Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan Alvian
Arina berdecak kesal begitu melihat seseorang di lobi perusahaan, rencananya untuk mengunjungi Tania terancam gagal begitu melihat Alvian sudah menunggunya di sana.
" kamu niat banget sih! Sudah ku bilang aku tidak bisa, aku lagi banyak pekerjaan." Arina sangat jengkel karena Alvian menggangu jam makan siang nya.
" Aku sudah memintakan ijin pada bu Salsa, jadi kamu tidak bisa mangkir lagi " Arina mengepalkan tangannya, ia tidak tau kalau Alvian mengenal Salsabila, tapi itu bukan hal yang mengejutkan karena seorang pengusaha seperti Alvian pasti mengenal banyak orang mulai dari perusahaan kecil hingga perusahaan raksasa seperti tempatnya bekerja.
" aku hanya ingin mengatakan itu." setelah itu Alvian melenggang pergi tanpa permisi padanya, heran kok bisa seorang CEO minus tata Krama seperti nya.
" Mbak Arina, di panggil bu Salsabila di suruh keruangan nya." Arina mengangguk pada Sherly, si sekertaris Salsabila.
Dalam perjalanan menuju ruangan Salsabila, Arina berusaha menerka-nerka apa nama perusahaan Alvian, apakah perusahaan tempatnya bekerja, bekerja sama dengan perusahaan pria itu? Itulah sebabnya Alvian bisa mengenal Salsabila dan mendapatkan ijin dengan mudah darinya. selama ini ia hanya tau kalau Alvian pemilik perusahaan konstruksi, tapi ia tidak pernah berminat sedikitpun untuk tahu lebih dari itu.
" Rin! Katakan sama gue kalau Alvian bukan suami lo!"
Arina mendengus pelan tanpa mau mengonfirmasi atau pun mengklarifikasi nya, melihat itu Salsabila membulatkan matanya.
" jadi bener Alvian suami lo? Kenapa lo nggak bilang dari dulu? Gue bisa dengan mudah menghancurkan nya kalau lo mau!"
Arina menatap Salsabila serius." kamu mengenal Alvian, Bil?"
" lebih dari kenal, kamu tau perusahaan 'bangun dharma abadi' ? Itu perusahaan Alvian, perusahaan ini sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Alvian, hampir empat puluh lima persen proyekku saat ini yang menggunakan jasa perusahaan Alvian, kalau kamu mau aku bisa menghilangkan perusahaan itu dari peradaban saat ini juga."
Arina mengangguk, ia ingat Fabio pernah menyebut nama perusahaan itu, pantas saja saat itu ia merasa tidak asing saat mendengar nama perusahaan itu. Karena ia pernah tak sengaja mendengarnya beberapa kali saat Alvian teleponan dengan seseorang yang ia yakini rekan bisnisnya.
" kalau lo hancurin bisa rugi dong seluruh proyek lo, bagaimana lo bisa melanjutkan bisnis lo kalau perusahaan Alvian hancur."
" ck, gampang itu, banyak perusahaan yang lebih kompeten dari perusahaan Alvian yang menawarkan kerja sama pada ku, itu bukan masalah!"
Arina menggeleng, ia tidak pernah berpikir untuk menghancurkan karir pria itu, selain itu ada Tania yang harus Alvian perjuangkan kebahagiaan nya, ia tidak mau menghancurkan gadis itu untuk yang kesekian kalinya.
" nggak deh, Bil. Kasihan!"
Salsabila melotot seketika, " apa! Kasihan! " Salsabila tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari bibir Arina, padahal ia sudah yakin kalau Arina pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas Alvian sekaligus terbebas dari pria itu.
" gue nggak ngerti deh Rin dengan jalan pikiran Lo!" Salsabila memijat pelipis nya, ia masih tidak percaya kalau sahabatnya akan se-oon ini.
" jangan bilang lo udah mulai jatuh cinta pada Alvian? Ingat, Rin! Alvian sedang ingin menghancurkan hidup lo, lo nggak mungkin sebodoh itu kan"
Arina mendesis kesal dikatain bodoh oleh Salsabila." bukan begitu, sampai saat ini meskipun gue berusaha, tapi gue belum mencintainya " bagaimana bisa mencintai Alvian, kalau tingkah nya selalu memancing emosional nya, bahkan membuatnya jijik.
" Amit amit, Rin. Jangan sampai itu terjadi, sekarang aja dia sudah berniat poligami, lo akan semakin tersiksa kalau sampai jatuh cinta padanya, lo nggak mau sekalian rebut aja hati Alvian dari jalang itu? Biar si jalang itu tahu rasa, apapun hubungan mereka, tetap lo yang jadi istri sah nya untuk saat ini."
Salsabila tampak emosional sekali, ia masih ingat beberapa hari yang lalu menemukan Arina dengan wajah sembab nya, begitu ia telusuri, ternyata Arina habis memergoki Alvian memadu kasih dengan kekasihnya di dalam kamar. Sialan memang! Ia paling benci dengan perselingkuhan, apalagi yang dilakukan Alvian sangat terang-terangan, ia tidak rela kalau Arina di injak-injak sampai seperti itu.
Arina terdiam, mengingat rencana poligami itu, membuat hatinya terasa sedikit nyeri, Apapun hubungan mereka, ada ataupun tidak nya cinta dalam hatinya, tetap saja jauh dalam lubuk hatinya ia tidak rela di madu.
" aku nggak worth it untuk mendapatkan dukungan sebesar ini dari kamu, Bil. Apa lagi sampai mengganggu jalan bisnis mu, aku sudah sangat bersyukur dan berterima kasih karena sudah di bantu mendapatkan keadilan untuk Ayah, selebihnya biar aku yang menyelesaikan masalah ku sendiri, jangan membuat ku merasa tidak berguna karena terus-terusan membebani mu dan juga Fabio dengan masalah ku. Aku merasa menjadi manusia yang gagal kalau kamu terus seperti ini, setelah ini cukup dukung aku saja, oke!"
Salsabila tidak bisa berkata-kata lagi, kata-kata Arina begitu dalam, ia tidak tau kalau Arina bisa berpikir sejauh itu, padahal ia beneran tidak rela melihat Arina di perlakukan seperti itu.
Salsabila langsung merengkuh Arina, banyak orang yang berlomba-lomba untuk bisa dekat dengan nya, tak segan menjilat nya untuk mendapatkan dukungan finansial agar bisa panjat sosial melalui dirinya, tapi Arina tidak melakukan itu padahal ia bisa melakukan lebih dari itu.
" oke, kalau itu maumu, aku akan mendukung semua keputusan mu, tapi jangan pernah biarkan aku melihatmu menangis lagi! Kalau tidak Fabio akan membunuh ku!" Arina terkekeh mendengarnya.
" bagaimana kelanjutan kasus Ayah mu, Rin? Fabio bilang dia hampir mendapatkan seluruh bukti kalau Ayah mu tidak bersalah."
Arina mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, "Aku hanya tau sebatas itu, Bil. Fabio menolak memberi tahu ku lebih dulu sebelum semuanya clear."
" yang sabar ya, Fabio pasti punya alasan kuat untuk menyembunyikan nya lebih dulu, dia tipe orang yang tidak mentoleransi kegagalan, jadi kalau semuanya belum tuntas menurut nya, dia tidak akan pernah mau memberi tahu mu."
Arina mengangguk, ia memilih untuk mengikuti rencana Fabio, bagaimana pun juga ia sedang di tolong oleh pria itu, tidak etis rasanya kalau dia juga menekannya. Meski begitu Arina tidak tinggal diam, ia menyuruh orang lain untuk menelusuri kasus ayah nya begitu Fabio bilang kalau orang suruhannya yang sebelumnya seperti terlibat dengan kasus sabotase itu.
" kamu pasti belum makan siang kan?"
Arina melirik sinis ke arah Salsabila, sudah tau ia di ganggu sejak jam makan siang di mulai, Salsabila terkekeh melihat nya.
" kamu makan di sini aja, Sherly sedang membeli dua porsi makanan untuk kita, " tak berselang lama, sherly datang dengan dua paper bag di tangannya, dari logo yang terlihat di kedua sisi paperbag itu, Arina sudah bisa menebak isi nya.
" makan dengan tenang, tidak ada yang berani menegurmu" Salsabila menginterupsi begitu melihat Arina selalu melirik arlojinya.
" ck! Bukan begitu, pekerjaan ku lagi numpuk-numpuknya nanti anda komplain kalau pekerjaan saya belum selesai!" Salsabila kembali terkekeh, apalagi Arina seakan mendramatisir keadaan dengan mencampur bahasanya dengan bahasa formal.
" tenang aja, karena nanti kamu tidak bisa lembur, kamu masih memiliki jatah 4 hari dalam seminggu untuk kerja bagai kuda"
" sialan!"