Setelah menyandang gelar sebagai seorang istri. Rima memutuskan berhenti berkarir agar bisa fokus mengurus suami dan anaknya. Dengan sepenuh hati Rima menyayangi mertua seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri. Namun, bukannya kasih sayang dan kebahagiaan yang Rima dapatkan tetapi pengkhianatan dari kedua orang tersebut.
Dengan perasaan hancur, Rima berusaha bangkit dan membalas pengkhianatan suaminya. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan diri lebih baik dari para pengkhianat. Hingga perlahan Rima bangkit dari keterpurukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korupsi
18
Berada di rumah Dimas walaupun hanya untuk satu malam membuat aku canggung. Selepas obrolan singkat malam tadi aku tidak lantas bertanya banyak seputar kehidupan Dimas. Begitu pun sebaliknya dengan Dimas. Pria itu langsung menyuruhku istirahat setelah kami makan malam bersama.
Aku tidak tahu seperti apa kehidupan Dimas. Yang aku tahu setiap orang memeliki urusan hidup masing-masing. Dan saat ini urusan hidupku sangatlah rumit bahkan nyaris hancur.
Pagi ini aku bersemangat untuk bangkit. Menerima fasilitas kantor menjadi hal pertama yang aku pilih. Beruntung Dimas mengijinkan aku tidak masuk kantor hari ini hingga aku bisa leluasa punya waktu untuk meninjau rumah dan mengurus pemindahan sekolah Susan.
"Mobilnya sudah siap, Bu. Tas ibu juga udah saya bawa ke mobil."
Ucapan asisten rumah tangga berhasil membuat aku bingung. Aku baru saja menyudahi sarapanku dan bermaksud untuk pergi. Tapi, aku tidak sadar jika tasku sudah berpindah tempat.
"Mobil untuk apa?"
"Bapak bilang, motor ibu masih di bengkel. Jadi, bapak nyuruh saya dan supir antar ibu kr rumah yang mau ibu tempati. Nanti biar saya yang ngurus rumah dan beberapa pakaian ibu yang masih basah."
"Nggak usah repot-repot. Biar saya cari taxi aja." Aku tidak enak hati menerimanya.
"Nggak apa-apa, Bu. Ini udah jadi tugas saya. Ibu fokus aja ngurus sekolahnya si adek. Kalau ibu repot biar si Adek di rumah sama saya."
Aku mendesahkan nafas tidak tahu harus bagaimana sekarang. Yang dia katakan ada benarnya juga. Aku tahu Susan juga bingung sekarang dan aku tidak mungkin membawanya ke sana kemari.
"Ibu... ayah ada nelepon, gak?" Susan bertanya tiba-tuba. Wajahnya tampak lesu sekali.
"Nggak ada, Sayang." Aku menjawab lirih sambil menahan pedih. Bahkan, setelah pengkhianatan ini Susan masih berharap ayahnya menelepon.
"Ayo kita pergi, Bu. Susan mau lihat rumah dan sekolah yang baru." Susan beranjak dari duduknya. "Ibu nggak boleh sedih, ya."
Aku tidak tahu mengapa anak ini begitu dewasa pemikirannya, meskipun begitu aku tahu hatinya sangat hancur sekarang. Pelukan hangat dan saling menguatkan yang bisa membuat kami merasa lebih baik.
***
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Dimas tentangku hingga pria itu memberikan rumah untuk kami tempati. Rumah satu lantai dengan 3 kamar tidur di dalamnya menjadi tempat tinggal baruku dengan Susan. Berkas-berkas sekolah Susan juga sudah mulai diurus. Dan Susan tidak keberatan jika harus pindah sekolah.
"Dayu, aku bisa minta tolong 'gak?"
Dayu menghentikan pekerjaannya menjemur pakaian lalu kembali bertanya, "Apa itu, Bu?"
"Kayaknya aku harus beli beberapa pakaian kantor yang baru. Tapui, Susan lagi tidur. Kalau boleh aku nitip Susan sebentar, ya."
"Ah, Ibu kirain ada apa. Soal itu aman, Bu. Kan udah dibilang saya di disini disuruh pak Dimas untuk bantu ibu jagain si Adek."
Aku lega mendengarnya. Akhirnya aku pamit dan lagi-lagi dipaksa harus mau diantarkan sopir.
Mall menjadi tempat tujuanku siang ini. Terpaksa memakai uang tabungan Susan untuk membeli beberapa keperluanku dan Susan. Sejenak melupakan pengkhianatan suamiku dengan berbelanja dan memanjakan diri.
"Rambutnya dipangkas sedikit aja biar kelihatan fresh, Mbak. Mbak cantik loh tapi kalau rambutnya panjang banget dan nggak rajin diurus jadi keliatan tambah tua mukanya," ucap pegawai salon yang aku mintai pendapat.
"Gimana baiknya aja yang penting aku bisa nyaman kalau kerja nanti," jawabku sembari memerhatikan wajahku di cermin.
"Cus kita mulai. Pokoknya dijamin mbak nggak kecewa."
Aku pasrah ketika gunting tajam itu mulai bekerja. Bukan hanya rambut yang menjadi sasarannya. Kuku jemari tangan dan kakiku pun kini tampak mengkilap.
"Nah, kan lebih fresh. Wajahnya dirias juga, ya, Mbak. Beruntung kulit Mbak ini nggak bandel, biarpu jarang ke salon tapi kulitnya masih mulus. Kita kasih make up tipis aja, ya biar cantik."
Aku mengangguk setuju. Dan beberapa saat kemudian penampilanku sudah berbeda dari sebelumnya. Rambut yang tadinya lurus kini dicurly tergantung sebatas bahu. Wajahku pun tampak lebih cerah dengan warna bibir merah tipis.
Dering handpone mengalihkan perhatianku dari cermin. Tertera nomor baru yang membuat aku mengernyitkan dahi melihatnya. Belum sempat aku menjawab panggilan itu sudah berakir dan sebuah pesan baru masuk.
Minta supir segera mengantarkanmu ke perusahanan X. Ada yang harus kamu kerjakan dan aku menunggumu di sini.
Dimas???
Mengapa Dimas memintaku ke perusahaan itu? Bukankah itu kantor tempat bang Rama bekerja? Jika aku ke sana itu artinya aku akan bertemu dengan pengkhianat dan pelakor yang menjadi manajer di sana. Aku harus menyiapkan mental agar bisa menghadapi mereka.
Dengan hanya memakai celana jeans dan kemeja warna pink aku segera pergi. Aku tidak mau Dimas menunggu terlalu lama kalau harus berganti pakaian lagi.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit aku tiba di gedung tempat suamiku itu selama ini mencari nafkah. Suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Huh, rasanya aku ingin mrnghindari pertrmuan apapun dengannya, tapi siapa sangka pekerjaan mengharuskan aku berada di sini. Aku harap aku tidak melihat dua wajah itu.
"Ibu Rima dari perusahaan pusat 'kan?" Pertanyaan resepsionis membuat aku tercengang mendengarnya. "Mari saya antar, pak Dimas sudah menunggu di ruangannya."
"Ruangan pak Dimas?" tanyaku ingin memastikan kalau dugaanku salah. Apa mungkin Dimas bos suamiku juga?
"Apa Mbak nggak tahu kalau kantor ini merupakan anak cabang perusahaan pak Dimas?"
Aku menggleng tidak percaya. Aku terkrjut setengah mati. Itu artinya bang Rama dan Citra bawahan Dimas juga sama seperti aku sekarang.
"Saya masih orang baru."
"Oh, pantesan saya nggak pernah lihat Mbak," jawabnya sembari memimpin jalan.
Jelas saja tidak ada yang mengenaliku. Sebab, selama ini bang Rama tidak pernah membawaku ke acara kantor.
.
.
.
.
.
"Ini ruangan pak Dimas?" tanyaku setelah berada tepat di salah satu ruangan yang pintunya masih tertutup dan sampai sekarang aku tidak melihat bang Rama dan Citra.
"Iya, kayaknya suasana hati pak Dimas tidak baik-baik saja. Dari tadi bawaannya mau ngamuk aja. Jadi, saya harap Mbak nggak buat kesalahan juga."
Aku menelan ludah guna membasahi tenggorokan yang tiba-tiba kering. Aku belum pernah lihat Dimas marah, bahkan sangat baik padaku dan Susan. Aku mendadak jadi penasaran apa yang membuat Dimas bisa marah besar.
Pintu terbuka dari dalam sebelum kami mengetuknya. "Kenapa hanya berdiri di sini?" tanya pria yang sudah berdiri di depanku. Wajahnya tampak kusut dan merah. Benar, dia sedang semosi.
"Ma-maaf, Pak...." Aku menjawab sambil menundukkan kepala, aku jadi takut melihat wajah Dimas.
"Masuklah," ucap Dimas sembari bergeser sampai aku bisa leluasa melewatinya. Namun, langkahku terhenti ketika melihat dua orang sudah ada di ruangan Dimas.
"Kenapa Rima? Apa kamu mengenal mereka?"
Pertanyaan Dimas membuat kedua orang itu kini menyadari keberadaanku.
Rama dan Citra tampak terkejut melihatku. Begitu juga dengan aku yang terpaku melihat suami dan pelakor itu.
"Aku memintamu datang untuk memeriksa keuangan. Aku menduga ada yang menyalahgunakan kedudukan hingga berani korupsi di perusahaanku." Dimas berkata geram sembari melihat Citra dan bang Rama yang sudah menunduk tidak berani melihat aku seperti tadi.