"Cintaku padamu tulus, aku sanggup meninggalkan semuanya untukmu." Bima.
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau mengambilmu dari Tuhanmu, dan juga keluargamu." Kayla.
Dua anak manusia bertemu tanpa sengaja dan akhirnya saling jatuh cinta.
Akankah keduanya dapat bersatu di tengah prinsip hidup yang mereka anut berbeda.
Yukk simak akhir kisah Bima dan Kayla...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayla POV
Kayla tak keluar dari kamar sejak semalam. Gadis itu menangis terus menurus menyesali kejadian semalam. Matanya sembab dan batinnya begitu tertekan. Sebagai perempuan, dia merasa sudah tidak ada yang patut dibanggakan dan juga tidak memiliki harga diri lagi.
Suara ketukan pintu yang menggaung tak sedikitpun membuatnya beranjak dari atas ranjang kayu yang cukup sempit di dalam kamarnya.
"Kay... Kayla..." Terdengar suara melengking dari luar rumah kontrakan memanggil namanya.
Kayla menggeser bantal yang dia gunakan untuk meredam suara isak tangisnya. Gadis itu terlihat mengusap wajah dengan kedua tangan guna menghapus sisa air mata yang sedari semalam tidak berhenti mengucur deras.
Tak lama kemudian Kayla terlihat menjulurkan kaki pada lantai kamar. Pandangan matanya menyipit dan terasa berat untuk membuka, hal itu pasti disebabkan oleh dirinya yang tak berhenti menangis semalaman.
Kayla meraih benda pipih pada meja yang tak jauh dari ranjangnya.
Kayla mengerjapkan kelopak mata berulang, berusaha membuat netranya dapat melihat dengan jelas. Namun bagaimanapun dia berusaha, tetapi saja gagal. Sepertinya efek menangisnya semalam membuat kedua matanya tidak dapat terbuka maksimal. Pandangan matanya terasa menyipit.
Kayla terpaksa menggeser ikon pencahayaan, dan menggeser maksimal untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup pada ponsel pintarnya.
Kemudian membuka kontak dan menggulir ke bawah, mencari kontak bernama Mirna.
Kayla sangat tahu lengkingan suara dari luar rumah kontrakannya itu adalah suara Mirna. Seorang perempuan yang lebih tua 5 tahun di atasnya. Perempuan itu adalah seseorang yang membantunya mengelola toko kecilnya. Dia merupakan orang kepercayaan Kayla yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
Karena hari telah pagi, sudah saatnya Mirna berangkat bekerja dan membuka toko. Seperti hari hari biasanya Mirna mengambil kunci toko yang diletakkan di luar rumah kontrakan yang Kayla tempati. Meski diletakkan diluar rumah namun tempatnya menaruh kunci toko merupakan tempat rahasia dan tersembunyi. Hanya Kayla dan Mirna yang mengetahui tempat tersebut.
Karena pagi ini Kayla bangun kesiangan otomatis Kayla belum meletakkan kunci toko miliknya pada tempat biasanya.
Namun melihat kondisi wajahnya yang sembab dan tidak mungkin untuk disembunyikan dari perempuan yang sudah seperti kakak perempuan baginya itu, Kyla tidak mungkin keluar dan memberikan kunci toko secara langsung kepada Mirna.
Sepertinya Kayla harus memilih untuk berbohong tentang keberadaannya pada Mirna.
Tidaklah memungkinkan baginya untuk bertemu dengan Mirna saat ini.
Maaf Mbak Mir, kunci tokonya kebawa Kayla ke sekolah. Tadi pagi buru buru, lupa taroh kunci toko di tepat biasanya. Mbak Mirna berangkat duluan aja. Nanti kuncinya tak kirimkan lewat kurir.
Kayla mendesah saat telah berhasil mengirimkan pesannya pada kontak Mirna.
Maafin Kayla mbak Mir... desis Kayla lirih seraya memandang kosong layar ponsel pintar miliknya yang mulai meredup dan akhirnya menggelap. Kayla memang menggunakan mode kunci otomatis pada layar ponsel pintar yang sudah ketinggalan jaman tersebut.
Tes
Setetes air mata kembali mengalir saat ingatan Kayla kembali pada peristiwa semalam. Tangannya bergerak meremas dada kuat dengan mulsi terisak.
Kayla merasa bahwa tubuhnya telah kotor dan tidak memiliki harga diri lagi. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan olehnya. Tidak ada alasan yang dapat digunakan sebagai pegangan hidup.
Kayla merasa dirinya murahan karena membiarkan seorang lelaki memeluk tubuhnya, mencium bibirnya dan juga menyentuh setiap inchi tubuhnya disaat mereka tidak memiliki ikatan yang sah untuk melakukannya.
Maafkan aku ya Allah....
Ucap Kayla dengan bibir bergetar. Tidak ada lagi tempatnya mengadu selain kepada Yang Maha Pencipta. Karena Kayla sudah tidak memiliki orang tua maupun kerabat yang ada di dekatnya untuk menjadi tempatnya mengadu.
Kayla berjalan keluar dari kamar saat rungunya telah mendengar langkah kaki menjauh dari rumah kontrakannya.
Kayla yakin mbak Mirna telah pergi dari sana.
Dengan langkah kaki yang cukup berat Kayla memasuki kamar mandi untuk membasuh tubuh kotornya.
Di bawah kucuran air kran yang lumayan deras, Kayla tak berhenti menggosok kulit tubuhnya dengan kuat. Berulangkali melakukannya hingga menimbulkan ruam merah pada beberapa tempat di tubuhnya.
Meski ruam merah itu sangat jelas kentara dan terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya, Kayla tetap saja menggosok kuat permukaan kulit tubuhnya tanpa sedikitpun ada niatan untuk berhenti melakukannya.
Bahkan ruam merah itu semakin bertambah banyak dan saling tumbang tindih dengan tanda merah keunguan yang telah Bima tinggalkan pada beberapa titik di permukaan kulit dada Kayla.
Kayla menggosok dengan kuat pada jejak merah peninggalan Bima dengan berderai air mata.
Air mata itu tidak berhenti mengalir bersamaan dengan mengalirnya air kran yang tak putus mengguyur seluruh tubuh Kayla.
"Auww..." pekik Kayla tertahan saat merasakan perih pada tekukan lengan tangan yang sedang diusap sabun mandi olehnya.
Sesaat Kayla menghentikan aksinya. Menutup kedua mata dengan berusaha menahan perih yang ternyata ia rasakan pada sekujur tubuhnya.
Dirasa perih itu berkurang Kayla memutar kran yang beberapa saat lalu telah ia matikan. Sekarang air kembali mengucur deras, menghapus sisa sabun pada sekujur tubuhnya.
Kayla segera mengelap tubuhnya dengan handuk kemudian membalutnya. Baru kemudian keluar dari dalam kamar mandi. Meski hatinya masih terbebani dengan kejadian tak senonoh semalam, setidaknya raganya terasa lebih ringan sekarang.
Sesampainya di dalam kamar, Kayla segera menukar handuk mandinya dengan gamis rumahan untuk menutup tubuhnya. Tak lupa menutup surai hitam panjangnya dengan khimar murah yang menjadi andalannya saat di rumah.
Sesaat menatap cermin usang di dalam kamar untuk mencermati wajah sembabnya. Kayla hendak keluar rumah untuk menitipkan kunci tokonya pada Mirna.
"Pakek masker sepertinya bisa untuk menutupinya." gumam Kayla dengan membuka laci meja riasnya.
"Tidak akan ada yang menyadarinya." Kayla dengan memakai masker kain untuk menutupi setengah wajahnya lalu berjalan keluar kamar.
Tok... tok... tok...
Tangan Kayla urung memutar anak kunci pada pintu saat pintu utama kontrakannya kembali diketuk dari luar.
Kayla berdiri diam dengan berusaha menerka siapa yang datang ke rumahnya saat ini.
"Tidak mungkin kan kalau itu mbak Mirna lagi." gumam Kayla lirih dengan menanti kalau kalau ada suara orang yang menyertai ketukan pada pintu rumah kontrakannya.
Tok... tok... tok...
Jantung Kayla tiba tiba berdegub dengankencang saat mengingat janji Bima semalam.
"Apa itu mungkin dia."
Kayla dengan menempelkan daun telinga pada pintu.
"Kay... Kayla..."
Deg.
Jantung Kayla seolah berhenti berdetak saat suara bass itu tertangkap rungunya.
Dengan jantung yang kembali berdetak dua kali lebih cepat, Kayla mendudukkan tubuh seraya membekap mulutnya dengan tangan.
Jujur saja Kayla tidak siap untuk bertemu dengan Bima saat ini.
Mbak Mir tokonya tutup saja. Aku nggak ketemu kurir buat nitip kunci.
Maaf.
🌷🌷🌷
awaaas loe
disaat Kayla senam jantung, eh... si Bimbim malah tidur 😁
smg ceritanya tdk bertele".....aku hdiahkn secangkir kopi buatmu thorrr mangatttt ....
si kay kan gk bs bohong