NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keesokan paginya, sinar matahari baru saja mulai menyelinap masuk melalui celah jendela kamar. Aletta terbangun dengan perasaan segar dan semangat, namun saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah, ia langsung mencium bau harum yang sangat lezat menyebar ke seluruh penjuru rumah. Aroma itu membuat perutnya langsung berbunyi lapar.

Saat sampai di dapur, Aletta terkejut melihat Silvia yang sedang sibuk di depan kompor dengan wajah ceria. Di atas meja dapur sudah tersaji berbagai macam makanan yang terlihat sangat menggugah selera ada nasi goreng yang warnanya cantik, ada dadar telur yang lembut, juga tumisan kangkung yang harum.

"Wah, baunya enak banget! Silvia, loh yang masak semua ini?" seru Aletta takjub sambil mendekat.

Silvia menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan Aletta. "Pagi, Al! Iya nih, gue bangun lebih pagi hari ini. Kebetulan gue lagi pengen masak, jadi gue bikinin sarapan buat loh dan teman-teman yang lain. Coba deh loh cicipi dulu, semoga cocok sama selera loh ya," jawabnya ramah.

Aletta segera mengambil sepotong dadar telur dan memakannya dengan lahap. Matanya langsung membelalak senang. "Enak banget, Silvi! Rasanya lezat sekali, bumbunya pas banget. Gue suka banget! Loh pinter banget sih masaknya, rasanya kayak masakan ibu gue sendiri," puji Aletta dengan tulus.

Mendengar pujian itu, wajah Silvia berseri-seri senang. "Asyik! Gue senang banget kalau loh suka. Tenang aja, ini bukan cuma buat loh kok. Gue juga udah siapin piring buat Widi, Cika, Marina, Luna, dan Oca. Yuk panggil mereka semua, biar kita sarapan bareng!"

Tak lama kemudian, teman-teman yang lain berdatangan satu per satu ke dapur. Mereka semua sama terkejut dan senangnya saat melihat hidangan yang tersedia.

"Wah, ada pesta sarapan rupanya! Makasih banyak ya, Silvia. Loh baik banget," kata Cika sambil langsung duduk bersemangat.

"Iya nih, enak banget masakannya. Loh hebat banget, Silvia! Kita beruntung banget punya teman sebaik loh," tambah Marina sambil tersenyum bahagia.

Suasana sarapan pagi itu terasa begitu hangat dan akrab. Mereka makan dengan lahap, saling memuji masakan Silvia, dan mengobrol dengan riang, membuat pagi itu terasa sangat indah dan menyenangkan bagi mereka semua.

Siang harinya, matahari bersinar terik sekali, membuat udara terasa agak gerah. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat para penghuni kosan untuk bersenang-senang. Saat sedang duduk santai di ruang tengah, tiba-tiba Cika mengusulkan ide yang seru.

"Teman-teman! Dari pada kita cuma duduk-duduk aja dan bosen, gimana kalau kita bikin cimol yuk? Kan bahannya ada semua di sini, pasti seru banget bikinnya bareng-bareng," ajak Cika antusias.

"Ayooo! Gue setuju banget. Gue suka banget cimol yang kenyal-kenyal gitu," jawab Oca cepat.

"Siap! Yuk kita bagi tugas biar cepat selesai dan nggak bingung," kata Widi langsung mengambil alih peran.

Akhirnya mereka sepakat membagi tugas Aletta, Cika, Marina, dan Oca bertugas mengolah bahan dan membuat adonan serta membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil. Sedangkan Silvia, Widi, dan Luna bertugas di bagian penggorengan dan menyiapkan bumbu taburnya.

Di meja dapur, empat gadis itu sibuk mengaduk tepung kanji, mencampur air panas, garam, dan bumbu halus. Mereka bekerja sama dengan tekun, sesekali tertawa karena tangan mereka jadi lengket semua terkena adonan.

"Waduh, lengket banget sih adonannya! Kayak permen karet ya," keluh Oca sambil mencoba membersihkan tangannya.

"Hahaha, makanya diaduknya sampai kalis ya. Biar nanti pas digoreng enak dan kenyal," kata Aletta sambil tertawa melihat tingkah Oca.

Setelah adonan selesai dan terbentuk bulatan-bulatan kecil yang lucu, mereka menyerahkannya ke bagian penggorengan. Silvia, Widi, dan Luna sudah bersiap di depan kompor dengan panci berisi minyak panas yang mendidih.

"Oke, kita masukkan sekarang ya! Hati-hati jangan sampai cipratan minyak kena kulit," pesan Silvia dengan waspada.

Satu per satu bulatan adonan dimasukkan ke dalam minyak panas. Namun, baru saja beberapa saat di dalam penggorengan, kejadian tak terduga terjadi!

Pletok! Prak! Jedar!

Suara ledakan kecil terdengar bersahutan dari dalam panci. Cimol-cimol itu tiba-tiba meletup-letup dan melompat tinggi keluar dari minyak panas, seolah punya nyawa sendiri. Ada yang melompat ke atas meja, ada yang jatuh ke lantai, bahkan ada yang nyasar kena ujung rambut Luna!

"Aduh! Apa ini kok loncat-loncat semua sih?!" teriak Luna kaget sambil menepuk-nepuk rambutnya.

"Waduh, waduh... Berceceran kemana-mana nih jadinya! Hahaha," Widi tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan kacau itu.

Mereka bertiga di depan kompor langsung mundur ketakutan tapi sambil menahan tawa yang meledak-ledak. Keempat teman yang membuat adonan pun berlari mendekat dan ikut tertawa melihat kekacauan itu.

"Ya ampun... Kok bisa meletup begitu? Kita lupa lubangi tengahnya ya makanya jadi meledak semua," kata Aletta di sela tawanya.

Setelah suasana agak tenang dan cimol yang tersisa matang sempurna, mereka mengumpulkan hasilnya. Ternyata setelah berceceran kemana-mana dan melompat keluar, cimol yang tersisa di piring cuma sedikit sekali, jumlahnya tidak sebanding dengan adonan yang mereka buat tadi.

Tapi hal itu sama sekali tidak membuat mereka sedih atau kecewa. Justru mereka tertawa puas sambil memakan cimol yang tersisa itu dengan nikmat, rasanya terasa jauh lebih enak karena dibuat dengan canda tawa dan kebersamaan.

"Pokoknya seru banget deh! Biarpun cuma dapet sedikit, tapi rasanya paling enak sedunia," kata Marina riang.

Menjelang sore, suasana di kosan makin ramai lagi. Kali ini, teman-teman cowok mereka Diego, Arga, dan Gery datang berkunjung dengan membawa banyak bahan makanan.

Rencananya, sore dan malam ini mereka akan mengadakan acara ngeliwet bersama, yaitu acara memasak nasi dan lauk pauk menggunakan daun pisang dengan cara tradisional lalu dimakan bersama-sama.

"Wah, kalian datangnya pas banget! Kita udah nungguin dari tadi," sapa Cika ceria saat melihat kedatangan mereka.

"Kita bawa banyak bahan nih! Yuk kita bagi tugas biar cepat selesai dan bisa dimakan pas malam nanti," kata Diego dengan semangat.

Mereka pun segera beraksi dan membagi tugas dengan tertib namun tetap riang.

Kelompok belanja Arga dan Oca kembali keluar untuk membeli bumbu tambahan dan bahan yang kurang.

Kelompok mencuci sayuran Aletta, Marina, dan Gery sibuk di wastafel membersihkan semua jenis sayuran segar yang dibawa.

Kelompok mencari daun pisang Diego dan Silvia pergi ke kebun di belakang rumah untuk memetik daun pisang yang lebar dan bersih.

Kelompok memasak Widi, Cika, dan Luna bertugas di depan kompor mengolah bumbu dan menyiapkan masakan utama.

Semua bekerja sama dengan sangat antusias. Tidak ada yang bermalas-malasan, semuanya saling membantu dan bercanda. Suasana dipenuhi suara tawa, candaan, dan obrolan seru yang membuat suasana kosan jadi sangat hidup dan hangat.

"Gery, potongan bawangnya jangan terlalu tebal dong nanti gak matang," tegur Aletta sambil tertawa melihat potongan bawang Gery yang besar-besar.

"Hahaha, iya deh iya. Maaf nih tangan gue kurang luwes kalau urusan begini," jawab Gery sambil cengengesan.

Hingga akhirnya, setelah bekerja keras dari sore sampai malam, semua masakan dan nasi yang dibungkus daun pisang itu matang dengan sempurna dan mengeluarkan aroma yang sangat harum dan menggugah selera.

Mereka pun duduk melingkar di ruang tengah, menyajikan semuanya di atas daun pisang yang dibentangkan lebar, lalu makan bersama-sama dengan tangan langsung.

Rasanya sungguh nikmat, dan kebersamaan itu membuat makanan terasa jauh lebih lezat dari biasanya. Mereka makan sampai kenyang dan puas, sambil terus mengobrol dan tertawa hingga larut malam.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit malam. Para cowok sudah berpamitan hendak pulang, tapi karena sudah terlalu larut dan gelap, serta jalanan agak sepi, akhirnya mereka diizinkan untuk duduk-duduk santai di ruang tamu menunggu agak siang sedikit lagi. Para gadis pun masih ada yang belum tidur, masih asyik mengobrol di ruang tengah.

Tiba-tiba, kejadian aneh dan menakutkan terjadi!

Oca yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba saja matanya terpejam rapat, tubuhnya kaku dan lemas, lalu ia menjerit panjang yang mengerikan.

"Huaaaaaaa!!!!!!!!"

Suara itu sangat keras dan memecah keheningan malam. Semua orang langsung terdiam dan kaget setengah mati menatap Oca. Belum sempat mereka bertanya atau mendekat, Oca langsung menangis tersedu-sedu dengan suara yang berat dan aneh, tidak seperti suaranya yang biasa.

Dia menangis sejadi-jadinya, berguling-guling di lantai, dan terus berteriak seolah sedang sangat sedih atau marah sekali. Tangisannya terdengar begitu menyayat hati dan mengerikan hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

"Aduh, Oca kenapa ini?! Oca bangun, Oca sadar!" teriak Cika panik sambil mencoba memegang bahu Oca.

"Jangan dekat-dekat dulu! Dia kayaknya kesurupan nih," kata Gery dengan wajah pucat dan hati-hati.

Tangisan dan teriakan Oca terus terdengar nyaring, mengganggu ketenangan seluruh penghuni kosan dan tetangga sekitar.

Suasana jadi sangat tegang, menakutkan, dan panik. Para gadis saling berpegangan tangan dengan wajah ketakutan, sedangkan para cowok juga tampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Melihat keadaan yang semakin memburuk dan Oca yang terus menangis serta menjerit tanpa henti, Silvia yang sejak tadi mencoba menenangkan diri akhirnya mengambil keputusan. Dia segera meraih ponselnya dan menelepon Diego dengan nada suara yang panik dan gemetar, padahal Diego ada di sana juga.

"Diego... Diego tolong... Tolong kami... Oca kenapa begini? Kami takut sekali," ucap Silvia di telepon sambil menangis kecil.

Diego yang mendengar itu segera mendekat ke arah Silvia dan menenangkannya. "Tenang, Silvia, tenang. Gue ada di sini kok. Kita sama-sama di sini, nggak akan gue biarkan kalian sendirian," katanya tegas.

Karena keadaan Oca yang masih kacau dan mengganggu ketenangan, serta melihat ketakutan yang melanda seluruh penghuni kosan, akhirnya diputuskan bahwa Diego, Arga, dan Gery tidak jadi pulang. Tidak mungkin rasanya membiarkan para gadis sendirian dalam keadaan yang menakutkan seperti ini di tengah malam buta.

"Baiklah, kami nggak pulang malam ini. Kami akan menginap di sini, di ruang tamu dan teras depan. Kami akan jaga kalian semuanya sampai keadaan aman dan tenang kembali," kata Diego dengan tegas dan berani.

Keputusan itu langsung disambut rasa lega oleh semua gadis. Mereka merasa jauh lebih aman dan tenang dengan kehadiran ketiga teman laki-laki mereka itu.

Akhirnya, Diego, Arga, dan Gery mengatur tempat istirahat sederhana di ruang depan dan teras, bergantian berjaga dan memantau keadaan.

Sementara para gadis masuk ke kamar masing-masing namun tetap tidak bisa tidur dengan tenang. Mereka merasa sangat bersyukur karena teman-teman laki-laki mereka mau berbaik hati menginap dan melindungi mereka di saat yang paling menakutkan seperti itu.

Malam itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka semua, penuh ketakutan namun juga penuh rasa persahabatan yang sangat erat dan saling menjaga.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!