Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik Nathan
"Oh ya? Lalu kenapa kamu tidak meminta izin dulu padaku?" suara Nathan kini memekik ke kuping Kasih.
Ya Tuhan... baru tadi dengar dia ngomong lembut, sekarang dia kembali membentak dengan wujud aslinya. batin Kasih.
"Maafkan saya Tuan, lagipula saya tidak punya ponsel untuk menghubungi anda." Kasih mengangkat tangan seperti layaknya orang memohon.
"Iya kan kamu bisa pinjam ponsel siapapun, kamu mau aku hajar?" Nathan mengayunkan tangan ke udara sebagai tanda gertakan.
Kasih memejam mata sambil menggeleng. "Tidak Tuan."
Melihat Kasih sudah ketakutan, Nathan langsung berdiri. Masih sempat-sempatnya ia menarik kunciran rambut Kasih yang terlihat sangat imut di matanya, Nathan berjalan ke kamar mandi ingin membersihkan diri. Kasih menghela nafas mengusap-usap dada masih terduduk, tak lama Nathan keluar dari kamar mandi dalam keadaan beranduk berjalan menuju kasur, ia mengenakan sebuah piyama yang sudah di siapakan oleh Kasih lalu naik kekasur ingin menidurkan diri.
Kasih tiba-tiba teringat sesuatu, dilihatnya Nathan masih bergerak berarti belum tidur, segera ia hampiri. Kasih berdiri di sisi tempat tidur menatap Nathan.
"Tuan Muda, saya ingin berbicara." Kasih mencondongkan diri memelankan suara saat berbicara.
"Emm... bicaralah." Suara Nathan bisa membuat orang ambigu saat mendengarnya.
"Bolehkah saya mencari pekerjaan?" bisik Kasih.
Mendengar ucapan Kasih Nathan segera mentelentangkan tubuh menatap Kasih dengan menyaring perkataannya, ia terkekeh seakan mendengar leluconnya.
"Mau cari kerjaan?" Kasih mengangguk saat Nathan bertanya kembali, Nathan pun berdiri di kepala kasur menatap Kasih. "Ha-ha-ha, kamu itu gak punya pengalaman dan kamu hanya lulusan SMA doang, susah mencari kerjaan di ibukota tau gak?" Nathan terkekeh geli mendengar ucapan Kasih ingin mencari pekerjaan.
Setidaknya semangattin aku dong. batin Kasih.
Nathan berhenti tertawa. "Sudahlah, lebih baik kamu dirumah saja bersantai seperti Jasmine dan Anna, nikmati harta dengan berfoya-foya setiap hari menghamburkan uang." Nathan kembali merebahkan tubuh ingin melanjutkan tidurnya yang telah terganggu.
"Maaf Tuan, tapi itu bukan hobi saya, saya tidak suka menjadi Anna dan Jasmine. Lagian saya bosen dirumah terus."
Nathan telentang kembali mendengarnya.
"Emm begitu rupanya, pasti itu karena kau tidak biasa hidup mewah, kan?" Nathan menunjuk kearah Kasih dengan gaya meledek.
Duhh Tuan, katakan saja boleh atau tidak? Bosen tau mendengar kamu yang hanya bisa menghina aku mulu. batin Kasih.
"Baik, carilah pekerjaan, buktikan kepada ku bahwa kau itu wanita mandiri, bukan wanita matre yang gila harta. Jika kau berhasil membelikan satu barang mahal untukku, dari hasil kerja kerasmu, kau boleh tidur di samping ku mulai saat itu." selesai berbicara Nathan kembali memejamkan mata tak mau menerima satu ucapan lagi.
Sementara Kasih merasa bahagia, dia melompat-lompat kegirangan kembali ke sofa. Padahal Nathan sudah mengintip nya sambil tersenyum dari balik selimut.
Kamar menjadi Hening mereka tidur di tempat masing-masing dan masuk kedalam mimpi sendiri.
PAGI HARI
Selesai sarapan pagi Kasih sudah berpakaian rapi, ia memakai setelan kemeja putih dan rok hitam. Walaupun ia terlihat kuno memakai kacamata yang biasa ia pakai, dan mengepang rambut juga ia memakai sepatu hitam bertapak rendah, karena tubuhnya cukup tinggi buat apa pakai sepatu tinggi-tinggi.
Kasih begitu penuh semangat untuk mencari pekerjaan, supaya bisa membuktikan kepada Nathan bahwa ia bukan wanita matre, dan salah satu menjadi tekadnya adalah. Memebelikan sebuah hadiah mahal untuk di berikan kepada Nathan, dan ia pun bisa tidur di atas kasur.
Semangat.
Dengan semangat 4-5 kasih berjalan keluar, semoga hari ini banyak lowongan pekerjaan apapun itu yang penting halal, ia juga sudah membawa beberapa dokumen surat lamaran.
Baru tiba di depan teras rumah, Kasih sudah di pertemukan dengan dua penyihir. "Aadduhh aadduhh... adik ipar mau kemana tuh kok rapi banget.?" Anna dan Jasmine berjalan mengelilingi Kasih.
Aduh aduh, kenapa ada dua penyihir ini lagi? Bikin mood ku hilang saja, sudah Kasih hiraukan saja, mereka itukan manusia paling syirik tingkat satu. batin Kasih.
Tanpa basa-basi Kasih melanjutkan langkahnya menuju gerbang, merasa di cuekin, Anna menarik tangan Kasih meminta jawaban atas pertanyaan nya.
"Ehh, orang belum selesai ngomong juga, udah main pergi-pergi aja." Anna mengomel kepada Kasih.
"Saya mau mencari pekerjaan nyonya muda." dengan sangat lembut Kasih menjawab sekaligus melepaskan cengkraman Anna.
"Wihhh hiya-hiya, hebat dong, emang kamu fikir nyari kerjaan di kota sama dengan di kampung? Kalau di kota itu memerlukan skill dan lulusan tinggi agar bisa bekerja." Anna berbicara dengan nada meledek.
"Iya tuh, kamu aja cuma lulusan SMA, bisa kerja apa coba?" sambung Jasmine.
"Iya gak apa-apa, yang penting sudah berusaha dengan niat, yang namanya rezeki udah di atur di tangan Tuhan. Dari pada kalian, cuma bisa berfoya-foya habisin uang." Kasih pun melenggang pergi berjalan sambil meledek.
"Liat itu sombong banget ya." Anna dan Jasmine merasa kesal bisa di kalahkan oleh cewek kolot.
Kasih berjalan menuju halte, menunggu jemputan dari bus yang biasa beroperasi di ibukota. Sebagai angkutan untuk memudahkan manusia pergi jika tak memiliki kendaraan sendiri, Kasih duduk di kursi sedikit berbaca-baca doa yang hanya ia hapal.
KANTOR WING
Nathan termenung memikirkan ucapannya tadi malam, bagaimana jika Kasih mendapatkan pekerjaan? dan pada akhirnya ia bisa membeli barang mewah sebagai saimbara persyaratan untuk tidur bersama.
Sekertaris Rehan duduk di sofa memperhatikan Tuannya itu, dan alhasil ia pun ikut termenung memikirkan mantan istrinya.
"Rehan!"
Suara Nathan yang terdengar seperti petir membuyarkan lamunan Rehan, entah ada apa dengannya.
Rehan bangkit lalu berjalan menuju meja kerja Nathan. "Ada apa Tuan muda?" Rehan berdiri seraya membungkuk.
"Re, hubungi semua para pembisnis di kota ini, katakan pada mereka untuk tidak menerima gadis udik itu bekerja!" Nathan juga berbicara secepat kilat.
"Maksud Tuan... nyonya muda sedang mencari pekerjaan?" Rehan mengerti dengan cepat.
"Iya, bodohnya lagi, aku membuat saimbara untuknya agar bisa tidur satu ranjang denganku, aku menyesal mengatakan itu" Nathan memukul jidat sambil menyender di kursi kerjaan.
"Anda lucu sekali Tuan." entah apa yang lucu Rehan terkekeh sendiri.
"Sudah, jangan tertawa! Lakukan perintahku, pastikan tidak ada satupun pengusaha yang menerimanya, jika ada yang menerimanya. Tutup usaha mereka nanti."
"Baik Tuan muda."
Rehan melakukan semua perintah Nathan, ia menghubungi semua kontak para pembisnis, seperti. Pemilik restoran makanan, cafe-cafe kecil, toko roti, toko baju, laundry DLL, tak ada satupun yang ia lewatkan. Nathan tersenyum licik sendiri membayangkan Kasih akan kewalahan mencari pekerjaan, Rehan melakukan semuanya dengan sempurna agar si Tuan muda senang, persetan dengan keadaan Kasih.
BERSAMBUNG