NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Anak yang Dibuang

Kelvin tidak masuk sekolah hari Sabtu.

Kelas XI-IPA 4 memang hanya setengah hari, dan beberapa murid sering izin karena les atau acara keluarga. Namun kursi kosong di sebelah Keiko tetap terasa terlalu jelas. Buku hitamnya tidak ada di laci. Pulpen yang biasanya diputar di antara jari juga tidak ada.

Fajar menoleh sebelum pelajaran pertama dimulai. "Keiko, Bang Kel bilang apa? Dia bolos?"

Keiko menggeleng. "Aku tidak tahu."

"Tumben."

"Tumben?"

"Biasanya kalau dia bolos, auranya tetap ada." Fajar menunjuk kursi kosong Kelvin dengan dagu. "Hari ini kayak beneran hilang."

Putri memutar mata. "Bahasa lu aneh banget."

Keiko ikut tersenyum kecil, tetapi matanya kembali ke kursi kosong itu.

Di tempat lain, pada jam yang sama, Kelvin duduk di kursi belakang sebuah Alphard hitam menuju Jakarta.

Pak Hendra duduk di depan, di samping sopir. Pria paruh baya itu beberapa kali melihat Kelvin lewat kaca spion, tetapi tidak mengatakan apa pun. Kelvin juga tidak bertanya. Dia tahu kenapa dia dijemput. Kalau William Susanto sampai mengirim mobil ke Bandung, artinya pria itu sedang ingin mengingatkan bahwa Kelvin masih bisa diseret kapan saja.

Perjalanan Bandung-Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya.

Kelvin memakai earphone tanpa menyalakan musik.

Di luar jendela, jalan tol bergerak mundur. Mobil, truk, papan iklan, langit yang semakin panas. Semua terlihat biasa. Namun setiap kilometer mendekati Jakarta membuat dadanya mengeras.

Dia tidak membenci kota itu.

Dia hanya membenci rumah yang menunggunya di sana.

Rumah keluarga Susanto berada di kawasan Menteng, besar, putih, terlalu bersih. Halaman depan dipotong rapi. Mobil-mobil mahal diparkir berjarak sempurna. Dari luar, rumah itu terlihat seperti tempat yang pantas masuk majalah arsitektur.

Kelvin selalu merasa rumah itu lebih mirip kantor.

Tidak ada suara tawa. Tidak ada sandal berantakan. Tidak ada aroma sup jagung buatan Oma Lim.

Oma Lim.

Nama itu muncul seperti napas yang terlambat.

Saat Kelvin berumur tujuh tahun, Melinda Chen membawanya ke supermarket dengan alasan membeli susu. Dia ingat lampu yang terlalu terang, rak-rak penuh makanan, dan tangan ibunya yang hangat memegang tangannya.

"Kel, tunggu Mama di sini sebentar, ya."

Kelvin kecil mengangguk.

Dia menunggu di dekat rak sereal.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Petugas supermarket akhirnya bertanya di mana ibunya. Kelvin menunjuk arah yang sama berkali-kali, tetapi Melinda tidak pernah muncul lagi.

Oma Lim yang datang menjemputnya malam itu.

Perempuan tua itu memeluknya di depan kantor keamanan supermarket, menangis sampai bahunya gemetar. Kelvin kecil tidak menangis saat ditinggalkan. Dia baru menangis ketika Oma Lim berkata, "Pulang sama Oma, ya. Kalau semua orang pergi, Oma tetap ada."

Sejak itu, rumah Oma di Bandung menjadi satu-satunya tempat yang bisa dia sebut rumah.

Sampai Oma Lim meninggal saat Kelvin berumur empat belas.

Tiga bulan setelah pemakaman, William mengambil rumah itu dengan alasan aset keluarga perlu dirapikan. Perabot Oma disumbangkan. Foto-foto dimasukkan kardus. Kunci rumah berpindah tangan.

Kelvin tidak pernah benar-benar pulang setelah itu.

"Tuan muda."

Suara Pak Hendra menarik Kelvin kembali ke masa kini.

Mobil sudah berhenti.

Kelvin melepas earphone. "Jangan panggil begitu."

Pak Hendra menunduk sedikit. "Pak William menunggu di ruang kerja."

"Tentu."

Kelvin masuk rumah tanpa mengganti sepatu. Salah satu pelayan terlihat ingin menegur, tetapi langsung menunduk ketika melihat wajahnya.

Di ruang kerja, William Susanto berdiri di depan meja besar. Setelan rumahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, jam mahal melingkar di pergelangan tangan. Di sofa dekat jendela, seorang anak laki-laki berumur lima atau enam tahun sedang menyusun balok kayu dengan pengasuhnya.

Ethan.

Adik tiri Kelvin mengangkat wajah. "Koko Kelvin?"

Kelvin berhenti sekejap.

William menoleh tajam. "Ethan, keluar."

Anak itu langsung menunduk. Pengasuhnya membawa Ethan pergi, tetapi sebelum pintu tertutup, Kelvin masih sempat melihat mata polos anak itu menatapnya dengan bingung.

Ruang kerja menjadi sunyi.

William melempar sebuah map ke atas meja. "Ini laporan dari sekolahmu."

Kelvin melihat map itu tanpa mendekat. "Rajin sekali Bos Susanto mengurus anak bermasalah."

Wajah William mengeras. "Jaga mulutmu."

"Saya pikir dipanggil dari Bandung karena ada hal penting."

"Kamu pikir mempermalukan keluarga ini bukan hal penting?"

Kelvin tertawa pendek. "Keluarga?"

William melangkah mendekat. "Nilai buruk. Berkelahi. Masuk ruang BK. Nama Susanto dipakai untuk sampah seperti kamu."

Kata itu tidak baru.

Sampah.

William mengucapkannya begitu mudah, seperti sudah bertahun-tahun menyimpan kata itu di lidah. Dulu Kelvin marah. Dulu dia membalas dengan menghancurkan barang, membanting pintu, berkelahi di sekolah. Sekarang kata itu hanya jatuh di dadanya seperti batu lama yang sudah tahu tempatnya.

"Kalau saya sampah," kata Kelvin pelan, "kenapa masih dipungut?"

Tamparan itu datang cepat.

Suara keras memenuhi ruang kerja.

Kelvin menoleh karena wajahnya terdorong ke samping. Rasa panas merambat di pipi, tetapi dia tidak menyentuhnya.

Pak Hendra yang berdiri di dekat pintu bergerak setengah langkah, lalu berhenti.

William mencengkeram lengan Kelvin. Jari-jarinya menekan tepat di atas siku, kuat sampai kuku terasa menembus kain seragam.

"Karena kamu masih punya fungsi," desis William. "Kelak kamu akan membantu Ethan. Kamu akan belajar bisnis, masuk universitas yang aku tentukan, dan berhenti membuat masalah. Jangan bermimpi hidup seenaknya."

Kelvin menatap tangan ayahnya di lengannya.

Fungsi.

Bukan anak.

Bukan keluarga.

Hanya fungsi.

"Selesai?" tanya Kelvin.

William mendorongnya mundur. "Keluar dari hadapanku."

Kelvin keluar.

Di koridor, Ethan berdiri diam dengan balok kayu di tangan. Anak itu tampak ingin bicara, tetapi takut. Kelvin melewatinya tanpa berhenti.

"Koko..."

Langkah Kelvin melambat.

Namun dia tidak menoleh.

Jika dia menoleh, anak itu mungkin akan melihat pipinya yang merah. Mungkin akan bertanya. Mungkin akan terseret ke dalam kebencian yang bukan miliknya.

Kelvin terus berjalan.

Senin pagi, Keiko melihat memar itu sebelum Kelvin sempat menyembunyikannya.

Kelvin datang terlambat, wajahnya lebih dingin dari biasa. Dia menarik kursi, duduk, lalu membuka buku seolah semuanya normal. Namun saat dia menggulung lengan seragam karena udara kelas panas, ujung lengan kanannya tersingkap terlalu tinggi.

Di atas siku, ada bekas biru keunguan berbentuk jari.

Keiko menatapnya.

Kelvin mengikuti arah pandangnya, lalu cepat-cepat menurunkan lengan.

"Itu..."

"Jatuh," katanya.

Jawabannya keluar terlalu cepat.

Keiko menatap wajahnya. Di pipi kiri Kelvin, masih ada sisa merah yang hampir hilang jika tidak diperhatikan. Di sudut bibirnya, garis lama belum sepenuhnya pulih.

"Jatuh sampai berbentuk jari?"

Kelvin berhenti membuka buku.

Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, ruangan di sekitar mereka seperti menjauh. Keiko tidak bertanya lagi. Dia tahu ada beberapa luka yang jika disentuh terlalu cepat, pemiliknya justru akan menutup pintu lebih rapat.

Kelvin menarik lengan seragamnya sampai menutupi memar.

"Nona Murid," katanya datar, "kadang kamu terlalu pintar."

Keiko menunduk ke bukunya.

Namun di halaman kosong itu, tidak ada satu pun rumus yang masuk ke kepalanya.

Dia tidak percaya Kelvin jatuh.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!