Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Segelas Air
Ia menatap gelas air itu lagi, seolah tidak yakin apakah Keira salah meletakkannya.
Keira tidak menjelaskan lagi.
Penjelasan yang terlalu panjang bisa membuat kebaikan terdengar seperti hutang. Ia hanya berdiri sebentar, memastikan gelas itu stabil di meja kecil, lalu mundur satu langkah.
"Saya keluar dulu," katanya pelan.
Bryan tidak menjawab.
Namun saat Keira berjalan ke rak depan, ia mendengar suara sangat kecil dari belakang.
Gesekan kaca di atas kayu.
Ia tidak menoleh.
Kalau ia menoleh, Bryan mungkin akan berhenti. Jadi Keira terus berjalan, merapikan buku yang sebenarnya sudah rapi, dan membiarkan remaja itu mengambil air tanpa disaksikan.
Baru ketika ia sampai di meja utama, dari sudut matanya ia melihat Bryan mengangkat gelas dengan dua tangan.
Ia minum seteguk.
Hanya seteguk kecil.
Lalu ia meletakkan gelas itu kembali dengan hati-hati, menutup buku, dan berdiri terlalu cepat sampai kursinya sedikit bergeser.
Keira tetap pura-pura sibuk.
Bryan berjalan melewati rak samping dengan langkah hampir tanpa suara. Ketika sampai dekat pintu, ia berhenti seolah ingin mengatakan sesuatu. Bahunya naik sedikit.
Tidak ada kata yang keluar.
Detik berikutnya, ia pergi dari perpustakaan seperti orang yang takut dikejar oleh perhatian.
Keira baru menoleh setelah pintu tertutup.
Gelas di meja kecil masih berisi separuh air.
Untuk ukuran orang lain, itu bukan apa-apa.
Untuk Bryan, itu sudah seperti membuka pintu seujung kuku.
Beberapa hari berikutnya, Keira mulai melihat pola yang sebelumnya tidak ia perhatikan.
Bryan tidak benar-benar tidak ada.
Ia hanya hidup di sela-sela jadwal orang lain.
Saat keluarga makan di ruang utama, Bryan tidak tampak. Tetapi setelah dapur hampir selesai membereskan, ada piring bekas dipakai di meja kecil dekat pantry belakang. Nasinya sedikit, lauknya dipilih yang paling sederhana, seolah pemilik piring tidak ingin membuat orang perlu memasak ulang.
Saat sepupu atau tamu keluarga melewati koridor utama, Bryan tidak muncul. Namun di perpustakaan, kursi pojok yang sama selalu sedikit tertarik dari meja, dan buku yang dibacanya berpindah satu halaman, kadang dua.
Saat staf rumah menyiapkan teh untuk Nyonya Besar, kopi untuk Ko Ethan, buah potong untuk Jayden, nama Bryan tidak pernah disebut.
Kalau Keira bertanya ringan, "Ko Bryan biasanya makan di mana?", jawaban staf selalu hampir sama.
"Beliau nggak minta apa-apa."
"Ko Bryan memang begitu."
"Kalau butuh, nanti beliau bilang."
Tetapi Keira tahu, ada jenis orang yang tidak meminta bukan karena tidak butuh.
Mereka tidak meminta karena terlalu lama belajar bahwa permintaan mereka merepotkan.
Hari kedua setelah pertemuan di perpustakaan, Keira meletakkan lagi segelas air putih suhu ruang di meja kecil dekat kursi Bryan.
Ia tidak menunggu.
Ia hanya menaruhnya, merapikan dua buku bergambar Jayden, lalu keluar.
Sore hari, gelas itu kosong separuh.
Hari ketiga, Keira menambahkan satu biskuit gandum dari dapur staf. Bukan biskuit mahal Jayden, bukan kue dari nampan tamu. Hanya biskuit biasa yang tidak membuat pemberiannya tampak seperti acara besar.
Saat ia kembali setelah menemani Jayden tidur siang, biskuit itu masih ada.
Gelasnya berkurang.
Hari keempat, biskuit itu hilang.
Keira berdiri di depan meja kecil beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Tidak ada siapa-siapa di perpustakaan. Hanya hujan sisa sore mengetuk kaca jendela, pelan dan teratur.
Ia tidak tersenyum lebar.
Senyum terlalu besar bisa terasa seperti kemenangan atas seseorang yang sedang belajar percaya. Jadi ia hanya menarik napas, mengambil piring kecil kosong itu, lalu menggantinya dengan yang baru keesokan hari.
Hari kelima, ada kertas di atas meja.
Keira menemukannya saat hendak meletakkan air dan biskuit seperti biasa.
Kertas itu kecil, robek rapi dari sudut buku catatan. Tulisannya tipis dan sangat lurus, seperti pemiliknya menekan pena dengan hati-hati agar tidak membuat kesalahan.
Terima kasih.
Kamu nggak perlu.
Keira membaca kalimat itu dua kali.
Di sana tidak ada tanda tangan. Tidak perlu. Di rumah sebesar ini, hanya ada satu orang yang akan berterima kasih seolah meminta maaf karena telah menerima segelas air.
Keira duduk di kursi seberang.
Ia mengeluarkan pena dari saku seragam, membalik kertas itu, lalu menulis di belakangnya.
Aku tahu.
Tapi aku mau.
Ia menatap kalimat itu sebentar.
Tidak terlalu panjang. Tidak terlalu manis. Tidak memberi janji yang belum tentu bisa ia tepati.
Hanya cukup untuk mengatakan bahwa Bryan tidak salah paham. Air itu memang untuknya. Biskuit itu juga. Perhatian itu bukan barang salah alamat.
Keira meletakkan kertas kembali di tempat semula, menaruh gelas dan biskuit di sampingnya, lalu keluar dari perpustakaan sebelum Bryan datang.
Di koridor, ia hampir bertabrakan dengan seseorang.
Keira berhenti cepat.
"Ko Ethan."
Ethan berdiri di dekat rak dinding, memegang satu map tipis. Entah sejak kapan ia ada di sana. Wajahnya seperti biasa, dingin, bersih dari rasa ingin tahu.
Namun matanya jatuh ke tangan Keira.
Keira baru sadar ia masih memegang piring kecil kosong dari hari sebelumnya.
Ethan melihat piring itu. Lalu melihat pintu perpustakaan di belakangnya.
"Kamu memberi makan siapa sekarang?"
Nada suaranya datar.
Keira tidak bisa membaca apakah itu teguran.
"Tidak ada, Ko Ethan. Saya hanya merapikan."
Ethan menatapnya.
Untuk beberapa detik, koridor terasa terlalu sunyi. Dari jauh terdengar langkah staf membawa troli, tetapi suara itu seperti datang dari rumah lain.
"Bryan tidak suka diganggu," kata Ethan.
Keira menahan napas.
"Saya tidak mengganggu."
"Semua orang yang masuk terlalu dekat selalu bilang begitu."
Kalimat itu tajam, tetapi tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu di bawahnya, mungkin pengalaman, mungkin peringatan.
Keira memilih jawaban paling aman.
"Saya akan menjaga jarak."
Ethan melewatinya satu langkah, lalu berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata, "Kamu terlalu baik untuk tempat ini."
Keira tidak tahu apakah itu pujian.
Atau peringatan.