingkari lehernya, seakan ingin melindungi leher jenjangnya dari angin malam. Panjang rok pun hampir melewati betisnya dan melengkapi perlindungan dari angin malam kedua lengannya memiliki potongan melewati siku.

Rio tersenyum memandang Aruna yang begitu pas dengan gaya rambutnya yang hanya diikat seadanya itu. Bayangan gadis remaja yang lincah dulu kini menjelma menjadi gadis dewasa nan lembut dan penuh percaya diri.

Begitu pun Rio di mata Aruna, tampak dewasa dan terlihat lebih relax serta santai malam ini.

"Bagaimana?" Suara Rio menggoda dan pandangan pada sosok Aruna menyeluruh.

Aruna tersipu, oh jangan goda aku dengan pandanganmu begitu, Rio, batin Aruna.

"Siap ..." seru Aruna tersenyum.

Mereka pun meninggalkan hotel. Bagi Aruna bukannya dia tak pernah menyaksikan patung-patung salju itu di malam hari, sudah beberapa kali malah. Tapi kan itu dulu bersama keluarga besarnya, atau bersama teman-temannya.

Tapi menikmati suasana malam Sapporo dengan keindahan patung es dalam siraman cahaya lampu bersama orang yang spesial malam ini adalah luar biasa.

Dia akan menciptakan sebuah sensasi yang romantis tentunya. Ya, Aruna harus bisa menciptakan momen supaya mereka lebih dekat lagi, dan akhirnya dengan sendirinya terciptalah romantis itu.

Sapporo Snow Festival memang tampak semakin indah dengan bias lampu warna yang jatuh pada salju yang telah berbentuk berbagai rupa, sesuai tangan seniman pemahatnya.

Aruna dan Rio berjalan mengitari patung-patung salju. Atas inisiatif Aruna mereka berfoto secara bergantian di beberapa patung salju.

"Nah ini rumah tempat semua orang pulang melepas lelah ..." Aruna menyentuh patung salju berbentuk rumah, "Modelnya bagus aku suka, kamu?" Dia menatap Rio.

Rio mengangguk, "Boleh juga,"

"Kita foto berdua, yuk," ajak Aruna, lalu tanpa menunggu persetujuan Rio gadis itu langsung mencegat seorang pemuda yang sedang berjalan sambil memandang salah satu patung salju. Kemudian berbicara dalam bahasa Jepang dengan sopan meminta supaya pemuda remaja itu mau mengambil foto mereka dengan handphone.

Saat pemuda itu tak keberatan, segera Aruna menyerahkan handphonenya pada anak muda Jepang itu.

"Kita foto yuk ..." tangan Aruna menarik tangan Rio.

Rio tak menolak.

Maka atas maunya Aruna kini telah terekam dalam kamera handphone gadis itu tiga pose foto mereka di depan patung salju yang berbentuk rumah.

Pose pertama mereka berdiri bersisian.

Pose kedua Aruna menarik tangan Rio dan saat Rio menatapnya kamera langsung merekam. Jadilah foto mereka saling tatap.

Lalu pose yang ketiga lengan Aruna melingkar di pinggang Rio.

"Arigatou ..." ujar Aruna saat pemuda itu mengembalikan handphonenya.

Pemuda itu membalas sama-sama kemudian melanjutkan acaranya untuk melihat-lihat patung salju untuk dijadikan referensi.

"Wah fotonya hasilnya bagus .. " Aruna menunjukkan foto mereka di handphone pada Rio.

"Lumayan ..." ujar Rio.

"Kukirim ke handphonemu, ya ..." dan ketiga foto itu sudah terkirim ke handphone Rio.

"Kamu kedinginan?" Rio menatap Aruna.

"Mana mungkin aku sudah menyiapkan baju tertutup gini," ujar Aruna sambil memperhatikan baju yang dikenakan, lalu menatap Rio, "Kamu?"

Rio tersenyum, "Sama kaosku cukup melindungiku dari hawa di musim dingin, apalagi aku duble makenya,"

"Oke sudah memadai persiapan baju tempur musim dingin ini, ya," ujar Aruna tertawa kecil.

Setelah puas memandang patung es salju mereka mencari restaurant dan memesan masakan yang hangat.

Rio dan Aruma sepakat memilih kari sup yang mengkhususkan hidangan dibuat dengan campuran rempah-rempah asli sehingga menghasilkan tekstur lebih encer.

Selain itu mereka juga memilih sate ayam yakitori yang dibakar di bara yang terbuka, dengan. Sate ayam yakitori dengan bumbu campuran gula aren bawang serta saos teriyaki serta lada, cukup memberikan rasa pada sate ayam yang masih panas itu.

Tak ada perlakuan istimewa Rio pada Aruna, tapi bagi gadis itu bisa bersama dari pagi hingga malam sangatlah membuatnya bahagia.

Seperti saat ini setelah menikmati makan malam Rio tak lantas mengajak kembali ke hotel. Tapi lelaki itu mengajaknya menikmati suasana malam dengan sepoi angin musim dingin yang menghanyutkan.

Rio tidak mengajaknya untuk melanjutkan dengan k3hidupan malam di bar atau sebagainya, yang bisa diwarnai dengan minuman whiski, atau mengunjungi lounge yang disukai penduduk setempat atau mereka yang sering mencari kenyamanan di sana setelah rutinitas, atau melanjutkan liburan dan lainnya.

Namun Rio tampaknya masih melanjutkan atraksi musim dingin dengan cahaya lampu neon di pinggir jalan sebagai latar belakang. Memandang langit tanpa kerlip bintang.

"Kamu dingin Aruna?" Rio menoleh pada gadis di sebelahnya.

"Sedikit," itu jawaban jujur seorang Aruna yang sudah memperhitungkan tanpa mantel pastilah udara dingin akan menyusup masuk lewat baju yang dikenakannya, jika terlalu lama menikmati malam di luar rumah.

Rio tersenyum, "Ah kita memang.ceroboh kenapa tadi tak membelikanmu minimal syal untuk mengusir dingin ..." ujarnya.

Aruna tersenyum, "It's oke masih bisa bertahan aku,"

"Besok jam tujuh kita sudah harus berada di bandara baiknya kamu cepat istirahat, kita kembali ke hotel," ajak Rio.

Aruna mengangguk walau tadi sempat berharap dalam udara dingin begini Rio akan merangkul pundaknya.

"Ya," angguk Aruna lalu membalikkan badan.

"Aruna ..."

Panggilan Rio membuat Aruna menoleh.

Rio mendekat dan kedua tangannya terulur lalu singgah di kedua bahu Aruna.

Aduh Rio mau apa ini, apa harapanku akan terkabul untuk dirangku

Ayo Rio jangan hanya menatap dalam.senyum, batin Aruna.

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!