NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian yang tak terlihat

Pagi itu terasa lebih ringan. Setidaknya… di permukaan. Nayra berjalan masuk ke kampus dengan langkah yang lebih stabil dibanding hari-hari sebelumnya.

Tidak ada sosok Arsen. Tidak ada tatapan tajam itu. Tidak ada tekanan yang membuat dadanya sesak.

Namun— Ada sesuatu yang berbeda. Perasaan itu belum benar-benar pergi.

“Kamu keliatan lebih tenang hari ini,” kata Sinta sambil berjalan di sampingnya.

Nayra tersenyum tipis. “Mungkin karena dia nggak muncul.”

Sinta mengangguk. “Baguslah. Berarti dia ngerti batas.”

Nayra tidak langsung menjawab. Matanya menyapu sekitar. Seperti memastikan sesuatu. “Semoga…” gumamnya pelan.

Di dalam kelas—bNayra mencoba fokus. Dosen menjelaskan di depan. Mahasiswa mencatat Suasana normal. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—

Nayra benar-benar mencoba kembali ke rutinitas. Namun, setiap beberapa menit—

Ia tanpa sadar menoleh ke arah jendela.

Seolah ada sesuatu di luar sana.

“Na.” Bisikan Sinta menariknya.

“Iya?”

“kamu dari tadi liat keluar terus.”

Nayra tersenyum kecil. “Kebiasaan aja.”

Sinta menyipitkan mata. “Bukan kebiasaan. Kamu lagi mikirin dia.”

Nayra menghela napas. “Sedikit…”

Sinta tersenyum tipis. “Jadi sekarang kamu yang nyari dia?”

Nayra langsung menggeleng. “Enggak!”

Namun jawabannya terlalu cepat.

Sinta hanya tersenyum kecil. “Ya udah…”

Di luar kampus— Mobil hitam terparkir seperti kemarin.

Arsen tidak hanya diam. Ia membuka laptop di kursi belakang. Beberapa file terbuka.

Semua tentang Nayra. Jadwal kuliah. Tempat yang sering ia kunjungi. Dan beberapa catatan kecil lainnya.

“Pak…” ucap Raka pelan.

Arsen tidak menoleh. “Iya?”

“Ini… sudah hampir seperti mengawasi terlalu jauh.”

Arsen berhenti. Lalu menutup laptop perlahan. “Aku tahu.”

Raka menatapnya. “Terus kenapa masih dilakukan?”

Arsen menatap ke depan. Karena untuk pertama kalinya— Jawabannya bukan sekadar logika. “Karena aku nggak bisa benar-benar jauh.”

Raka terdiam. Tidak menyangka jawaban itu.

Jam istirahat— Nayra duduk di taman.

Tempat yang sama seperti kemarin.

Sinta di sampingnya. "Kamu yakin dia nggak bakal muncul lagi?” tanya Sinta.

Nayra mengangguk pelan. “Harusnya…” Namun nadanya tidak sepenuhnya yakin.

Beberapa menit berlalu. Angin berhembus pelan. Daun-daun bergoyang.

Dan tiba-tiba— Seorang kurir datang mendekat.

“Permisi… ini Nayra?” Nayra menoleh.

“Iya… saya.”

Kurir itu menyerahkan sebuah kantong kecil. “Titipan.”

Nayra mengernyit. “Dari siapa?”

Kurir menggeleng. “Nggak disebutkan.”

Sinta langsung mendekat. “Buka aja.”

Nayra ragu sejenak. Lalu membuka kantong itu perlahan.

Di dalamnya— Ada kotak kecil. Dan sebuah botol vitamin. Ia mengeluarkan kertas kecil.

Tangannya sedikit gemetar. Tulisan rapi.

“Jangan telat makan.”

Sinta langsung menatapnya. “Na…”

Nayra terdiam. Matanya terpaku pada tulisan itu. Perasaan yang sama— Kembali muncul.

“Dia…” bisiknya.

Sinta mengangguk. “Pasti dia.”

Nayra menggenggam kertas itu. Dadanya berdebar. “Kenapa dia…”

Sinta mengangkat bahu. “Perhatian?”

Nayra menggeleng pelan. “Ini… terlalu.”

Beberapa detik hening. Nayra menatap vitamin itu. Lalu kembali ke tulisan.

Di sisi lain— Arsen masih di dalam mobil. Matanya tertuju ke arah taman dari kejauhan.

“Sudah dikirim?” tanyanya.

Raka mengangguk. “Sudah, Pak.”

Arsen tidak menjawab. Ia hanya melihat.

Menunggu dari jauh— Ia bisa melihat Nayra membuka kantong itu. Membaca isi di dalamnya. Meski tidak jelas— Ia tahu. Dia sudah menerimanya.

“Pak…” Raka sedikit ragu.

“Iya?”

“Kalau dia marah?”

Arsen tersenyum tipis. “Dia pasti marah.”

Raka menghela napas kecil. “Terus kenapa tetap dilakukan?”

Arsen menatap ke depan. Tatapannya lembut.

Berbeda dari biasanya. “Karena Aku mau dia tahu…” Ia berhenti sejenak. “Aku tetap ada.”

Di taman— Nayra masih memegang kertas itu.

“Na, kamu mau balikin?” tanya Sinta.

Nayra menggeleng pelan. “Gimana cara balikin kalau nggak tahu dia di mana…”

Sinta terdiam. “Iya juga…”

Nayra menatap ke sekitar. Seperti mencoba menemukan sesuatu. Namun, tidak ada siapa-siapa.

“Kamu marah?” tanya Sinta.

Nayra tidak langsung menjawab. Beberapa detik. Lalu— “Harusnya iya.”

Sinta mengangguk. “Tapi?”

Nayra menatap kertas itu lagi. “Susah…”

Angin berhembus pelan. Membawa suasana yang tidak bisa dijelaskan.

Dari kejauhan— Arsen masih melihat. Tidak mendekat. Tidak memanggil. Hanya memastikan— Bahwa Nayra… tidak benar-benar sendiri

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!