Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pohon Beringin dan Kotak Besi yang Tak Bisa Dibuka
Hujan turun semakin deras, memukul atap seng penginapan desa dengan bunyi yang menakutkan. Di dalam kamar, keluarga Saraswati masih terpaku pada kalimat terakhir surat Bu Wulan: Cari kotak besi di bawah pohon beringin tua dekat air terjun. Begitu kamu membukanya, tidak ada jalan kembali.
Aditya mendengus kesal, berjalan mondar-mandir dengan langkah berat. “Jalan kembali? Apa maksudnya omong kosong itu? Sudah cukup kita dibebani gugatan tanah, fitnah, dendam Kevin Darmawan — sekarang kita harus main petualangan hutan juga?”
“Kalau Bu Wulan menulisnya sampai sekeras itu, berarti isinya memang seberat itu,” jawab Larasati tenang. Ia duduk di tepi tempat tidur, jemarinya bergerak lincah membuka laptopnya — kebiasaan CEO yang tidak pernah hilang meski sudah belasan tahun memimpin konglomerat besar. Ia memanggil peta digital wilayah perkebunan, memperbesar titik air terjun di lereng utara gunung. “Lokasinya tidak jauh dari batas hutan lindung. Sekitar 40 menit jalan kaki dari desa. Medannya curam, licin karena hujan, dan masuk wilayah yang sering dikunjungi kelompok Kevin.”
Agung berdiri di samping istrinya, satu tangan bertumpu di sandaran kursi, yang lain secara refleks menyentuh bahu Larasati — gerakan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa ada ancaman. Tatapan matanya kini berubah total: bukan lagi suami yang lembut di ranjang, tapi CEO Saraswati Group yang telah menghadapi ribuan konspirasi bisnis selama sepuluh tahun memimpin.
“Kita pergi besok pagi, sebelum fajar menyingsing,” putus Agung tegas. Suaranya rendah, menggelegar, tidak ada yang berani membantah. “Aditya dan Arif, kalian bawa dua orang keamanan terbaik grup yang kita bawa dari kota. Jaga jarak, jangan terlihat. Ibu tetap di desa bersama Denok, awasi komunikasi masuk dan keluar. Kalau ada yang bertanya, katakan kita sedang rapat internal dengan petani.”
Ia menatap Lala dan Bagas yang berdiri di sudut kamar dengan wajah penuh semangat. “Dan kalian berdua… tidak ikut. Terlalu berbahaya.”
“Tidak adil, Ayah!” protes Lala langsung. “Kami yang menemukan jejak Ratu. Kami yang bicara dengan Mbah Satem. Kalau bukan kami, kalian bahkan tidak tahu ada kotak besi itu!”
“Lala benar, Pak,” potong Larasati sebelum Agung sempat membentak. Ia menoleh ke arah suaminya, tatapannya tajam namun penuh alasan — persis seperti saat mereka berdebat soal keputusan bisnis bernilai miliaran rupiah di ruang rapat kantor pusat. “Mereka sudah terlibat terlalu dalam. Meninggalkan mereka di sini tanpa pengawasan justru lebih berbahaya. Kevin tahu mereka ada di sini. Lebih baik kita bawa bersama, di bawah mata kita sendiri.”
Agung menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya membantah istrinya kalau sudah bicara seperti itu. Larasati bukan wanita yang bisa dilarang — dulu saat masih menjadi CEO perusahaan kecil saja ia sudah berani menghadapi preman pasar sendirian, apalagi sekarang setelah sepuluh tahun menjadi nyonya besar konglomerat yang tangannya pernah menandatangani pemecatan ratusan orang sekaligus.
“Baiklah,” akhirnya Agung mengalah. “Tapi kalian harus janji. Tidak lari kemana-mana. Ikuti persis apa yang Ayah dan Ibu katakan. Satu langkah salah, kita pulang. Tanpa kompromi.”
Malam itu semakin larut. Hujan mulai reda menjadi gerimis halus. Setelah semua orang pergi ke kamar masing-masing, Larasati masih terjaga di balkon kayu penginapan, memandang hamparan perkebunan yang gelap gulita. Ia mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis, rambutnya terurai panjang membasahi punggungnya karena baru saja selesai mandi.
Sepasang tangan kuat melingkar dari belakang, memeluk pinggangnya erat. Dada bidang yang hangat menempel di punggungnya, napas Agung berhembus pelan di lehernya.
“Kamu masih memikirkannya,” bisik pria itu rendah. Bibirnya menyapu pelan cuping telinga istrinya, membuat Larasati sedikit menggigil. “Masa lalu yang kotor ini… kadang aku minta maaf harus menyeretmu masuk ke dalamnya. Dulu kamu hidup tenang sebagai CEO perusahanmu sendiri, tidak perlu menghadapi gugatan tanah, pembunuhan bayangan, atau dendam keluarga orang lain.”
Larasati berbalik perlahan di dalam pelukan suaminya. Ia mengaitkan kedua tangan di leher Agung, menatap mata pria itu dalam-dalam. Cahaya bulan redup menyorot wajahnya yang cantik namun tegas — wajah wanita yang tidak pernah menyesali satu pun pilihan hidupnya, termasuk memilih menikah dengan pria yang ternyata menyimpan identitas sebesar gunung.
“Menyeret?” ulang Larasati pelan, tersenyum tipis penuh makna. Ia mendekatkan wajahnya sampai napas mereka bercampur menjadi satu. “Atau justru kamulah yang menyelamatkanku dari hidup yang membosankan itu? Ingat tidak, dulu sebelum menikah, aku pikir hidupku cuma soal target penjualan, rapat, dan memecat karyawan yang malas. Aku tidak tahu arti berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka di laporan keuangan.”
Tangannya turun perlahan, menyusuri bidang dada Agung yang berdenyut kuat di bawah telapak tangannya, berhenti tepat di atas jantung pria itu.
“Dan satu hal lagi, Tuan CEO Saraswati,” lanjutnya dengan suara yang makin rendah, berubah menjadi bisikan menggoda yang hanya ada untuk suaminya. “Aku tidak keberatan dibawa masuk ke dalam masalahmu… selama di setiap akhir malam yang melelahkan seperti ini, kamu selalu mengingatkanku bahwa aku tetap wanita yang paling kamu miliki. Seperti biasanya.”
Agung tidak butuh kata-kata lagi untuk mengerti.
Ia mengangkat tubuh istrinya dengan mudah, membuat Larasati mengaitkan kakinya erat di pinggang pria itu. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang dalam, lambat, penuh kepemilikan — ciuman dua orang yang telah melewati terlalu banyak kebohongan awal, terlalu banyak pertengkaran hebat, terlalu banyak momen hampir berpisah, hingga akhirnya tiba di titik di mana mereka tidak lagi bisa hidup tanpa satu sama lain.
Agung membawa istrinya masuk ke dalam kamar, menendang pintu tertutup dengan kaki tanpa melepaskan ciuman mereka. Ia membaringkan Larasati perlahan di atas tempat tidur yang empuk, tubuhnya yang berat menindih lembut tubuh wanita itu, seolah ingin memastikan bahwa ini semua nyata — bahwa meski seluruh dunia di luar sana berusaha menghancurkan mereka, setidaknya di ruangan kecil ini, mereka masih memiliki satu sama lain sepenuhnya.
Tangan besar Agung menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya yang sudah hafal di luar kepala: dari leher yang halus, turun ke tulang selangka, ke lekukan pinggang yang selalu ia cengkeram erat setiap kali mereka bersatu. Larasati mengerang pelan saat bibir suaminya turun semakin rendah, jemarinya mencengkeram kuat sprei putih di bawahnya, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang diberikan pria yang telah menjadi dunianya ini.
“Katakan tidak ada yang bisa memisahkan kita,” desah Larasati lepas di tengah kenikmatan yang menyebar ke seluruh serat tubuhnya. Ia membuka mata, menatap Agung yang kini berada tepat di atasnya, wajah pria itu tampak begitu tampan dan mengerikan sekaligus dalam cahaya remang. “Bukan surat tua, bukan Kevin, bukan tanah sengketa… tidak ada.”
Agung menatap mata istrinya dalam-dalam. Ia memegang kedua pergelangan tangan Larasati, menempelkannya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang berat tubuhnya agar tidak menyakiti istrinya yang mulai menua namun tetap terasa sempurna di matanya.
“Tidak ada,” jawab Agung parau, penuh janji yang tak akan pernah ia ingkari. “Aku sudah melepaskan seluruh harta keluargaku sekali demi kamu, ingat? Apa lagi yang tidak akan kulakukan untuk mempertahankanmu.”
Saat mereka akhirnya bersatu perlahan namun dalam, erangan Larasati tertahan di bahu suaminya. Di luar, hujan kembali turun deras menutupi segala suara dari dalam kamar. Tidak ada lagi jabatan CEO, tidak ada lagi konglomerat, tidak ada lagi rahasia masa lalu yang mengganggu. Yang ada hanya mereka berdua: Agung dan Larasati — dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh ketidaktahuan, lalu diikat oleh pengkhianatan kecil, dan akhirnya disatukan oleh cinta yang jauh lebih kuat dari semua harta dan nama besar di dunia ini.
Ketika semuanya selesai, mereka tetap saling berpelukan telanjang di bawah selimut tipis, mendengarkan detak jantung satu sama lain yang perlahan kembali teratur. Larasati menggambar pola tak beraturan di dada basah keringat suaminya, sementara Agung memainkan ujung rambutnya yang masih lembap.
“Besok,” bisik Larasati pelan, “kita akan menemukan jawabannya. Apa pun isinya… kita hadapi bersama. Seperti selalu.”
Agung mengecup ubun-ubun istrinya dalam-dalam. “Bersama.”
Fajar menyingsing masih kelabu ketika enam orang meninggalkan penginapan dengan langkah senyap: Agung, Larasati, Lala, Bagas, diikuti Aditya dan Arif yang berjalan di belakang mengawasi sekeliling. Mereka menyusuri jalan setapak becek menuju ke arah utara, semakin dalam masuk ke hutan lindung yang rimbun dan lembap. Udara di sini terasa jauh lebih dingin, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan membusuk. Suara gemericik air terjun mulai terdengar semakin keras seiring langkah mereka mendaki.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di lokasi yang dicari.
Sebuah pohon beringin raksasa berdiri kokoh di tepi tebing curam, akar-akarnya yang besar menjalar ke mana-mana seolah mencengkeram tanah lereng gunung agar tidak longsor. Di baliknya, air terjun setinggi 30 meter jatuh dengan gemuruh hebat, memercikkan air dingin ke segala arah. Kabut tipis menyelimuti area itu, membuat suasana terasa mistis dan mencekam — seolah ribuan mata dari masa lalu sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
“Di bawah akar terbesar itu,” tunjuk Bagas yang sudah membuka catatannya. “Tulisan Bu Wulan bilang di bawah pohon beringin. Akar yang paling dekat dengan air terjun.”
Agung memberi isyarat pada Aditya dan Arif untuk berjaga di kedua sisi. Ia sendiri mendekat bersama Larasati, Lala, dan Bagas. Akar beringin yang dimaksud sebesar batang pohon kelapa, melengkung membentuk rongga kecil di bawahnya yang tertutup tanah dan lumut tebal.
Tanpa banyak bicara, mereka berempat mulai menggali dengan tangan kosong — kuku mereka kotor, kulit tangan tergores ranting tajam, tapi tidak satu pun yang berhenti. Hingga sepuluh menit kemudian, ujung jari Larasati membentur sesuatu yang keras dan dingin.
“Ada!” serunya terengah.
Mereka mempercepat gali. Tak lama kemudian, sebuah kotak besi tua berukuran sebesar kotak sepatu berhasil diangkat ke permukaan. Seluruh permukaannya berkarat parah, tertutup lumut, namun di bagian atasnya masih terlihat jelas ukiran tangan kuno: sepasang bunga melati yang saling berpilin, di samping inisial huruf S dan H.
“S… Saraswati. H… Hardo,” desah Ibu Saras pelan dari belakang. Mereka tidak sadar wanita tua itu diam-diam mengikuti dari jauh. “Ini dibuat saat kedua keluarga masih bersahabat.”
Agung berjongkok, memegang kotak besi itu dengan kedua tangannya. Beratnya luar biasa, seolah isinya bukan sekadar kertas-kertas. Di bagian depan ada gembok kuno berbentuk bulat yang sudah berkarat — tidak ada lubang anak kunci, hanya pola ukiran melati yang bisa diputar-putar seperti sandi.
“Tidak bisa dibuka paksa,” kata Arif yang sudah mencoba mengganjalnya dengan pisau lipat. “Besi ini campuran khusus. Kalau dipaksa, isi di dalamnya bisa hancur terkena air atau mekanisme pengunci rusak sendiri.”
Larasati berjongkok di samping suaminya. Ia memperhatikan pola ukiran melati itu dengan saksama — jajaran 7 kuntum melati kecil yang bisa diputar ke kiri dan kanan. Tiba-tiba napasnya tersekat. Ia langsung merogoh lehernya, menarik kalung emas tua yang selalu ia pakai sejak hari pernikahan mereka — kalung pemberian Bu Wulan di hari pernikahan, yang liontinnya adalah ukiran 7 kuntum melati kecil yang persis sama.
“Bu Wulan memberikannya padaku saat kita menikah,” bisik Larasati gemetar. Ia melepas kalung itu, membandingkan liontinnya dengan pola di gembok. “Dia bilang… ini kunci untuk segala hal yang akan aku temukan di masa depan. Aku pikir cuma ungkapan kiasan.”
Ia mulai memutar kuntum-kuntum melati di gembok itu mengikuti posisi yang sama persis dengan liontin kalungnya. Putar ke kanan, ke kiri, dua kali ke kanan lagi…
KLIK.
Suara kecil mekanisme pengunci yang lepas terdengar jelas, bahkan menenggelamkan suara gemericik air terjun di belakang mereka sejenak.
Jantung semua orang berdetak kencang di tenggorokan. Agung menatap Larasati sebentar — wanita itu mengangguk mantap. Dengan napas yang ditahan, Agung perlahan mengangkat tutup kotak besi itu terbuka lebar.
Isinya membuat semua orang yang melihatnya terpaku diam tak bergerak.
Bukan hanya surat-surat tua. Bukan hanya dokumen tanah.
Di dalamnya ada tiga benda yang mengubah segalanya:
1. Buku harian kulit Ratu yang isinya menceritakan hari-hari terakhirnya sebelum menghilang — termasuk pengakuan mengejutkan tentang siapa sebenarnya yang mengkhianati kedua keluarga itu.
2. Peta tambang emas kuno yang menggambarkan urat emas raksasa tepat di bawah wilayah perkebunan Saraswati — bernilai ratusan triliun rupiah, alasan sebenarnya mengapa Kevin Darmawan dan kelompok internasionalnya bersedia melakukan apa saja untuk menguasai tanah ini.
3. Dan yang paling mengejutkan semua orang: sebuah foto kecil hitam putih yang sudah menguning, memperlihatkan Ratu sedang tersenyum memegang seorang bayi laki-laki di pelukannya. Di bagian belakang foto tertulis tanggal 10 hari setelah hari Ratu dinyatakan hilang, dengan tulisan tangan yang sangat dikenali oleh Ibu Saras:
Anak ini adalah penerus darah kedua keluarga. Jangan biarkan siapa pun tahu dia ada. Lindungi dia sampai waktunya tiba — karena dialah satu-satunya yang bisa mengakhiri perang ini selamanya.
— Bu Wulan, 40 tahun lalu.
Angin berhembus kencang melewati sela-sela daun beringin raksasa itu, membawa aroma dingin air terjun yang menusuk tulang. Larasati memegang foto itu dengan tangan gemetar, menatap wajah bayi di dalamnya yang ternyata memiliki lekukan wajah yang sangat sangat mirip dengan seseorang yang mereka kenal sangat baik selama ini.
Seseorang yang selama ini berdiri tepat di samping mereka.
Seseorang yang mereka anggap sebagai keluarga sendiri.