Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Rindu Kamu
Pagi itu, penginapan sudah mulai ramai. Suara riuh Juliet dan teman-temannya terdengar dari lorong, saling teriak-teriak sambil sibuk mengemas barang bawaan. Lyla duduk di tepi ranjang, memasukkan barangnya ke koper dengan wajah setengah mengantuk.
Saat hendak menutup koper, pandangannya terhenti pada sesuatu di atas meja.
Sebuah jaket hitam. Jaket milik Noah.
Lyla menoleh kiri-kanan memastikan tak ada yang melihat, lalu perlahan mengambil jaket itu. Jemarinya meremas kainnya sebentar… dan entah kenapa, ia mendekatkan wajahnya ke jaket itu. Aroma parfum Noah langsung memenuhi hidungnya... hangat, segar, dan entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Astaga… kenapa aku jadi kayak orang aneh begini? batinnya panik.
Tiba-tiba..
“Lyla! Cepat! Nanti bus keburu datang!” Juliet muncul di pintu dengan suara tegas, membuat Lyla hampir menjatuhkan jaket itu.
Juliet lalu berlalu sambil terus mengomel ke anak-anak lain yang bangun kesiangan.
Lyla buru-buru melipat jaket Noah, menyembunyikannya di belakang punggung saat keluar dari kamar.
Di luar penginapan, para anak laki-laki mulai berkumpul. Lyla memperlambat langkahnya ketika melihat Noah… sedang dipapah oleh salah satu temannya. Wajahnya terlihat pucat.
“Kenapa dia?” tanya Juliet cepat, melirik Noah dengan kening berkerut.
“Dia sakit… mungkin semalam dia keluar dan nggak pakai jaket,” jawab salah satu anak laki-laki.
“Dasar anak bodoh,” gumam Juliet kesal, lalu kembali mengurus koper dan daftar penumpang.
Lyla terdiam. Jemarinya semakin erat menggenggam jaket Noah di belakang punggungnya. Perasaan bersalah menyusup semua ini karena jaket Noah yang ia pakai semalam.
Ketika Noah melewati Lyla, ia sempat melirik. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya, seolah ingin menenangkan: Aku baik-baik saja.
Tak lama, semua sudah naik bus. Lyla duduk di kursinya, mencoba mendengarkan Jay yang duduk di sampingnya sedang heboh bercerita tentang hantu di penginapan. Tapi pikirannya melayang. Pandangannya pun diam-diam mengarah ke depan—ke kursi di mana Noah duduk, bersandar lemas pada jendela.
Apa dia benar-benar baik-baik saja?
**
Lyla melangkah keluar dari taksi dengan koper di tangan. Ia tersenyum tipis saat ibunya membukakan pintu dan langsung bertanya bagaimana liburannya.
Setelah menaruh koper di kamarnya, Lyla duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada jaket hitam yang kini terlipat rapi di pangkuannya. Jaket Noah.
Ia menunduk, mengusap kain itu pelan, seolah mengingat kembali senyum lemah Noah pagi tadi. Entah kenapa perasaan khawatir itu belum hilang, bahkan semakin menumpuk.
"Dia baik-baik aja, kan?" gumamnya pelan.
Lyla merebahkan diri, memeluk jaket itu. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya masih berada di tepi pantai malam itu di bawah cahaya lampu dan suara ombak dan ciuman pertamanya.
Lyla melihat ponselnya, namun tidak ada pesan dari Noah. Hatinya semakin khawatir.
**
Esoknya, hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester. Lyla berjalan sendirian menuju sekolah, sesekali melirik ke sekitar siapa tahu ada Noah. Sejak kemarin, ia tidak menghubungi, dan Lyla pun merasa sungkan untuk menghubungi duluan.
“Lyla, teman kebanggaanku!” seru Nomi tiba-tiba dari belakang sambil langsung merangkul lengan Lyla.
“Eh… Nomi,” ucap Lyla kaget.
“Wah… coba lihat, siapa perias hebat dari kelas kita!” Nomi mengguncang pelan badan Lyla. “Aku menonton teater anak-anak kemarin, dan aku tahu itu ciri khas make-up kamu! Kenapa kamu nggak bilang, Lyla? Kenapa nggak bilang kalau kamu jadi bagian dari tim mereka?” keluhnya.
“Hehe… aku nggak sengaja,” Lyla terkekeh kecil. “Ya ampun, aku lihat Noah. Dia cocok sekali menjadi seorang kesatria,” ucapnya kagum.
Lyla hanya tertawa kecil menanggapi.
**
Saat jam istirahat, Lyla melangkah pelan menuju aula. Ia berharap, mungkin saja Noah ada di sana. Dari depan pintu, ia mengintip sedikit ke dalam.
Tiba-tiba
“Noah nggak ada. Dia sakit…” bisik Juliet tiba-tiba di belakangnya, membuat Lyla tersentak kaget.
“Hahaha, ketahuan… merindukan pacar, ya?” Juliet mengedipkan mata nakal.
“K-ka…” Lyla langsung menunduk, wajahnya memerah karena malu.
“Ini alamat rumah Noah. Datangi saja,” ujar Juliet sambil menyelipkan secarik kertas ke tangan Lyla. “Tidak perlu berterima kasih. Anggap saja aku ibu mertua yang merestui kalian.”
Juliet kembali mengedip nakal sebelum melangkah masuk ke aula, meninggalkan Lyla yang masih memegang kertas itu dengan hati berdebar.
“Apaan sih… mana mungkin aku datang ke rumahnya…” gumam Lyla sambil menatap kertas alamat di tangannya.
Namun, ketika jam sekolah usai…
Lyla justru sudah berdiri di depan gerbang sebuah rumah yang terlihat sedikit lebih mewah dibanding rumahnya. Ia terdiam, memeluk erat totebag yang berisi jaket Noah jaket yang sudah ia laundry dan rencananya ingin ia kembalikan.
“Ini rumahnya…” bisiknya kagum. “Apa aku yakin… lebih baik nggak usah, kan?” Ia mulai berbalik, berniat pergi.
“Siapa itu…?”
Suara seorang perempuan terdengar dari arah dalam gerbang. Lyla menoleh, dan melihat sosok elegan berjalan mendekat. Perempuan itu cantik, posturnya anggun, dengan senyum tipis di wajahnya.
Lyla buru-buru membungkuk sopan.
“Oh, temannya Noah, ya?” tanya perempuan itu dengan nada santai. “Mau menjenguk?”
“Ah… tante… tidak, aku hanya kebetulan lewat, hehe…” jawab Lyla gugup.
Perempuan itu menatapnya sejenak. Lyla pun balik menatap, lalu dalam hati bergumam, wah… kalau ini ibunya Noah… keren banget. Masih muda, cantik, elegan…
“Ayo masuk…”
Perempuan itu membuka pintu gerbang, senyumnya ramah.
Lyla terpaku di tempat, malu-malu .
“Ayo… jangan sungkan. Tante senang sekali ada yang mau jenguk Noah,” ucapnya lagi, nada suaranya hangat.
“Ah… iya, Tante…”
Lyla akhirnya melangkah masuk, mengikuti perempuan itu. Begitu melewati pintu, matanya langsung dimanjakan pemandangan interior rumah yang estetik perpaduan warna yang lembut, pencahayaan hangat, dan perabotan yang tertata rapi.
“Naik saja ke atas… kamar Noah di lantai dua. Dia mungkin sedang tidur, tapi tidak apa-apa kok, masuk saja.”
“Eh… tidak usah, Tante. Aku di sini saja,” jawab Lyla buru-buru, mencoba menghindar.
“Hey… tidak apa-apa.” Perempuan itu tersenyum tipis, suaranya lembut namun meyakinkan. “Tante akan buatkan minum. Ayo naik.”
Lyla menelan ludah. Ya ampun… masa aku nolak? Dengan langkah ragu, ia mengikuti arahan dan menaiki tangga yang terasa lebih panjang dari biasanya.
Sampai di depan pintu kamar, Lyla mengetuk pelan. Pintu itu terdorong sedikit ternyata tidak tertutup rapat. Ia memberanikan diri mengintip.
Di dalam, Noah terbaring di ranjangnya, wajahnya pucat. Dia sedang tertidur .
Lyla melangkah pelan masuk. Pandangannya menyapu kamar yang bertema monokrom. Tidak ada yang aneh, tidak ada barang berserakan. Justru terlalu rapi.
Namun, hatinya… berdebar kencang.
'Ya ampun… ini pertama kalinya aku masuk ke kamar anak cowok…'
Lyla meletakkan totebag di atas meja belajar Noah. Pandangannya kembali pada Noah yang tertidur pulas di ranjang. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mengendap di dadanya.. ingin rasanya menangis.
Perlahan, ia bergerak ke sisi ranjang dan berjongkok. Matanya menatap wajah Noah yang terlihat lemah namun tenang.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
“Kamu sedang apa duduk di sana seperti anak ayam?” suara perempuan itu terdengar, nada bicaranya sedikit bercanda.
“Ah… hehehe…” Lyla refleks berdiri, tersenyum canggung.
Perempuan itu masuk sambil membawa segelas minuman dan sepiring buah. Ia meletakkan minuman itu di meja, lalu memindahkan kursi belajar Noah ke dekat ranjang.
“Duduklah di sini. Minuman ini untuk kamu, dan buah itu untuk Noah. Kalau nanti dia bangun, berikan padanya,” ucapnya sambil tersenyum hangat.
Lyla mengangguk pelan.
“Oh iya, siapa namamu?”
“Lyla, Tante…” jawabnya gugup.
“Ehm… Lyla.” Perempuan itu tersenyum lagi, lalu menatapnya sejenak. “Lyla, kamu mau bantu jagain Noah sebentar? Tante harus mengantarkan surat ini. Sangat penting. Bisa tolong?”
“Ah… iya, Tante.”
“Terima kasih… Lyla.”
Perempuan itu lalu melangkah keluar, meninggalkan Lyla sendirian di kamar bersama Noah yang masih terlelap.