NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Rumah ini dulu terasa hangat.

Aku masih ingat bagaimana ibu selalu membuka jendela setiap pagi, membiarkan sinar matahari masuk bersama aroma teh hangat yang ia siapkan di meja makan. Suaranya lembut, memanggil namaku dengan penuh kasih, seolah dunia ini tidak akan pernah menyakitiku selama ia ada.

Tapi itu dulu.

Semenjak ibu meninggal, semuanya berubah.

Rumah ini masih sama—dindingnya, perabotannya, bahkan taman kecil di depan rumah—semuanya tetap pada tempatnya. Namun rasanya… kosong. Seperti ada bagian yang hilang dan tidak akan pernah bisa kembali.

Dan kekosongan itu semakin terasa sejak ayah menikah lagi.

“Apa kamu tidak bisa bergerak lebih cepat, Alina?”

Suara tajam itu memecah lamunanku. Aku yang sedang berdiri di dapur langsung tersentak. Tanganku masih memegang piring yang belum sempat kukeringkan.

“Iya, Bu…” jawabku pelan.

Di ambang pintu dapur, Diana Pratama—ibu tiriku—berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya terlihat kesal, meskipun aku tidak tahu pasti kesalahan apa yang sudah kulakukan kali ini.

“Dari tadi hanya mencuci piring saja lama sekali. Jangan malas,” katanya dingin.

Aku menunduk, kembali mengelap piring tanpa membalas. Menjelaskan hanya akan memperpanjang masalah. Aku sudah belajar itu sejak lama.

Belum sempat aku menyelesaikan pekerjaanku, suara langkah kaki ringan terdengar dari arah ruang tamu.

“Mom, aku lapar…”

Suara itu manja, diiringi helaan napas kecil seolah dunia tidak pernah adil padanya.

Celine Pratama. 

Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

“Sayang, kamu belum makan?” Nada suara ibu tiriku langsung berubah lembut—berbeda jauh dari nada yang ia gunakan padaku beberapa detik lalu.

“Aku lagi diet sih, tapi tadi lihat dessert di kafe jadi pengen…” jawab Celine sambil terkekeh kecil.

Aku mengangkat sedikit pandanganku. Dari dapur, aku bisa melihat bayangan mereka di cermin ruang makan.

Celine duduk santai, rambutnya yang panjang terurai rapi, kukunya berkilau dengan warna baru. Pakaiannya terlihat seperti baru dibeli—lagi. Sementara aku… masih mengenakan baju

yang sederhana dengan lengan sedikit basah karena air.

“Nanti Mama suruh Alina buatkan sesuatu ya,” kata ibu tiriku sambil tersenyum.

Aku terdiam.

Tanpa menunggu persetujuanku.

Seperti biasa.

“Alina!” panggilnya.

“Iya, Bu…”

“Buatkan makanan untuk kakakmu. Yang enak. Jangan asal.”

“Iya…” jawabku lagi, meski dalam hati aku ingin bertanya: Kapan terakhir kali ada yang memikirkan apa yang aku inginkan? 

Aku mulai menyiapkan bahan di dapur. Tanganku bergerak otomatis—memotong, mengaduk, memasak—semua terasa seperti rutinitas tanpa makna.

Kadang aku bertanya-tanya…

Apa aku benar-benar bagian dari keluarga ini?

Atau hanya seseorang yang kebetulan tinggal di dalam rumah yang sama?

Pikiranku melayang kembali pada ibu.

Kalau ibu masih ada… apakah aku akan tetap seperti ini?

“Lama sekali sih!” suara Celine kembali terdengar, kali ini lebih keras.

Aku menarik napas pelan, menahan sesuatu yang terasa menyesakkan di dada. Air mataku hampir jatuh, tapi aku cepat-cepat mengedipkannya.

Aku tidak boleh menangis.

Bukan di sini.

Aku membawa makanan itu ke meja. Celine bahkan tidak menoleh saat aku meletakkannya di depannya.

“Hm, kelihatannya biasa saja,” komentarnya sambil mengaduk pelan.

Aku hanya diam.

“Ya sudah, makan saja. Daripada tidak ada,” lanjutnya santai.

Aku berbalik, berniat kembali ke dapur, tapi langkahku terhenti saat suara berat ayah terdengar dari pintu depan.

“Papa pulang.”

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

Entah kenapa, setiap kali ayah pulang, aku selalu berharap… mungkin hari ini akan berbeda.

Mungkin hari ini ia akan melihatku.

Pintu terbuka, dan Bram Pratama masuk dengan langkah pasti. Jas kerjanya masih rapi, wajahnya terlihat lelah, tapi tetap tegas seperti biasa.

“Papa!” seru Celine langsung berdiri dan berlari kecil menghampirinya.

Aku tetap berdiri di tempatku.

Melihat.

Menunggu.

“Apa kabar, Sayang?” tanya ayah sambil tersenyum—senyum yang sudah lama tidak ia berikan padaku.

“Capek banget hari ini,” jawab Celine manja, memeluk lengan ayah.

Ibu tiriku ikut mendekat. “Kerja keras terus ya, Pa.”

Ayah mengangguk, lalu duduk di kursi makan.

Pandangan matanya sekilas melewatiku.

Hanya sekilas.

“Alina,” panggilnya singkat.

“Iya, Yah…”

“Kamu di rumah saja hari ini?”

Aku terdiam sejenak.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, terasa seperti jarak yang tidak bisa kujangkau.

“Iya, Yah…”

Ayah hanya mengangguk, lalu perhatiannya kembali ke Celine yang mulai bercerita panjang lebar tentang harinya.

Aku berdiri di sana beberapa detik lebih lama… sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke dapur.

Tidak ada yang memanggilku lagi.

Tidak ada yang mencariku.

Di tengah suara tawa mereka, aku menyandarkan diri di meja dapur, menatap kosong ke arah jendela yang sedikit terbuka.

Angin sore masuk perlahan, membawa hawa dingin yang entah kenapa terasa menenangkan.

Aku menutup mata sejenak.

“Ibu…” bisikku pelan.

Kalau ibu masih ada… aku tidak akan merasa sendirian seperti ini, kan?

Namun tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar merasakan satu hal dengan jelas—

Aku tidak punya rumah lagi.

...

Malam itu, aku tidak langsung tidur.

Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut, menatap kosong ke arah jendela. Lampu kamar sengaja tidak kunyalakan, membiarkan gelap menyelimuti ruangan kecil ini. Entah sejak kapan, aku mulai terbiasa dengan kesunyian.

Dari luar kamar, suara tawa masih terdengar samar.

Mereka.

Selalu mereka.

Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diriku sendiri. Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku sudah melewati hari-hari seperti ini berkali-kali.

Namun entah kenapa, malam ini terasa lebih berat.

Tok.

Tok.

Suara ketukan di pintu membuatku sedikit terkejut.

Aku langsung berdiri. “Iya?”

“Alina, keluar sebentar. Papa mau bicara,” suara ayah terdengar dari balik pintu.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Ayah… ingin bicara denganku?

Perasaan aneh muncul di dalam dadaku. Harapan kecil—yang seharusnya tidak ada—perlahan tumbuh tanpa izin.

“Iya, Yah…”

Aku membuka pintu dan melangkah keluar. Ruang keluarga sudah sepi, hanya ayah yang duduk di sofa dengan ekspresi serius. Ibu tiri dan Celine duduk tidak jauh darinya.

Aku berdiri canggung.

“Duduk,” kata ayah singkat.

Aku menurut, duduk di ujung sofa dengan posisi kaku.

Beberapa detik berlalu dalam diam, sampai akhirnya ayah membuka suara.

“Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan.”

Aku menahan napas.

“Beberapa hari lalu, Papa bertemu dengan rekan bisnis lama,” lanjutnya. “Keluarga mereka… sedang mencari calon menantu.”

Aku mengerjap pelan.

Calon… menantu?

“Ini bukan keluarga sembarangan,” tambah ibu tiriku, suaranya terdengar halus seperti biasa di depan ayah. “Mereka sangat terpandang dan kaya.”

Aku menunduk sedikit, berusaha mencerna kata-kata itu.

Perjodohan.

Entah kenapa, kata itu langsung terlintas di pikiranku.

“Awalnya,” ayah melanjutkan, “mereka tertarik untuk menjalin hubungan dengan keluarga kita.”

“Dan tentu saja,” sela Celine sambil tersenyum tipis, “itu kesempatan besar, kan Pa?”

Ayah mengangguk.

“Iya.”

Aku masih diam.

Namun dalam diam itu, sesuatu mulai bergetar di dalam hatiku.

Kesempatan.

Untuk pertama kalinya, kata itu terasa… dekat.

Ayah kemudian menatap ke arahku. Tatapannya tidak lembut, tapi juga tidak sepenuhnya dingin.

“Keluarga itu meminta salah satu dari kalian.”

Aku tertegun.

Salah satu… dari kami?

“Papa masih mempertimbangkan,” katanya lagi. “Tapi ini bukan keputusan main-main. Ini menyangkut masa depan.”

Aku menelan ludah.

Untuk beberapa detik, dunia terasa sunyi.

Aku tahu… kemungkinan besar bukan aku yang akan dipilih.

Selalu begitu.

Selalu Celine.

Namun, bagian kecil dalam diriku—yang selama ini selalu kupendam—mulai berani berharap.

Bagaimana kalau… kali ini berbeda?

Bagaimana kalau… aku yang dipilih?

“Pa,” suara Celine terdengar lembut, tapi jelas penuh arti. “Aku yakin aku bisa menjaga nama baik keluarga.”

Aku menoleh sedikit ke arahnya.

Senyumnya tipis, matanya berkilat penuh keyakinan.

Ibu tiriku juga ikut angkat bicara. “Celine memang lebih terbiasa bersosialisasi dengan kalangan seperti itu.”

Aku menggenggam ujung bajuku pelan.

Tentu saja.

Aku sudah tahu arah pembicaraan ini.

Namun anehnya… ayah tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap ke arahku lagi.

“Alina,” panggilnya.

Aku tersentak kecil. “Iya, Yah?”

“Bagaimana menurutmu?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu… tidak pernah aku dapatkan sebelumnya.

Pendapatku?

Apakah itu penting?

Aku menunduk, berusaha menyembunyikan getaran di suaraku.

“Aku… ikut keputusan ayah saja.”

Kalimat aman.

Selalu itu yang kupilih.

Ayah mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabanku.

“Baik. Papa akan pikirkan.”

Pembicaraan selesai.

Sesederhana itu.

Aku berdiri perlahan, berniat kembali ke kamar. Tapi sebelum aku benar-benar pergi, suara ibu tiriku terdengar lagi.

“Alina.”

Aku berhenti.

“Iya, Bu?”

“Jangan berharap terlalu tinggi,” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk menusuk. “Tidak semua hal cocok untukmu.”

Aku tidak menjawab.

Tidak bisa.

Aku hanya mengangguk kecil, lalu melangkah pergi.

Langkahku terasa ringan… tapi juga berat di saat yang sama.

Begitu sampai di kamar, aku langsung menutup pintu dan bersandar di baliknya.

Jantungku masih berdetak cepat.

Aku tahu seharusnya aku tidak berharap.

Aku tahu hasilnya hampir pasti.

Tapi tetap saja…

Aku berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.

Tanganku terangkat perlahan, menyentuh kaca dingin di depanku.

“Kali ini saja…” bisikku pelan.

Hanya sekali.

Aku tidak meminta banyak.

Aku hanya ingin… dipilih, karena aku ingin pergi dari keluarga inj yang tidak pernah menganggapku lagi.

Angin malam berhembus pelan dari celah jendela.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, harapan kecil itu tumbuh lagi di dalam hatiku—

Rapuh.

Namun nyata.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!