NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asap Rokok

Aku berkenalan dengan sepasang suami istri Pak Lik dan Bu lik nya Febi. Namanya Pak Jarwo atau Lik Wo dan Bu Sumini. Mereka sangat ramah dan jauh dari kesan mistis ataupun horor, kontras dengan pekarangan rumahnya yang penuh pohon beringin. Terus terang saja, saat awal sampai di rumah ini bulu kudukku terus merinding, hawanya sejuk, sejuk yang ganjil.

"Kesini tadi, ada perlu apa nduk, dolan atau ada apa?", tanya Lek Wo ke Febi.

"Ya dolan to Lik, udah lama nggak kesini kok", jawab Febi tersenyum dan melirikku.

"Nah, kalau nak Dani ini, kesini tadi ada perlu apa?", Tanya Lik Wo kepadaku dengan tersenyum.

Aku berdehem, aku yakin Febi sebelumnya sudah cerita sama Lik Wo, pertanyaan ini hanyalah basa basi saja. Namun, aku juga merasa perlu bercerita secara detail dan meminta saran aku harus bagaimana untuk selanjutnya. Aku mulai bercerita pada Lik Wo, kenyataan bahwa aku dan keluargaku tinggal di rumah yang selama sembilan belas tahun berasa sangat nyaman. Namun tiba-tiba saja terjadi kejadian beruntun yang di luar pemahamanku. Pertama, kejadian di kamar mandi yang dialami oleh Febi dan Erni. Kedua, perasaan seperti ada yang mengintip yang dirasakan Febi. Ketiga, suara Irul bercanda bersama seseorang padahal Irul sedang tidur. Keempat, penampakan sosok berbulu di sungai dekat rumah. Kelima, suara berbisik yang terdengar sangat nyata dengan hembusan nafas yang terasa di telinga. Dan yang paling membuat aku parno an adalah Lek Jo yang datang tengah malam, ketika siang hari mayatnya ditemukan tewas gantung diri.

Lik Wo menghela nafas. Kemudian beranjak dari duduknya. Menuju ke kamar yang berada di bagian paling depan dekat dengan tempat kami duduk. Aku menoleh ke Febi meminta penjelasan. Febi sadar, namun hanya memberi isyarat meletakkan telunjuk di bibirnya. Sejurus kemudian Lik Wo kembali membawa sebungkus rokok yang di letakkan di bungkusan berwarna emas. Lik Wo kembali ke tempat duduknya.

"Silahkan nak . .", Lik Wo menyodorkan salah satu batang rokok yang dia ambil dari bungkusan.

"Maaf Lik, saya nggak ngrokok", jawabku menolak. Aku memang nggak ngrokok, kena asap rokok aja ngrasa nggak nyaman.

"Ayo Dan, ini syarat lho", perintah Febi padaku. Aku menoleh, bingung, nggak ngerti.

"Satu hisapan saja cukup Nak, aku nrawang e dari kepulan asap yang kamu hembuskan nanti, monggo . .", ujar Lik Wo sambil sekali lagi menyodorkan satu batang rokoknya.

Dengan terpaksa aku mengambil rokok tersebut, kemudian menjejalkan ke mulutku. Lik Wo dengan segera mengambil korek api dan menyalakan ujung rokok di mulutku. Setelah menyala aku menghisap perlahan rokok tersebut. Terasa udara hangat memasuki rongga mulutku masuk ke tenggorokan dan tiba-tiba berasa panas di area perutku. Aku tersedak. Asap rokok keluar dari mulutku. Aku melotot, karena asap yang keluar berwarna hitam pekat dan luar biasa banyak. Aku terbatuk-batuk. Tenggorokanku terasa sakit, hidungku terasa pengar, sementara mataku perih berair. Sial, pikirku. Ini benar-benar menyakitkan. Mencoba mengaduh, namun suaraku tidak keluar.

"Tutup matamu Dan", sebuah suara, mungkin Febi menyuruhku.

Aku menutup mata, sesak di dada, panas di tenggorokan berangsur-angsur mereda. Dan akhirnya sembuh. Aku menarik nafas dan membuka mata. Lik Wo dihadapanku, terlihat kaget. Nampak dari gurat di wajahnya seperti orang yang sedang menahan marah. Pasti bukan berita baik, batinku. Mencoba untuk bertanya, suaraku belum keluar.

"Sudah, tenangno dirimu dulu Nak", ucap Lik Wo. Kulirik Febi, dari wajahnya terlihat juga ekspresi yang tidak jauh berbeda dari Lik Wo.

"Ibukk. . .coba buatin teh jahe agak panas bukk", teriak Lik Wo ke Bu Sumini yang ada di belakang.

"Nanti tak jelaskan, kamu diem aja dulu ya", Lik Wo membenarkan posisi duduknya. Aku masih memegangi leherku, sedikit perih dan panas.

 

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!