Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Karier dan Hati
Pagi itu, langit Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Cika yang justru mendung. Ia sudah memantapkan diri semalam: surat pengunduran dirinya telah ditulis dan dimasukkan ke dalam amplop. Bukan karena menyerah, tapi karena ingin menjaga apa yang tersisa—harga dirinya, hubungan mereka, dan profesionalitas yang perlahan tercoreng gosip.
Ia tak memberitahu Al, karena dia tidak tahu bagaimana harus memulai darimana. Rasa manis itu hanya dapat dicicipi buat sesaat, datang dan pergi tanpa pemberitahuan.
Di kantor, ia menemui HR dengan tenang. Memberikan surat itu tanpa banyak kata. Pihak HR terkejut, mencoba menahan, tapi Cika tetap pada pendiriannya. “Saya rasa ini pilihan terbaik, Bu.”
---
Malam harinya, saat Al pulang, Cika sudah menyiapkan makan malam seperti biasa. Bahkan Cika menyiapkan kopi kesukaan nya, tidak ada tanda-tanda perubahan. Tapi Al mendiaminya lebih lama malam itu. Ia merasa ada yang berbeda.
Dan saat Marvin mengirim pesan lewat ponsel Al, semuanya terungkap:
“Pak, saya baru dapat info Cika sudah resmi ajukan pengunduran diri ke HR.”
Al menatap Cika yang sedang membereskan piring. “Kamu resign?”
Cika berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Iya.” Cika kembali melanjutkan aktivitasnya, membelakangi Al.
“Tanpa bilang ke aku?”
“Karena ini pilihanku," ucapnya pelan terdengar seperti bisikan.
“Pilihan? Atau pelarian?”
Cika menoleh. Nada suara Al baru kali ini terdengar setajam itu.
“Aku nggak lari. Aku melindungi kamu. Dan melindungi diriku.”
“Kamu pikir aku nggak bisa lindungi kamu? Kamu pikir aku akan biarkan gosip-gosip itu menjatuhkan kamu?”
“Aku capek, Mas. Capek jadi bahan bisik-bisik. Capek disindir. Aku kerja bukan buat dapat tatapan sinis.”
“Dan kamu pikir aku nggak capek lihat kamu mundur?”
Cika terdiam. Mata mereka bertemu. Tak ada air mata, tapi atmosfer penuh ketegangan. Ini bukan pertengkaran biasa. Ini perang antara dua hati yang saling mencintai tapi tidak tahu cara mempertahankan.
“Aku resign bukan karena aku lemah. Tapi karena aku nggak mau hubungan kita rusak hanya karena tempat kerja yang sama.”
“Hubungan kita rusak karena kamu memutuskan sendiri. Tanpa ajak aku bicara.”
“Karena kamu akan bilang jangan. Dan aku tahu aku nggak bisa terus jadi istri direktur tanpa jadi bahan cemoohan.”
Al menarik napas panjang. “Kalau kamu sudah yakin, aku nggak bisa paksa. Tapi mulai hari ini, kita jujur. Nggak ada lagi diam-diam. Nggak ada lagi keputusan sepihak.” Al melembutkan nada bicaranya.
Cika hanya menunduk. “Maaf.”
---
Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama tapi saling membelakangi. Bukan karena benci. Tapi karena sama-sama lelah. Karena terlalu banyak yang ingin dikatakan tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Di luar, hujan turun pelan. Seperti mengiringi hati mereka yang sedang diam-diam patah.
---
Esok harinya, Cika datang ke kantor untuk hari-hari terakhirnya. Ia mengemasi barang-barang pribadi dengan senyum tipis. Banyak yang datang berpura-pura kaget, beberapa bahkan mulai bersikap manis.
Rani memeluknya erat. “Kamu yakin, Cik?”
“Yakin. Kadang kita harus keluar dari tempat yang bikin kita merasa asing, meski kita sudah berusaha sekeras mungkin.”
Dan saat ia melangkah keluar dari kantor untuk terakhir kalinya, angin sore menyambutnya dengan pelan. Seperti mengatakan bahwa kisah ini belum selesai.
Karena cinta yang sebenarnya, kadang justru diuji ketika semuanya tampak siap runtuh.
Bersambung....