DERYNE MIKAELSON si duyung cantik yang sudah lama tinggal di lautan, harus kembali ke daratan karena telah menolong seorang anak kecil. Sosok Ryn yang menyenangkan membuat gadis kecil itu memohon pada Ayahnya, untuk menjadikan Ryn sebagai pengasuhnya.
LUCAS, Ayah dari Suri yang dengan terpaksa mengijinkan gadis asing untuk tinggal di rumahnya. Banyak sekali perbedaan dari suasana rumah itu ketika Ryn mulai tinggal disana. Satu persatu rahasia terbongkar! Apakah sebenarnya hubungan Lucas dan Suri, benarkah mereka hanya Ayah dan anak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YES!! I'am Mermaid - Ep. 18
Tingtong!
Bunyi bel dari depan apartemen Wendy membuat gadis itu buru-buru memoles lipstik di bibirnya, Wanita itu lantas berlari kecil menuju pintu apartemen nya. Di sebuah layar monitor, terlihat seorang pria yang sedang mendatangi nya dengan seikat bunga dikedua tangannya.
Kenapa dia sampai membawa bunga? - Wendy.
KLAP!!
(Pintu terbuka)
"Masuklah..." Ujar Wendy, mempersilahkan Gabriel untuk memasuki apartemennya.
"Wow, kau tinggal di kompleks apartemen mewah?" Gabriel melihat-lihat isi rumah Wendy yang tertata dengan rapi. "Bukankah kau hanya seorang pegawai kantoran, aku saja yang seorang model belum mampu membeli apartemen mewah seperti ini"
Wendy memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Apartemen ini bukan punyaku, ini milik pacarku! Dia membiarkan aku tinggal disini secara gratis"
"Bagaimana dengan barang-barang di rumah ini?"
"Tentu saja, ini juga miliknya. Aku hanya membawa koper berisi pakaian saja saat pindah kemari"
Sekali lagi Gabriel menatap takjub, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Sekaya apa kekasihmu itu? Apa kau sungguh menyukainya? Atau kau hanya menyukainya karena dia pria kaya raya?"
"Apa urusannya denganmu?"
Gabriel terkekeh, pria itu melempar bunga yang ia bawa ke atas lantai. Kedua kakinya melangkah mendekati Wendy yang mulai ketakutan dengan tatapan mata Gabriel.
"Katakan padaku Wendy, tidakkah kau menyukaiku? Kau masih mencintaiku?"
"Kau sakit!!" Ledek Wendy, secara refleks kedua kakinya berjalan mundur ketika pria di depannya itu mencoba melangkah untuk mendekati dirinya.
"Wendy... Wendy..." Ujar Gabriel sembari menggelengkan kepalanya. "Siapapun jika melihat dirimu saat ini, pasti akan menjawab jika kau menyukaiku"
"Berhenti Gabriel, jangan mendekat lagi!"
Eh? - Wendy.
Kedua tangan Gabriel berhasil menangkap tubuh Wendy yang hampir saja jatuh terjerembab ke belakang. Kedua mata pria itu membulat lebar ketika tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu.
"Lihat! Kau hampir membuatku terjatuh" maki Wendy lalu mendorong tubuh Gabriel, Wanita itu segera mengusap kedua lengannya yang habis disentuh oleh Gabriel.
"Wendy, jika kau tidak menyukaiku. Kenapa kau malah mengundang ku datang kemari? Bukankah malam itu aku sudah merebut hak berharga yang kau miliki, aku bahkan mencuri sebagian uangmu, tapi apa ini? Kau malah memintaku datang kemari?" Ledek Gabriel dengan seringai di wajahnya.
"Oh iya! Untuk uangmu..." Gabriel mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. "Aku tidak serius melakukannya, ini aku kembalikan"
Wendy menatap sejumlah uang yang diletakkan oleh Gabriel diatas meja, Wanita itu memperkirakan uang yang diberikan oleh Gabriel, uang itu melebihi dari uang yang ia ambil beberapa hari yang lalu.
Dengan sigap, Wendy mengambil uang itu dan menyimpannya. Hal itu dilihat oleh Gabriel namun pria itu tak bereaksi apapun, segera setelah Wendy sibuk dengan uangnya. Gabriel melangkah menuju pintu apartemen Wendy.
"Aku akan pulang, terima kasih sudah mengundangku" ujar Gabriel pelan.
"Tu-tunggu!"
Kedua mata Gabriel membulat lebar, ia terkejut bukan main saat Wendy melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk dirinya dari belakang. Gabriel yang terkejut tak merespon perlakuan Wendy pada tubuhnya.
"Maaf..." Bisik Wendy lirih. Wanita itu memutar tubuh Gabriel agar menghadap ke arahnya. "Maafkan aku... Kau benar!"
"Benar tentang apa?" Tanya Gabriel dan menatap tajam pada mata wanita di depannya.
"A-ku... Meskipun kau sudah melakukan hal buruk itu padaku, aku...." Kedua tangan Wendy menggenggam erat kedua lengan Gabriel, ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa malam itu dia juga sangat menikmatinya.
"Kau menyukainya?" Ceplos Gabriel asal. "Kau menyukai apa yang aku lakukan malam itu?"
Dengan wajah yang tertunduk malu, Wendy menganggukan kepalanya. Wanita itu lantas memeluk tubuh Gabriel dengan erat, benar! Hanya pada Gabriel lah dia bisa merasakan perasaan aneh yang membuncah ingin keluar dari hatinya. Selama ini, ia tidak pernah merasakan getaran aneh yang tak bisa dijelaskan saat bersama dengan Lucas.
Aku ini kenapa? - Wendy.
"Hei, jangan menundukkan kepala seperti itu" pinta Gabriel dengan nada yang lembut, pria itu menyentuh dagu Wendy, dan mengecup bibir Wanita itu singkat. "Selama ini, aku juga masih menyukaimu..."
Sial! Aku tidak bisa menolak perlakuan Gabriel padaku, secara tak langsung tubuhku menginginkannya. Tapi, dilain sisi aku ingin memilih Lucas, karena dia merupakan investasi terbaik untuk masa depan - Wendy.
"Tu-tunggu, Gabriel! Aku punya pacar... Kita tidak bisa melakukan ini" tolak Wendy di tengah-tengah Gabriel yang sibuk mencumbu dirinya.
Kedua tangan Gabriel tetap membuka beberapa kancing dari baju Wendy, pria itu kembali menciumi wajah wanita di depannya. Dengan mesra dan romantis, Wendy pun akhirnya ikut merespon apa yang dilakukan oleh Gabriel.
"Asal pacarmu tidak mengetahuinya, itu tidak akan jadi masalah kan?" Bisik Gabriel kalem.
Dia benar! Asal Lucas tidak tahu, semuanya akan baik-baik saja, aku yakin pasti Lucas tidak akan menerima pengkhianatan seperti ini... - Wendy.
Gabriel mengangkat tubuh kecil Wendy dengan mudah, pria itu tersenyum melihat Wendy yang sudah mulai kepanasan dibuatnya. Dia membawa Wanita itu ke dalam kamar tidur dan melemparkan tubuh Wendy diatas ranjang.
Dengan pakaian yang setengah terbuka, kedua tangan Wendy juga dengan cekatan membuka jaket dan kaus yang dikenakan oleh Gabriel, Wanita itu bermain dengan liarnya di depan pria yang ia inginkan.
"Kau cantik Wen..." Puji Gabriel lalu kembali mencium bibir Wendy.
"Mmmh... Terus lakukan, jangan berhenti!" Gumam Wendy lirih di telinga kanan Gabriel.
Tubuhku menerima semua perlakuan nya tanpa perlawanan apapun... - Wendy.
_______________________________________
"Saatnya untuk tidur, Suri..."
Ryn mematikan lampu kamar, gadis cantik bermata biru itu kembali berjalan mendekati ranjang tidur Suri dan menyalakan lampu tidur agar kamar itu tidak terlalu gelap.
"Nah, pakai selimut ini dulu ya?!" Ucap Ryn ramah sembari menarik selimut sampai batas dada Suri, gadis cantik itu mengusap kepala Suri dengan lembut. "Aku pergi ya?"
"Tunggu!" Suri menahan tangan kanan Ryn. "Mana ciuman selamat malamnya?"
"Eh!" Ryn terkejut, sejak kapan ada ritual semacam itu?! "Ci-ciuman apa??"
"Mulai sekarang, setiap aku akan tidur kau wajib untuk mencium pipi kiriku Ryn..."
"Kenapa??" Tanya Ryn yang kebingungan. "Kenapa aku harus wajib melakukannya?"
"Kenapa? Tentu saja karena aku yang mau" jawab Suri dengan angkuh, gadis kecil itu lantas menarik tangan Ryn dengan kuat agar Ryn dekat dengan jangkauannya. "Mau ya?? Ini..."
Suri menyodorkan pipi kirinya di dekat wajah Ryn, tanpa basa-basi lagi Ryn langsung mencium pipi kiri Suri dengan lembut. Gadis cantik itu lantas mengusap-usap kepala Suri dan mengacak-acak rambut gadis kecil itu.
"Sudah puas?"
"Ya, aku sangat puas!" Jawab Suri sumringah. "Terima kasih!"
"Oke, baik! Selamat malam Suri..." Ucap Ryn lalu melangkah keluar kamar.
"Selamat malam Ryn..."
Setelah Ryn benar-benar pergi, Suri lantas bangun lagi dari tidurnya. Gadis kecil itu bertepuk tangan dan bersorak gembira, dia sangat bahagia karena bisa membuat Ayahnya dan Ryn saling mencium satu sama lain.
Tadi sore, setelah Ryn memandikan Suri dan membawa gadis itu untuk makan malam bersama, Suri sengaja ingin berdua saja dengan Ayahnya. Di saat-saat itu, Suri berhasil membuat ayahnya mencium pipi kirinya, dan sekarang Ryn juga mencium di bagian pipi yang sama. Bagi Suri, itu sama saja dengan berciuman secara tidak langsung.
"Wah-wah Suri, kau memang pintar!" Puji Suri pada diri sendiri. "Hmm, tugas untuk membuat orang dewasa jatuh cinta memang membuat capek, apalagi status Ayah yang sudah punya pacar seorang penyihir itu!" Imbuh Suri dengan perasaan sebal.
"Donat... Donat... Donat..." Gumam Ryn senang saat berjalan menuju dapur, sebelum itu dia harus melewati ruang keluarga terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana.
Eh? Kenapa dia.... - Ryn.
BERSAMBUNG!!!
Halo, jangan lupa untuk klik tombol Like, Favorit, Vote dan komentar yaa? Dukungan dari kalian sangat berarti untuk saya! Terima kasih... ☺️🙏♥️
semangat, kuat sehat ya kak nesaaaa😍😍♥️♥️
semangat kak neess aku pasti selalu nunggu update mu,, 🌷🌷🌷🌷🌷😊😊😊🤗🤗🤗💝💝💝