Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Darman dan lebih di kenal dengan nama si rawing, dia adalah anak dari seorang jawara silat, tapi sayang bapaknya meninggal akibat serangan kelompok perampok yang datang ke desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panel Bola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menang Dengan Cara Licik
Posisi Si Rawing masih membelakangi si Gempar, si Gempar mempunyai keyakinan kalau serangannya pasti dapat melukai si Rawing, tapi kejadian selanjutnya di luar dugaannya si Gempar, tubuh Si Rawing melompat kesamping si Gempar, tangan kanannya menangkap tangan kanan si Gempar lalu tangan kirinya memukul bagian dadanya hingga si Gempar mundur.
"Krek. Buk, Ahhh"
Terdengar suara tulang patah, saat tangan Si Rawing memelintir tangannya si Gempar.
Hati si Bewok terasa sakit saat melihat tangan anaknya di patahkan oleh Si Rawing.
"sepertinya aku harus menggunakan cara licik kalau kejadiannya seperti ini, kalau tidak seperti itu, sudah di bisa di pastikan aku yang akan mengalami kekalahan, baru kali ini aku mengalami keadaan seperti ini, tidak ku sangka, ternyata ilmu silat Si Rawing memang hebat, aku harus menggunakan racun beruang roban." ucap si Bewok dalam hatinya.
Si Bewok langsung mengambil serbuk yang ada di saku celananya, lalu memasukkannya kedalam mulutnya.
Setelah mematahkan tangan kanannya si Gempar, Si Rawing membalikkan badannya, lalu menatap ke arah si Bewok, "hehehe, kamu punya anak yang tidak berguna Bewok, sudah tahu kalau dia tidak bisa melawan aku tapi malah memaksa diri, akhirnya seperti ini kan, sekarang giliran kamu Bewok."
Si Bewok tidak membalas perkataan Si Rawing, meskipun Si Rawing memiliki ilmu silat yang hebat, tapi masalah pengalaman dalam bertarung kalah jauh oleh si Bewok, jadi dia tidak mengetahui kalau si Bewok akan melakukan hal licik dalam pertarungan ini.
Si Bewok langsung maju menyerang ke arah Si Rawing, tapi dengan sengaja dia memberi celah agar Si Rawing bisa memberikan pukulan kepadanya.
Siasat si Bewok berhasil, saat Si Rawing akan memasukkan pukulannya ke arah dadanya, si Bewok langsung menyemburkan serbuk racun ke arah mukanya Si Rawing.
Si Rawing terkejut, dia langsung melompat menjauh dari si Bewok, tapi sayang dia tidak bisa menghindarinya, sebagian serbuk itu mengenai matanya dan ada juga yang tersedot oleh hidungnya.
Si Bewok tertawa puas saat siasat liciknya berhasil, "hahaha, rasakan oleh kamu Rawing, meskipun kamu memiliki ilmu silat yang hebat, tapi kalau mata kamu tidak bisa melihat itu akan percuma, hahaha, serbuk yang aku gunakan itu adalah racun beruang roban, orang yang terkena racun ini akan menjadi gila, tapi sebelum kamu menjadi gila lebih baik kamu mati di tangan aku Rawing."
Si Rawing mengumpat dalam hatinya, dia tidak menyangka kalau si Bewok akan melakukan hal licik seperti ini.
"hahaha, akhirnya nasib kamu tidak jauh beda seperti bapak kamu Rawing, sama-sama akan mati di tangan aku, tapi sebelum kamu mati, tangan dan kaki kamu akan aku potong-potong untuk membalas perbuatan kamu terhadap si Gempar."
"Aku kira kamu akan bertarung secara jujur, tapi kamu malah melakukan hal licik seperti ini Bewok."
"hahaha, dalam pertarungan, tidak perduli aku melakukan hal apapun, yang penting aku bisa memenangkan pertarungan ini, hahaha, sekarang rasakan ketajamannya golok si sambernyawa, hiaa."
Si Bewok menebaskan golok si sambernyawa, menurut pemikirannya, Si Rawing sudah pasti tidak akan bisa lagi menghindari serangannya dengan keadaan mata yang tertutup.
Tapi Si Bewok tidak mengetahui kalau dalam ilmu silat Ulin Karuhunan ada namanya jurus Banyu Pengluluh, jurus yang memusatkan indra pendengaran.
Suara angin dari bilah golok bisa terdengar oleh Si Rawing, hal itu membuat dia bisa menghindari serangannya si Bewok.
"Wus."
Beberapa serangan si Bewok berhasil di hindari oleh Si Rawing, hal itu membuat si Bewok terkejut.
"hahaha, hebat juga kamu Rawing, kamu masih bisa menghindari seranganku, tapi kamu tidak akan bisa bertahan lama Rawing, lama-lama tenaga kamu pasti akan terkuras karena kamu tidak bisa membalas seranganku."
Si Bewok kembali menyerang Si Rawing.
Si Rawing juga terus bisa menghindar, tapi lama-kelamaan Si Rawing jadi tertekan, dia terus mundur menghindari serangannya si Bewok, hingga dia sampai di ujung tebing, dia bisa mendengar suara alir mengalir dengan deras di bawahnya.
"Dari pada aku harus mati di tangan si Bewok, lebih baik aku melompat dari tebing ini, aku lebih baik mati hanyut di bawa air sungai dari pada mati di tangan si Bewok." ucap Si Rawing dalam hatinya.
"hahaha, sekarang mau lari kemana lagi kamu Rawing, makanya kamu jangan berani-beraninya mengganggu macan yang sedang tertidur Rawing, sekarang kamu merasakan akibatnya, terima saja nasib yang akan kamu alami sekarang, kamu tidak akan aku beri ampun."
Saat si Bewok mengayunkan goloknya ke arah Si tangan Si Rawing, sebelum golok itu mengenai sasaran, si Rawing langsung melompat dari tebing.
"Brus."
Tubuh Si Rawing jatuh tepat di tengah sungai, lalu tubuhnya terbawa hanyut.
Si Bewok melihat ke arah Si Rawing yang terbawa hanyut oleh air sungai, sesekali kepala Si Rawing bisa terlihat oleh si Bewok, sampai akhirnya tidak lagi terlihat.
Si Bewok mengatur napasnya, dada yang terkena oleh pukulan Si Rawing masih terasa sakit, "gila, benar-benar gila, kalau saja aku tidak melakukan hal licik, sudah bisa di pastikan aku akan mati di tangannya Si Rawing, baru kali ini aku melakukan pertarungan seperti ini."
Si Bewok lalu pergi ke arah si Gempar dan si Jali yang masih tergeletak di tanah, mereka berdua meringis menahan rasa sakit.
Melihat ke datangan si Bewok, si Gempar langsung meminta tolong kepadanya, tangan kirinya memegangi tangan kanannya yang patah, "Tolong obati tangan Gempar bah."
"tenang Gempar, nanti pasti aku obati, bangun kamu Jali, kamu jangan pura-pura pingsan." ucap si Bewok dengan marah.
Si Jali langsung bangun, kalau keadaan si Bewok lagi emosi seperti itu, si Bewok selalu bertindak tanpa pandang bulu, dia tidak mau kalau lehernya putus oleh goloknya si Bewok, meskipun dia masih merasakan sakit, dengan terpaksa dia berdiri.
Sambil menahan rasa sakitnya, si Gempar kembali berbicara kepada si Bewok, "terus bagaimana dengan tangan aku bah, sakit sekali rasanya bah."
"diam kamu Gempar, kamu seperti anak kecil saja, sekarang kita masuk kedalam rumah, si Rawing terjun dari atas tebing, mungkin sekarang dia sudah mati terbawa arus sungai."
Mereka bertiga lalu masuk kedalam rumah.
Si Bewok duduk di kursinya, sambil melamun, "kalau seperti ini, aku harus memperkuat diri, akan berbahaya kalau suatu saat nanti aku bertemu dengan orang yang lebih hebat dari Si Rawing. Si Rawing masih muda, tapi sudah memiliki ilmu silat yang hebat seperti itu, aku tidak menyangka kalau ilmu silat Ulin Karuhunan akan semenakutkan itu, kalau aku tidak menggunakan racun beruang roban, aku yang akan mati ditangan Si Rawing."