Memiliki pasangan menjadi impian Citra selama ini, tidak menyangka laki-laki yang mengajak nikah selama 10 tahun memiliki niat buruk terhadap Citra. Apa yang akan dilakukan Citra untuk membalas dendam dan sakit hatinya terhadap suami tidak setia dan memanfaatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya ps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Mengepalkan tangan mendengar Citra mengurangi gajinya dibawah UMR, bagaimana bisa istri yang dianggap pendiam dan selalu nurut apapun dengan ucapannya bisa Setega ini, sudah dirinya dijadikan bendahara pusat selama menikah dan secara tiba-tiba diturunkan jadi staff biasa, dirumah dirinya harus tidur di kamar ART bersama Winda dan sekarang secara tiba-tiba gajinya dipotong tanpa persetujuan dirinya sama sekali.
"Kamu tahu kan siapa yang punya perusahaan ini dan yang berhak memberikan keputusan apapun ke karyawan yang sudah merugikan perusahaan bertahun-tahun, masih bagus aku berusaha santai tidak melaporkan kamu apa lagi" ucap Citra terus terang walaupun sejujurnya tidak tega, tapi dipikir-pikir Angga saja bisa tega bisa menguras banyak uang perusahaan demi memenuhi kebutuhan hidup selingkuhannya jadi dirinya bisa juga tega seperti ini.
"Apa maksud Bunda sayang, gaji aku bisa di bawah gaji UMR demi aku bisa bayar kerugiaan perusahaan, bagaimana aku bisa adil memberikan uang belanja kalian jika dikurangin sayang, apa tidak cukup menurun kan jabatan aku seperti ini bahkan mobil aku saja diambil sayang apa Bunda bisa Setega ini sama Ayah?" tanya Angga kaget tidak menyangka istrinya semakin tega sama dirinya seperti ini.
"Apa dil tidak salah kamu, selama pernikahan kita mana pernah kamu kasih gaji kamu untuk aku selalu bilang aku wanita mandiri tidak butuh gaji kamu, aku dulu percaya ucapan kamu bilang gaji kamu untuk orang tua kamu tapi kenyataan untuk wanita sampah itu jadi dimana keadilan yang kamu bilang Angga, sudah lah tidak usah basa basi ini masih jam kerja, keputusan aku sudah final gaji kamu dibawah UMR untuk bayar kerugiaan perusahaan mengerti, jadi sekarang keluar dan kembali bekerja!" tegas Citra menatap sinis kearah Angga.
"Sial baik lah, kita akan bicara saat jam istirahat nanti kita selesaikan salah faham ini secara baik -baik iya sayang."sambung Angga sedikit kesal.
Memilih mengalah untuk kembali ke ruangannya dari pada paksa bicara lama-lama bisa-bisa Membuat citra semakin .arah nanti rencananya gagal total jika istri pertamanya sudah murka.
Duduk dengan lemas melihat Angga keluar dari ruangannya, kesel dan sedih saat ingat kenyataan pahit yang dilakukan Angga, membuat Citra harus bisa tega seperti ini memberikan balasan yang setimpal untuk Angga, supaya sadar diri atas kesalahannya dan sadar sumber penghasilan Angga dari dirinya tapi bisa menyakitkan dirinya seperti ini tanpa memikirkan dampak dan perasaan Citra jika suatu saat Citra tahu semuanya.
**
Geleng -geleng kepala melihat Winda duduk santai di taman sambil suapin anaknya, tidak mengerjakan pekerjaan yang diberikan Citra tadi pagi, demi menjalankan tugas yang diberikan majikannya membuat Bik Sumini berani menegur Winda ditemani dua Bodyguard.
"Anda disini bukan majikan sadar diri sama status anda di rumah ini, jadi cepat lah beberes dari pada saya laporkan ke Bu Citra bisa kena marah kamu apa mau!" Ancam Bi Sumini tegas, berusaha tidak takut sama wanita didepannya.
"Heh kamu tahu kan saya istri Angga juga, suami saya saja tidak memberikan perintah untuk saya mengerjakan itu semua kenapa saya harus turutin ucapan kamu, lagian ART disini kan kamu jadi kamu lah yang merapihkan semuanya ngapain suruh saya segala tidak sadar diri kamu dasar muka tembok." sindir Winda senyum sinis melihat Bik Sumini yang seenaknya.
"Istri tidak sah saja bangga, ingat ucapan Bu Citra anda tidak kerjain perintah Nyonya anda akan diberikan makan nasi pakai kecap saja, semua lauk akan dijaga ketat sama Bodyguard jadi anda tidak akan bisa mengambil seenaknya sebelum semuanya dikerjakan mengerti!" tegas Bik Sumini menatap sinis wanita didepannya sungguh salut sama Winda yang bisa bersikap sombong seperti itu, tapi tidak ada rasa takut sama sekali karena semua yang diucapkan sesuai perintah yang diberikan Citra.
Ajak kedua Bodyguardnya untuk pergi meninggalkan Winda sendirian, memilih ke kamarnya dari pada harus didepan Winda yang tidak sadar diri bisa -bisa kepancing emosi. Baru pertama kalinya membiarkan rumah tidak dirapikan bahkan baju Citra tidak dibersihkan seperti sekarang.
Rasanya harga dirinya hancur berkeping-keping direndahkan seperti sekarang, karena Citra menjadikan dirinya sebagai ART selama tinggal dirumahnya, membuat ART nya berani bicara tegas dan memerintahkan dirinya seperti tadi, rasanya kesal sekali mendengarnya.