Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang
Waktu berlalu dengan cepat di Pegunungan Tianyun.
Dalam sekejap mata, bayi yang dahulu hanya tahu tidur dan menangis kini telah tumbuh menjadi sedikit besar.
Atau setidaknya...
...dia masih sangat menyukai tidur.
"Xiao Xuan, bangun."
"Tidak."
"Matahari sudah terbit."
"Aku akan terbit nanti."
"..."
Pertapa Qingfeng memandang cucunya yang sedang membungkus dirinya dengan selimut lusuh hingga hanya menyisakan sepasang mata.
Chu Xuan mungkin adalah anak paling malas yang pernah dilahirkan oleh langit dan bumi.
"Jika kau terus tidur seperti ini, bagaimana kau akan menjadi seorang kultivator hebat?"
"Aku tidak mau."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
Chu Xuan membuka satu matanya.
"Aku ingin pensiun."
"Kau bahkan belum mulai bekerja."
"Itulah bagian terbaiknya."
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasa bahwa dia mungkin sedang menerima hukuman dari langit.
Namun, meski sering mengeluh, Chu Xuan tetaplah anak yang baik.
Dia akan membantu mengambil air dari mata air.
Dia akan mengumpulkan kayu bakar.
Dan setiap kali Pertapa Qingfeng sakit, dia akan diam-diam berjaga semalaman di samping tempat tidur sang kakek.
Hanya saja...
...dia akan mengeluh sepanjang waktu.
"Kenapa manusia harus makan tiga kali sehari?"
"Karena jika tidak, manusia akan mati."
"Itu terdengar seperti desain yang buruk."
Pertapa Qingfeng tertawa kecil.
Kehidupan mereka sederhana.
Terlalu sederhana.
Mereka hidup dari hasil menjual kayu bakar dan sesekali menerima sedekah dari para peziarah yang tersesat.
Terkadang mereka makan bubur.
Terkadang mereka makan sayuran liar.
Dan di hari-hari yang sangat istimewa...
...mereka menambahkan sebutir telur ke dalam bubur.
Bagi Chu Xuan, itu adalah hari raya.
"Xiao Xuan."
"Hm?"
"Jika suatu hari kakek sudah tidak ada, apa yang akan kau lakukan?"
Tangan Chu Xuan yang sedang memegang mangkuk tiba-tiba berhenti.
Dia mengangkat kepalanya dan menatap Pertapa Qingfeng.
"Kakek akan pergi?"
"Suatu hari."
"Itu masih lama."
"Bagaimana jika tidak?"
Chu Xuan terdiam cukup lama.
Akhirnya, dia kembali menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku akan menjaga kuil."
"Dan?"
"Aku akan tidur."
Pertapa Qingfeng tertawa.
"Lalu?"
"Aku akan makan."
"Lalu?"
Chu Xuan berpikir cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya terlihat serius.
"Aku akan menunggu Kakek pulang."
Senyum di wajah Pertapa Qingfeng perlahan menghilang.
Angin gunung bertiup pelan melewati halaman Kuil Qingfeng.
Pada akhirnya, dia hanya mengusap kepala Chu Xuan dengan lembut.
"Anak bodoh."
Chu Xuan tidak menjawab.
Dia hanya melanjutkan makannya dalam diam.
Karena di usianya yang baru sepuluh tahun, dia belum mengerti satu hal.
Ada orang yang pergi untuk bekerja.
Ada orang yang pergi untuk bepergian.
Dan ada pula orang yang pergi...
...tanpa pernah bisa kembali.
Di kejauhan, Pertapa Qingfeng menatap langit sore dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Sudah terlalu lama.
Tubuhnya yang tua perlahan mulai mencapai batasnya.
Namun sebelum hari itu tiba...
...dia hanya memiliki satu harapan.
Semoga anak yang menyebut Kuil Qingfeng sebagai rumahnya itu dapat terus tersenyum, bahkan setelah dirinya tiada.
Selama tujuh tahun terakhir, Pertapa Qingfeng telah mempelajari satu kebenaran yang tidak tertulis dalam kitab mana pun:
Membangunkan Chu Xuan jauh lebih sulit daripada membangunkan orang mati.
"Xiao Xuan."
"..."
"Bangun."
"..."
"Kakek membuat telur."
Sepasang mata langsung terbuka.
"Ada berapa?"
"Setengah."
"..."
Dan mata itu kembali tertutup.
Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.
"Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah kau benar-benar manusia?"
"Aku juga sering bertanya-tanya."
Pagi itu, seperti biasa, Chu Xuan dipaksa turun gunung untuk menjual kayu bakar.
Meskipun Kuil Qingfeng berada jauh dari peradaban, ada sebuah desa kecil di kaki Pegunungan Tianyun yang sesekali membeli kayu dari mereka.
Dengan langkah malas, Chu Xuan memanggul ikatan kayu yang hampir sebesar tubuhnya.
"Aku punya pertanyaan."
"Tanyakan."
"Kenapa kita tidak menjadi kaya saja?"
"..."
"Atau setidaknya sedikit kaya."
Pertapa Qingfeng tersenyum kecil.
"Karena menjadi kaya tidak semudah itu."
"Kalau begitu, dunia ini rusak."
Dalam perjalanan menuruni gunung, Chu Xuan sesekali melihat sosok-sosok berpakaian mewah melintas di langit menggunakan pedang terbang.
Mereka adalah kultivator.
Bagi penduduk desa, mereka adalah makhluk yang nyaris seperti dewa.
Namun, setiap kali melihat mereka, Chu Xuan hanya memiliki satu pemikiran.
"Mereka tidak takut jatuh?"
Pertapa Qingfeng hampir tersedak mendengarnya.
"Itu bukan hal yang seharusnya kau pikirkan."
"Tapi kalau jatuh dari setinggi itu pasti sakit."
"Itu benar."
Chu Xuan mengangguk puas.
"Nah, lihat. Kekhawatiranku masuk akal."
Sesampainya di desa, beberapa penduduk langsung menyapa mereka.
"Pertapa Qingfeng!"
"Xiao Xuan!"
"Datang menjual kayu lagi?"
Chu Xuan mengangguk lesu.
"Ya. Demi setengah telur."
Seluruh penduduk desa tertawa.
Seorang nenek tua bahkan diam-diam menyelipkan dua buah bakpao ke tangan Chu Xuan.
"Anak baik harus makan yang banyak."
Mata Chu Xuan membelalak.
"Ini untukku?"
"Tentu saja."
Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Chu Xuan dipenuhi kebahagiaan yang tulus.
Pertapa Qingfeng yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum.
Anak ini mudah sekali merasa puas.
Sayangnya...
Kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.
Ketika mereka hendak meninggalkan desa, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kejauhan.
"Menyingkir! Menyingkir!"
Seekor kuda besar berlari kencang di jalan utama.
Di atasnya duduk seorang pemuda berpakaian mewah dengan ekspresi arogan.
Penduduk desa segera mundur dengan wajah pucat.
"Itu Tuan Muda keluarga Wang!"
"Kenapa dia datang ke sini?"
Pemuda itu sama sekali tidak memperlambat kudanya.
Tatapannya bahkan tidak tertuju pada orang-orang di sekitarnya.
Namun di tengah jalan...
...seorang anak kecil terjatuh.
Tangisan langsung pecah.
"Ibu!"
Waktu seolah melambat.
Semua orang membeku.
Jarak antara kuda itu dan anak kecil tersebut tinggal beberapa meter.
Pada saat itulah, sebuah suara malas terdengar.
"Kalau dia mati, semua orang pasti akan menangis. Merepotkan sekali."
Semua orang menoleh.
Chu Xuan menghela napas panjang sebelum meletakkan ikatan kayunya.
"Aku benci melakukan pekerjaan tambahan."
Dan untuk pertama kalinya...
...anak yang kelak akan membuat seluruh dunia kultivasi gemetar itu melangkah maju.
Bersambung...