Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Kontra Miracle
Aura pertempuran di Alun-alun Kota Zenith mencapai titik didih. Kobaran api emas milik Ayyasy menyatu dengan pekatnya sihir bayangan Night, menciptakan pusaran energi ganda yang membelah sisa-sisa asap ledakan. Di balik perisai barikade, jemari Arunnaqa bergerak secepat kilat menembus deretan kode hologram, sementara Dimas memfokuskan sensor pemindai Kosmik untuk membedah struktur pertahanan Erebos.
"Ayyasy! Night!" teriak Dimas menembus gemuruh angin. "Kristal kelam di tangan kanannya bukan cuma senjata, tapi juga tumpuan energi pertahanannya! Setiap kali dia menangkis atau memunculkan pelindung, ada jeda mikro selama 0,2 detik saat kristal itu meredup untuk memproses ulang energi kehampaan!"
"Jeda 0,2 detik..." bisik Night dingin. Bagi seorang pengintai bayangan dengan kecepatan di atas rata-rata manusia biasa, jeda sesingkat itu sudah lebih dari cukup untuk mendaratkan serangan mematikan.
"Bagus, Dimas!" seru Ayyasy. Dragon Flame Aura di sekujur tubuhnya melonjak semakin terang, mengikis hawa dingin yang dipancarkan oleh Erebos. "Night, kita pakai formasi Eclipsing Strike! Gua yang buka celah pertahanannya, lu ambil jeda mikronya!"
Night mengangguk singkat. Tanpa mengucap sepakat secara lisan, sinergi yang telah terjalin dalam puluhan pertempuran sebelumnya membuat mereka paham apa yang harus dilakukan.
Erebos berdiri melayang beberapa senti di atas tanah yang hancur. Dibalik bayangan penutup kepalanya, ia memperhatikan koordinasi keempat anggota Miracle tersebut dengan pandangan meremehkan.
"Pola serangan yang terprediksi..." bisik Erebos pelan. Ia mengibaskan tangan kanannya, membuat kristal kelam di jemarinya memancarkan gelombang hitam yang membentuk puluhan bayangan prajurit tanpa wujud. "Kalian terlalu bergantung pada strategi. Di hadapan kehampaan murni, seluruh kalkulasi kalian tidak ada artinya!"
Puluhan bayangan prajurit itu melesat maju, menerjang Ayyasy dan Night dengan cakar-cakar hitam yang tajam.
"Arunnaqa! Lumpuhkan pergerakan prajurit bayangan itu!" komando Ayyasy.
"Diterima! Sihir Teknologi: EMP PULSE WAVE!"
Arunnaqa menghantamkan kedua telapak tangannya ke atas papan hologram. Gelombang kejutan elektromagnetik berwarna biru terang memancar melingkar dari perisainya, menyapu bersih area alun-alun. Prajurit-prajurit bayangan buatan Erebos seketika terhenti kaku saat gelombang sinyal sihir mereka terganggu oleh intervensi teknologi Cyber milik Arunnaqa.
"Sekarang, Ayyasy!" teriak Arunnaqa.
"DRAGON FLAME: METEOR IMPACT!"
Ayyasy melompat tinggi ke udara. Tubuhnya terbungkus wujud naga api keemasan yang membara hebat. Dengan kecepatan tinggi, Ayyasy menukik tajam menuju Erebos, menghantamkan tinjunya yang terbakar langsung ke arah musuh!
BOOOOOOOOOOMMMM!
Ledakan api raksasa meletup di tengah alun-alun. Gelombang panas membakar puluhan prajurit bayangan hingga musnah tak berbekas. Erebos terpaksa mengangkat tangan kanannya, menyerap dan menahan dorongan tinju api Ayyasy menggunakan perisai kristal kelamnya.
Tepat di detik tersebut—saat api emas Ayyasy beradu keras dengan perisai hitam—kristal di tangan Erebos berkedip redup sejenak.
0,2 detik.
"Sihir Bayangan Spiritual: PHANTOM FLASH!"
Suara Night bergema dari balik bayangan Erebos sendiri. Sebelum Erebos sempat menyadari pergerakan musuhnya, Night sudah mencuat keluar dari bayangan di bawah kaki Erebos. Pedang samurainya memancarkan garis cahaya keperakan yang sangat tipis namun tajam, menebas lurus ke arah pergelangan tangan kanan Erebos yang menggenggam kristal!
CLANG!
Sabetan presisi Night berhasil menghantam tumpuan kristal tersebut. Gesekan hebat antara baja bayangan dan kristal kelam menciptakan percikan cahaya spiritual yang menyilaukan.
Erebos tersentak kaget. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya yang tersembunyi menunjukkan sedikit guncangan. Kristal kelam di tangannya terlepas, terlempar melayang beberapa meter ke udara sebelum akhirnya terhempas ke semen alun-alun!
"Berhasil!" teriak Dimas gembira dari belakang perisai. "Koneksi energi kehampaannya terputus!"
Tanpa perlindungan kristal tersebut, dinding pelindung Erebos seketika retak dan hancur. Dorongan tinju Dragon Flame milik Ayyasy langsung berhasil menembus pertahanan musuh, menghantam dada Erebos dengan telak!
BAM!
Tubuh Erebos terlempar deras ke belakang, menghantam monumen kaca yang sudah retak hingga bangunan tersebut roboh total menjadi puing-puing batu dan kaca yang berserakan. Kepulan debu membumbung tinggi menutupi area reruntuhan.
Ayyasy mendarat dengan napas sedikit memburu di samping Night. Kobaran api di tangannya meredup perlahan, sementara Night kembali menyiagakan pedangnya, menatap tajam ke arah tumpukan puing monumen.
"Kita berhasil terkena telak..." gumam Ayyasy, mengusap peluh di dahinya. "Tapi serangan gua tadi rasanya seperti menghantam dinding besi yang kosong."
"Jangan turunkan kewaspadaan," peringat Night dengan suara dingin yang tak berkurang sedikit pun. "Energinya belum hilang."
Di belakang mereka, Dimas dan Arunnaqa berjalan mendekat dengan perisai yang tetap siaga. Arunnaqa menatap indikator pemindai di jarinya yang secara aneh justru menunjukkan angka yang semakin tidak stabil.
"Ayyasy, Night... ini aneh," ujar Arunnaqa dengan nada cemas. "Sinyal energi Erebos tidak menghilang atau melemah. Sebaliknya... energinya malah terpecah menjadi puluhan titik kecil di seluruh area Kota Zenith!"
"Terpecah?!" ulang Dimas tak percaya.
Tiba-tiba, dari dalam tumpukan puing monumen kaca yang hancur, tidak ada sosok yang merayap keluar. Kristal kelam yang tergeletak di tanah justru mengambang dengan sendirinya, meredup lalu meluncur terbang melintasi udara menuju ke arah utara dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Suara tawa gema dingin milik Erebos kembali terdengar memantul di seluruh penjuru alun-alun, namun kali ini suara itu berasal dari udara hampa di atas kepala mereka.
"Kerja sama yang sangat mengesankan, pahlawan-pahlawan kecil..." gema suara Erebos terdengar penuh intrik dan nada mengejek. "Kalian berhasil memisahkan fisikku dari kristal utama. Tapi apakah kalian benar-benar berpikir bahwa ini adalah pertarungan untuk memenangkan Kota Zenith?"
Ayyasy mendongak tajam. "Apa maksudmu?!"
"Serangan di pusat kota ini hanyalah umpan..." bisik Erebos, suara gema dinginnya perlahan terdengar semakin menjauh. "Sementara kalian berempat sibuk melayaniku di sini, pecahan energinya telah menyebar ke tempat di mana teman-teman kalian berada."
Jantung Ayyasy, Night, Dimas, dan Arunnaqa seketika berhenti berdetak serentak.
"SMA Perbatasan..." bisik Dimas dengan wajah yang seketika pucat pasi.
"Selamat menikmati permainan yang sesungguhnya," lanjut suara Erebos untuk terakhir kalinya sebelum gema energinya benar-benar menghilang dari area alun-alun. "Mari kita lihat... sejauh mana sisa pahlawan dari Empat Kota itu sanggup bertahan tanpa ketua mereka."
Suasana di Alun-alun Kota Zenith kembali hening. Hanya ada deru angin siang yang bertiup membawa debu puing reruntuhan.
Ayyasy mengepalkan kedua tangannya hingga berderit hebat. Keputusan Abzari di kantin tadi untuk menyuruh sebagian besar anggota Miracle tetap berada di sekolah ternyata menjadi garis pertahanan terpenting yang tidak mereka duga.
"Dimas! Arunnaqa! Hubungi Davi dan Tasya sekarang!" komando Ayyasy dengan suara penuh urgensi.
Arunnaqa dengan cepat menekan tombol komunikasi darurat pada pergelangan tangannya. "Sinyal terhubung! Davi! Tasya! Kalian bisa dengar suaraku?!"
Dari balik alat komunikasi, suara deru angin kencang, dentuman batu yang hancur, dan teriakan peringatan dari Arkan serta Iyan terdengar sangat bising.
"Naqa! Ayyasy!" suara Davi terdengar terengah-engah dan penuh ketegangan dari balik speaker. "Kalian harus cepat kembali ke sekolah! Serangan musuh... musuh baru saja muncul di halaman utama SMA Perbatasan!"
Ayyasy menatap Night, Dimas, dan Arunnaqa. Tanpa perlu kata-kata tambahan, ke-4 pahlawan terpilih itu berbalik arah dan melesat lari sekuat tenaga kembali menuju SMA Perbatasan untuk menyusul ke-28 rekan mereka.