Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perpisahan
Raiden melemparkan kepala Danzo yang sudah terbungkus ke depan Hiruzen yang masih terdiam meratapi dosa masa lalunya.
"Silakan, jika ingin dikuburkan! Sebenarnya aku ingin menancapkannya di tengah alun-alun Konoha, tapi aku masih berbaik hati dan sedikit menghormatimu sebagai Hokage. Lagi pula, pemandangan seperti itu tidak baik untuk anak-anak di bawah umur," ucap Raiden dingin.
Hiruzen menatap datar ke arah Raiden setelah melihat kepala Danzo menggelinding di depannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kotak kayu dan kain putih guna membungkus sisa jasad sahabat lamanya itu.
"Oh, satu lagi. Aku memang memuji filosofi Tekad Api milikmu. Kau menganggap seluruh desa adalah keluarga, dan Hokage adalah pelindungnya. Namun, jangan besar kepala dulu, Hiruzen! Aku memujimu bukan berarti aku menyukaimu. Ingatlah, suatu saat nanti, apa yang telah kau tanam akan berbalik menyerangmu!"
Raiden melangkah pergi meninggalkan markas Root, membiarkan Hiruzen tenggelam dalam keheningan dan penyesalan.
Malam masih menyelimuti desa. Raiden berdiri tegak di atas monumen kepala Hashirama. "Hmmm, kondisi antar-desa sekarang tampak tenang, ya, walaupun api permusuhan masih terasa di bawah permukaan," gumamnya pelan sembari menatap cakrawala.
Ia kemudian terjun ke aliran sungai yang berada di bawah monumen Hashirama dan Madara. Air dingin itu menyapu bersih sisa bercak darah yang ada di wajah dan bajunya. Setelah merasa segar, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Pagi harinya, Raiden duduk melamun di teras rumah. Tsunade yang melihat suaminya tampak memikirkan sesuatu segera mendekat. "Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?" tanya Tsunade lembut.
Raiden menoleh. "Tidak ada, aku hanya bingung ingin melakukan apa hari ini. Kemarilah."
Tsunade mendekat dan tanpa ragu duduk di pangkuan Raiden. ‘Hmmm, kenapa dia makin hari makin manja?’ batin Raiden sembari mengelus rambut istrinya.
"Tsuna, sepertinya aku ingin pergi berkelana sebentar untuk mengasah kemampuanku," ucap Raiden.
Mendengar itu, Tsunade seketika memeluk Raiden dengan sangat erat, seakan enggan melepaskannya.
"Heii... ini hanya sebentar. Kau tahu sendiri aku sangat bosan jika terus di rumah tanpa melakukan apa-apa," bujuk Raiden.
Tsunade melonggarkan pelukannya, matanya menatap tajam. "Berapa lama kau akan pergi?"
"Mungkin beberapa bulan," jawab Raiden jujur.
Tiba-tiba, aura Tsunade berubah. Ia berdiri dan langsung menyeret Raiden masuk ke dalam rumah. "Kau harus bersamaku malam ini! Jika aku belum puas, kau tidak diperbolehkan keluar dari desa!" tegasnya.
Raiden bergidik ngeri melihat tatapan posesif Tsunade, namun ia hanya bisa pasrah. Lagi pula, pria mana yang akan menolak permintaan "panas" dari istrinya sendiri?
Sesampainya di kamar, Tsunade mendorong Raiden hingga terlentang di tempat tidur. Ia mengunci pintu rapat-rapat dan melepas pakaiannya satu per satu. Tubuhnya yang indah terekspos sempurna di depan mata Raiden.
‘G-Cup! Walaupun aku sudah sering melihatnya, tetap saja ini pemandangan yang mengagumkan,’ batin Raiden bergejolak.
Malam itu, hingga fajar menyingsing dan matahari kembali meninggi, kediaman Senju dipenuhi oleh suara-suara yang menandakan gairah yang meluap. Jika saja mereka memiliki tetangga yang dekat, pastilah tetangga mereka tidak akan bisa tidur dengan tenang.
Sore harinya, Tsunade terbaring lemas tak berdaya. Wajahnya tampak kosong, matanya membelalak seolah tak percaya dengan stamina luar biasa suaminya. Raiden diam-diam tertawa melihat kondisi istrinya.
"Hehehe... itulah akibatnya jika berani menantangku. Bagaimana rasanya, xixixi?" goda Raiden.
Ia bangkit menuju kamar mandi, namun melihat Tsunade yang tampak kesakitan saat mencoba bergerak, ia merasa iba. Raiden berbalik dan menggendongnya dengan lembut.
"Sayang... pelan-pelan... sakit... mmmhhh..." lirih Tsunade manja.
Raiden tersenyum dan membawanya untuk mandi bersama guna memulihkan tenaga.
Pengembaraan Dimulai
Beberapa hari kemudian, Raiden berjalan menyusuri pasar Konoha. Ia masih menimbang-nimbang ke arah mana ia harus melangkah. Langkahnya terhenti di depan seorang penjual topeng.
"Berapa harga topeng ini?" tanya Raiden sembari memegang sebuah topeng Kitsune putih.
"1.500 Ryo," jawab si penjual.
Raiden membayar dan langsung mengenakannya. Topeng itu menutupi bagian atas wajahnya, hanya menyisakan bagian mulut yang terlihat. Di sisi kiri dan kanan topeng, terdapat tali merah dengan lonceng kecil yang berdenting pelan setiap kali ia bergerak.
‘Fuckkkk, mahal juga. Kalau di dunia lamaku, topeng begini mungkin tidak sampai semahal ini harganya,’ batin Raiden menggerutu.
Tanpa berpamitan lagi agar tidak terjadi "drama" tambahan, Raiden melompat ke atap rumah dan terbang melesat menjauhi gerbang Konoha, memulai perjalanan barunya sebagai pengembara misterius.