Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Mimpi dan Hati
Malam telah larut di Asrama Khusus Pahlawan. Kamar itu mewah, dihiasi dengan permadani sutra dan perabotan emas. Namun, bagi penghuninya, kemewahan itu tidak bisa membeli kedamaian.
Leon Gremory sedang tidur, tapi dia tidak beristirahat.
Dia terombang-ambing di kasurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya hingga piyamanya lengket. Wajahnya berkerut menahan penderitaan.
Di dalam mimpinya...
Leon berdiri di tengah reruntuhan rumah masa kecilnya. Langit berwarna merah darah. Di depannya, berdiri sosok-sosok yang sangat dia rindukan. Ayahnya. Ibunya. Dan adik perempuannya yang berumur enam tahun, Lily.
Leon tersenyum, berlari ingin memeluk mereka. "Ibu! Ayah! Lily!"
Namun saat dia mendekat, mereka berbalik.
Wajah mereka hancur. Leher mereka menganga bekas gorokan. Mata mereka bolong.
"Kenapa kau hidup, Leon?" tanya ibunya, suaranya seperti angin dari kuburan. Darah menetes dari mulutnya.
"Kenapa kau tidak mati bersama kami?" tanya ayahnya, menunjuk Leon dengan jari yang patah. "Kau pengecut. Kau membiarkan kami dibantai sementara kau tidur enak di asrama."
Adik kecilnya, Lily, memeluk boneka beruang yang kepalanya putus. Dia mendongak menatap Leon dengan mata putih. "Kakak... sakit... Kakak jahat... Kakak ambil keberuntungan kami..."
"TIDAK!" Leon berteriak dalam tidurnya. "MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKU!"
Leon terbangun dengan napas memburu, duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Dia melihat ke sekeliling kamar yang gelap dan sunyi.
Tidak ada hantu. Hanya kesunyian yang mencekik.
Leon menjambak rambutnya frustrasi, air mata mengalir di pipinya. "Hentikan... kumohon hentikan..."
Dia tidak tahu bahwa di sudut langit-langit kamarnya yang paling gelap, seekor laba-laba kecil transparan sedang bertengger diam.
Itu adalah Mata-mata Necromancy milik Varian. Laba-laba itu memancarkan gelombang sihir halusinasi Void frekuensi rendah. Sihir ini sangat halus sehingga tidak terdeteksi oleh alarm asrama, tapi efek jangka panjangnya merusak kewarasan target, memperkuat rasa bersalah (survivor's guilt) dan paranoia.
Varian tidak menyerang Leon dengan pedang. Dia menyerang pikirannya, meruntuhkan benteng mental sang Pahlawan bata demi bata.
Keesokan Harinya. Menara Jam Akademi, Saat Senja.
Langit sore berwarna jingga kemerahan, indah namun melankolis. Angin berhembus pelan, menerbangkan kelopak bunga sakura di taman bawah. Ini adalah tempat paling romantis di Akademi.
Leon Gremory berdiri di balkon menara. Dia memakai baju terbaiknya. Dia mencoba tersenyum, mencoba melupakan mimpi buruknya dengan harapan cinta baru. Di tangannya, dia menggenggam setangkai mawar putih yang dia petik sendiri. Wajahnya merona, campuran antara gugup dan harap.
Di hadapannya, Putri Aeliana berdiri mematung. Wajah cantiknya pucat pasi, seolah dia sedang berdiri di depan regu tembak, bukan di depan pria yang menyukainya.
Seminggu ini, Aeliana telah mendekati Leon. Bukan karena dia mau, tapi karena Varian memerintahkannya di perpustakaan. "Dekati dia. Jadilah temannya. Buat dia merasa tidak bisa hidup tanpamu."
Dan Leon, yang jiwanya sedang rapuh, kesepian, dan dihantui rasa bersalah, jatuh cinta dengan cepat dan keras pada satu-satunya orang yang (tampaknya) peduli padanya secara tulus. Aeliana adalah pelabuhan baginya di tengah badai.
"Aeliana..." suara Leon lembut, penuh kasih sayang. Dia melangkah maju. "Seminggu ini adalah waktu paling berarti dalam hidupku sejak keluargaku pergi. Kau hadir saat aku hancur. Kau mendengarkanku saat semua orang hanya melihatku sebagai 'Pahlawan' atau 'Pajangan Politik'."
Leon menyodorkan mawar putih itu dengan tangan gemetar.
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat... tapi aku merasa takdir mempertemukan kita. Maukah kau menjadi pasanganku, Aeliana? Maukah kau mengizinkanku melindungimu?"
Hening.
Angin berhembus, membawa keheningan yang menyakitkan.
Aeliana menatap bunga itu seolah-olah itu adalah ular berbisa yang siap menggigitnya.
Jantungnya berdetak kencang karena takut. Bayangan wajah Varian yang dingin dan kejam muncul di benaknya. Varian tidak pernah memberitahunya apa yang harus dilakukan setelah Leon jatuh cinta.
Aeliana panik. Jika aku menerima Leon, aku akan menyeretnya ke dalam permainan gila Varian. Varian akan menggunakan hubungan kami untuk menghancurkan Leon lebih jauh. Tapi jika aku menolak... aku akan menghancurkan hati Leon sekarang juga.
Aeliana memilih rasa sakit yang instan daripada rasa sakit jangka panjang. Dia tidak tega menipu Leon lebih jauh. Rasa bersalahnya sudah mencekik lehernya.
"Leon..." suara Aeliana tercekat. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku minta maaf."
Senyum Leon memudar perlahan, seperti matahari yang tertutup gerhana. "Maaf? Kenapa?"
Aeliana mundur selangkah, menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa menerimanya. Kau... kau salah paham dengan perasaanku."
"Salah paham?" Leon mengerutkan kening bingung, rasa sakit mulai merambat di dadanya. "Tapi... tatapanmu. Perhatianmu. Saat kau mengobati lukaku kemarin... itu terasa nyata. Apa aku salah merasakannya? Apa aku gila?"
"Itu..." Aeliana memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi pipi. Dia memilih kebenaran yang paling menyakitkan untuk mengakhiri ini secepatnya. "Aku mendekatimu bukan karena aku menyukaimu, Leon."
Leon terdiam. Tangannya yang memegang mawar turun perlahan ke sisi tubuhnya. "Lalu... karena apa?"
"Karena aku harus," bisik Aeliana lirih, suaranya pecah karena isak tangis. "Ada... alasan yang tidak bisa kujelaskan. Tapi tolong percaya padaku... kita tidak seharusnya bersama. Aku... aku hanya menjalankan peran."
Jawaban itu ambigu, tapi bagi Leon yang sedang paranoid akibat mimpi buruk dan merasa bersalah, otaknya menyusun kesimpulan sendiri yang paling mengerikan.
Dia harus?
Karena tekanan Raja?
Karena kasihan melihat yatim piatu yang menyedihkan yang selalu menangis?
Jadi semua senyum itu... semua kebaikan itu... palsu?
"Jadi..." suara Leon terdengar kosong, hampa, seolah jiwanya baru saja ditarik keluar. "Semua itu palsu?"
Aeliana terisak pelan, tidak bisa menjawab. Dia berbalik dan lari menuruni tangga menara, tidak sanggup melihat wajah hancur Leon sedetik pun lagi. "Maafkan aku, Leon! Maafkan aku!"
Mawar putih di tangan Leon terlepas. Jatuh ke lantai batu dengan suara tak yang sunyi.
Leon berdiri sendirian di senja itu. Angin mengacak-acak rambut emasnya. Dia tertawa kecil. Tawa yang menyayat hati, penuh ironi dan kepahitan.
"Aku pikir akhirnya ada satu orang yang melihatku sebagai manusia," gumam Leon pada angin. "Ternyata aku cuma tugas. Atau objek rasa kasihan."
"Memang benar kata mimpi itu... aku pembawa sial. Aku ditakdirkan sendirian."
Di atas atap menara jam, tersembunyi oleh sihir Stealth yang sempurna.
Varian (Tubuh Asli) duduk bersila di gargoyle batu sambil memakan apel merah. Dia melihat semuanya. Dia melihat mawar yang jatuh. Dia melihat Aeliana yang lari menangis. Dia melihat punggung Leon yang bungkuk karena kesedihan yang menghancurkan.
"Luar biasa," puji Varian sambil mengunyah apelnya dengan suara renyah. Krak.
"Aku tidak menyuruh Aeliana menolak. Aku tidak menyuruhnya menghina. Aku hanya menyuruhnya mendekat. Tapi ketakutan Aeliana pada diriku dan rasa insecure Leon bekerja sama dengan sempurna untuk menciptakan tragedi ini."
Varian berdiri, membersihkan jubahnya, lalu membuang sisa apelnya ke bawah, mendarat tepat di dekat kaki Leon yang tidak menyadarinya.
"Pahlawan sudah patah hati. Fondasi mentalnya sudah retak parah. Besok... aku tinggal menyentilnya sedikit di depan umum, dan dia akan runtuh sepenuhnya."