Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Keras Penyidik—Alibi Pelaku
Penyidik senior, petugas James, memandang ke arah rekaman CCTV yang diputar di depan mereka. "Pria ini, tampak selalu ada di sekitar TKP," ucapnya terdengar serius dan fokus.
Petugas lain—Petugas Sarah melongok ke layar laptop rekannya itu, kemudian menyahut. "Aku juga melihatnya, tapi di sini, dekat TKP tiga, dia hanya berjalan biasa, kemudian dari CCTV arah berbeda, terlihat memasuki sebuah kedai.
Petugas lain, petugas Alex pun ikut menyahut. "Di TKP satu, pria itu juga tampak hanya lewat, dia terlihat makan di food court di sisi pusat perbelanjaan."
Petugas James masih fokus ke layar di depannya. "Di TKP dua, dia juga datang bersama kelompok pendaki,” terangnya menyetujui alibi orang tersebut.
Sarah bangkit untuk sekedar meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai kaku karena sejak kemarin ia fokus bertugas mencari petunjuk dari CCTV. “Awalnya aku merasa aneh melihat dia memakai mantel musim dingin. Tapi, setelah kuingat lagi, cuaca hari itu sedikit berangin dan memang terasa lebih dingin.”
“Aku juga berpikir yang sama!” sahut Alex.
James tak bisa mengabaikan rasa mengganjal di dalam pikirannya. “Ryan, tolong cari tahu identitas pria ini,” pintanya.
Petugas bagian IT, yang bernama Ryan, mengangguk dan mulai bekerja. Setelah beberapa menit, Ryan memberikan selembar kertas pada petugas James. "Ini dia, namanya Rey, dan ini alamatnya."
James menerima kertas itu dan membacanya. Ia tampak mengernyit merasa sedikit heran. "Ada apa dengan alamat ini, bukankah ini kompleks apartemen mewah?"
Sarah dan Alex pun kompak mendongak menatap ke arah rekannya yang berdiri di sebelahnya, kemudian ikut melihat ke dalam catatan itu. "Memangnya kenapa?”
James balas memandang ke arah kedua rekannya. "Rasanya agak... Ah, seorang pria kaya untuk apa berkeliaran berjalan kaki di tempat-tempat itu, bahkan menyantap makanan di tempat biasa?”
Sarah dan Alex saling menatap sejenak. Kemudian Lex pun menutup laptopnya. “Aku akan menemanimu jika kau kesana!” serunya memahami situasi. “Setidaknya kita mendapatkan seorang saksi!” imbuhnya sangat yakin.
James pun menutup laptopnya. “Benar!” sahutnya setuju. “Aku akan mengirimkan pesan pada Jack, entah apa yang dilakukannya bersama ketua Sammy,” terangnya kemudian mengetik pesan laporan pada Jack mengenai apa yang akan dikerjakannya.
Detektif Sarah memandang ke arah Ryan. “Kurasa kau pun sebaiknya melihat darimana kekayaan pria itu berasal, Ryan.”
Ryan yang masih duduk dibalik mejanya, ikut membantu melihat ke dalam rekaman CCTV lainnya, mengangguk. "Baiklah!” jawabnya singkat kemudian beralih menghidupkan layar komputernya yang lain, dan mulai bekerja.
“Aku dan Alex akan ke tempat pria itu, kebaro aku jika kalian menemukan sesuatu yang lain!” pamit James kemudian menyambar jaket dan kunci mobilnya.
Petugas Alex bertanggungjawab pada kemudi, keduanya melaju penuh keyakinan menuju ke kompleks apartemen mewah, sebuah alamat yang diberikan oleh Ryan.
Mobil petugas itu melewati sebuah pelabuhan yang ramai, menyusuri jalan raya dengan pemandangan pantai dan laut yang begitu tenang. Hingga akhirnya keduanya tiba di depan apartemen, di area parkir umum yang luas.
James berjalan menuju pada seorang petugas keamanan tempat itu, “Kami petugas kepolisian,” sapanya seraya menunjukkan identitasnya.
Alex menyodorkan sebuah foto pada petugas keamanan itu. “Benarkah pria ini tinggal di sini?” tanyanya.
“Benar, apa perlu kuberi tahu padanya jika kalian datang?” tanya balik sang petugas keamanan.
Kedua petugas itu menggeleng kompak dan tegas. “Tidak perlu, kami akan naik ke tempatnya secara langsung.” Keduanya pun berjalan memasuki lobby bangunan tinggi apartemen itu, menaiki lift menuju ke lantai delapan.
Alex menekan bel. Tak lama kemudian seorang pria bersinglet membuka pintu.
“Benarkah anda bernama, Rey?” tanya James tanpa basa-basi.
Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Ya, saya Rey. Apa yang bisa saya bantu?"
Alex menunjukkan beberapa foto kepada Rey, yang menunjukkan keberadaan Rey di sekitar TKP. "Anda ada di tempat-tempat berikut, apa yang anda lakukan?" tanyanya.
Rey mengamati foto-foto itu, lalu menjawab dengan santai. "Apa ya, makan mungkin. Biasanya aku berkeliling hanya jika butuh makan."
Alex menunjukkan sebuah foto lain, foto dari TKP kedua,"Lalu di jalur pendakian ini?" tuntutnya.
Rey tersenyum. "Apa lagi, kau bisa lihat aku memanggul ransel bersama orang-orang itu kan?"
James memperhatikan ekspresi Rey yang tampak sangat santai, " Apa Anda melihat sesuatu yang mencurigakan saat melintas tempat-tempat tersebut? Atau mungkin melihat orang mencurigakan?"
Rey berpura-pura diam berpikir seolah sedang mengingat. "Enggak. Tempat apa itu memangnya? Maksudku apa sesuatu terjadi?"
James mengernyit curiga. "Kau tak melihat berita?"
Rey menggeleng polos. "Aku tidak punya televisi!” serunya diikuti tawa yang terkesan ramah.
Dua petugas itu terdiam, menatap tak percaya pada Rey. Seolah mengerti kecurigaan dua petugas itu, Rey membiarkan pintunya terbuka lebar kemudian terkekeh. "Ayolah, Aku hanya belum membelinya. Lagian apa yang salah jika aku tak memiliki televisi?”
“Ya, rasanya agak….” sahut James ragu.
“Masuklah dan lihat sendiri, petugas.”
Merasa mendapatkan akses, dua petugas itu pun masuk dengan langkah perlahan penuh kewaspadaan ke dalam apartemen itu.
Rey merogoh kantongnya, kemudian meletakkan sebuah ponsel keluaran terbaru di meja. "Jaman sekarang, semua bisa diakses dari benda kecil itu, kau tahu kan, aku bisa membelinya kalau mau."
Alex menatap ponsel itu, lalu beralih memandang ke arah Rey. "Jadi, kau tahu di sekitar tempatmu berada itu adalah..."
Rey memotong kalimat Alex. "Ah, kau sedang membicarakan kasus pembunuhan berantai itu? Apa pelakunya sudah kalian temukan?"
Tatapan curiga tak berkurang di wajah James. "Kau mengikuti beritanya?"
Rey tersenyum ringan. "Hm, tidak terlalu, aku terlalu sibuk menikmati hidup, untuk apa aku mencampuri pekerjaan kalian?"
…………
Jack baru tiba di markas, ia langsung duduk membuka laptopnya, melihat ke dalam rekaman CCTV dari dalam bus jalur 08. Detik menit ia lalui, sesekali menghela napas, kemudian mengernyit, menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal, Jack sangat fokus dengan pekerjaannya.
Jack mencatat waktu dan tanggal yang tertera di rekaman, kemudian membandingkannya. "Jeda waktu mereka terakhir terlihat sebagai penumpang, antara satu korban dengan yang lainnya, delapan hari," ucap Jack bermonolog.
Jack mencocokkan rekaman CCTV dengan keterangan dari waktu terakhir masing-masing teman-teman korban bertemu dengan masing-masing gadis. Dia membandingkan waktu dan tanggal, mencari kesamaan atau petunjuk apa pun.
“Tapi penumpang lain terlihat biasa saja, bagaimana mendapatkan petunjuk tentang pelaku?" gumamnya seraya terus berpikir.
Jack memandang ke arah rekaman lagi, mencari apa pun yang bisa membawanya ke pelaku. Dia memperhatikan wajah-wajah penumpang, mencari ekspresi atau gerakan yang mencurigakan. Tapi, tidak ada apa pun yang menarik perhatiannya.
Tak lama kemudian, Alex dan James pun telah kembali.
...****************...
Bersambung