Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas
Jodoh Titipan Bagian 18
Oleh Sept
"Ummi, Taqi di mana?" tanya abah, pandangan mata abah Yusuf menatap sekeliling. Katanya ummi mau manggil Taqi, tapi sang pengantin pria itu tidak kunjung menampakkan wujudnya.
Apalagi pak prnghulu juga sudah datang tapi pengantin pria malah belum ada. Abah pun beranjak, ingin mencari Taqi sendiri.
"Sudah Abah ... Abah duduk saja. Biar Ummi panggil lagi."
Sementara itu, Nada dengan balutan kebaya pengantin putih yang cantik, terlihat gelisah. Ia melirik ke sudut kursi tidak jauh dari sana. Ada Sarah yang menggendong bayinya.
Hanya Sarah, sebab ibunya tidak bisa datang. Alasannya kurang enak badan. Tapi Nada paham, mungkin ibunya tidak mau melihatnya. Saat ia menelpon akan menikah lagi dengan saudara almarhum suaminya, ibu kandung Nada sempat menganggap ini sebagai lelucon.
Seperti tidak ada pria lain, dan lagi baru hitungan bulan melahirkan. Mengapa buru-buru menikah. Ibu Nada memang menampakkan jelas rasa tidak sukanya selama ini pada Nada.
Mungkin ia menganggap Nada sebagai pembawa takdir sial. Sehingga mulai sekarang, ibunya pun malas berhubungan dengan Nada. Alhasil yang datang hanya Sarah. Sepertinya hanya Sarah anggota keluarga yang peduli dengannya.
Ketika Nada berjibaku dengan pikirannya, lain lagi dengan calon mempelai pria.
Kamar Taqi Bassami
Kamar yang luas bercat serba putih itu terlihat sepi. Tidak ada Taqi di dalam sana. Ya, Taqi sedang ada di balkon. Ia sedang menelpon seseorang, Rozaqo Anisa.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Taqi setelah telpon diangkat, suara gadis itu langsung menyapa dan mengucap salam.
"Lama tidak bicara, Mas Taqi sehat?"
"Hemm." Taqi hanya menjawab singkat.
"Nisa kemarin dihubungi vendor, Kita lupa membatalkan."
"Oh ... Maaf."
Taqi mulai gelisah. Sedangkan di luar sana, di dalam mobilnya. Mobil yang berhenti terparkir di seberang jalan rumah abah Yusuf. Anisa menatap dengan tatapan nanar.
"Mas ..."
"Ya."
Anisa menahan napas sebelum bertanya. Ia takut jika dugaannya benar adanya.
"Mas Taqi mau menikah hari ini?" tanya Nisa dengan suara serak.
Taqi memutar bola matanya, pria itu lantas melihat ke bawah. Dari jauh ia bisa melihat mobil yang berhenti di seberang jalan.
Taqi menghela napas dalam-dalam, tangannya mengepal. Pria itu mengeryitkan dahi kemudian mengusap wajahnya frustasi.
"Nisa ... kamu ada di depan rumah abah?" tebak Taqi.
"Harusnya ini pernikahan kita, kan?"
"Nisa ...!"
"Tidak usah Mas mengatakan apapun. Menikahlah ... menikahlah dengan wanita pilihan orang tua Mas. Nisa hanya ingin melihat dengan mata kepala Anisa. Biar Nisa sadar, pernikahan kita memang tidak akan pernah terjadi."
Tut tut tut ...
"Nisa ... Nisa!" panggil Taqi pada ponsel yang sudah mati tersebut.
"Bicara dengan siapa kamu, Taqi?" tanya ummi tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang tidak dikunci tersebut.
Wajah Taqi seketika kusut. Pria itu nampak sekali tertekan.
"Kamu masih berhubungan dengan gadis itu, Taqi?" tanya ummi sekali lagi dengan wajah tidak percaya. Karena setahu ummi Taqi sudah tidak pernah membicarakan gadis tersebut.
Taqi menggeleng.
"Ini telpon pertama setelah kami berpisah, Ummi."
"Lalu kenapa dia menghubungi kamu, Taqi? Jangan bilang kalian mau kembali bersama? Lalu bagaimana nasib cucu Ummi? Bagaimana nasib Nada, Taqi?"
"Ummi ... Ummi nggak usah khawatir. Taqi tidak pernah menghianati janji yang Taqi buat."
Ummi menatap mata Taqi, mencari kepastian di dalam sana.
***
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Salsabila Qotrunnada binti Ahmad Rashad dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”
Untuk sesaat suasana terasa hening, kemudian kata sah, menggema di bawah tenda biru tersebut.
"Sah ..."
"Sah!"
"Sah!"
Abah yang duduk di meja yang sama, menghela napas lega saat kata sah menggema. Sedangkan ummi, yang tadi sempat ragu saat memergoki Taqi menghubungi gadis lain sebelum acara ijab Kabul di dalam kamarnya, ia pun mengusap kedua pipinya. Akhirnya, sang cucu memiliki sosok yang bisa jadi pelindung.
Lain lagi dengan Salsabila Qotrunnada, ia masih tidak percaya dengan keputusan ini. Jika pernikahan pertamanya ia sangat merasa bahagia yang tak terkira lepas akad. Sekarang ia malah gelisah.
Berbeda pula dengan Taqi Bassami. Pria yang kini menginjak usia 31 tahun itu, sudah mengambil keputusan. Sudah melakukan ijab Kabul, artinya ia memang harus merelakan Anisa untuk selamanya.
Sementara itu, di dalam mobil di seberang jalan. Anisa tidak kuasa menahan tangis. Suara ijab Kabul yang jelas terdengar di telinganya, karena pakai speaker. Membuat hati Anisa teriris-iris.
Lukanya yang tidak pernah kering kembali tersiram cuka. Sakit tapi tidak berdarah. Untuk kesekian, gadis itu mengalami patah hati yang dalam. Terlalu mencintai, membuatnya banyak kecewa.
***
Cintai pasangan ala kadarnya, jangan terlalu dalam. Sebab jika dia membuatmu kecewa, hanya ribuan sakit yang dirasa. Celoteh unfaedah.
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭