“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zikir dalam Badai Halusinasi
Gas tipis berwarna ungu itu menyebar dengan sangat cepat, keluar dari ventilasi tersembunyi di balik pilar-pilar emas Château de Versailles. Asap itu berputar-putar, menciptakan tirai transparan yang mengubah atmosfer mewah ballroom menjadi tempat yang mencekam. Bau manis yang menyengat mulai merasuk ke indra penciuman, menyerang sistem saraf dan mengaburkan batas antara kenyataan yang pahit dengan mimpi buruk yang paling ditakuti.
Di mata Ceisya, lantai dansa yang megah dengan marmer berkilau itu tiba-tiba seolah mencair. Dinding-dinding istana berubah menjadi lorong-lorong gelap pesantren yang tak berujung, tempat ia dulu sering menghabiskan malam untuk mengaji. Namun, kali ini pesantren itu terasa sunyi dan menakutkan. Sosok wanita dengan wajah yang identik dengannya—namun pucat dan bersimbah darah—melangkah mendekat dengan gerakan yang patah-patah.
"Ceisyra... ikutlah dengan Ibu... di sini dingin sekali, Nduk..." suara itu bergema di dalam kepala Ceisya. Suaranya sangat lembut, mirip sekali dengan suara Farida, namun mengandung nada kematian yang mematikan.
Ceisya mulai limbung. Dunianya berputar. Jemari wanita halusinasi itu terulur, kuku-kukunya yang hitam tampak ingin merobek sukma Ceisya keluar dari raganya. "Aku bukan milik dunia ini..." bisik Ceisya parau, kekuatannya terkuras oleh efek gas tersebut.
Kaelthas merasakan perubahan drastis pada tubuh Ceisya yang mendadak dingin dan gemetar dalam pelukannya. Ia tahu gas halusinogen ini bekerja dengan mencari trauma atau titik terlemah di memori korbannya untuk menciptakan kelumpuhan mental. Dengan gerakan kilat dan naluri seorang pemangsa, Kaelthas tidak membiarkan Ceisya tenggelam lebih dalam. Ia menarik tengkuk Ceisya dengan kasar, membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang sangat keras, menuntut, dan penuh otoritas.
Kaelthas sengaja menggigit bibir bawah Ceisya hingga rasa perih yang nyata menyengat sarafnya. Ia menggunakan rasa sakit fisik itu sebagai jangkar untuk menarik kesadaran Ceisya kembali ke dunia nyata.
"Tatap mataku, Ceisyra! Hanya mataku! Jangan lihat yang lain!" geram Kaelthas tepat di depan bibir Ceisya setelah melepaskan tautannya sejenak. Matanya yang gelap berkilat penuh kegilaan dan cinta yang obsesif. "Aku suamimu! Aku penguasamu! Jangan biarkan hantu atau memori sampah itu mengambilmu dariku!"
Ciuman Kaelthas yang penuh gairah dan dominasi itu terasa seperti sengatan listrik bagi Ceisya. Aroma maskulin Kaelthas yang bercampur dengan wangi parfum kayu cendana—aroma yang selalu menjadi candu baginya—perlahan-lahan menghalau kabut ungu di benaknya. Ceisya mengerjap kuat-kuat. Ia tersadar. Sosok "ibunya" yang bersimbah darah tadi menghilang, berganti menjadi seorang pembunuh bayaran wanita bertopeng mawar hitam yang sedang bersiap menghujamkan belati ke arah mereka.
"Mas Sultan... aku sadar. Aku kembali," bisik Ceisya dengan napas tersengal. Ia menarik napas dalam-dalam, merapalkan zikir penenang hati di dalam batinnya, memperkuat benteng mentalnya agar tidak lagi tertembus oleh racun halusinasi.
Begitu kesadarannya pulih total, Ceisya melihat sepuluh pria bertopeng mawar hitam mulai bergerak mengepung mereka. Mereka memegang pedang anggar yang ujungnya telah diolesi cairan hijau pekat—racun saraf yang mematikan. Kaelthas baru saja hendak mencabut pistol peraknya, namun seorang musuh dengan gerakan cepat berhasil menendang tangan Kaelthas hingga senjata itu terlempar jauh ke sudut ruangan.
"Jangan berani sentuh dia!" teriak Ceisya dengan suara yang menggelegar, penuh dengan kemarahan seorang singa betina yang diganggu.
Ceisya melompat keluar dari pelukan protektif Kaelthas. Dengan gerakan yang sangat artistik namun mematikan, ia menyibakkan gaun malam hitamnya yang lebar. Di tengah ballroom yang kacau, Ceisya memperlihatkan keahlian silat tingkat tinggi yang selama ini ia asah di pesantren. Ia menggunakan jurus Srimpetan Bawah—sebuah sapuan kaki melingkar yang tersembunyi di balik kain gaun mewahnya—untuk menghantam tumpuan kaki dua musuh terdekat hingga mereka terjungkal keras ke lantai marmer.
Tak berhenti di situ, saat seorang lawan mencoba menusuk Kaelthas dari belakang, Ceisya melakukan Tendangan T yang sangat presisi dan bertenaga. Tumitnya menghantam ulu hati lawan tersebut hingga sang musuh terlempar menabrak meja saji kristal. Ceisya bergerak lincah seperti bayangan, tak terduga dan sangat cepat. Ia menggunakan teknik Kuncian Harimau, menangkap lengan musuh yang memegang pedang, memutarnya dengan gerakan sentakan hingga terdengar suara tulang yang berderak patah, lalu merebut pedang anggar itu dan mematahkannya dengan sekali hentakan lutut.
Kaelthas, yang sedang menghajar dua musuh lain dengan pukulan-pukulan brutalnya, sempat tertegun sejenak. Ia selalu tahu istrinya jago bela diri, tapi melihat Ceisya bertarung dengan anggun namun mematikan dalam balutan gaun malam di tengah Paris memberikan sensasi gairah yang berbeda dan sangat kuat di dadanya. Obsesinya meledak; ia ingin segera memeluk wanita itu dan tidak melepaskannya lagi.
"Bidadariku benar-benar seekor macan betina yang lapar," gumam Kaelthas dengan seringai bangga sambil menghantam rahang musuh terakhir hingga pingsan seketika.
Ceisya berdiri di tengah puing-puing pesta yang telah hancur. Napasnya memburu, jilbabnya sedikit berantakan karena gerakan ekstrem tadi, namun auranya tetap tampak suci, berani, dan tak tersentuh. Ia mendongak ke arah balkon lantai atas yang gelap. Di sana, Arkan dengan topeng peraknya berdiri diam, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh dendam dan obsesi yang tak kalah gila.
"Permainanmu murahan, Arkan! Selesai sekarang juga!" teriak Ceisya menantang.
Arkan hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan kasar seperti gesekan amplas di kayu. "Belum, Ceisyra. Ini bahkan belum babak pembuka. Pesta yang sebenarnya sudah menunggumu di kapal pesiar Von Heist. Datanglah... jika kau ingin tahu rahasia besar kenapa kau dikirim ke dunia ini dan siapa kau sebenarnya."
Arkan menghilang ke dalam kegelapan balkon tepat saat Guntur dan pasukan elite Virelion mendobrak pintu utama ballroom. Kaelthas tidak membiarkan Ceisya berdiri sendiri lebih lama. Ia segera berlari, meraup tubuh Ceisya ke dalam pelukan posesif dari belakang. Ia membenamkan wajahnya di pundak Ceisya, menghirup aroma vanila yang mulai memudar berganti dengan aroma keringat dan adrenalin yang memabukkan.
"Kau tidak apa-apa? Katakan padaku ada yang terluka?!" tanya Kaelthas dengan nada parau yang penuh kekhawatiran gila. Ia menciumi pipi dan telinga Ceisya berkali-kali, tangannya meraba seluruh tubuh istrinya dengan teliti, memastikan tidak ada satu pun goresan atau noda darah di kulit putihnya.
"Aku nggak apa-apa, Kael. Tapi kata-kata Arkan... dia bilang soal rahasia kenapa aku di dunia ini. Apa dia tahu soal transmigrasi?" tanya Ceisya gelisah, hanya berani menyuarakannya di dalam hati.
Kaelthas tidak peduli soal rahasia atau alasan apa pun saat ini. Satu-satunya hal yang ada di otaknya adalah membawa istrinya pergi ke tempat yang paling aman dan privat. Tanpa berkata-kata lagi, ia menggendong Ceisya ala bridal style keluar dari Versailles, melewati jajaran mayat dan musuh yang tumbang dengan langkah angkuh seorang Sultan yang baru saja memenangkan pertempuran besar demi ratunya.
Sesampainya di dalam limosin mewah yang antipeluru, Kaelthas segera menutup tirai jendela secara otomatis, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suasana di dalam mobil menjadi sangat intim, gelap, dan hanya diterangi lampu interior berwarna biru redup. Kaelthas menarik Ceisya untuk duduk di atas pangkuannya, menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan rasa lapar yang tak tertahankan.
"Mas Sultan... kita harus bicara serius soal Arkan dan kapal pesiar itu..." ucap Ceisya lirih, mencoba fokus pada ancaman yang ada.
"Bicara nanti, Ceisyra. Sekarang diamlah," potong Kaelthas. Ia menangkup wajah Ceisya dengan tangannya yang besar, sedikit kasar namun penuh dengan cinta yang menyesakkan, lalu ia melumat bibir merah istrinya itu dengan gairah yang meledak-ledak. "Sekarang, aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar masih bernapas, masih di sini, dan masih menjadi milikku. Sepenuhnya milikku."
Kaelthas mencium bibir Ceisya berulang kali dengan tempo yang semakin cepat. Setiap sentuhannya terasa seperti candu yang membuat Ceisya mulai lupa akan ancaman Arkan. Namun, saat tangan Kaelthas merayap ke balik punggung Ceisya untuk mendekapnya lebih erat, jemarinya merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah benda kecil yang sangat tipis menempel di balik kain gaun Ceisya—sebuah alat penyadap mikro berbentuk kelopak mawar hitam.
Alat itu pasti ditempelkan oleh pembunuh bayaran wanita tadi di tengah perkelahian singkat mereka.
Tiba-tiba, dari alat penyadap itu terdengar suara bisikan yang sangat lembut, suara Farida, namun dengan nada yang dingin dan asing: "Malam ini, tidurlah yang nyenyak, Putriku. Karena besok, suamimu sendiri yang akan menjadi orang pertama yang akan menghancurkan seluruh duniamu."
Ceisya membeku di dalam pelukan Kaelthas. Bulu kuduknya berdiri. Siapa sebenarnya yang berbicara melalui alat itu? Dan benarkah Kaelthas menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkannya?
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca