Yang dikejar tak akan pernah lari. Walaupun tidak di cari namun ia akan hadir sendiri. itulah Jodoh!!
Siapakah yang akan menjadi jodoh Mila?
Dengan siapakah dia berdiri di pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN TERSEMBUNYI
Keesokan harinya Mila sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, walaupun masih harus tetap istirahat dan tidak boleh banyak memikirkan sesuatu mengingat kondisi psikisnya yang masih labil. Sesuai dengan kesepakatan kemarin Mila dan Gilang akan tinggal sementara di rumah Orang tua Gilang sampai kondisi Mila dalam keadaan stabil.
Sejak pagi Bu Riris sudah sibuk merapihkan kamar yang akan di tempati oleh Gilang dan Mila bersama. Sore ini Mila akan datang langsung dari Rumah Sakit. Sebenarnya kamar itu adalah kamar Gilang sendiri hanya saja Sang Mamah ini sedikit agak berlebihan mengingat Mila akan tidur di Rumahnya untuk pertama kalinya sebagai menantu. Hingga turun tangan sendiri untuk memilih sprei yang akan digunakan.
"Senangnya kalo nanti aku punya mertua seperti mamah" ucap Gladys yang sejak tadi dibuat pusing oleh mamahnya bolak balik mengurus keperluan untuk menantunya.
Bu Riris menoleh pada anak gadis yang masih duduk di bangku SMA tahun pertama itu, "Pasti sayang, kamu bakal dapat mertua yang baik seperti mamah" ucapnya kemudian sambil berlalu membelai rambut anaknya itu.
"Kenapa mamah begitu yakin?" tanya Gladys.
"Iya dong...kan mamah juga baik sama menantu mamah, apa yang kamu tanam itu yang akan kita tuai" ucap Bu Riris. " Lagi pula mamah enggak akan ijinin kamu menikah dengan laki-laki yang mamahnya galak, cari yang lain aja yang keluarganya mau nerima kamu" sambung Bu Riris yang membuat Gladys tersenyum bangga.
Bangga karena gak semua orang bisa hidup di tengah keluarga yang hangat.
Tak lama bunyi Klakson terdengar dari luar menghentikan percakapan ibu dan anak itu, sepertinya Mila dan Gilang sudah datang, Bu Riris dan Gladys berlari kecil menuju pintu. Pak Harja yang sedang duduk bersantai membaca koran di hari minggu ini ikut menghampiri menyambut anak-anaknya.
"Ka Mila" sambut Gladys mengaitkan lengannya ke tangan Mila sambil menyeretnya untuk masuk. "Tau gak ka? Mamah pagi ini riweh karna kaka mau datang kesini" ucapnya kemudian.
Mila tersenyum menoleh pada Bu Riris yang mengganggukkan kepala sambil tersenyum. Sedangkan Gilang langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk menaruh tas kemudian kembali lagi turun bergabung bersama dengan yang lain.
"Iya kan kamu sekarang keluarga kami juga" kata Bu Riris yang langsung duduk di sofa sebelah Mila. "Gimana udah baikan?" tanya Bu Riris.
"Udah kok mah, makasih ya"
"Iya, makan dulu yu!! mamah udah masak kesukaan Mila" ajak Mamah.
"Kesukaan aku enggak?" tanya Gilang iri.
"Kesukaan semuanya ada di meja, tenang aja" ucap Bu Riris.
Mereka semua beranjak dari duduknya berjalan menuju meja makan yang sudah tersaji menu makan lengkap dengan lauk pauk yang beraneka ragam. Membuat semua penghuni rumah itu kini mendecak takjub dengan apa yang dia lihat.
"Ini sih kayak mau hajatan mah" kata Gilang sambil menyomot telur gulung di Meja.
Bu Riris memang senang memasak banyak walau masih dibantu asisten rumah tangga tapi sebagian besar Bu Riris yang mengerjakan. Apalagi jika di rumah sedang banyak orang atau ada tamu tak segan-segan Bu Riris menyajikan makanan, mangkanya semua teman-teman Gilang sangat senang bermain di rumah Gilang jaman sekolah dulu. Rumah Gilang ibarat surga makanan bagi mereka.
"Oh iya Gilang, kalo bisa Mila jangan kamu suruh kerja lagi" kata Pak Harja disela makannya.
Gilang menoleh pada Mila seketika, kemudian berkata "untuk sekarang sih aku memang tidak mengijinkan pah, tapi kalo nanti itu terserah Mila aku gak bisa ngelarang kalo dia yang mau" jelasnya.
Gilang tahu bahwa Mila pasti akan sangat jenuh jika dia terus berada dirumah, mangkanya Gilang memberikan kebebasan pada Mila untuk memilih sendiri sesuai dengan keinginannya.
"Iya pah, biarkan Mila memilih sendiri apa yang akan dia ingin lakukan, kita hanya bisa mendukung" Bu Riris ikut meyakinkan suaminya.
Mila yang saat ini menjadi topik pembicaraan mereka di meja makan, memilih diam sesekali tersenyum sebagai tanggapan, pada dasarnya dia sendiri saat ini belum ada bayangan untuk menilik masa depannya sendiri. Banyak hal yang dia pikirkan sekarang.
'Apakah pernikahan ini benar?'
'Apakah Gilang memang benar jodohnya?'
'Haruskah dia menggantungkan hidupnya sekarang sama Gilang?'
'Apakah mereka bisa saling mencintai satu sama lain?'
'Apakah pernikahan ini akan membuat mereka bahagia?'
yah pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dikepalanya. Dan Mila belum menemukan jawaban. Walaupun sampai saat ini dia tak menemukan masalah yang berarti, yang bisa membuatnya ragu akan pernikahan mereka. Tapi Mila tidak pernah tau seperti apa kedepannya, takdir apa yang harus di jalani. Semuanya masih menjadi misteri.
Apalagi saat ini Mila tidak tau apa isi hati Gilang sebenarnya, apa yang dia pikirkan tentang pernikahan ini. Bisakah pernikahan tetap berjalan walau tanpa cinta? Memang pada dasarnya pernikahan ini bukan kemauan mereka berdua, hanya mewujudkan keinginan Nenek dari Mila. Tetapi Milapun punya harapan sama seperti wanita pada umumnya yaitu dicintai oleh suami mereka.
Walaupun sesungguhnya Gilang tidak menunjukkan gelagat bahwa dia keberatan dengan pernikahan ini, dan sikapnya sampai saat ini menunjukkan bahwa dia peduli pada Mila akan tetapi, bukankah saat masih berteman pun Gilang memang peduli padanya, walau dia tak pernah dengan gamblang menunjukkannya, tapi Mila tau bahwa Gilang selalu peduli dan selalu ada untuknya.
Jadi bagaimana perasaan dan apa isi hati Gilang masih menjadi tanda tanya besar.
Dan salah satu pertanyaan yang ada dibenak Mila terjawab malam ini. Ketika dengan tidak sengaja Mila mendengarkan percakapan antara Pak Harja, Bu Riris dan juga Gilang.
Setelah makan malam tadi, Gilang dan Mila pergi bergegas ke kamar untuk membersihkan diri dan lanjut tidur. Begitu juga Gladys yang sibuk mempersiapkan buku pelajaran yang akan dia bawa ke sekolahnya, karena besok adalah hari senin.
Meninggalkan Pak Harja dan Bu Riris yang dengan santai mereka mengobrol di ruang keluarga.
Namun ketika malam semakin larut, Mila yang bangun dari tidurnya mendapati Gilang tak ada disampingnya. Karena kebetulan haus ia memutuskan untuk keluar kamar hendak ke dapur, mengambil air minum.
Ketika di tangga sayup-sayup Mila mendengar percakapan antara mertuanya dan Gilang.
"Gilang kan sudah bilang mah, pah, mau mencoba membangun perusahaan sendiri" kata Gilang pada orang tuanya.
"Perusahaan papah siapa lagi yang akan meneruskan kalo bukan kamu Gilang?" tanya Pak Harja.
"Bukankah kalian sudah berjanji bahwa ketika aku bersedia menikahi Mila kalian akan membiarkan aku melakukan apa yang kuinginkan?" suara Gilang meninggi, membuat Mila terkejut dengan apa yang ia dengar, pertanyaan yang ada dibenaknya terjawab sudah. Bahwa ada alasan tersembunyi Gilang menikahinya bukan semata-mata karna permintaan sang nenek.
"Itu perjanjianmu dengan mamahmu" ucap pak Harja membuat Gilang menatap mamahnya meminta penjelasan.
"Bagaimana papah bisa berkata begitu bukankah papah menyetujuinya?" bela Bu Riris.
"Itu kan karena kupikir kau bisa menjalani bisnis, nyatanya cafemu saja bermasalah" kata Pak Harja.
"Bermasalah gimana? hanya tutup sementara aja"
"Tapi papah..." sebelum pak Harja menyelesaikan kalimatnya, Gilang sudah memotong.
"Tapi apa pah?" tanya Gilang emosi, "Apa papah juga tidak percaya bahwa Gilang bisa berhasil sendiri tanpa nama besar papah?" lanjutnya.
"Bukan begitu Gilang"
PRAK
Suara bingkai yang jatuh ditangga membuat pertikaian antara anak dan bapak itu terhenti lalu mereka menoleh pada tangga dan terkejut mendapati Mila berada disana.
"Mila?"
#SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN CERITANYA...
TINGGALKAN LIKENYA SEBAGAI TANDA BAHWA KALIAN MASIH MEMBACA CERITA INI.......TERIMA KASIH