I Bagus Manuaba, seorang duda yang memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Ia juga salah satu seorang pembisnis terkenal di Bali.
Bagus seorang Papa yang sangat menyayangi kedua anak nya.
Suatu hari ia ingin membeli ponsel di Counter milik temannya, disana ia bertemu dengan gadis cantik yang bernama Dewi. Ya, Dewi ialah pegawai di Counter itu.
Sikap polos dan rasa tanggung jawab Dewi, membuat Bagus jatuh cinta, dan perlahan cinta itu tumbuh semakin besar. Ia pun bertekad untuk bisa menikahinya meski usia mereka terpaut jauh.
Berbagai cara ia lakukan sampai akhirnya Dewi berhasil ia nikahi.
Rasa trauma atas kegagalan nya di masa lalu, membuat Bagus bersikap sangat posesif dan pencemburu berat. Ia bahkan membatasi pertemanan Dewi, dan ia juga melarang Dewi pergi kemanapun.
Apakah Dewi bisa bertahan dengan sikap Bagus yang over posesif? penasaran bagaimana kisah mereka? Yuk langsung simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Ws, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Naik Bus
Bagus terlihat fokus mengemudikan mobilnya, hingga tak perlu waktu lama mereka pun sampai ke tempat tujuan, Bagus menghentikan mobilnya di depan Terminal Mengwi.
"Sayang, maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang," Bagus meminta maaf.
"Tidak apa-apa Bli, lagipula saya sudah terbiasa pulang naik Bus, terimakasih Bli Gus sudah mau mengantarkan saya sampai sini." Tutur Dewi tersenyum ke arah Bagus.
Sebenarnya Bagus ingin mengantarkan Dewi pulang sampai ke rumahnya, mereka juga sudah menempuh 1 jam perjalanan, namun tiba-tiba Ibunya menelpon dan mengabarkan kalau Shierin sedang demam tinggi, ia terus memanggil-manggil Papanya, Ia harus segera pulang kerumah.
"Baiklah sayang."
"Apa aku boleh meminta tolong, sayang ?" tanya Bagus.
"Boleh saja, meminta tolong apa?" jawab Dewi.
"Bisakah kau membelikanku minum disana?" Bagus menunjuk warung yang tak jauh dari mobilnya.
"Baiklah, apa ada lagi ?" tanya Dewi yang hendak turun dari mobil.
"Belilah juga untukmu sayang, untuk bekalmu di dalam Bus nanti!" ia menyerahkan 2 lembar uang 100 ribu. Dewi segera turun dan membeli minum.
Setelah Dewi turun dari mobil, Bagus dengan cepat memasukkan uang kedalam tas ransel Dewi, ia tau jika memberikannya langsung pasti Dewi akan menolaknya.
Dewi yang sudah selesai membeli minum, ia segera kembali ke mobilnya Bagus,ia menyerahkan minuman dan uang kembaliannya pada Bagus. Bagus melihat Dewi tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri.
"Dia selalu saja tidak memikirkan dirinya sendiri." Batin Bagus, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke dalam Terminal!" Bagus melajukan mobilnya masuk ke dalam Terminal, dilihatnya ada beberapa Bus berjejer disana, ada 1 Bus yang sepertinya hendak berangkat. Bagus mengantarkan Dewi masuk kedalam Bus itu, ia juga mencarikan tempat duduk yang nyaman.
"Sayang, jangan sampai ponselmu mati ya, ingat untuk selalu mengabariku, dan berikan salamku pada Ayah, semoga Ayah cepat sembuh." Tutur Bagus, ia memeluk Dewi dan mencium kening Dewi.
"Iya Bli, semoga Shierin juga cepat sembuh." Ucap Dewi.
"Iya sayang, terimakasih, ya sudah kamu hati-hati!" Bagus pun turun dari Bus, ia tak langsung kembali ke mobilnya, melainkan ia berlari ke warung yang ada di dekat sana, ia membeli beberapa minuman dan makanan. Ia pun kembali naik kedalam Bus itu.
"Ini sayang bekal untukmu," Bagus memberikannya pada Dewi, ia pun segera turun lagi dari Busnya, karena Bus nya sudah mau berangkat.
"Terimakasih Bli." Balas Dewi dalam hatinya. Ia merasa kalau Bli Gus benar - benar menyayanginya.
***
Leondy Phone
Setelah Bagus pergi dari sana, Fely langsung memanggil Ivan.
"Van, apa tadi Bagus kesini mencari Dewi ?" tanyanya pada Ivan.
"Tidak Ce, Bli Gus hanya membeli pulsa, itu tadi uang yang 150 ribu itu uang dari Bli Gus," jawab Ivan, ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Ce Fely.
"Tidak mungkin kalau hanya beli pulsa saja, buktinya ia langsung pergi saat melihat Dewi tak ada disini?" gerutu Fely.
"Ohh.. Berapa dia pulsa ? kok membayar 150 ribu ?" ucap Fely.
"Pulsa 100 ribu Ce."
"Berarti uangnya masih 48 ribu disini, tolong kamu ingtakan ya Van!" seru Fely.
"Iya Ce."
"Tumben sepi hari ini, sejak tadi hanya ada beberapa pengunjung saja," gumam Ivan. Ia pun hanya duduk - duduk santai sembari memainkan ponselnya, karena memang tak ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.
***
Setelah Bus yang ditumpangi Dewi berangkat, Bagus melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, ia ingin segera sampai di rumahnya. Beruntung jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari lokasinya saat ini, karena memang rumahnya searah dengan jalan menuju kampungnya Dewi. 15 menit kemudian, ia sampai di rumahnya, ia segera masuk dan berlari menuju kamar Putri nya.
Ceklek ... Ia membuka pintu dengan perlahan. Dilihatnya Shierin tengah berbaring di ranjangnya, hanya ada Niang (Nenek) dan Kakiang (Kakek) disampingnya. Ia berjalan menghampiri Putrinya itu.
"Apa yang terjadi dengan Putriku ? Bukankah pagi tadi ia masih baik - baik saja?" Bagus bertanya kepada Ayah dan Ibunya. Dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Ini minumlah dulu!" Ibu nya memyerahkan gelas yang berisi air putih ke tangan Bagus. Bagus pun langsung menengguk air itu hingga habis.
Glek .glek ..glekk..
Ia pun menaruh gelas yang sudah kosong itu diatas meja. Ia duduk disamping Putrinya.
Ia menatap kedua orang tuanya seakan minta penjelasan, sembari ia mengusap puncak kepala Putrinya yang tengah tertidur.
"Tadi pihak sekolah menelpon, memberitahu kalau Shierin tiba-tiba demam tinggi."
"Ibu langsung menelpon Ayahmu, kebetulan tadi Ayahmu ada urusan di sekitar sekolah anak-anak, jadi Ayahmu langsung menjemput anak-anak pulang." Tutur Ibu.
"Ya sudah, Ayah dan Ibu keluar dulu ya, kau temanilah Putrimu disini, tadi Ibumu sudah memberikan obat dari dokter, nanti sore ia harus meminum obatnya lagi!" ucap Ayah.
"Iya." Ayah dan Ibu nya berjalan keluar kamar.
"Terimakasih Ayah dan Ibu, kalian selalu menjaga anak-anak saat aku sibuk bekerja."
Bagus mengusap-usap puncak kepala Putrinya. Ia menjadi sedih ketika melihat Putrinya sakit, bukan hanya pada Putrinya saja, ia pun sedih jika Putra nya sakit. Sejak kecil memang Shierin gampang sekali sakit, daya tahan tubuhnya tidak sekebal sang Kakak.
"Cepat sehat ya Nak," Bagus mengecup kening Putrinya. Shierin mengerjapkan kedua matanya perlahan, ia melihat ada Papanya disampingnya, ia pun membuka matanya sempurna.
"Maaf Nak, Papa jadi membangunkanmu," Tutur Bagus, ia menatap Putrinya yang terlihat sedikit pucat. Hatinya sakit sekali, ia tidak tega melihat Putrinya sakit.
"Tidak Pa, Shierin memang ingin bangun saja." Tutur Shierin, Bagus mengangguk.
"Sekarang bagaimana Nak, apa yang terasa sakit ?" tanya Bagus cemas.
"Sudah lebih baik Pa."
"Pa, apa Mama tidak sayang pada Shierin dan Kak Aska? kenapa Mama tidak pernah menemui kami?" Ucapan polos Putrinya.
"Mama sayang kalian Nak, mungkin Mama sedang sibuk, nanti kalau Mama sudah tidak sibuk, pasti datang menemui kalian." Tutur Bagus membelai kepala Putrinya, ia kasihan terhadap anak-anaknya yang tidak mendapat kasih sayang Mamanya.
"Setiap ada acara disekolah, Mama Papanya teman-teman Shierin pasti datang, Shierin juga ingin seperti mereka Pa," tutur Shierin, matanya terlihat berkaca kaca.
"Maafkan Papa Nak, Papa janji jika nanti disekolah ada acara, Papa pasti datang!" ucap Bagus, ia menyeka air mata di pipinya Shierin. Ia merutuki dirinya sendiri karena selama ini ia selalu meminta Ayah dan Ibunya yang hadir di setiap acara sekolah anak-anaknya.
"Sungguh Pa?" tanya Shierin, Bagus menganggukkan kepalanya.
"Istirahatlah Nak, Papa akan menemanimu disini," tutur Bagus. Shierin pun memejamkan matanya hingga ia benar - benar tertidur dipelukan Papanya. Papa dan Putrinya ini memang sangatlah dekat, mereka mempunyai wajah yang mirip, sifat yang sama, hobi yang sama, mereka seperti saudara kembar.
**Bersambung.....
Haii ..jangan lupa tinggalkan jejak ya...
Terimakasih**..
mampir juga di karyaku
kisah Aluna
my Kids My Hero
Kox pada ngawur 🤦🤦