Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kembali bertugas
Tiba di Hamburg, Elara menempati sebuah Apartmen kecil yang sudah disediakan dari pihak kampus untuk tempat tinggalnya. Sebenarnya Elara ingin tinggal ditempat lain, untuk berjaga-jaga saja karena alamat Apartmennya ini sudah terlanjur diketahui oleh Shane.
Akan tetapi, Elara segera menepis segala pemikiran anehnya. Baginya, pria itu tidak akan menemuinya lagi sebab mereka sudah kembali pada kehidupan awal dimana Shane harus realistis jika dia adalah seorang pria beristri yang tak mungkin mendatangi Elara tanpa rasa bersalah.
"Dia tak mungkin datang kesini. Dia tak akan berani karena aku sudah mengetahui kebohongannya." Begitulah yang Elara tanamkan dihatinya.
Hampir setiap hari, Elara selalu berusaha menstimulus pemikirannya agar ia tidak paranoid akan kedatangan Shane ke tempatnya.
Hari-hari berlalu dan sejauh ini Elara sudah mulai nyaman di tempat kerjanya yang baru. Syukurnya dia bisa berbaur disana, padahal Elara termasuk jiwa yang introvert dan ragu jika ia bisa memiliki teman baru.
Tidak terasa Elara sudah menjalani aktivitasnya lagi selama tiga Minggu di Hamburg dan akhirnya ia menerima kunjungan pertama sang sahabat ke tempat tinggalnya selama di kota tersebut.
"Ah, aku merindukanmu, Ela!" Kyle memeluk Elara sejenak, ucapannya tidak berbohong sebab ia benar-benar merindukan sahabatnya itu.
"Aku juga rindu padamu, terutama dengan semua nasehatmu," kelakar Elara.
"Maaf aku baru bisa mengunjungimu disini sekarang, itupun diselingi dengan jadwal pekerjaanku yang ada di Hamburg."
"Woa, ternyata kau datang kesini bukan khusus untukku, ya? Tapi karena pekerjaan?" Elara berlagak mencebik.
Kyle mengacak rambut Elara dengan gemas. "Kau ini," katanya terkekeh.
"Ayo, masuk!" ajak Elara.
"Kau masak apa? Aku lapar sekali."
"Tadi aku tidak masak. Kau mau makan apa? Aku akan membuatnya untukmu."
"Really? Kau memang yang terbaik," ujar Kyle sungguh-sungguh.
Elara membuka kulkas dan mulai melihat isi didalamnya. "Apa makanan yang mau kau request, Tuan Kyle? Di kulkasku cukup banyak bahan makanan," kelakar Elara.
"Apa saja, semua yang berasal dari olahanmu pasti enak."
"Kau ini bisa saja," kata Elara terkekeh.
Mereka menghabiskan malam itu dengan makan malam bersama sembari menonton opera sabun yang ditayangkan di televisi.
"Kau menginap dimana selama di Hamburg?"
"Aku maunya menginap di rumahmu ini. Tapi kau pasti tidak mengizinkannya," canda Kyle.
Elara terkikik sambil mencubit pipi pria itu. Siapapun yang melihat kedekatan mereka pasti akan mengira keduanya adalah sepasang kekasih, sayangnya bagi Elara, ia dan Kyle hanya sebatas sahabat sampai kapanpun.
"Jadi, dimana?" Elara masih menanyakan hal yang belum mendapatkan jawaban dari Kyle.
"Di Hotel, tidak jauh dari Apartmenmu ini."
"Baguslah," kata Elara. "Ehm, Kyle, bolehkah aku menanyakan sesuatu yang lebih serius?" tanyanya melanjutkan.
"Apa? Kau boleh menanyakan apa saja padaku."
"Apa kau tidak ingin menikah?"
Kyle menipiskan bibir. "Kau mau mengajakku menikah?" ujarnya balik bertanya.
"Aku serius, Kyle."
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Ku pikir kau terlalu sering bersamaku, menghiburku, menemaniku. Aku khawatir kau melupakan dirimu sendiri, termasuk soal pasangan."
Elara menatap lamat-lamat pada wajah Kyle yang, ya ... bisa dikatakan jika pria itu cukup tampan.
"Jangan mengkhawatirkan ku. Aku ini pria yang bisa menikah di umur berapa saja. Harusnya kau memikirkan dirimu sendiri. Kau tidak mau memiliki pasangan?" tanya Kyle dengan lagak acuh tak acuh.
Elara terdiam, ia menatap jemari yang ada di pangkuannya sendiri. Ia memang mengkhawatirkan Kyle, terutama kedekatan mereka, apalagi Ayahnya pernah membahas soal Kyle yang cocok menjadi pendampingnya. Elara takut Kyle memang memiliki rasa itu padanya, jadi sebisa mungkin Elara mau menghalau hal itu, jika bisa Elara memastikan sendiri kalau Kyle akan menikah dengan wanita lain dan bukan dirinya.
"Aku menunggu seseorang yang bisa menjagamu, Ela. Jika sudah ada yang bisa menjagamu barulah aku memikirkan diriku sendiri."
"Tapi, Kyle? Kenapa?" tanya Elara.
"Karena aku tidak yakin ada orang yang bisa menjagamu sebaik aku."
Elara tersenyum getir. "Harus ku akui, kau memang yang terbaik, Kyle. Tapi, jangan jadikan aku beban. Aku membebaskan mu, aku tidak mau karena hubungan persahabatan kita, kau menunda segala hal baik yang akan datang padamu terutama masalah pasangan."
"Baiklah, aku akan mulai memikirkannya. Tapi semua ini ku lakukan demi dirimu dan karena permintaanmu."
...***...
Keesokan harinya, Elara kembali mengajar di Universitas seperti biasanya. Kyle masih di Hamburg dan berjanji akan menjemputnya sepulang dari pekerjaannya.
"Ela!".
"Kau sudah datang?" tanya Elara yang mendapati Kyle disana.
"Hm, jam berapa kau selesai?"
"Kebetulan aku sudah selesai, Kyle. Come, on!" ajak Elara yang akhirnya benar-benar pulang bersama Kyle.
"Ehm, Ela, jika kau tidak keberatan bagaimana kalau kita ke rumah Tanteku yang ada di kota ini."
Elara menoleh pada pria yang sedang mengemudikan mobil tersebut.
"Kau tidak pernah bilang ada tantemu disini?"
"Iya, Aunty Gracia baru datang dari LA. Kebetulan putrinya yang tinggal disini, jadi saat mendengarku ada di Hamburg juga, mereka mengajak makan malam bersama. Apa kau keberatan?"
"Tentu saja tidak, Kyle. Itu ajakan dari keluargamu, maka aku akan menyetujuinya." Elara berujar tulus.
"Baiklah, sebelum kesana bagaimana kalau kita belanja?"
"Belanja apa?"
"Aku mau membelikan mu sesuatu," ujar sang pria.
Elara manggut-manggut. "Ditraktir, siapa yang menolak," kelakarnya.
Dan mereka berdua tertawa setelahnya.
Mobil yang dikendarai Kyle akhirnya berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar. Keduanya turun dari mobil dan memasuki tempat itu.
Sengaja kesana hanya untuk berbelanja bukan untuk jalan-jalan.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, keduanya lantas beranjak dari tempat tersebut.
"Kyle, ini berlebihan. Kau memberikanku gaun yang mahal untuk makan malam. Aku jadi tidak enak," kata Elara jujur.
Pria disamping Elara itu hanya tertawa pelan mendengar nafas sungkan yang diusung Elara.
"Biasanya kau tidak pernah sungkan begitu. Kenapa sekarang kau seperti orang lain?" tanya Kyle.
"Ehm, bukan begitu, tapi harganya memang terlalu mahal. Jika itu uangku sendiri, aku akan berpikir sepuluh kali untuk membelinya."
Kali ini mereka sama-sama terbahak, tidak ada kata jaim dalam kamus keduanya.
"Aku tidak pernah memberimu barang berharga. Terima saja, mumpung gratis."
"Baiklah, Tuan," canda Elara disertai kerlingan matanya.
"Oh, Tuhan ... kedipan mata Ela bisa membuatku gagal fokus," kelakar Kyle membuat Elara semakin terkekeh.
Kyle mengantar Elara ke apartmennya, dan menunggu gadis itu bersiap dengan gaun yang baru saja ia belikan di pusat perbelanjaan tadi.
"Ela? Kau cantik sekali. Bagaimana kalau nanti Aunty Gracia mengira kau adalah kekasihku?"
"Hahaha. Aku tidak cukup cantik untuk menjadi pasanganmu, Kyle." Elara merendah diri.
"No! No! Justru akan banyak pria yang iri jika kau menjadi kekasihku."
Elara memutar bola matanya akibat gombalan Kyle.
"Ayo kita berangkat!"
"Let's go!"
Mobil yang dikemudikan Kyle kembali melaju membelah jalanan. Beberapa lama di perjalanan, akhirnya mobil itu mengantar mereka pada kawasan yang terbilang elite.
"Anak Aunty Gracia tinggal di perumahan ini?"
"Ya, kabarnya suaminya orang terpandang. Entahlah, aku juga tidak sempat datang saat pesta pernikahannya waktu itu."
Elara mengangguk dan turun dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Kyle.
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya yang Elara yakini sebagai Tante Gracia.
"Kyle ... lama tidak bertemu denganmu." Gracia memeluk Kyle dan menepuk-nepuk pundaknya dengan sikap hangat.
Wanita baya itu kemudian melihat pada Elara. Matanya berbinar senang.
"Kyle, apa dia orangnya?"
Kyle memasang cengiran. "Hahah, dia temanku, Aunty," jawab Kyle.
"Kalian nampak serasi." Gracia berujar sembari menghampiri Elara. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya ramah.
"Saya Ela, Tante."
"Jangan formal. Aku ini Tante nya Kyle, ayo bicara yang santai," ujar Gracia pada Elara.
Elara hanya mengangguk singkat dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Tak berapa lama, seorang wanita muda menghampiri Kyle dan Elara disana. Elara meyakini jika wanita ini adalah anak Tante Gracia, artinya dia juga sepupu bagi Kyle.
"Hai, Kyle. Apa kabarmu?"
"I'm great, bagaimana denganmu?" tanya Kyle pada sepupunya itu. "Sepertinya kau juga sangat baik, ya?" sambungnya dengan terkekeh.
"Ya, ya, kau dapat melihatnya, kan?"
"Tentu, itu terlihat wow," kata Kyle merujuk pada perut buncit sang wanita.
Wanita itu lantas menatap pada Elara. "Siapa dia, Kyle?" tanyanya dengan senyuman mengembang.
"Ela, kenalkan ini sepupuku Stevi. Dan Stevi, ini Ela, sahabatku ..." ujar Kyle berbicara dengan dua arah.
Stevi dan Elara saling berjabat tangan satu sama lain. Lantas, semuanya berjalan untuk memasuki rumah besar tersebut.
Sayangnya, langkah Elara terhenti karena ia tertegun dengan penampakan seseorang yang sepertinya sudah sejak tadi ada disana dan memperhatikan interaksi mereka dari ambang pintu.
Elara mendesis pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri.
"Shane ..."
...Bersambung ......
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣