Kasta yang berbeda mengharuskan mereka berdua berpisah. Meski kenyataan sangat sulit di tentang. Keduanya Hidup dalam senyuman palsu. Yessica hanya anak dari seorang penjahit, sedangkan Ara adalah seorang pangeran kerajaan. Takdir memang sangat kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Anonimity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Seventeen
"Yang mulia, Apa Anda melihat pangeran Ara?" Tanya Mira kepada Gracio.
"Bukankah Harusnya bersama kamu?" Tanya Gracio Balik.
"Dia tidak Bilang apapun padaku."
"Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya Gracio.
"Tidak." Jawab Mira singkat. Dia tidak menceritakan semuanya Kepada Ayah mertuanya. Sejak Awal Ara memang selalu dingin terhadapnya. Bahkan tak jarang, Ara tidak pernah menganggap dirinya Ada. Berbeda ketika di hadapan Gracio dan Shani. Meski Cuek, Ara masih memperlakukannya sebagai seorang istri.
'*jangan-jangan*......' Mira membatin. Dia Curiga Ara pergi Untuk menemui seseorang. Karena sejak tadi, Orang yang dia duga tidak ada di ruang perjamuan.
\*\*\*
Yessica menghela nafasnya lelah. Dia meminta Ijin kepada Ayahnya Untuk beristirahat lebih awal. Dia Cukup kelelahan menghadiri perjamuan seperti itu.
*KRIETT*
Mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Yessica Yang Berniat berganti pakaian berbalik, Dan....
CUP
Mata Yessica membulat sempurna. Serangan itu datang dengan Tiba tiba. Langsung bersarang di bibir merah meronanya. Pandangannya terkunci Pada Orang yang saat ini, dengan lancang berani menciumnya.
Yessica sempat ingin menikmati Ciuman itu, Namun sepersekian detik dia sadar. Yessica melepaskan diri dengan paksa.
PLAK
"Kau sudah Gila Ara!" Bentak Yessica. Dia Tidak menyangka Mantannya akan seberani ini masuk ke kamarnya dan menciumnya. Ara tertunduk, masih merasakan sakit akibat Tamparan keras Yessica. "Lancang sekali kau masuk ke kamarku!"
"Yessica Aku......"
"Apa!? Aku tidak menyangka kau sebejad Ini Ara. Kau bahkan berani masuk tanpa Ijin ke kamarku?" Yessica murka, membentak Ara berulang kali.
"Maaf. Tapi Yessica...dengarkan aku dulu.." pinta Ara.
"Dengarkan apa. Kita sudah tidak memiliki Hubungan lagi. Sekarang kau keluar, sebelum aku memanggil pengawal." Tunjuk Yessica.
"Yessica dengarkan aku dulu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa menahan diriku. Kau boleh memarahiku sepuasmu. Tapi tolong, jangan usir aku." Mohon Ara.
"Bagaimana Jika Ada yang salah paham Dengan apa yang kau lakukan disini? Bagaimana jika istrimu melihat kita berdua di dalam kamar? Aku tidak ingin membuat ini menjadi rumit. Sekarang kau pergi, Aku mau berganti baju." Yessica berbalik mengabaikan Ara yang masih diam tidak bergerak di tempatnya.
HAP
Ara sudah kehilangan Akal. Saat Yessica berbalik, Dia merengkuh Tubuh Gadis itu Dari belakang dengan erat. Yessica mencoba melepaskan diri. Tapi energinya sudah terkuras akibat Kegiatannya seharian ini. "Lepaskan aku Ara! Atau aku akan berteriak!"
"Yessica Tolong. Hanya sebentar saja. Aku merindukanmu." Ucap Ara di balik punggung Yessica.
"Jangan bercanda. Sekarang kau sudah menikah. Aku tidak Ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain."
"Aku tidak pernah mencintai Mira. Aku hanya mencintaimu. Selamanya..."
"Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu....jika kau mencintaiku, kau tidak mungkin mengakhiri hubungan kita.."
"Aku....."
"Terpaksa?" Potong Yessica.
"Ya." Jawab Ara lemah. Yessica mendengus. " Alasan Yang klise, Ara. Yang bisa kau lakukan hanya meminta maaf. Kau tidak ada bedanya dengan seorang pecundang."
"Yessica....."
***
Sementara itu....."Benarkah?" Ucap Jinan. Pelayan yang membisikan sesuatu Pada Jinan mengangguk. Jinan melihat ke sekeliling. Semua Tamu sedang sibuk dengan urusan masing masing. "Jangan biarkan ada Yang tau." Ucap Jinan dengan Tegas.
"Baik yang mulia." Jinan beranjak dari tempatnya dengan sedikit emosi.
***
"Ara waktumu sudah habis. Lepaskan aku..."
"Yessica...apa kau mau mempunyai anak denganku?" Mata Yessica membulat. Ara sudah di luar kendali.
"KAU GILA?!" Bentak Yessica.
"Yessica, Aku sangat mencintaimu. Aku ingin memiliki keturunan denganmu." Paksa Ara.
"Kau benar-benar sudah tidak waras..." Yessica Meronta, Tapi masih kalah dengan tenaga Ara.
"Ara lepaskan aku....." Ara masih diam tidak menjawab.
"Pangeran Zahran Nur Khairi. Bisa lepaskan dia, sebelum kesabaran saya habis!?" Suara bariton itu mengagetkan kedua insan Yang sedang bertarung Untuk melepaskan diri.
"A-Ayah......"
Raja Jinan menatap Nanar dan dingin dua Orang di hadapannya. Aura membunuhnya Menguar dengan Kuat dari seluruh Tubuhnya. "Kau masih tidak ingin melepaskan Putriku?" Ucapnya dingin dengan penuh penekanan.
"Ma-maaf Yang mulia." Ara Mulai melepaskan pelukannya dari Yessica. Keduanya terdiam Tidak berani berbicara sedikitpun. Aura Jinan begitu Kuat mendominasi.
"Aku tidak perduli apa yang sudah terjadi di antara kalian. Aku bukan orang yang suka mengekang putriku. Dia Bisa mencintai siapa saja yang dia mau. Tidak perduli dia keturunan Raja atau Bahkan Rakyat Biasa. Dan aku dengar kalian pernah menjalin Hubungan saat Di tanah Felip. Tapi kau sendiri Yang sudah menyakiti putriku. Sekarang kau dengan lancang masuk kedalam kamar Putriku?"
"Yang mulia... Saya mencintai Putri Yessica dengan Tulus. juga......."
"Kau pikir aku perduli dengan omong kosong mu. Siapapun Yang sudah menyakiti putriku, Tidak pantas menjadi menantu Keluarga Ecclestone. Kau sudah memiliki istri sekarang. Aku tidak akan membiarkan Putriku menikah dengan orang Yang sudah mengkhianatinya. Jika Bukan karena aku menghargai ayahmu sebagai Raja felip. Aku sudah menggantungmu sekarang." Ara meneguk ludah. Ancaman Raja Jinan tidak terdengar main-main.
"Sekarang kau pergi dari sini. Dan jangan pernah mengganggu Putriku Lagi. Kalau tidak, Jangan salahkan aku meratakan Tanah Felip."
"Ba-baik Yang mulia...."
Setelah Ara pergi, Yessica teduduk di samping ranjang. Menutupi Isak tangis di wajahnya. Jinan Yang sangat perhatian pada Putrinya, merengkuh erat dan membawa Yessica dalam pelukannya. "Dia Bukan orang yang pantas untukmu, Yessica. Ayah bisa mencarikan Laki-laki Yang lebih Baik dari dia." Yessica Tidak menjawab. Dia enggan untuk berbicara. Energinya benar benar terkuras Hari ini.
"Ayah....Aku ingin istirahat sekarang." Ucapnya lesu.
"Ayah mengerti..." Jinan mengecup kening Putrinya dan berjalan keluar.
"Yang mulia...." Jinan menoleh dan mendapati Aya mengahmpirinya Di lorong.
"Ada apa?"
"Ada yang aneh dengan Tubuh Ratu Cindy..."
"Apa maksudmu?" Tanya Jinan tidak mengerti.
"Saat nona Yessica Mulai bernyanyi, Hamba merasakan Pancaran energi yang berasal Dari ruangan Ratu. Hamba kesana Untuk memeriksanya. Hamba melihat energi spiritual Dalam Tubuh Ratu Cindy, Mulai menyatu dengan Titik kehidupannya."
"Apa? Bukankah harus di lakukan ritual khusus Untuk membangunkannya?"
"Hamba juga tidak tau yang mulia. Namun, menurut pendapat hamba, Nyanyian Putri Yessica Dapat membangunkan Ratu Yang tertidur." Jelas Aya.
"Apa itu mungkin....." Jinan berfikir dengan keras. Jika itu bisa di lakukan, Tidak perlu melakukan banyak Hal untuk ritual.
"Sementara, Itu hanya dugaan. Saya akan mencari Tau lebih dalam Lagi." Ucap Aya.
"Bagus. Awasi terus Keadaannya." Aya mengangguk mengerti. "Baik, Yang mulia."
***
Siluet Wanita Yang sering muncul di istana, kembali muncul di kamar Yessica. Saat dia tengah terlelap. Sosok itu duduk di samping Ranjang. Menatap Yessica dengan penuh kehangatan. Membelai pipi Gadis itu dengan lembut. Air mata bahagia, Atau sedih mengalir Dari wajahnya.
"Yessica...terimakasih. Kita akan segera Bertemu kembali. Ibu menunggumu."
semangat yaa
feedback di karya aku juga ya😆
bagus ceritanya.
buat author↓↓
ganbatte kudasaii