NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Kalimat Steven menempel di kepala Nana lebih lama daripada bekas merah di pergelangan tangannya.

Jangan terlalu percaya pada apa yang kau lihat.

Dua hari setelah kejadian Pasar Atom, bekas jari pria berjaket cokelat sudah berubah warna menjadi ungu kekuningan. Stella melihatnya saat membantu Nana membawa taplak bersih ke ruang makan kecil.

"Ini karena tugas Koko Steven?" tanya Stella, suaranya langsung turun.

"Karena aku kurang hati-hati."

"Jangan membela dia."

"Aku tidak membela siapa-siapa."

Stella menatapnya lama, lalu menghela napas. "Malam ini ada jamuan kecil. Papa mengundang beberapa orang setelah audit kemarin. Kau tidak perlu dekat-dekat ruang tamu kalau pergelanganmu sakit."

"Saya bisa bekerja."

"Tentu saja kau bisa. Masalahnya, kadang orang di rumah ini suka lupa bahwa bisa bukan berarti harus."

Nana tidak menjawab. Kalimat itu terlalu lembut untuk ditolak, terlalu hangat untuk dipercaya cepat-cepat.

Malamnya, Rumah Besar Sie kembali berubah menjadi panggung. Bunga putih diganti dengan anggrek ungu. Gelas kristal berderet. Para tamu datang dengan jas gelap, gaun mahal, dan tawa yang terdengar ringan padahal mata mereka sibuk menghitung siapa berdiri dengan siapa.

Nana bertugas membawa nampan minuman.

Ia melihat William berbicara dengan dua pengusaha tua. Tamara menyambut istri seorang direktur bank. Lusia tertawa di dekat tangga, suaranya manis seperti gula yang terlalu banyak. Albert berdiri di dekat rak buku, dikelilingi orang-orang yang mendengarkan penjelasannya tentang lukisan tua di dinding.

Steven tidak terlihat.

Itu seharusnya membuat ruangan terasa lebih aman.

Anehnya, Nana justru lebih sering melihat pintu.

"Mencari seseorang?"

Suara itu datang dari sampingnya.

Nana hampir menjatuhkan gelas, tapi tangannya cepat menahan nampan. Seorang pria muda berdiri di sana, memegang gelas kosong yang entah sejak kapan diambil dari nampannya. Jasnya biru tua, dasinya longgar sedikit, dan senyumnya terlalu mudah, seperti ia masuk ke rumah orang lain lalu langsung tahu letak sofa paling nyaman.

"Bapak mau minum lagi?" tanya Nana.

"Aku sudah ambil." Ia mengangkat gelas kosong itu. "Tapi sepertinya aku mengambil dari nampan yang salah."

Nana menatap gelas itu. "Nampan yang salah?"

"Nampanmu isinya air mineral dan teh. Orang biasanya mengambil wine kalau ingin terlihat penting."

"Berarti Bapak tidak ingin terlihat penting?"

Pria itu tertawa. "Aku ingin terlihat sadar. Itu lebih langka di acara seperti ini."

Nana tidak tahu harus menjawab apa.

Seorang pria berwajah tegas datang mendekat, berdiri setengah langkah di belakangnya. "Tuan Daniel, Pak William sudah menunggu."

Daniel.

Nana langsung mengingat nama yang pernah disebut kepala pelayan pagi tadi. Daniel Tjang. Pendiri Tjang Group. Pengusaha muda dari Jakarta yang namanya sering muncul di berita bisnis, kadang dipuji sebagai jenius, kadang disebut terlalu berbahaya karena membeli perusahaan bermasalah lalu membuat pemilik lamanya tersenyum sambil kehilangan kuasa.

Daniel menoleh kepada pria di belakangnya. "Loki, kalau Pak William benar-benar menunggu, wajahnya pasti lebih tidak sabar dari itu."

Loki tidak bereaksi. "Tetap menunggu, Tuan."

"Lihat? Dia selalu membuat fakta terdengar seperti vonis." Daniel kembali menatap Nana. "Namamu?"

Nana ragu.

"Kalau kau tidak mau jawab, aku bisa menebak. Tapi biasanya tebakanku membuat orang tersinggung."

"Nana."

"Nana saja?"

Dada Nana mengencang sedikit. Kalimat itu pernah ditanyakan Stella dengan nada berbeda.

"Nana Widjaja," jawabnya akhirnya.

Daniel mengangguk seolah nama itu sudah ia simpan di tempat khusus. "Daniel Tjang."

"Saya tahu."

"Wah. Aku terkenal juga di dapur keluarga Sie?"

"Di koran bisnis yang dilipat di ruang makan."

Mata Daniel berbinar. "Kau membaca koran bisnis?"

"Saya melihat judulnya."

"Melihat judul saja sudah lebih baik daripada banyak orang yang membeli saham karena ikut teman golf."

Nana tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia menangkap cara Daniel bicara. Ringan, lucu, seperti bercanda. Namun setiap kalimatnya punya ujung kecil yang bisa menusuk orang tertentu.

"Tuan Daniel."

Suara Steven memotong dari belakang.

Nana menoleh.

Steven berdiri tidak jauh dari pintu samping, memakai kemeja hitam dan jas gelap. Wajahnya seperti biasa, dingin dan malas, tetapi matanya berhenti sesaat pada pergelangan tangan Nana yang tertutup kain.

Daniel mengikuti arah pandang itu.

"Ah," katanya pelan. "Jadi ini gadis yang membuatmu turun tangan di Pasar Atom?"

Nana kaku.

Steven menatap Daniel. "Kau terlalu banyak mendengar."

"Aku hidup dari mendengar. Kadang juga dari pura-pura tidak mendengar."

"Coba pilihan kedua malam ini."

Daniel tersenyum lebih lebar. "Galak sekali. Padahal aku baru menyapa."

Loki menunduk sedikit, seperti sudah sering melihat tuannya sengaja mengganggu orang.

Steven mengambil gelas dari nampan Nana, tapi tidak minum. "Pak William menunggu."

"Aku tahu. Semua orang menunggu sesuatu dariku." Daniel menghela napas dramatis. "Uang, tanda tangan, gosip, atau kesalahan."

"Yang terakhir biasanya kau beri gratis."

Daniel tertawa. Suaranya membuat beberapa tamu menoleh. Tidak ada rasa malu di wajahnya. Justru ia seperti menikmati ruang yang mendadak memusat kepadanya.

Di sisi lain, Steven tampak semakin dingin.

Nana melihat perbedaannya dengan jelas. Steven membuat orang menyingkir tanpa berkata banyak. Daniel membuat orang mendekat bahkan saat ia mengatakan hal berbahaya.

"Nana Widjaja," Daniel tiba-tiba berkata, seolah nama itu menarik perhatiannya lagi. "Kau tahu kenapa orang-orang kaya di ruangan ini tersenyum begitu rapi?"

"Karena sedang dilihat orang lain."

"Jawaban bagus." Daniel mengambil kartu nama dari saku dalam jasnya, meletakkannya di tepi nampan Nana, di antara gelas-gelas bersih. "Tapi belum lengkap. Mereka tersenyum karena angka di belakang mereka belum berdarah."

Nana menatap kartu itu.

Tjang Group.

Hurufnya hitam, sederhana, mahal.

"Kalau kau ingin tahu kenapa orang kaya berperang," lanjut Daniel, "belajarlah membaca angka. Wajah bisa berbohong. Neraca lebih sulit."

Steven berkata datar, "Jangan rekrut orang di rumah orang."

"Aku tidak merekrut." Daniel mengangkat kedua tangan. "Aku hanya memberi kartu. Kalau dia membuangnya, aku patah hati sebentar lalu makan dessert."

Nana tidak menyentuh kartu itu.

Daniel menatapnya, bukan memaksa, hanya menunggu apakah ia akan takut.

Nana mengambil kartu itu dan menyelipkannya ke kantong seragam.

Steven melihat gerakan itu.

Daniel tersenyum puas. "Nah. Sampai bertemu lagi, Nana Widjaja."

Loki memberi isyarat. Daniel akhirnya berjalan menuju William, tetapi sebelum pergi jauh ia menoleh sekali lagi.

"Oh ya," katanya ringan. "Jangan percaya orang kaya terlalu cepat. Termasuk aku."

Nana berdiri dengan nampan di tangan, merasakan kartu nama itu seperti benda panas di kantongnya.

Di dekat pintu samping, Steven masih menatapnya.

Kali ini, Nana tidak tahu apakah ia sedang diperingatkan, diawasi, atau dibiarkan memilih perang baru yang bahkan belum ia pahami malam itu di rumah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!