Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vano Ku III
Aku menantikan hasil test darah yang Vano lakukan dengan kecemasan, sambil memangku Vano yang sedang rewel, aku hanya mampu untuk memanjatkan doa agar putraku diberikan kesembuhan segera.
“Anak Giovano Samudra” kata bagian obat memanggil nama Vano
“Iya mbak anak saya” kataku sambil berjalan cepat
“Ini bu hasilnya, ditunggu sebentar ya bu setelah pasien didalam ibu bisa masuk sabil menunjukkan hasil lab ini ke dokternya” kata petugas bagian obat menjelaskan
“Baik mbak, terima kasih”
Aku mnunggu hingga pasien didalam ruang periksa dokter itu keluar, kemudian aku bergegas masuk meruang itu.
“Selamat pagi dokter” sapaku pada dokter Donny
“Pagi, lho belum sembuh bu? Sudah di tes di lab ya? Sini bu saya lihat hasilnya” kata dokter Donny meminta hasil test darah Vano
“Lho bu ini demam berdarah, trombositnya rendah sekali ini bu, segera di bawa ke rumah sakit bu” kata dokter yang terkejut melihat hasil test darah Vano
“Ha? Apa dokter?” Tanyaku yang tiba-tiba seperti linglung
“Anak ibu kena demam berdarah, harus segera mendapatkan penangan medis di rumah sakit bu, jika terlambat bisa vatal akibatnya bu” jawab dokter Donny menerangkan dengan sabar karena melihat aku yang shock
“Baik dokter, sekarang saya langsung bawa ke rumah sakit” kataku yang kemudian beranjak berdiri menggendong Vano
“Jangan panik bu, semoga segera tertangani putranya” kata dokter Donny menenangkan sembari menyerahkan hasi test darah Vano
“Baik dokter terim kasih” kataku saat mengabil hasil test Vano dan bergegas memacu mobilku menuju rumah sakit.
Di perjalanan aku kembali mencoba menghubungi Bagas, dengan konsentrasi yang harus aku bagi antara menyetir, memperhatikan Vano, dan menghubungi Bagas yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Akhirnya aku memutusan untuk menghubungi mbak Sari.
“Assalamualaikum non”
“Wa’alaikumsalam mbak Sari tolong siapkan baju Vano dan baju saya ya, Vano kena demam berdarah mbak, ini saya perjalanan ke rumah sakit, nanti mbak Sari saya hubungi lagi di rumah sakit mana saya bawa Vano” kata ku menjelaskan dengan nada yang sangat khawatir
“Ya Allah non kasian den Vano, baik non saya siapkan semua keperluannya” jawab mbak Sari yang terdengar ikut khawatir
“Mbak Sari saya juga minta tolong mbak Sari bawa baju ganti juga ya, temani saya jaga Vano”
“Baik non”
“Mbak tolong kasi tulisan dikertas tempelkan di pintu kamar mandi saya, tulisannya ‘pah Vano kena demam berdarah, tolong hubungi mama ya pah kalau sudah baca pesan ini’ tulis seperti itu ya mbak, soalnya saya hubungi Bagas gak bisa terus, sapa tau dia pulang nanti” aku menyuruh mbak Sari untuk meninggalkan pesan untuk Bagas
“Baik non”
Aku menutup sambungan telepon dengan mbak Sari dan kembali memfokuskan pikiranku untuk mengemudi dan Vano.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung menghentikan mobilku di depan IGD dan langsung menggendong Vano untuk masuk,
“Sus tolong anak saya sudah lemas” kataku pada suster yang berjaga
“Kenapa ini bu anaknya?” Tanya suster yang menghampiri ku dan mengarahkan ku untuk meletakkan Vano di tempat tidur pasien IGD
“Ini hasil lab nya sus” aku menyerahkan hasil lab yang kemudian di terima dan dibaca oleh suster tersebut, dan bergegas meninggalkan kami
Tak lama dokter datang dengan tergesa-gesa,
“Bu ini harus segera di rawat inap ya, karena trombositnya sudah rendah sekali” kata dokter jaga IGD menjelaskan
“Iya dokter tolong anak saya” kataku memelas
“Ibu tenang dulu ya, ibu urus administrasinya untuk rawat inap, biar suster yang pasangkan infus dulu disini” kata dokter kembali memberikan arahan
“Baik dokter” kataku yang kemudian berdiri untuk ke bagian administrasi
Setelah usai mengurus administrasi, aku kembali di tempat Vano yang telah terpasang infus di tangannya, hatiku kembali seperti di cubit sakit sekali menyaksikan anak sekecil Vano harus lemas tak berdaya seperti ini.
“Assalamualaikum non” mbak Sari mengangkat telepon dari ku dengan cepat
“Wa’alaikumsalam mbak, sudah siap semuanya mbak?”
“Sudah non”
“Ya sudah mbak saya pesankan taksi online ya, saya di rumah sakit Pelita Harapan dekat rumah mbak” aku memberi tahukan lokasi rumah sakit tempat Vano
“Baik non,saya tunggu di depan rumah saja biar cepat”
“Iya mbak, ya sudah kalau gitu saya pesankan dulu” kataku kemudian menutup sambungan telepon itu
Setelah di pasangkan infus, sekitar 20menit kemudian Vano di pindahkan kamar rawat inap kelas 1 karena aku yang memintanya, aku ingin anakku lebih tenang untuk berisitrahat, walaupun tak ada tempat tidur untuk yang menunggu, dan tak ada kulkas tak apalah aku masih bisa tidur dengan posisi duduk.
Mbak Sari meneleponku saat sudah sampai di lobby dan aku menyuruhnya untuk langsung naik ke kamar rawat inap Vano, dengan terlebih dahulu memberi tahukan nomor kamar dan lantai berapa Vano di rawat.
Vano masih sangat lemah, dia tak mau makan bahkan minum susu pun dia hanya sedikit. Aku tawarkan untuk langsung meny*s* padaku pun dia tak mau.
Mbak Sari bergantian menjaga disamping Vano denganku. Aku duduk disofa dan memompa ASI ku karena jika tak di pompa maka akan merembes dan membuat aku panas dingin dan sakit di p*y*d*r*ku. Berharap Vano mau meminumnya sedikit demi sedikit.
“Mbak saya pesankan makan malam online aja ya?” Kataku pada mbak Sari
“Terserah non, saya ngikut aja”
“Nanti mbak Sari yang ambil di bawah ya”
“Siap non”
Setelah makanan yang kami pesan online datang, kami makan bersama sambil menjaga Vano yang sudah mau minum susu walau sedikit. Siang tadi mbak Sari membawakanku makanan sebelum dia berangkat ke rumah sakit, dia memasakkan aku telur dadar dan juga tumis kangkung. Katanya cuma itu yang bisa cepat di masak, agar aku bisa tetap makan siang, karena dia tau aku pasti melupakan makan siangku karena terlalu panik dengan kesehatan putraku.
Bagas belum juga menghubungiku hingga malam ini, entah dimana dia berada saat ini. Sebenarnya aku mencurigainya, tetapi aku selalu menampik pikiran burukku itu. Aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, walaupun yang terjadi tidak seperti itu. Pesan yang aku kirimkan pun hanya centang satu saja, telepon yang aku hubungi pun selalu tidak aktif. Sungguh aku bertahan karena aku tidak ingin Vano tumbuh dengan tidak ada sosok papanya. Aku ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Vano, seperti kedua orang tuaku yang memberikan perhatian penuh untukku.
Bersambung……..
...Hai teman-teman readers yang baik hati dan tidak sombong ☺️,...
...Boleh dong mampir kasi jempolnya dan komennya 🥰...
...Terima Kasih 😘😘😘...