SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelang Tengah Malam
Bab 13: Lelang Tengah Malam
Kabut tipis masih menyelimuti lereng bukit ketika Ethan Mahendra menutup kembali gulungan kulit tua yang baru diperolehnya dari Arsip Naga.
Di permukaan gulungan itu, jalur-jalur emas perlahan meredup hingga kembali tampak seperti benda biasa. Namun, Ethan tahu benda itu sama sekali tidak biasa.
Di balik peta yang telah ia pecahkan semalam, terdapat sebuah simbol yang sangat dikenalnya.
Simbol Gerbang Bintang.
Lima ratus tahun lalu, simbol itu menjadi penanda salah satu jaringan transportasi kuno para Kaisar Abadi. Jika benar dunia modern masih menyimpan sisa peninggalannya, maka dunia ini jauh lebih rumit daripada dugaannya.
"Ada seseorang yang sengaja menyembunyikan warisan para kultivator..."
gumam Ethan pelan.
Ia berdiri menatap matahari pagi yang mulai muncul dari balik pegunungan.
Jika Gerbang Bintang benar-benar masih ada, maka pasti ada pihak lain yang juga mencarinya.
Dan mereka tidak akan membiarkannya bergerak bebas.
Sementara itu...
Di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, ruangan rapat paling atas dipenuhi suasana tegang.
Lambang naga hitam terpampang di dinding.
Di hadapan meja panjang, seorang pria tua berjas abu-abu meletakkan sebuah berkas.
"Ethan Mahendra."
Beberapa orang langsung mengangkat kepala.
"Target yang sama?"
Pria tua itu mengangguk.
"Kemarin malam seseorang berhasil membuka sebagian Arsip Naga."
"Resonansi energi berasal dari nama ini."
Ruangan langsung sunyi.
Seorang wanita berambut pendek mengenakan pakaian tempur hitam menyipitkan mata.
"Mahasiswa biasa?"
"Tidak."
Pria tua itu mendorong beberapa foto.
Foto-foto itu menunjukkan lokasi kematian Riko dan anak buahnya.
Tidak ada luka berlebihan.
Semuanya mati hanya dengan satu serangan.
"Pembunuh yang sangat efisien."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Menarik."
Pria tua kembali berbicara.
"Direktur memberi perintah."
"Jangan bunuh."
"Bawa hidup-hidup."
Di sisi lain kota...
Ardi Wijaya menghancurkan gelas kristal di tangannya.
"Apa maksudmu semua orang yang kukirim mati?"
Pria bertubuh besar di depannya menundukkan kepala.
"Kami sudah memeriksa."
"Tidak ada kamera."
"Tidak ada saksi."
"Hanya ada bekas pertarungan singkat."
Ardi mengepalkan tangan.
"Mustahil."
"Ethan itu kutu buku."
"Bagaimana mungkin dia bisa membunuh tiga orang?"
Tak jauh di belakangnya, seorang pria tua yang sejak tadi diam akhirnya membuka mata.
Rambutnya memutih seluruhnya.
Tatapannya tajam.
"Karena dia bukan lagi orang biasa."
Semua orang langsung menoleh.
Pria tua itu adalah penasihat pribadi keluarga Wijaya.
Tak banyak orang mengetahui identitasnya.
Di dunia tersembunyi, ia dikenal sebagai kultivator Alam Pengumpulan Qi Bintang 4.
"Kakek Han..."
Ardi tampak lega.
"Kau tahu apa yang terjadi?"
Han hanya menggeleng.
"Tidak."
"Tapi aku merasakan jejak Qi."
"Itu tidak mungkin dimiliki manusia biasa."
Ruangan kembali hening.
Han menatap Ardi.
"Mulai hari ini..."
"Jangan pernah mendekatinya sendirian."
Sore harinya.
Ethan memasuki kawasan kota tua.
Ia mengenakan jaket sederhana dan topi hitam.
Aura Qi miliknya disembunyikan hingga nyaris tak terdeteksi.
Tujuannya bukan berlatih.
Melainkan mencari informasi.
Menurut ingatan pada peta, salah satu simpul berikutnya berkaitan dengan sebuah artefak yang akan muncul melalui jalur perdagangan gelap.
Tempatnya...
Lelang Tengah Malam.
Sebuah rumah tua tampak biasa dari luar.
Namun setelah melewati lorong sempit dan mengetuk pintu dengan pola tertentu, penjaga membuka jalan.
"Undangan."
Ethan menyerahkan kartu yang ia ambil dari salah satu anak buah Riko beberapa hari lalu.
Penjaga hanya melirik sekilas.
"Masuk."
Tangga batu membawa Ethan menuju ruang bawah tanah yang sangat luas.
Lampu kristal menggantung di langit-langit.
Ratusan orang duduk tenang.
Sebagian tampak seperti pebisnis.
Sebagian lagi membawa aura yang sangat aneh.
Ethan menyipitkan mata.
"Kultivator."
Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada dugaannya.
Berarti dunia tersembunyi memang aktif.
Ia memilih duduk di sudut ruangan.
Diam.
Mengamati.
Tak lama kemudian, seorang wanita bergaun merah naik ke atas panggung.
"Selamat datang."
"Sesi lelang dimulai."
Barang pertama hanyalah batu giok biasa.
Lalu pedang antik.
Kemudian pil penyembuh tingkat rendah.
Ethan tidak tertarik.
Namun ketika barang kelima muncul...
Matanya berubah tajam.
Di atas kotak kaca terdapat pecahan logam hitam sebesar telapak tangan.
Permukaannya dipenuhi pola kuno.
Bagi orang lain mungkin hanya besi tua.
Namun Ethan mengenalinya.
"Fragmen Gerbang Bintang."
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Bagian itu adalah salah satu kunci pembuka jaringan teleportasi kuno.
Bagaimana benda seperti ini bisa muncul di pelelangan manusia modern?
"Harga awal."
"Lima ratus juta."
Suasana langsung ramai.
"Satu miliar."
"Dua miliar."
"Tiga miliar."
Ethan tetap diam.
Ia bahkan tidak memiliki uang sebanyak itu.
Namun ia tidak panik.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Kemudian berhenti pada seseorang.
Seorang wanita bergaun hitam.
Dialah wanita yang pernah dilihat Ethan di malam hujan.
Tatapan mereka sempat bertemu.
Wanita itu terlihat terkejut.
Seolah mengenali Ethan.
Namun ia segera mengalihkan pandangan.
Di samping wanita tersebut berdiri seorang pria tua dengan tongkat naga.
Aura kultivasinya jauh melampaui Han.
Setidaknya...
Alam Pengumpulan Qi Bintang 7.
Ethan langsung menyembunyikan seluruh fluktuasi Qi.
"Berbahaya."
"Empat miliar."
Suara lembut wanita itu menggema.
Ruangan kembali sunyi.
Tak ada yang berani menaikkan harga.
Pembawa acara tersenyum.
"Empat miliar pertama."
"Empat miliar kedua—"
"Tujuh miliar."
Suara baru terdengar dari balkon lantai dua.
Semua orang menoleh.
Seorang pria muda mengenakan jas putih berdiri sambil tersenyum tipis.
Di kerah bajunya terdapat lambang matahari emas.
Tatapan Ethan membeku.
"Sekte Matahari Langit..."
Ia mengenali simbol itu.
Lima ratus tahun lalu...
Sekte tersebut pernah menjadi salah satu sekutu yang kemudian ikut mengkhianatinya pada perang terakhir.
Mustahil.
Bagaimana lambang itu bisa muncul di Bumi?
Apakah benar sekte itu masih bertahan?
Ataukah hanya kebetulan?
Wanita bergaun hitam tampak sedikit mengernyit.
"Tuan muda Shen..."
Pria itu tersenyum.
"Aku menginginkan barang itu."
"Tidak ada yang boleh menawar."
Kalimatnya terdengar sopan.
Namun penuh ancaman.
Tak sedikit peserta langsung mengalihkan pandangan.
Tak seorang pun ingin memusuhi organisasi sebesar itu.
Ethan memperhatikan semuanya tanpa ekspresi.
Di benaknya, sebuah rencana perlahan terbentuk.
Ia tidak perlu memenangkan pelelangan.
Ia hanya perlu mengetahui...
Ke mana artefak itu akan dibawa.
Beberapa menit kemudian, palu akhirnya diketuk.
"Terjual."
"Tujuh miliar."
Fragmen Gerbang Bintang resmi menjadi milik pria berjubah putih.
Ethan berdiri perlahan.
Saat semua perhatian tertuju pada panggung, ia meninggalkan ruangan tanpa suara.
Di luar gedung...
Hujan gerimis mulai turun.
Ethan berdiri di bawah bayangan pohon tua.
Beberapa saat kemudian, iring-iringan mobil hitam keluar dari area lelang.
Mobil yang membawa artefak berada di tengah.
"Empat mobil pengawal."
"Dua kultivator."
"Satu formasi pelacak."
Ethan menghitung semuanya hanya dengan sekali pandang.
Ia tidak bergerak.
Belum saatnya.
Namun tepat ketika rombongan itu menghilang di tikungan, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Kau memang datang."
Ethan tidak menoleh.
"Aku sudah menduga."
Suara perempuan itu kembali terdengar.
Tenang.
Namun waspada.
"Aku ingin berbicara."
Ethan perlahan membalikkan badan.
Wanita bergaun hitam dari pelelangan berdiri hanya beberapa meter darinya.
Tatapannya tajam, tetapi tidak bermusuhan.
"Aku Shen Yueling."
"Aku berasal dari Keluarga Shen."
"Dan aku ingin tahu..."
Ia menatap lurus ke mata Ethan.
"...bagaimana seorang mahasiswa biasa bisa mengenali Fragmen Gerbang Bintang."
Di saat yang sama...
Di atap gedung seberang, sebuah sosok berjubah abu-abu mengangkat busur hitam raksasa.
Anak panahnya memancarkan Qi kehijauan yang dipenuhi racun.
Ujung panah perlahan diarahkan...
Tepat ke arah kepala Shen Yueling.
Sementara Ethan, yang merasakan niat membunuh itu sedetik lebih cepat daripada siapa pun, hanya menyipitkan matanya.