Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
"Orang itu adalah--" Richard tidak meneruskan ucapannya.
"Adalah siapa? Om ini nyebelin banget si? Kalau ngomong itu yang jelas dong,'' ketus Naura merasa kesal.
"Hahahaha! Sabar dong, Naura. Om kasih tahu sama kamu, kalau pembunuh itu adalah orang terdekat kamu sendiri.''
"Maksudnya?" Naura mengerutkan kening.
"Om berpesan sama kamu, jangan mudah percaya sama orang yang terlihat baik bahkan sangat baik sama kamu.''
Grep!
Merasa kesal, Naura mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Richard. Naura berada di batas kesabarannya karena Omnya itu terlalu berbelit-belit dalam menceritakan sesuatu. Kedua mata Naura nampak membulat sempurna juga gigi yang saling beradu.
"Brengsek, Om benar-benar telah membuat aku kesal. Langsung saja ke intinya. Katakan siapa pembunuh itu,'' geram Naura.
"Oke-oke, pembunuh itu adalah ayah angkat kamu sendiri, si Gabriel,'' celetuk Richard membuat Naura seketika merasa lemas.
Cengkraman tangan Naura melemas begitu pun dengan tubuhnya. Mana mungkin pembunuh itu adalah ayah angkatnya sendiri? Mustahil, hal yang sangat mustahil di percaya. Naura benar-benar serasa tersambar petir di siang bolong. Apa yang baru saja diucapkan oleh Richard membuat jiwanya merasa terguncang.
"Om gila! Om pasti bercanda 'kan? Mana mungkin papa Gabriel orang yang telah membunuh kedua orang tua aku? Tidak! Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang Om katakan ini,'' tegas Naura.
"Kamu pikir kenapa kamu bisa jadi anak angkatnya dia, padahal dia sama sekali tidak ada hubungan kerabat dengan kedua orang tua kamu? Itu karena dia merasa bersalah. Kamu tahu, dia menghabisi kedua orang tua kamu di depan mata kamu sendiri saat kamu berusia satu tahun. Kamu gak akan ingat karena kamu masih sangat kecil waktu itu,'' jelas Richard.
"Tidak, itu tidak mungkin. Om pasti bohong, GAK MUNGKIIIIN,'' teriak Naura masih merasa tidak percaya.
"Om tahu kamu akan bereaksi seperti ini. Gabriel sudah kamu anggap seperti ayah kamu sendiri, tapi percayalah Om mengatakan hal yang sebenarnya.''
"Apa buktinya kalau semua yang Om katakan ini adalah benar?''
"Kamu bisa tanyakan langsung sama dia, Gabriel. Om yakin dia tidak akan bisa mengelaknya. Kalau dia masih tidak mau mengaku juga, bawa Om sebagai saksinya karena dia pernah mengakui perbuatannya sama Om.''
Naura diam seribu bahasa. Apa yang baru saja dia dengar adalah hal yang sangat sulit dia cerna dengan akal sehat. Jiwa Naura benar-benar merasa terguncang, tubuhnya pun terasa lemas.
"Semuanya terserah kamu, mau percaya atau tidak Om sama sekali tidak akan memaksakan kehendak. Yang jelas, kalau kamu masih meragukan semua yang Om katakan ini, kamu boleh bertanya langsung kepada ayah angkat kamu itu.'' Richard semakin memprovokasi.
"Cukup, Om. CUKUUUUP!'' Naura berteriak histeris seraya menutup kedua telinganya, dia bahkan berjongkok tepat di tepi kolam renang.
Sedetik kemudian.
Byur!
Tubuhnya tiba-tiba saja terjatuh ke dalam kolam sedalam 2 meter. Tubuh Naura benar-benar tidak dapat di gerakan. Dia yang biasanya pandai berenang seketika itu juga tenggelam ke dasar kolam. Sesaat, bayangan wajah sang ayah seolah menari-nari di dalam otaknya kini sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri.
'Papah, gak mungkin kalau papa adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika semua yang dikatakan oleh Om Richard itu benar,' (batin Naura.)
Byur!
Air kolam pun kembali mengeluarkan suara gelombang. Naura yang sudah dalam keadaan setengah terpejam tiba-tiba melihat wajah seorang laki-laki yang saat ini berenang menghampiri dirinya ke dasar kolam. Dia pun mengulurkan tangannya seolah menginginkan untuk di raih dan diselamatkan.
Laki-laki itu tentu saja Ibra. Dia segera menyelam ke dasar kolam untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya itu. Ibra segera meriah tubuh Naura dan membawanya kepermukaan dengan perasaan khawatir. Ibra sama sekali tidak mengerti kenapa Naura bisa jadi seperti ini.
"Naura, bangun sayang.'' Ibra mengguncangkan tubuh Naura yang sudah dia baringkan di tepi kolam dalam keadaan basah kuyup tentu saja.
Richard yang juga berada di sana nampak tersenyum menyeringai. Dia berharap bahwa Naura akan mati saat itu juga agar tidak ada lagi yang mengungkit kejadian 25 tahun yang lalu. Richard benar-benar puas karena rencananya berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Sementara itu, Naura masih bergeming ditempatnya. Kedua matanya nampak menutup sempurna dengan wajah yang pucat pasi. Ibra yang tidak punya pilihan lain akhirnya memutuskan untuk memberikan napas buatan dengan cara menempelkan bibirnya di bibir Naura persis seperti sepasang kekasih yang sedang berciuman. Ibra mencoba menyingkirkan pikiran kotornya, yang ada di pikirannya saat ini adalah, bagaimana caranya agar Naura bisa bangun secepatnya sebelum nyawanya melayang.
Ibra meniup bibir Naura secara berkali-kali, tapi Naura masih saja diam layaknya orang yang sudah tidak bernyawa. Tentu saja hal itu membuat pemuda berusia 25 tahun itu semakin merasa panik. Tidak ingin menyerah dia terus saja melakukan hal tersebut secara berkali-kali sampai akhirnya Naura pun terbatuk seketika diiringi dengan semburan air yang keluar dari dalam mulutnya kini.
"Akhirnya kamu bangun juga, Naura? Apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba terjatuh ke dalam kolam? Apa kamu tahu betapa khawatirnya saya, hah?'' tanya Ibra seketika langsung memeluk tubuh Naura seolah ingin memberinya kehangatan.
Naura diam seribu bahasa. Kenapa Ibra harus menolongnya segala. Seharusnya dia mati saja saat dirinya berada di dasar kolam. Dengan begitu, dia tidak harus menerima kenyataan yang sangat menyakitkan yang membuat jiwanya benar-benar merasa terguncang saat ini. Naura seketika balas memeluk tubuh Ibra erat. Tentu saja, hal itu membuat Richard merasa tidak senang.
'Sial, kenapa dia harus hidup segala si? Kenapa dia tidak mati saja sekalian,' (batin Richard.)
Dia pergi begitu saja meninggalkan keponakannya tersebut dengan perasaan kecewa. Sepetinya, dia harus mencari cara agar Gabriel tidak menyebutkan namanya saat Naura menanyakan perihal dalang pembunuhan 25 tahun yang lalu.
Ibra menggendong tubuh Naura ke lantai dua dimana kamar wanita itu berada. Tubuh mereka yang sama-sama basah kuyup seolah menyatu menjadi satu saat keduanya saling mendekap erat tubuh masing-masing.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka, Ibra membawa tubuh Naura masuk ke dalam kamar. Dia pun membaringkannya di atas ranjang kemudian, tidak peduli meskipun ranjang besar itu basah karena tubuh Naura memang dalam keadaan basah kuyup.
''Ambilkan aku baju ganti di dalam lemari itu. Rasanya dingin sekali,'' rengek Naura dengan nada suara lemas dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Ibra kemudian.
Tanya basa-basi lagi, Ibra pun mengikuti apa yang di pinta oleh Naura. Dia meraih satu pakaian dari dalam sana bahkan tanpa melihat pakaian seperti apa yang dia ambil.
"Ganti pakaian kamu dulu, Naura,'' pinta Ibra kemudian.
"Bisakah kamu membantuku berganti pakaian? Tubuhku lemas sekali,'' pinta Naura membuat Ibra merasa bingung tentu saja.
BERSAMBUNG
Follow Ig @renitriansyah
fb @Reni
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...