Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Kucing Minta Kawin
Azkia melirik arlojinya walaupun jam dinding terlihat jelas di depan matanya dengan jarak kurang dari tiga meter. Waktu sudah melewati jam satu siang, namun Lusiana masih belum meninggalkan Alexa Boutique. Dia pernah menduga jika kenakalan Raffasya adalah akibat dari kedua orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka masing-masing. Nyatanya, siang ini justru Mama dari Raffasya itu hanya duduk-duduk santai mengobrol dengannya cukup lama.
" Kamu merasa terganggu ya dengan kehadiran Tante di sini?" tanya Lusiana yang mendapati Azkia beberapa kali menengok jam.
" Ah, nggak kok, Tan."' Azkia cepat-cepat berkelit, menepis anggapan dirinya yang merasa terganggu dengan kedatangan Lusiana. " Tante sudah makan belum? Mau Kia belikan apa?"
" Nggak usah, nanti saja gampang. Apa Kia sendiri mau makan siang? Kalau mau makan siang nggak apa-apa, silahkan makan saja."
Azkia melebarkan bola matanya. Tentu saja ucapan Lusiana membuatnya serba salah. Mana mungkin dia meninggalkan atau makan sendirian sedangkan Mama dari Raffasya terlihat seperti enggan meninggalkan ruangannya.
" Kia juga belum lapar kok, Tan." Azkia menjawab sedikit berbohong padahal sebenarnya dia juga sangat lapar.
" Butik ini semuanya ada beberapa cabang?" tanya Lusiana kembali mengajak mengobrol Azkia.
" Semuanya ada sebelas, Tante."
" Hmmm, banyak juga, ya?" Lusiana sempat terkejut mengetahui angka jumlah butik yang dimiliki oleh kakak ipar adiknya itu.
" Iya, Tan. Itu semua hasil jerih Mama sejak masih gadis seusia Kia sekarang ini," sahut Azkia membanggakan orang tuanya.
" Dan kamu ingin melanjutkan kesuksesan apa yang sudah dicapai Mama kamu sekarang, ya?"
" Ya mudah-mudahan, Insya Allah Kia dan adik-adik nanti bisa meneruskan bisnis Mama ini menjadi semakin maju." Azkia mengucapkan harapannya.
" Kalau Papa kamu selain dosen ada pekerjaan lain?" Sepertinya Lusiana benar-benar ingin mengenal bagaimana keluarga Azkia.
" Papa ikut bantu usaha Eyang Papih sih, Tan."
" Eyang Papih?"
" Papihnya Papa aku, Tan. Kami memanggilnya Eyang Papih, hehe ..." Azkia terkekeh menyebutkan nama panggilan untuk kedua kakek nenek dari pihak keluarga Yoga.
" Oh, jadi ikut membantu menanggani usaha kakek kamu, ya?"
" Iya, tapi sekarang sih nggak secara langsung, Tan. Karena harus bagi waktu sama mengajar, makin lama makin keteteran waktunya. Jadi sekarang perusahaan Eyang Papih dibantu ditangani sama sepupunya Papaku." Azkia menjelaskan.
" Sama sepupu? Memang kakak atau adik Papa kamu nggak ada yang mau handle gitu?"
" Papaku anak tunggal, Tan."
" Oh anak tunggal ..." Lusiana menganggukkan kepalanya tanda memaklumi.
" Iya, Tan."
" Kalau Mama kamu hanya berdua 'kan sama Amara?"
" Iya, Mama hanya punya satu adik, Tante Amara itu."
" Kalau yang punya hotel bintang lima itu masih keluarga kamu juga, kan?"
" Iya, itu kakak sepupu Mama, Uncle Gavin." Azkia terhitung sabar meladeni setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Lusiana.
" Oh gitu ... Kamu merasa terganggu nggak diajak Tante ngobrol seperti ini, Azkia?" Sebenarnya bukan Lusiana tidak tahu kalau Azkia sebenarnya agak terganggu dengan kehadirannya. Siapapun pasti akan merasa canggung jika dikunjungi orang yang tidak dekat dengan kita di tempat kerjanya lalu harus meladeninya mengobrol untuk waktu yang lumayan lama. Namun karena Lusiana memang mempunyai misi ingin mendekatkan putranya dengan Azkia, dia mengabaikan apa yang dirasakan Azkia saat ini.
" Ah, nggak kok, Tan. Santai saja ..." Azkia mencoba melengkungkan bibirnya hingga membentuk senyuman.
" Kamu kalau mau melanjutkan pekerjaan, silahkan ... nggak apa-apa Tante ditinggal saja." Lusiana mempersilahkan Azkia untuk melanjutkan pekerjaannya.
" Nggak apa-apa kok, Tan. Hari ini kebetulan Kia juga nggak terlalu sibuk." Azkia menolak meninggalkan dan mengacuhkan Luciana. Karena sebagai tuan rumah yang baik dia berkewajiban menemani dan memperlakukan tamunya dengan baik.
***
Motor ojek yang ditumpangi Raffasya memasuki halaman Alexa Boutique.
" Di sini sesuai titik, Mas." Driver Ojol itu menujuk lokasi sesuai titik sesuai orderan.
Raffasya memperhatikan butik di depannya. Selama ini dia memang tidak tahu kalau butik di depannya itu adalah milik dari Natasha, walaupun sudah bertahun-tahun Om nya itu menikah dengan adik dari Mamanya Azkia. Karena menurutnya hal itu bukanlah urusannya.
" Makasih ya, Bang." Raffasya langsung menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan dari dalam dompetnya.
" Uang pas saja ada nggak, Mas?" tanya driver ojol itu.
" Ambil saja kembalinya, Bang." Raffasya menyahuti.
" Oh, terima kasih, Mas." Driver itu dengan senang hati menerima pemberian dari Raffasya.
Raffasya memang mendapati mobil Mamanya terparkir di sana. Dan karena Azkia menyuruh salah satu karyawannya untuk mencuci mobilnya di car wash, hingga Raffasya tidak menyadari jika tempat yang ada di hadapannya itu adalah milik Azkia.
" Selamat siang, Mas. Ada bisa kami bantu?" seorang satpam yang berjaga di depan pintu langsung menyambut Raffasya.
" Maaf, Pak. Saya mau menjemput Mama saya, mobilnya saya lihat terparkir di depan." Raffasya menunjuk mobil milik Mamanya. " Sebentar saya telepon dulu."
" Kalau begitu silahkan duduk menunggu di sana saja, Mas." Pak Satpam menunjuk sofa yang biasa digunakan para tamu menunggu.
Sementara di ruangan kerja Azkia.
Ddrrtt ddrrtt
" Sebentar ya, Kia." Lusiana meminta ijin kepada Azkia untuk menerima telepon masuk.
" Halo ...."
" Halo, Mama di mana? Raffa sudah sampai sedang menunggu di depan."
" Oh iya, sebentar Mama nanti turun." Lusiana langsung menutup panggilan telepon dari Raffasya.
" Azkia, ikut Tante makan siang, yuk!" Lusiana kemudian bangkit dari sofa dan mengajak Azkia untuk pergi makan siang bersama.
" Hmmm, nggak usah deh, Tante." Azkia menolak secara halus tawaran Mama Raffasya.
" Nggak apa-apa, Kia. Ayo ...!" Lusiana langsung menarik tangan Azkia.
" Sebentar, Tante." Azkia segera mengambil tas nya karena mau tak mau dia harus mengikuti Lusiana yang memaksanya.
Sesampainya mereka dibawah ...
" Raffa ..." Lusiana menyapa putranya saat mendapati putranya itu sedang duduk menunggu di sofa dan sibuk dengan ponsel di tangannya.
Raffasya langsung menoleh ke arah suara Mamanya dan dia nampak terperanjat saat melihat sosok wanita yang berjalan di samping Mamanya yang berjalan menuruni anak tangga.
Tak berbeda jauh dengan Raffasya, Azkia pun yang menyadari jika pria yang selalu mencari perkara dan keributan dengannya itu ada di dalam butiknya seketika menghentikan langkahnya.
" Mama ngapain sama dia?" Raffasya sudah mulai menampakkan rasa tidak sukanya dengan keberadaan Azkia di dekat Mamanya.
" Raffa, Mama tadi mampir ke sini lihat-lihat pakaian di sini, eh ... nggak tahunya ketemu sama Azkia di sini. Ternyata dia yang pegang butik ini, lho. Hebat, kan? Masih muda sudah menghandle usaha sendiri." Lusiana sengaja memuji-muji Azkia di hadapan putranya.
Sedangkan Azkia langsung mengeryitkan keningnya saat mendengar penjelasan Lusiana bahwa wanita paruh baya itu tak sengaja bertemu dengannya. Padahal tadi Mama Raffasya itu mengatakan mampir karena ingin bertemu dengannya
" Orang yang seperti dia sih banyak, Ma. Yang lebih hebat dari dia juga banyak, kok. Jadi Mama nggak perlu terlalu berlebihan memuji dia. Nanti dia bisa besar kepala, kege-eran. Padahal biasa saja menurut Raffa, sih. Nggak ada istimewanya." Raffasya menentang anggapan Mamanya yang memuji Azkia dengan mencibir.
Sementara Azkia langsung mencebikkan bibirnya mendengar cibiran Raffasya. Kalau saja tidak ada Lusiana, mungkin dia akan memberikan sanggahan.
" Kamu ini, apa susahnya mengakui kalau Kia ini memang anak muda yang hebat?!" Lusiana merasa kesal mendengar komentar Raffasya.
" Sudah deh, Ma. Nggak penting juga memuji dia. Ayo Raffa antar ke kantor Mama." Raffasya segera mengajak Mamanya keluar dari Alexa Boutique.
" Eits, nanti dulu! Mama nggak mau langsung ke kantor. Mama lapar, kita makan dulu." Ucapan Lusiana menahan langkah Raffasya.
" Raffa sudah makan, Ma."
" Ya sudah kamu temani Mama saja kalau gitu."
Raffasya berdecak. Dia sebenarnya malas mengikuti Mamanya, tapi daripada Mamanya malah mengomel dan membuat dia semakin berlama-lama di butik milik Natasha, mau tidak mau dia menuruti apa yang Mamanya inginkan.
" Ya sudah cepetan."
" Ayo, Kia. Kita makan siang ...!" Lusiana langsung menarik tangan Azkia saat Raffasya menyetujui keinginannya.
" Mama ngajak dia?" Raffasya yang baru menyadari jika ternyata Mamanya itu mengajak Azkia langsung komplain.
" Iya, memang kenapa? Kia juga belum makan, jadi nggak ada salahnya kita makan bersama."
" Raffa nggak setuju!"
" Kia juga nggak mau, Tante!"
Raffasya dan Azkia sama-sama menolak apa yang diminta oleh Lusiana.
" Lho, kenapa?" tanya Lusiana.
" Malas saja lihat dia!" Raffasya memalingkan wajahnya seakan tak ingin menatap wajah Azkia.
" Kalau Kia sih alergi saja kalau dekat Kak Raffa, Tante." Tak ingin kalah dari Raffasya, Azkia pun langsung menyindir Raffasya.
" Jangan sembarang kalau bicara!" hardik Raffasya.
" Kayak sendirinya kalau bicara benar saja." Azkia memutar kedua bola matanya.
" Sudah-sudah! Kalian nggak usah ribut seperti kucing minta kawin! Sudah cepat kalian berdua ikut Mama. Tidak ada bantahan!" Lusiana langsung menegaskan keputusannya tanpa ingin menerima sanggahan dari kedua anak muda di hadapannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️