Novel ini adalah lanjutkan dari novel ISTRI KECIL SANG PEWARIS. Sengaja di pisah karena novel ini di khususkan untuk kebahagiaan rumah tangga Gabrielle dan Elea setelah semua masalah hidup terselesaikan. Di novel ini Elea akan memulai hidup barunya sebagai seorang mahasiswi. Dia juga akan belajar menjadi seorang model dan juga desainer dari Grandma Clarissa. Juga akan mengisahkan tentang usaha Gabrielle dan Elea dalam memiliki momongan hingga pada akhirnya mereka di beri tiga pewaris seperti yang pernah di lihat Elea dulu.
Novel ini mengandung banyak keuwuan, kebucinan dan juga kelucuan. Harap kepada para pembaca untuk tidak muntah paku ketika membaca bagian-bagian berbahaya tersebut.
Terima kasih dan selamat tersesat dalam dunia halu bersama penulisnya. Salam kiss kiss onlen dari emak termanis se-Mangatoon 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Hadiah Utama
"Halo Bibi, halo Paman!" sapa Kayo begitu keluar dari mobilnya Jackson. "Kalian pasti sedang menunggu Kak Iel dan kakak ipar kan?"
Liona dan Greg mengangguk. Ya, hari ini adalah hari pertambahan usia menantu kesayangan mereka. Jadi Liona berinisiatif mengundang seluruh keluarga besar datang ke kediaman putranya untuk menikmati pesta kecil-kecilan yang dia buat. Awalnya sih Gabrielle tidak mengizinkan, tapi setelah di bujuk akhirnya dia setuju dengan syarat hanya keluarga dekat saja yang di undang.
"Mana yang lainnya, Kay?" tanya Abigail sambil memeluk putrinya yang baru saja pulang.
"Masih ada di belakang, Bu. Em kalau Kak Iel, aku tidak tahu dia pergi kemana. Saat di tengah-tengah jalan mobilnya menghilang. Mungkin dia membawa kakak ipar ke suatu tempat."
Kayo melepaskan diri dari pelukan ibunya kemudian berbalik ke belakang. Dia lalu melambaikan tangan ke arah Jackson yang sedang menyender di pintu mobil.
"Hei, kenapa tidak menyapa Ibu, Paman dan Bibi? Sudah bosan hidup ya?"
"Jika sudah bosan hidup aku mungkin tidak akan pernah membawamu kembali ke rumah ini," sahut Jackson santai.
"Dasar predator,"
Abigail tersenyum samar menyaksikan pertengkaran kecil antara putri dan calon menantunya. Dia kemudian menepuk pelan bahu Jackson saat laki-laki ini menundukkan kepala di depannya.
"Halo Ibu, apa kabar?" sapa Jackson sopan. "Ayah dan Fedo dimana? Mereka tidak ikut?"
"Kabar Ibu akan selalu baik jika kalian juga baik-baik saja. Ayah dan Fedo ada di dalam, mereka sedang sibuk mengabsen makanan. Biasalah,"
"Owh."
Jackson kemudian beralih menundukkan kepala menyapa ibu dan ayahnya Gabrielle. Wanita berbahaya ini tampil dengan begitu cantik meski usianya tak lagi muda.
"Jangan menatap istriku terlalu lama. Itu kurang ajar namanya!" tegur Greg tak terima sambil mendorong tubuh Jackson ke belakang. Jiwa cemburunya langsung menguar kuat.
"Mataku masih berfungsi dengan baik, Paman. Jadi maaf kalau tadi aku tidak sengaja memandangi aset milikmu," seloroh Jackson tanpa merasa takut pada pria yang kini sudah memperlihatkan aura dewa perang.
Cukup mengerikan, tapi Jackson berusaha untuk bersikap biasa saja. Dia sadar kalau dirinya pun pasti akan bersikap sama jika Kayo di tatap oleh pria lain.
"Jangan kekanakan, Greg!" tegur Liona.
"Ck, jangan membela pria lain di hadapanku, Honey. Kau bisa lihat sendiri kan tadi kalau calon menantu Abigail menatapmu tanpa berkedip? Huh, ingin rasanya aku mencongkel bola matanya supaya tidak bisa melihat lagi. Dasar buaya!"
Setelah berkata seperti itu, sambil bersungut-sungut Greg berjalan masuk ke dalam rumah. Namun sedetik kemudian dia kembali lagi.
"Paman, kenapa keluar lagi?" tanya Kayo meledek.
"Paman tidak akan membiarkan calon suamimu terus menatap istri Paman, Kay," sahut Greg seraya memeluk Liona dengan sangat posesif.
"Oh, begitu ya."
Jackson hanya berdiri diam menyaksikan kegilaan ayahnya Gabrielle. Sudah tidak mengherankan lagi kalau pria ini begitu posesif pada istrinya. Lamunan Jackson buyar saat beberapa mobil bergerak masuk ke halaman rumah ini.
"Hmm, sebenarnya anak itu membawa Elea pergi kemana sih. Yang lain sudah kembali tapi kenapa mereka masih belum muncul juga," keluh Liona ketika tak melihat mobil putranya.
Selain Gabrielle dan Elea, semua orang datang menyapa Liona, Greg, dan juga Abigail. Ares yang tahu kalau si nyonya tengah menantikan kedatangan Tuan Muda-nya pun segera memberitahu.
"Nyonya Besar Liona, Tuan Muda Gabrielle dan Nyonya Elea masih berada di toko perhiasan. Nyonya ingin membeli bahan sogokan untuk menyuap Nona Levita agar tidak cepat-cepat menikah!"
Bryan dan Yura yang baru saja muncul langsung memekik kaget saat mendengar ucapan Ares. Mereka kemudian menatap heran ke arah Levita yang kini tengah tersenyum tanpa dosa.
"Maafkan aku, Paman-Paman dan Bibi-Bibi. Ini kulakukan demi kedamaian bersama. Pagi tadi Elea menangisiku saat tahu kalau semalam Reinhard telah melamarku. Jadi aku bergurau dengan memintanya membelikan perhiasan sebagai tanda kalau aku tidak akan pergi meninggalkannya sesudah menikah. Siapa yang menduga kalau dia akan benar-benar membeli perhiasan untukku," jelas Levi menggebu-gebu.
"Jangankan hanya perhiasan, kau memintanya pergi ke planet Pluto pun Elea pasti akan melakukannya," celetuk Junio yang saat itu tengah mengelus-elus rumah si biji kecambah.
"Ya begitulah Elea. Dia terlalu menyayangiku sampai-sampai rela melakukan segalanya."
Junio berdecih sebal. Dia langsung cemberut saat Patricia memintanya untuk tidak banyak bicara.
"Sayang, apa perutmu baik-baik saja?" tanya Yura khawatir.
"Aku dan bayi ini baik-baik saja, Bu. Junio dan yang lainnya menjagaku dengan sangat baik semalam," jawab Patricia seraya tersenyum ke arah sang ibu.
"Syukurlah. Semalaman Ibu mengkhawatirkan kau dan adikmu. Ibu takut kalian mabuk laut."
"Mana mungkin dia dan Elea mabuk laut, Bi. Yang ada malah kami yang dibuat mabuk kebucinan gara-gara ulah Gabrielle yang tidak henti-hentinya memberi kejutan. Semalam adalah harinya Gabrielle dan Elea, sedangkan kami semua adalah makhluk astral yang tak terlihat. Iyakan Patricia?" timpal Levi.
"Iya Lev, kau benar. Tapi kan setidaknya kita juga ikut menikmati apa yang Gabrielle lakukan untuk adikku. Benar tidak?" tanya Patricia.
Levi, Kayo, Lusi, dan Cira sama-sama menganggukkan kepala mendengar ucapan Patricia. Memang benar kalau mereka semua sangat menikmati apa yang Gabrielle lakukan pada Elea. Mulai dari berlayar menggunakan kapal pesiar yang sangat mewah, menikmati keindahan lampion terbang, berdansa, makan makanan enak, juga menginap di dalam kamar yang sudah di atur dengan begitu elegan. Semua itu bisa mereka nikmati secara gratis tanpa di pungut biaya apapun. Sungguh membahagiakan berada dekat di sisi Elea karena perempuan itu tak pernah melupakan keberadaan orang-orang di sekelilingnya untuk ikut menikmati harta suaminya.
"Menantuku memang membawa banyak kebahagiaan untuk semua orang," ucap Liona dengan bangga.
"Benar, Nyonya Liona. Elea adalah cahaya untuk kita semua," timpal Yura ikut berkomentar.
Dari dalam rumah, Mattheo dan Fedo nampak berjalan keluar. Wajah mereka terlihat sama-sama kesal dengan pakaian yang sudah kotor di bagian dada.
"Kalian berdua kenapa lagi?" tanya Abigail keheranan.
"Bu, kuda siapa yang ada di halaman belakang rumah ini? Galak sekali," jawab Fedo bersungut-sungut.
"Itu adalah kuda yang di pesan oleh Tuan Muda sebagai hadiah utama untuk Nyonya Elea, Tuan Fedo," jawab Ares memberitahu.
"Hah?!! Hadiah utama lagi? Bukankah hadiah utamanya adalah kejutan semalam ya?" ucap Fedo kebingungan.
Ares tersenyum kecil. Jangankan Fedo, dia dan Nun saja dibuat kebingungan untuk menentukan mana yang menjadi hadiah utamanya. Karena Tuan Muda mereka menyebut semua hadiah yang telah di beli sebagai hadiah utama.
"Hei Fedo, memangnya kau tidak tahu ya kalau sepupumu itu agak sedikit tidak beres jika sudah menyangkut nama Elea? Dari reaksi Ares saja aku sudah bisa menebak kalau masih ada banyak lagi hadiah-hadiah utama yang belum di keluarkan. Mungkin kejutan semalam dan kuda itu hanya beberapa dari puluhan hadiah utama yang sudah Gabrielle persiapkan. Jadi kau tidak perlulah memasang wajah sekaget itu!" ucap Levi yang sudah tidak heran dengan kelakuan Gabrielle.
Jtaakk
"Aw Rein, kenapa kau menyentil keningku sih!" protes Levi sembari mengusap keningnya yang sedikit memerah.
"Kalau mau bicara coba perhatikan dulu ke sekelilingmu, sayang. Lihat, di depan kita ada orangtuanya Gabrielle. Bagaimana kalau mereka sampai tersinggung gara-gara mendengar ucapanmu?" bisik Reinhard mengomel. Calon istrinya ini benar-benar.
Levi mengerjapkan mata begitu mendapat teguran dari Reinhard. Dia lalu meringis sambil melihat ke arah orangtuanya Gabrielle yang kini tengah tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Tidak perlu merasa bersalah. Kita semua sama-sama tahu bukan kalau Gabrielle memang sedikit tidak waras jika sudah menyangkut istrinya. Daripada kita hanya berdiri menunggu pasangan bucin itu lebih baik kita semua masuk ke dalam saja. Hari sudah mulai gelap, tidak baik untuk ibu hamil terus berada di luar rumah," ajak Liona sambil menatap ke arah Patricia yang sedang kesal pada Junio.
Ya Tuhan, siapapun tolong singkirkan pria gila ini dari tubuhku. Kau benar-benar memalukan, Junio. Batin Patricia frustasi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
...🍀Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...🍀Ig: rifani_nini...
...🍀Fb: Rifani...