NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tubuh Pitaloka membeku. Napasnya tertahan. Di dalam kamar itu, ada lebih dari satu lelaki. Tepatnya ada tiga orang lelaki.

Jantung Pitaloka berdegup keras, terlalu keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Kabut di kepalanya yang sejak tadi menumpulkan kewaspadaan, retak seketika. Rasa pusing berubah menjadi ketakutan yang tajam dan dingin.

Ini salah.

Ini sangat salah.

Ini juga berbahaya.

Ia menoleh refleks ke belakang. Lelaki yang membawanya ke sini berdiri tepat di sampingnya, terlalu dekat. Pitaloka mundur setapak, punggungnya menyentuh dinding dingin yang membuatnya menggigil. "Aku ... aku mau kembali ke bawah," ucapnya lirih. Suaranya nyaris tak berbentuk, tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.

Tak ada jawaban yang menenangkan. Tak ada tawa yang berubah menjadi permintaan maaf. Yang ada hanyalah keheningan berat ... keheningan yang membuat udara terasa menipis.

"Tidak bisa Nona cantik." Perkataan itu seperti palu yang menghantam kepalanya. Seketika, ruang itu berubah menjadi perangkap. Dinding-dindingnya terasa bergerak mendekat. Pitaloka menarik napas pendek-pendek, berusaha menjaga keseimbangan yang mulai goyah. Namun pusing di kepalanya makin menekan.

Tangannya gemetar, jemarinya mencari pegangan ... tasnya, ponselnya, apa saja yang bisa memberinya ilusi kendali.

Di sudut ruangan, lampu meja menyala redup. Cahayanya dingin, tanpa kehangatan. Bayangan tubuh-tubuh di kamar itu jatuh panjang ke lantai, membentuk siluet yang terasa mengintimidasi.

Pitaloka menelan ludah. Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada palu kecil yang memukul dari dalam.

Wajah-wajah di sekitarnya tampak kabur. Kata-kata terdengar seperti gema dari ruang lain. Ia mencoba memusatkan pikiran, mencoba mengingat detik-detik sebelumnya ... tawa di lantai dansa, gelas yang diangkat berulang kali, ajakan yang terdengar ramah. Semua itu kini terasa seperti jebakan yang rapi.

Pitaloka merapatkan kedua tangannya ke dada, seolah menutupi tanktop-nya yang terlalu seksi.

Gerakan kecil yang tak berarti, namun naluriah. Ia ingin melindungi dirinya sendiri, ingin menyusut menjadi sekecil mungkin, ingin menghilang.

Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun tak jatuh. Ada rasa kaku yang menahan segalanya ... ketakutan yang begitu pekat hingga tubuhnya seperti membatu.

Dalam kepalanya, potongan-potongan pikiran berserakan tanpa urutan ... wajah ibunya, suara ayahnya yang selalu mengingatkan agar berhati-hati, pesan Safwan yang menanyakan apakah ia sudah sampai rumah dengan selamat.

"Aku harus pulang," bisiknya, hampir tak bersuara.

Tak ada yang membuka pintu. Tak ada yang menunjukkan jalan keluar.

Pandangan Pitaloka beralih ke meja kecil di dekat ranjang. Di sana, sebuah ponsel tergeletak, layarnya gelap. Lalu, sebuah perangkat lain ... kecil, tak mencolok ... menyala. Sebuah lampu indikator berkedip pelan.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba, salah satu dari lelaki itu menyuntikkan sesuatu ke lengannya.

"Akh!" Pitaloka memekik parau. Kesadarannya mulai menghilang, dan setelah itu ... tubuhnya mendadak lunglai. Pandangannya menggelap.

_____

Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh di lantai kamar yang asing. Pitaloka terbangun dengan kepala berdenyut dan tubuh terasa berat, seolah ia baru kembali dari tempat yang sangat jauh. Matanya menatap langit-langit putih yang tak dikenalnya.

Ia terdiam lama. Ingatan datang tidak utuh ... potongan-potongan tanpa urutan, seperti foto-foto buram yang dilemparkan ke pikirannya tanpa konteks. Ada suara pintu. Ada cahaya. Ada rasa takut yang membuat dadanya sesak. Ia menelan ludah. Tenggorokannya kering.

Lalu satu ingatan menghantamnya bagai palu godam. Seketika, Pitaloka membuka selimut yang menutupi tubuhnya ... dan ... matanya langsung membelalak. "B-Bajuku ... ke mana?" Ia membeku cukup lama.

Hingga perlahan-lahan, potongan ingatan itu saling bersambung. Spontan Pitaloka menjerit tertahan. "Tidaaak! Tidaaak!" Air mata tumpah. Tubuhnya menggigil hebat.

Ia tidak bodoh. Ia tahu apa yang terjadi semalam. "Aku ... aku diperkosa oleh keempat lelaki itu," jeritnya dalam hati. "Bunda ... Ayah ... Kakak ... A Safwan ..." Nama-nama itu menggaung dalam benak.

Hidupnya hancur, masa depannya runtuh detik itu juga. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucapnya di sela isakan.

Perlahan, Pitaloka bangkit setengah duduk. Menurunkan kakinya menyentuh lantai yang dingin. Lalu dengan gerakan tertatih ... ia memunguti pakaiannya satu per satu, lalu memakainya dengan jiwa dan raga yang porak-poranda.

Ia meraih tasnya, merogoh ponsel. Layarnya menyala, menampilkan deretan notifikasi yang tak terbaca jelas.

Sherly: Pita, kamu ke mana?

Bella: Pita, kamu pulang duluan? Kenapa nggak bilang ke kita?

Bunda: Pita, kamu sudah bangun belum? Selamat hari minggu ya Sayang.

My Lovely: Selamat pagi gadisku. Kamu lagi apa? Minggu depan kita pulang sama-sama ya ke Cisaat. Aku jemput kamu ke sana.

Tangannya gemetar. Ada rasa bersalah yang datang tanpa diundang. Pitaloka memejamkan mata, menarik napas panjang, berusaha menahan sesuatu yang berdesak di dadanya.

Air mata makin jatuh. Deras bak air bah. Bukan tangis yang meledak, melainkan aliran sunyi yang tak bersuara. Tangis yang lahir dari kebingungan, ketakutan, dan kehilangan kendali.

Tangis yang tak tahu harus diarahkan ke mana. Dengan sisa tenaga, Pitaloka pun bangkit. Langkahnya tertatih. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, terutama jalan lahirnya. Perih, ngilu dan panas.

Ketika ia keluar dari kamar itu, beberapa gadis muda seumuran dirinya pun nampak keluar dari kamar yang berjejer itu.

Namun berbeda dengan dirinya yang berlinang air mata, mereka terlihat bahagia dan baik-baik saja.

Salah satu dari gadis-gadis itu melirik, dan melontarkan pertanyaan pada Pitaloka. "Kamu pasti baru pertama kali dibungkus sama cowok ya? Kasihan ... jalanmu sampe mengangkang kayak gitu. Digagahi sama berapa cowok sih?"

Pitaloka tak menjawab, ia memilih pergi meninggalkan kerumunan para gadis itu.

Harga dirinya seperti diinjak-injak. Tak ada sedikit pun simpati yang mereka tunjukkan.

Setelah keluar dari club malam itu, Pitaloka langsung menyetop taksi.

Sesampainya di apartemen, gadis sembilan belas tahun itu langsung masuk ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower.

Pitaloka memeluk dirinya sendiri, erat, seolah itu satu-satunya cara untuk menyalurkan kesedihan sekaligus kehancurannya. "Aaaaa ...!" Jeritannya akhirnya keluar, setelah sejak tadi ia tahan. "Bundaa! Ayaaah! Kakaaaak! Tolong aku! Tolong aku ... aku diperkosa. Aku dirudapaksa ..." Jeritan demi jeritan keluar dari bibirnya yang bergetar.

Ia menarik-narik rambutnya dengan kedua tangan. "Tuhan ... bagaimana aku mengatakan semua ini pada kedua orang tuaku? Mereka pasti akan sangat kecewa padaku. Mereka juga pasti akan marah dan mungkin akan mengusirku dari rumah ..." Pitaloka terus berkeluh kesah di tengah rasa putus asanya.

"Tuhan ... pada siapa aku harus mengadu? Pada siapa aku harus meminta tolong?" Suaranya tersendat-sendat, nyaris menghilang. Pitaloka makin meraung, sampai suara gemericik air itu terkalahkan oleh raungannya. Makin lama, raungan itu makin menggema.

Ia lalu mendongak, menatap kucuran air dari shower. "Haruskan kuakhiri hidupku saat ini juga?"

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!