Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Luka yang Tak Terjahit
Sejak insiden ciuman di tangga darurat tiga hari yang lalu, hubungan Rania dan Adrian memasuki fase aneh.
Bukan fase "pacaran" yang penuh bunga, melainkan fase "saling curi pandang tapi malu-malu kucing". Kevin bahkan sampai frustrasi melihat tingkah dua seniornya yang kalau berpapasan langsung salah tingkah seperti anak SMP.
Namun, malam ini berbeda.
Sepulang dinas malam, Adrian tidak langsung masuk ke kamarnya. Dia duduk di teras lantai 2 kosan Pak Mamat, sendirian, dalam kegelapan. Tidak ada gadget, tidak ada buku medis. Dia hanya duduk memeluk lutut, menatap hujan gerimis yang turun membasahi jemuran.
Rania, yang baru selesai mandi dan memakai piyama bermotif bebek, keluar membawa dua gelas teh manis hangat.
"Nih," Rania menyodorkan gelas. "Teh manis anget. Resep rahasia: gulanya diaduk pake doa supaya utang lunas."
Adrian tidak tertawa. Dia bahkan tidak menoleh. Dia menerima gelas itu dengan gerakan lambat.
"Terima kasih," suaranya parau.
Rania mengerutkan kening. Dia duduk di sebelah Adrian, memberi jarak aman (mengingat insiden ciuman itu masih membuat jantungnya berdebar).
"Lo oke, Ad? Tumben diem. Biasanya lo lagi ngomelin Kevin soal cara jemur baju yang nggak simetris."
Adrian menyesap tehnya sedikit, lalu meletakkannya di lantai. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah foto tua yang sudah agak pudar. Foto seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak laki-laki kecil di taman bunga.
"Hari ini..." Adrian memulai, matanya terpaku pada foto itu. "...adalah peringatan 20 tahun meninggalnya Mama."
Rania terdiam. Dia menegakkan punggung, mengubah mode bercanda menjadi mode pendengar. "Oh... Ad, gue turut berduka. Gue nggak tahu."
"Nggak ada yang tahu. Papa melarang kami membicarakannya," Adrian tersenyum pahit. "Bagi Papa, kematian Mama adalah simbol kegagalan terbesar."
Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin.
"Sakit apa?" tanya Rania hati-hati.
"Bukan penyakit mematikan," jawab Adrian. Rahangnya mengeras. "Cuma lipoma. Benjolan lemak jinak di punggung. Operasi kecil. Rutin. Paling cuma 30 menit."
Adrian menarik napas panjang, seolah udara di sekitarnya menipis.
"Dokter bedahnya... seorang senior ternama. Dia arogan, sibuk, dan merasa operasi itu terlalu sepele buat dia. Dia mengerjakannya dengan terburu-buru karena mau main golf."
Tangan Adrian mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"Dia tidak menjahit lapis demi lapis dengan benar. Ada ruang mati (dead space) di bekas operasi. Darah terkumpul di sana. Jadi hematoma. Infeksi. Bakteri masuk. Mama kena sepsis (infeksi darah) tiga hari kemudian."
Rania menutup mulutnya dengan tangan. Dia tahu betapa cepat dan mematikannya sepsis.
"Mama meninggal di ICU seminggu kemudian. Karena operasi sepele yang dikerjakan dengan ceroboh," suara Adrian bergetar menahan amarah dan kesedihan purba.
Adrian menoleh menatap Rania. Mata cokelatnya basah.
"Itulah kenapa Papa jadi monster, Rania. Papa merasa bersalah karena dia yang memilih dokter itu. Sejak hari itu, Papa bersumpah anak laki-lakinya tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun. Saya dididik untuk jadi sempurna. Nilai 99 itu sampah. Harus 100."
"Karena bagi kami..." Adrian menunjuk dadanya sendiri. "...ketidaksempurnaan berarti kematian. Kuman sekecil debu bisa membunuh orang yang kita sayang."
Rania akhirnya mengerti.
Semua obsesi Adrian terhadap kebersihan, terhadap jahitan yang rapi, terhadap sterilitas... itu bukan karena dia sombong. Itu adalah mekanisme pertahanan diri. Itu adalah cara Adrian kecil berteriak bahwa dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.
"Dan lo tahu?" Adrian tertawa sumbang. "Waktu pertama kali ketemu lo di UGD... gue benci banget sama lo."
"Gue tahu," kata Rania pelan.
"Bukan karena lo miskin atau kasar. Tapi karena lo berantakan. Baju lo kucel, rambut lo acak-acakan, lo makan sembarangan. Lo mengingatkan gue sama dokter yang bunuh Mama gue. Gue takut... gue takut lo bakal bunuh pasien lo karena kecerobohan lo."
Air mata Rania menetes. Dia tidak tersinggung. Dia justru merasa sedih untuk Adrian.
Rania menggeser duduknya mendekat. Dia memberanikan diri meletakkan tangannya di atas tangan Adrian yang mengepal.
"Ad," panggil Rania lembut.
Adrian menunduk, melihat tangan Rania yang kasar menutupi tangannya yang halus.
"Tapi gue salah," lanjut Adrian. "Ternyata, di balik penampilan lo yang kayak preman pasar itu... lo dokter yang paling teliti yang pernah gue lihat. Lo ngecek jahitan tiga kali. Lo mastiin pasien kentut sebelum pulang. Lo peduli."
Adrian mengangkat wajahnya, menatap Rania lekat-lekat.
"Lo yang nyadarin gue, Rania. Bahwa kesempurnaan bukan soal baju rapi atau alat mahal. Kesempurnaan itu soal hati. Dan lo punya hati yang gue cari selama ini."
Rania tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia merangkul Adrian, memeluk pria rapuh itu erat-erat di bawah atap teras yang bocor sedikit.
Adrian membenamkan wajahnya di bahu Rania. Runtuh sudah pertahanan "Pangeran Es"-nya. Bahunya berguncang. Dia menangis. Menumpahkan beban 20 tahun dituntut menjadi robot sempurna.
"Nggak apa-apa, Ad. Nangis aja," bisik Rania sambil mengusap punggung Adrian. "Lo manusia. Lo bukan robot bedah. Lo boleh salah, lo boleh capek, lo boleh kotor."
"Gue kangen Mama, Ran..." isak Adrian.
"Iya... Mama lo pasti bangga liat lo sekarang. Lo dokter hebat, Ad. Lo nyelamatin tangan Mas Yanto. Lo nyelamatin gue."
Mereka berpelukan lama di tengah suara rintik hujan dan dengkuran Kevin dari kamar sebelah.
Malam itu, tidak ada ciuman romantis. Yang ada hanyalah dua jiwa yang saling menyembuhkan luka masa lalu. Rania menjadi "jahitan" bagi hati Adrian yang robek.
Setelah tangisnya reda, Adrian melepaskan pelukan. Matanya sembab, hidungnya merah. Jauh dari kata ganteng, tapi bagi Rania, dia terlihat sangat manusiawi.
"Sori," kata Adrian, menghapus ingusnya dengan tisu (yang untungnya dia bawa). "Saya jadi cengeng. Jangan bilang Kevin."
Rania tersenyum, mengusap sisa air mata di pipi Adrian dengan ibu jarinya. "Rahasia aman. Tapi bayarannya mahal ya."
"Apa? Nasi goreng lagi?"
"Bukan," Rania menatapnya serius. "Jangan pernah pergi lagi dari sisi gue. Gue butuh partner yang bisa ngingetin gue buat mandi."
Adrian tersenyum tipis, tulus. Dia menggenggam tangan Rania dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.
"Saya nggak akan ke mana-mana, Dokter Rania. Saya betah di sini. Di kosan bau apek ini, sama kamu."
Tiba-tiba, ponsel Rania berdering. Nada dering Emergency.
Rania dan Adrian saling pandang. Momen emosional langsung buyar, digantikan insting profesional.
Rania mengangkat telepon.
"Halo? UGD? Apa?! Tabrakan beruntun di Tol Jagorawi? Bus masuk jurang? Korban masal?"
Wajah Rania memucat. Dia menatap Adrian.
"Ad, Mass Casualty Incident. Panggilan darurat semua dokter. Kita harus ke RS sekarang."
Adrian langsung berdiri, menghapus jejak kesedihannya dalam sekejap.
"Ayo," kata Adrian tegas. "Malam ini kita tidak tidur."
Mereka berlari menuruni tangga kosan, melompat ke atas motor butut Rania (yang sudah selesai diservis), dan membelah hujan menuju medan perang sesungguhnya.
Ujian cinta mereka sudah lewat. Sekarang saatnya ujian profesi.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
ceritanya bagus banget