follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18 Menikahlah Denganku
Begitu ambulans datang, Yeon yang sedang terluka parah segera dibawa ke rumah sakit dan langsung dioperasi. Yuna yang juga khawatir setengah mati memilih ikut menemani dan menunggui Yeon sambil berharap-harap cemas, begitu pula saat Yeon di masukkkan ke dalam ruang ICU, Yuna setia menunggu di luar dan kecemasan yang amat sangat. Ini pertama kalinya Yuna merasakan kegelisahan seperti ini seolah ia takut kalau terjadi apa-apa pada pria asing itu. Apalagi pria itu terluka demi melindungi Yuna.
Tak ada seorangpun yang Yuna kenal di sini, Yuna juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi keluarga pria yang masih belum ia tahu namanya. Gadis itu juga tidak tahu ada di mana barang-barang Yeon sehingga Yuna tak bisa memeriksa identitas asli penyelamat hidupnya ini.
Kerena tadi terlalu khawatir, Yuna langsung ikut pergi masuk ke dalam mobil ambulans tanpa memikirkan hal lainnya. Yuna terlalu fokus pada keadaan Yeon sehingga ia tak berpikir panjang untuk membawa juga barang-barang Yeon seperti tanda pengenal, ponsel dan juga hal lain yang dibutuhkan untuk mengenali siapa Yeon sebenarnya.
Untunglah, tak berselang lama setelah Yeon masuk ke galam ruang ICU, ada pria tegap ber jas hitam yang tak lain adalah pengawal setia Yeon, datang menghampiri Yuna yang sejak tadi berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Melihat kedatangan pria itu, Yuna mengira kalau pria tersebut adalah salah satu kerabat Yeon dan langsung bergegas menghampirinya.
“Apa anda keluarga pria itu?” tanya Yuna sedikit lega karena ada orang lain yang datang sehingga ia bisa minta bantuan.
Pria ber jas hitam, hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Yuna. Ia hanya mengamati ruang operasi, lalu menjauh dari Yuna dan mulai sibuk sendiri dengan ponselnya. Tak berselang lama, salah satu dokter keluar dan meminta pria itu masuk ke dalam setelah diminta memakai baju ruang operasi seperti yang dikenakan dokter itu.
“Dokter bagaimana kedaan pasien anda? Apa dia … baik-baik saja? bisakah saya masuk juga?” tanya Yuna cemas begitu melihat dokter keluar ruangan.
“Kami masih berusaha melakukan yang terbaik, Nona. Anda tunggu saja di sini, hanya orang tertentu yang boleh kami izinkan masuk itupun jika memang sangat diperlukan,” terang dokter itu pada Yuna. “Mari Sir, ikut saya.”
Pria berjas hitam itu masuk ke dalam ruang ICU dan menunggu di ruang khusus setelah menggunakan pakaian pelindung. Tidak ada yang bisa dilakukan Yuna selain menuruti apa kata dokter dan tetap menunggu di luar ruangan meskipun ia juga ingin sekali masuk ke dalam. Yuna hanya bisa berharap semoga pria penyelamat hidupnya baik-baik saja dan tidak kenapa-napa.
***
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya operasi Yeon berjalan dengan lancar dan ia akan segera di pindah ke ruang perawatan jika semuanya sudah siap. Dokter yang mengoperasi Yeon keluar ruangan lebih dulu dan memberitahu Yuna perihal kondisi pasiennya.
Dokter tersebut mengatakan bahwa Yeon mengalami kebutaan akibat kecelakaan yang dialaminya. Dan untuk saat ini, dokter masih belum bisa memastikan apakah kebutaan yang dialami Yeon bersifat permanen atau tidak, sebab ia harus menunggu Yeon sadar kembali untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Betapa shock dan terkejutnya Yuna ketika mendengar kabar tak terduga itu. Tubuh Yuna langsung terjatuh lunglai ke lantai. Ia benar-benar tidak percaya, sangat tidak bisa percaya. Orang baik yang berulang kali menyelmatkannya, kini harus menjadi tunanetra gara-gara dirinya. Hati Yuna langsung serasa sesak dan ia menangis dihadapan dokter seolah Yunalah yang menjadi buta, bukannya pria itu.
“Tidak dokter, ini tidak mungkin …,” isak Yuna masih sambil berurai air mata. “Bagaimana bisa orang sebaik dia menjadi buta. Tidak adakah cara untuk menyembuhkannya Dokter? Saya mohon! Lakukan apapun untuk bisa mengembalikan penglihatannya. Apa yang harus saya katakan padanya dokter? Dan bagaimana pria itu bisa melanjutkan hidupnya?” seru Yuna karena ia tak sanggup membayangkan keadaan pria asing itu.
Rasa bersalah yang amat dalam menyelimuti hati dan hidup Yuna. Gara-gara dirinya, hidup orang lain jadi hancur berantakan. Mengalami kebutaan dalam waktu sekejap, siapa yang bisa menerima fakta menyakitkan itu?
“Yang harus anda lakukan sekarang adalah menguatkan suami anda Nyonya," ujar dokter salah kira. Ia pikir Yuna adalah istri dari pasien yang ditanganinya.
“Sa-saya … bukan ….”
“Dokter,” ujar pria ber jas hitam yang tadi masuk bersamanya dan sengaja memotong ucapan Yuna. “Bisa ikut saya sebentar? Ini berkaitan dengan kondisi pasien yang baru saja anda operasi,” ajak pria ber jas hitam itu sambil menatap Yuna yang menundukkan kepalanya dan menangis sedih.
Gadis itu terlihat sangat berantakan dan tak ada niatan bangun dari posisinya karena ia benar-benar merasa bersalah pada pria asing itu. Bahkan kata maafpun takkan cukup untuk mengembalikan penglihatannya kembali seperti semula.
Berjam-jam sudah berlalu tapi Yuna masih meringkuk di dinding lantai sambil terus melamun, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Bagaimana nasib pria yang kini sudah menjadi buta gara-gara dirinya. Hati dan pikiran Yuna, kalut sekalut-kalutnya sampai ia tak sadar Yeon sudah dipindahkan ke ruang perawatan sejak tadi.
Lamunan Yuna dibuyarkan dengan kedatangan suster yang meminta Yuna untuk bangun dan meninggalkan ruang ICU karena pasien yang ditunggunya sudah dipindahkan.
“Nyonya, bangunlah, suami anda sudah ada di ruang inap. Pergi dan temui dia, sepertinya ia sedang menunggu anda di sana,” ujar perawat itu.
Mendengar bahwa pria yang sudah menjadi buta itu ingin bertemu dengan Yuna, hati gadis itu semakin takut dan juga bingung. Ia tidak yakin apakah ia masih punya muka untuk bertemu dengan orang itu atau tidak. Saking kalutnya, ia tak merespon ucapan suster yang mengira kalau dirinya adalah istri dari pria buta itu.
“Maaf Suster, apa … dia sudah sadar?” tanya Yuna bingung.
“Baru saja dan ia langsung menanyakan anda. Sudah ber jam-jam anda duduk di sini dan ini juga sudah malam. Mari ikut saya, biar saya tunjukkan di mana kamarnya.” suster itupun berjalan lebih dulu dan Yuna ikut dibelakangnya dengan hati berguncang tak karuan.
Langkah Yuna berhenti saat ia hendak memasuki ruang inap Yeon. Wajahnya terus menunduk sambil menahan air mata agar tidak tumpah keluar. Sungguh ia tak sanggup bertemu dengan penyelamat hidupnya. Dan juga tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf atas apa yang menimpa pria asing itu hingga kini kehilangan penglihatannya.
“Apa kau di sana?” tanya Yeon mengagetkan Yuna. Kedua matanya dibalut dengan perban. “Kemarilah, duduklah didekatku!” seru Yeon.
Tidak ada kemarahan dalam suara Yeon. Sebaliknya, ia sangat tenang dan rileks. Tidak seperti Yuna yang bingung harus bersikap bagaimana.
Perlahan, bidan cantik itu memberanikan diri melangkah masuk dan berjalan mendekat sampai berdiri di dekat Yeon. Semakin hancurlah hati Yuna tatkala melihat kedua mata pria itu dibalut dengan perban.
“Jangan menangis, meski aku tidak bisa melihatmu, aku tahu kau sedang menangis untukku. Orang lain bisa salah paham pada kita bila kau seperti itu.” disaat seperti ini, pria yang sedang bersandar di ranjang tidurnya malah tersenyum tipis seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Maaf,” ujar Yuna dengan suara gemetar dan terdengar pangau karena kebanyakan menangis.
“Maaf?” Yeon mengulangi ucapan Yuna, sedangkan Yuna sendiri masih tetap menunduk tanpa bisa mengangkat kepalanya. “Aku tidak ingin kau minta maaf padaku atas apa yang sudah terjadi ini. Yang aku inginkan darimu adalah … menikahlah denganku begitu aku keluar dari rumah sakit,” tandas Yeon tanpa basa-basi langsung cos pleng.
Deg!
Yuna sangat terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria dihadapannya ini. “A-apa?” tanya Yuna, ia takut kalau pendengarannya mulai terganggu. “Me-menikah?”kali ini Yuna mulai memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Yeon.
“Ehm, menikahlah denganku.” Yeon mengulangi kalimatnya dengan santai sesantai-santainya.
BERSAMBUNG
***