NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Informasi itu membuat Mayang sedikit lega. Kalau begitu, kemungkinan Adrian mengetahui masa lalu Dira sangat kecil.

Di sisi lain, Beri bergerak lebih cepat. Begitu mengetahui ada pihak yang berusaha menelusuri riwayat Dira, ia membantu Bu Emi meninjau kembali arsip administrasi yayasan. Data yang dapat diakses pihak luar kini hanya memuat informasi umum.

Dalam catatan yang bisa dilihat publik atau pihak yang berwenang sesuai prosedur, Dira tercatat pernah berkegiatan di yayasan sebagai relawan muda yang membantu berbagai program sosial setelah usianya beranjak dewasa. Keterangan itu konsisten dengan citra Dira yang kini dikenal sebagai pengusaha yang aktif dalam kegiatan sosial.

Riwayat pribadinya sebagai anak binaan yayasan disimpan sebagai arsip internal yang bersifat terbatas dan dilindungi karena menyangkut privasi penerima manfaat.

Ketika orang suruhan Mayang kembali memeriksa data yang dapat mereka akses, hasilnya tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. "Dira pernah aktif membantu kegiatan sosial di yayasan," lapor salah seorang penyelidik. "Beberapa orang mengenalnya sebagai relawan yang sering membantu anak-anak di sana."

Mayang menghela napas kecewa. "Hanya itu?"

"Iya."

"Tidak ada catatan lain yang bisa kami dapatkan."

Mayang terdiam. Nalurinya masih mengatakan bahwa Dira menyimpan sesuatu. Namun tanpa bukti, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu, Dira yang mendengar laporan dari Beri akhirnya bisa mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Kak."

Beri tersenyum tipis. "Aku hanya memastikan privasimu tetap terlindungi."

Dira menatap keluar jendela. Ia tidak malu dengan masa lalunya. Justru masa lalu itulah yang membentuk dirinya menjadi seperti sekarang. Namun ia juga tidak ingin kisah paling kelam dalam hidupnya dipelintir menjadi senjata oleh orang-orang yang ingin menjatuhkannya.

***

Awal tahun itu, pemerintah mengumumkan sebuah proyek berskala nasional yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Proyek tersebut menjadi pembicaraan seluruh pelaku industri. Siapa pun yang berhasil memenangkannya akan memperoleh keuntungan besar sekaligus reputasi sebagai perusahaan dengan pencapaian paling bergengsi tahun itu.

Media bahkan menjulukinya sebagai "Tender Raja Tahun Ini."

Sejak pengumuman itu keluar, hampir seluruh perusahaan besar mulai menyusun strategi. Maulana Group milik Adrian menjadi salah satu kandidat terkuat. Perusahaan Bastian juga ikut bersaing dengan menyiapkan penawaran yang agresif.

Mayang pun tidak mau kalah, ia mewakili perusahaan ayahnya. Perusahaannya mengerahkan seluruh sumber daya untuk memenangkan proyek tersebut. Baginya, tender itu bukan sekadar bisnis. Ia ingin membuktikan kepada Adrian bahwa dirinya adalah perempuan yang layak berdiri sejajar dengannya. "Aku akan menang," batinnya. "Dan Adrian akan melihat bahwa aku adalah pasangan terbaik untuknya."

Di sisi lain, Dira juga memutuskan ikut berpartisipasi. Keputusan itu membuat banyak orang terkejut. "Perusahaanmu memang berkembang pesat," kata salah satu rekannya. "Tapi lawanmu kali ini perusahaan-perusahaan raksasa. Sementara kamu perusahaan baru dan belum berpengalaman sama sekali."

Dira hanya tersenyum. "Kalau terus menunggu sampai merasa siap, aku tidak akan pernah maju."

Sejak hari itu, jadwal Dira menjadi jauh lebih padat. Ia mempelajari setiap dokumen tender hingga larut malam. Mengundang para konsultan terbaik. Berdiskusi dengan tim hukum, tim keuangan, dan tim teknis hampir setiap hari. Tidak ada satu detail pun yang ingin ia lewatkan.

Beri yang melihat kesungguhannya hanya bisa menggeleng. "Kamu benar-benar all out."

Dira mengangguk. "Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Aku mungkin belum sebesar mereka. Tapi aku ingin belajar bersaing di level yang sama."

Beri tersenyum bangga. "Itu alasan kenapa bisnismu terus berkembang."

Sementara itu, di ruang rapat Maulana Group, Adrian juga tengah menelaah proposal perusahaan. Tanpa sengaja ia melihat daftar peserta tender. Matanya berhenti pada satu nama. Dira Group. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Dira ternyata ikut."

Seorang direktur di sampingnya berkata, "Pak Adrian, perusahaan Bu Dira masih relatif baru dibanding peserta lain."

Adrian menutup berkas di tangannya. "Jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena usianya atau ukuran perusahaannya. Saya pernah melihat bagaimana cara Dira bekerja. Kalau dia memutuskan ikut tender ini, berarti dia sudah mempersiapkan dirinya dengan sangat serius."

Di tempat lain, Mayang juga melihat daftar peserta yang sama. Ketika membaca nama Dira Group, raut wajahnya berubah. "Dia lagi..." Mayang mengepalkan tangannya. Baginya, tender ini kini memiliki dua tujuan. Memenangkannya. Dan memastikan Dira kalah telak di hadapan Adrian.

Tanpa mereka sadari, persaingan untuk proyek terbesar tahun itu bukan hanya soal bisnis. Melainkan juga pertarungan harga diri, ambisi, dan pembuktian diri yang akan mempertemukan empat tokoh dengan tujuan yang sangat berbeda di medan kompetisi yang sama.

Malam itu, ruang kerja Dira masih dipenuhi tumpukan dokumen tender. Laptopnya masih menyala. Beberapa berkas berserakan di atas meja. Namun, yang memenuhi pikirannya bukan lagi angka-angka. Melainkan rasa cemas. Dira memandang Beri yang sedang memeriksa salah satu proposal. "Kak..."

"Hm?" Beri tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen.

"Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?"

Pertanyaan itu membuat Beri menghentikan pekerjaannya. Ia mengangkat kepala dan menatap Dira. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

Dira menunduk. "Aku cuma ingin memastikan."

Beri tersenyum kecil. "Dir... Aku ini sudah penuh kerjaan. Bahkan tidurku saja berkurang gara-gara membantu meninjau proposalmu."

Dira berjalan mendekat. Lalu menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon. "Please..." Ekspresi seriusnya justru terlihat lucu.

Beri menghela napas sambil tertawa kecil. "Kamu ini... Kenapa sih begitu percaya sama aku?"

Dira terdiam beberapa saat. Seolah mencari jawaban. Lalu ia mengangkat bahu pelan. "Entahlah. Aku hanya percaya pada Kakak."

Kalimat itu diucapkan dengan begitu tulus hingga membuat Beri kehilangan senyumnya sesaat.

Dira melanjutkan, "Jadi...please jangan pergi membantu orang lain. Aku benar-benar butuh Kakak di sisiku sampai tender ini selesai."

Beri menatap wajah Dira cukup lama. Di mata gadis itu, ia tidak melihat ambisi semata. Ia melihat seseorang yang sedang mencari rasa aman. Seseorang yang sejak kecil terbiasa menghadapi semuanya sendirian. Beri akhirnya tersenyum. "Baik. Tender ini selesai dulu. Aku akan tetap mendampingimu."

Mata Dira langsung berbinar. "Serius?"

"Iya."

"Tapi setelah itu... Aku akan menagih makan malam yang layak."

Dira langsung tertawa lega. "Deal." Keduanya tertawa bersama.

Namun saat Dira kembali fokus pada dokumen di hadapannya, Beri diam-diam memandangnya beberapa detik lebih lama. Dalam hati ia bergumam, "Kalau saja kamu tahu... Yang paling sulit bukan mendampingimu dalam tender ini. Melainkan menjaga jarak ketika kamu memintaku tetap berada di sisimu."

***

Sejak awal mengikuti proses tender, Dira sudah membuat satu aturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun di perusahaannya. "Kita menang karena kemampuan. Bukan karena permainan."

Seluruh direksi mengangguk. Mereka memahami prinsip yang selama ini dipegang Dira. Di tengah proses persiapan, beberapa orang sempat datang menawarkan "jalan pintas". Ada yang mengaku mampu membocorkan penawaran pesaing. Ada pula yang menjanjikan kemenangan asalkan Dira bersedia memberikan sejumlah uang kepada pihak tertentu. Semuanya ditolak.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!