Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa sedih
setelah sepakat, Azila dan suaminya itu pun pulang, sedang Sari sebagai istri dari Nanang merasa jika tatapan wanita itu tak berubah kepada suaminya itu.
"akhirnya..." kata Nanang memeluk tubuh Sari erat.
Sari pun menepuk punggung suaminya itu pelan, dan membereskan semuanya.
saat akan tidur, Nanang mulai mencumbu istrinya, tapi sari menahan Nanang.
"kenapa? kamu tak ingin melayani suamimu hah," marahnya.
"tidak mas, bukan aku tak mau melayani mu, tapi aku sedang berhalangan," kata Sari.
tapi Nanang yang tak percaya pun menyentuhnya, ternyata benar ada benda pengaman.
"kalau begitu aku tidur," kata Nanang yang terlanjur kesal.
Sari hanya bisa menghela nafas panjang, perlahan-lahan Nanang benar-benar menunjukkan sosoknya yang mengerikan di depan istrinya.
keesokan harinya, Sari masih memilih membuka tokonya tanpa menjual gorengan.
beberapa orang bertanya tentang luka di kepalanya, tapi Sari berbohong.
lagi pula siapa yang akan percaya dengan Sari, karena suaminya itu terkenal sangat baik di depan orang-orang.
mobil Bu Wiwit sampai di rumah Nanang, Sari pun langsung menyapa ibu mertuanya itu.
"assalamualaikum nduk, kamu kenapa kok pakai perban begini?" tanya Bu Wiwit kaget melihat menantunya itu.
"Sari jatuh dan membentur dinding Bu, karena ceroboh karena lupa jika lantai masih licin habis di pel," jawab Sari berbohong.
"kamu bohong, luka di pipi mu itu bukan luka karena benturan, Nanang!!!" teriak Bu Wiwit yang tak Terima melihat kondisi Sari.
"tidak ibu, saya mohon jangan marah seperti ini, ini semua salah saya," kata Sari menahan ibu mertuanya itu.
Bu Wiwit pun merasa begitu bersalah sekarang, bahkan menantu sebaik ini dia bisa mencurigai menantunya.
"ibu kenapa? jika ada yang ingin di sampaikan, bilang saja," kata Sari melihat wajah Bu Wiwit yang nampak bingung.
"sebenarnya Sari, ibu datang kesini ingin mengajak mu periksa ke dokter kandungan untuk melihat apa kondisimu baik-baik saja, terlebih sudah hampir setengah tahun kalian menikah," kata Bu Wiwit sedih.
"tidak apa-apa Bu, jika ibu ingin melakukannya, Sari akan mengikuti keinginan ibu," jawab gadis itu.
meski di dalam hatinya dia pun merasa sedih,kenapa semua orang mengatakan jika dia bermasalah.
"kalau begitu biar satu bersiap-siap dan menutup tokonya dulu," kata Sari.
Bu Wiwit pun mengangguk, dia pun menunggu di dalam rumah, ternyata semua masakan sudah terhidang di meja.
rumah juga sudah sangat rapi dan bersih, "dek minta kopi dong," kata Nanang yang baru bangun tidur.
melihat putranya itu,Bu Wiwit langsung menjewer kuping Nanang, "kamu ini bukannya bantuin istrimu malah baru bangun,"
"aduh ibu masih pagi sudah di sini, mau apa terus mana istriku?" tanya Nanang.
"iya mas, ini kopinya dan teh untuk ibu, saya mau ikut ibu belanja, karena semalam Yuni bilang jika ibu ingin mengajak saya belanja untuk acara muslimat," kata Sari dengan antusias.
"iya aku semalam lupa, maaf tak memberitahu mu, oh ya kami bisa sekalian beli apapun yang kamu inginkan, ini uang jajan dan keperluan mu," kata Nanang memberikan uang satu juta pada Sari.
"tapi mas, uang yang kemarin saja masih ada," jawab Sari.
"sudah di bawa saja, dan jika suamimu memberikan uang, kamu terima saja karena itu hak mu,dan urusan belanja sayur dan bulanan itu uangnya juga beda, kamu ingat itu Nanang," kata Bu Wiwit.
"iya Bu, iya..." kata Nanang.
akhirnya mereka berdua pun berangkat menuju ke tempat tujuan.
sedang Nanang pun bisa berangkat sedikit siang, terlebih dia harus ke sawah dulu untuk melihat para pekerja yang sedang menabur pupuk.
selama dalam perjalanan Sari dan Bu Wiwit banyak diam,mereka seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing.
mereka pun sampai di rumah sakit ibu dan anak, dan mereka langsung masuk karena Bu Wiwit meminta bantuan keponakannya untuk mengambilkan nomor urut.
"selamat pagi, ini ibu yang mau periksa kandungan?" tanya dokter kandungan bernama dokter Parman.
"bukan dokter tapi putri saya, karena saya ingin tau apa dia sehat atau..." kata Bu Wiwit yang tak enak mengatakan hal itu.
"saya mengerti, mbak bagaimana siklus menstruasinya? apa setiap bulan atau terganggu?" tanya dokter Parman itu.
"normal dokter, bahkan saat ini saya sedang menstruasi," jawab Sari.
"wah bagus, sudah hari ke berapa?" tanya dokter itu lagi
"baru hari kedua dokter," jawab Sari.
"baiklah biar saya lihat dulu darah menstruasinya, dan sebelum itu kita lakukan USG terlebih dahulu," kata dokter Parman.
akhirnya Sari mengikuti perintah dokter itu, keponakan dari Bu Wiwit pun merasa iba melihat Sari.
bahkan dia sempat melihat air mata Sari jatuh saat melakukan pemeriksaan.
"ya Allah bahkan usianya masih sebaya dengan adikku, tapi dia harus menjalani semua ujian hidup ini," batin gadis itu tak tega.
dokter pun sudah memeriksa dan melihat hasil USG, bahkan Sari juga menjalani tes darah juga.
"dari hasil pemeriksaan USG dan darah mens, semuanya baik,dan rahimnya juga berada di tempat yang baik dan ukurannya normal, seharusnya jika ingin melakukan pemeriksaan seperti jangan hanya perempuan bu, tapi calon pengantin pria juga, karena pria juga bisa mengalami gangguan kesuburan," kata dokter Parman seperti tamparan keras pada ibu Wiwit.
"iya dokter," jawab wanita itu.
mereka pun pamit, dan lusa hasil laboratorium darah milik Sari akan di bawakan oleh keponakan ibu Wiwit.
"sekarang kita kemana Bu?" tanya Sari.
"kita belanja ke pasar dulu ya nduk, karena lusa acaranya sangat besar, terlebih ibu tak meminta bantuan nasi dari warga sekitar," kata Bu Wiwit.
"iya Bu, tapi bisakah kita beli sarapan dulu, tadi saya belum sempat sarapan Bu," jawab Sari
"ya Allah nak,iya kita beli sarapan dulu, mang Har tolong cari warung dulu ya," kata Bu Wiwit
"iya Bu juragan," jawab pria itu.
tapi mobil sudah sampai di pasar legi Jombang, dan parkir tepat di samping warung nasi soto dan rawon.
"kita sarapan soto dulu ya, gak papa kan nak?" tanya Bu Wiwit.
"inggih Bu," jawab Sari.
mereka bertiga pun segera masuk kedalam warung, dan dari meminta teh hangat terlebih dahulu karena tubuhnya sudah sangat lemah rasanya.
setelah minum teh, kondisi dari pun mulai membaik, dan kemudian dia perlahan makan nasi itu.
setelah itu abru minum obat penahan rasa sakit karena luka di kepalanya belum sepenuhnya sembuh.
"Nanang keterlaluan, jujur pada ibu nduk, Kenapa kamu sampai seperti ini?" tanya Bu Wiwit.
"tidak Bu, sari yang salah, sari yang mulai mengajak mas nanang ribut, jadi ibu lupakan ya," kata Sari yang tak ingin suaminya itu di marahi oleh ibu mertuanya.
mereka pun berkeliling untuk membeli semua keperluan, mulai dari baskom, dan juga kardus.
bahkan mereka membeli wadah untuk seribu nasi yang akan di bagikan nantinya.
dan mereka juga memilih memesan beberapa jenis roti kering untuk sebagai pelengkap nantinya.
Sari baru tau jika keluarga suaminya akan seperti ini saat mendapatkan giliran muslimat satu kabupaten.