Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENDADAK
Ayunda masih duduk di ruang tunggu di depan UGD dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis dua puluh enam tahun tersebut berulang kali menatap pada pintu ruang UGD yang masih tertutup. Beberapa perawat tampak keluar masuk ke dalam ruangan, namun Ben dan Ayunda masih tak diizinkan untuk masuk.
Ayunda juga tidak tahu kenapa tadi Opa bisa tiba-tiba terjatuh di ruang makan. Beberapa anak mengatakan kalau Opa terpeleset. Tapi mustahil Opa terpeleset karena lantai di dalam panti tidak pernah dibiarkan licin.
"Opa pasti akan baik-baik saja, Ay!" Ben mengusap punggung Ayunda dan terus berusaha menenangkan gadis tersebut. Namun bukannya merasa tenang, Ayunda malah semakin terisak dan menutup wajahnya denga kedua telapak tangan.
Tepat saat Ben hendak memeluk Ayunda, ruang UGD dibuka dari dalam.
"Keluarga Bapak Ronny?" Tanya perawat seraya melihat ke arah Ben dan Ayunda.
Ayunda langsung menyeka airmata di pipinya dan menghampiri perawat dengan cepat.
"Opa saya kenapa, Suster?" Tanya Ayunda sesenggukan.
"Silahkan masuk dulu!" Perawat mempersilahkan Ben dan Ayunda untuk masuk ke dalam ruangan.
Opa Ronny terbaring lemah di atas bed perawatan dengan banyak alat medis yang tersambung ke tubuh pria tua tersebut.
"Opa!" Ayunda menghampiri Opa Ronny dengan cepat sambil berurai airmata.
Mata tua Opa Ronny langsung terbuka meskioun pandangannya terlihat sayu. Ayunda menangis sesenggukan dan memeluk sang opa.
Sementara Ben masih bertanya pada dokter apa yabg sebenarnya terjadi pada Opa kesayangan Ayunda tersebut. Sesekali, Ben melempar pandangannya ke arah Ayunda dan Opa Ronny.
"Ay, kau ingat dengan permintaan terakhir Opa?" Ucap Opa Ronny lirih yang langsung membuat airmata Ayunda mengalor semakin deras.
"Ay akan menikah, Pa! Ay akan mengabulkan permintaan Opa yang itu. Tapi Opa harus sembuh, agar Opa bisa melihat Ay menikah," jawab Ayunda yangbterus saja sesenggukan.
"Apa Ben ada disini?" Tanya Opa Ronny yang suaranya kian lirih.
Ayunda mengangguk dengan cepat dan lekas memanggil Ben. Rupanya Ben juga sudah mendekat ke arah bed perawatan Opa Ronny.
"Ben,"
"Iya, Opa!" Jawab Ben menatap prihatin pada Opa Ronny.
"Kau ingat dengan janjimu pagi ini? Tentang gadis buta yang sudah menyelamatkan nyawamu?" Tanya Opa Ronny yang langsung membuat ingatan Ben mrlayang pada percakapan dirinya bersama Opa Ronny pagi ini.
"Ayunda pernah kehilangan penglihatannya beberapa tahun silam, setelah ia pulang dari lokasi bencana alam." Opa Ronny memulai ceritanya pada Ben.
"Dokter mengatakan, kalau kornea mata Ayunda mengalami kerusakan akibat benturan, dan Ayunda hanya bisa sembuh jika ada yang mendonorkan kornea mata untuknya."
"Namun hingga dua tahun, donor kornea tak kunjung Ayunda dapatkan. Hingga suatu hari, Gabrian, calon suami Ayunda mengajaknya berlibur ke luar kota."
"Saat pulang liburan, Ayunda bercerita, kalau dia dan Brian barj saja menolong seorang pemuda yang mengalami kecelakaan motor. Bahkan kata Brian, Ayunda juga bersikeras mendonorkan darahnya untuk pemuda itu demi bisa menyelamatkan nyawanya," Opa Ronny tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya di akhir ceritanya tersebut.
Dan Ben masih terkesiap seolah sedang berusaha mencerna cerita Opa Ronny.
Berarti pandangan mata Ben saat itu memang tidak salah.
Wajah samar-samar yang Ben lihat kala itu adalah Ayunda.
Ayunda yang masih kehilangan penglihatannya.
"Pemuda yang mengalami kecelakaan itu adalah Ben, Opa," ucap Ben akhirnya menyambung cerita Opa Ronny.
Opa Ronny kembali tersenyum dengan lengkungan bibir yang lebih besar.
"Dunia begitu sempit, Ben."
"Izinkan Ben menjaga Ayunda mukai detik ini, Opa!" Mohon Ben selanjutnya pada Opa Ronny.
"Ben berjanji, akan mencintai dan menyayangi Ayunda dengan setulus hati. Ben juga akan mengembalikan keceriaan di wajah Ayunda dan membuat Ayunda bahagia," ucap Ben menatap sungguh-sungguh pada Opa Ayunda tersebut.
Opa Ronny kembali menepuk pundak Ben.
"Jika kau benar-benar serius pada Ayunda dan benar-benar mencintainya, Opa mau kau menikahinya, bukan hanya menjadikannya pacar," tantang Opa Ronny yang langsung membuat Ben melebarkan kedua bola matanya.
"Ben akan bicara pada Mama dan Papa, lalu Ben akan melamar Ayunda besok, Opa! Ben akan melamar Ayunda," Ben mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Ben masih menatap pada wajah Opa Ronny yang semakin terlihat lemah. Bunyi dari alat-alat yangvtersambung ke tubuh pria itu juga semakin mengkhawatirkan.
"Ben akan menikahi Ayunda, Opa!" Ucap Ben tiba-tiba yang sontak membuat Ayunda menoleh ke arah Ben dan menatap tak percaya pada pemuda tersebut.
"Ben akan mengabulkan permintaan terakhir Opa yang ingin melihat Ayunda menikah. Jadj Ben akan menikahi Ayunda sekarang," ulang Ben lagi dengan nadabicara tegas dan bersungguh-sungguh.
Dan disaat bersamaan, Papa Theo, Mama Airin, serta Liam sudah tiba di ruang UGD dan segera mengelilingi Opa Ronny yang kondisinya semakin lemah.
"Apa maksudmu, Ben?" Tanya Ayunda tak mengerti.
"Ay," panggil Opa Ronny lirih.
Cepat-cepat Ayunda mendekat pada sang Opa.
"Ben yang akan menjagamu setelah ini. Tolong jangan menolak pernikahan ini, agar Opa bisa pergi dengan tenang," pinta Opa Ronny yang langsung membuat tangis Ayunda pecah.
"Opa tak akan kemana-mana! Opa pasti sembuh! Opa harus sembuh!" Isak Ayunda dengan airmata yang terus bercucuran.
Ben hanya bisa menjelaskan dengan singkat tentang keinginan terakhir Opa Ronny pada Papa Theo. Ben juga minta izin pada sang Papa untuk menikahi Ayunda sekarang, karena mungkin waktu Opa Ronny tak akan banyak lagi.
Meskipun masih sedikit kaget, namun akhirnya Papa Theo setuju dan memberikan restu. pada Ben dan Ayunda. Pak penghulu dipanggil dengan cepat menuju ke rumah sakit.
Mama Airin memberikan cincin yang pernah diberikan oleh Papa Theo dulu sebagai mas kawin pernikahan Ben dan Ayunda.
Persiapan hanya seadanya.
Bahkan Ben dan Ayunda juga tak sempat lagi ganti baju dan hanya mengenakan baju yang menempel di tubuh mereka sejak tadi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayunda Zhia Wijaya binti Kenzo Wijaya dengan mas kawin yang tersebut tunai."
Ikrar ijab qabul yang diucapkan Ben dengan lantang dan lancar, langsung membuat suasana di dalam kamar tempat Opa Ronny dirawat menjadi haru.
"Terima kasih, Ben! Opa bisa pergi dengan tenang sekarang," ucap Opa Ronny lirih nyarus tanpa suara, sesaat setelah Ayunda resmi menjadi istri Ben.
Opa kesayangan Ayunda itu langsung menghembuskan nafas terakhir beberapa saat kemudian.
Tangis Ayunda langsung pecah dan gadis itu tak berhenti mengguncang tubuh sang Opa, berharap sang Opa akan kembali bangun dan tidak meninggalkannya.
"Ay, sudah!" Mama Airin langsung mendekap Ayunda yang menangis tersedu-sedu.
"Opa sudah pergi dengan tenang," ucap Mama Airin sebelum kembali memeluk Ayunda yang masih tak berhenti menangis.
Opa Ronny dimakamkan keesokan harinya, berdampingan dengan makam Oma Salsa.
.
.
.
😭😭😭😭
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya berhenti jualan bawang.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.