Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anget-angetan
El mendudukan tubuhnya di kursi kerja, dia melihat makan siangnya di atas meja yang saat ini di hinggapi lalat hijau.
Sial.. aku bahkan sampai lupa menutupi makananku. Kalau sudah begini mana bisa di makan.
El mengambil makanan miliknya dan membuangnya ke tempat sampah.
Hingga jam pulang kerja El terus-terusan mengumpat dan mengucapkan berbagai macam sumpah serapah yang ditujukan untuk atasan lucnatnya Kennan.
Untung besok sudah weekend. Dan aku juga sudah membuat planning pergi ke puncak, jadi bisa refreshing dan gak bakalan pria menyebalkan itu selama dua hari.
Setelah merapikan meja kerjanya El mengambil tas dan bergegas pulang. Bahkan dia tidak peduli dengan CEOnya yang belum keluar dari ruang kerjanya. Memang El patut di acungi jempol karna menjadi salah satu contoh sekertaris yang minta segera di pecat.
***
"Pa El besok akan pergi ke puncak bersama Raina dan Sasha," ucap El pada Aditya saat mereka sedang menikmati makan malam.
"Cuma kalian bertiga?" tanya Aditya penuh selidik. Dia curiga putrinya akan pergi bersama Leo juga.
"Iya pa. Kita sekalian akan ada acara reuni dengan beberapa teman Darma Bangsa," sahut El menundukan kepalanya.
Aku kan tidak berbohong. Memang benarkan kita pergi cuma bertiga? Ya walaupun Leo akan menyusul. Aku takut papa gak ngizinin kalau tau akan ada Leo juga.
"Apa kalian akan menginap?" tanya Aditya lagi.
"Iya pa kita akan menginap di vila Raina."
"Baiklah, tapi kalian harus jaga diri kalian disana. Karna kalian hanya akan pergi bertiga." Aditya selalu khawatir saat putrinya berpergian tanpa dirinya. Karna dia tidak bisa menjaga dan mengawasi putrinya sendiri.
El kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan makan malam dengan Aditya. Entah kenapa akhir-akhir ini papanya jadi sering pulang cepat. Tapi El tak mau ambil pusing, dia justru senang melihat papanya sering ada di rumah.
El meyiapkan beberapa baju dan barang-barang yang akan di bawanya ke puncak. Karna besok pagi-pagi sekali Raina akan menjemputnya sebelum menjemput Sasha. Mereka sengaja berangkat pagi agar masih memiliki waktu untuk hunting foto di perkebunan teh yang tak jauh dari vila Raina.
Setelah semua persiapannya selesai, El meraih ponselnya di atas nakas. Dia mengirim pesan untuk kekasihnya dan grup girl squad nya.
"Bee aku besok akan berangkat ke puncak di jemput Raina. Kamu kalau mau nyusul jangan lupa kabarin aku ya." send to Leo.
"Girls besok jangan lupa berangkatnya pagi biar kita bisa hunting foto dulu." Send to girl squad.
El merebahkan tubuhnya ke ranjang. Karna sudah sangat lelah bekerja. Ralat... bukan lelah bekerja tapi karna sangat lelah menghadapi pria menyebalkan, akhirnya tak butuh waktu lama El langsung terbang ke alam mimipi.
Tokk... tokk.. tokk..
"Non sudah di tunggu non Raina di bawah," ucap Bu Asih dari balik pintu kamarnya.
"Iya Bu, tolong bilangin suruh tunggu sebentar," sahut El yang sedang bersiap-siap. Dia hanya menyahuti ucapan Bu Asih tanpa membuka pintu kamarnya.
"Baik non." Bu Asih langsung pergi meninggalkan kamar putri majikannya dan menemui Raina untuk menyampaikan pesan dari El.
Kini mereka bertiga sudah berada di tol yang menuju puncak setelah tadi menjemput Sasha.
"Nanti Leo jadi nyusul?"tanya Sasha yang duduk di belakang seorang diri. Karna El duduk di samping Raina yang sedang menegemudikan mobil yang mereka tumpangi.
"Gak tau, semalem aku chat belum di bales. Paling kalau nyusul nanti juga bakalan telpon. Btw pacar kalian gak ada yang ikut?" tanya El.
"Lo ngledek apa ngehina?" ucap Raina yang sudah mencebikan bibirnya.
"El lo lupa apa pura-pura ogeb, sahabat lo ini kan gak laku-laku? Mana ada jomblo ngajak pacar," ucap Sasha sambil tertawa.
"Gue bukan gak laku, tapi gue pilih-pilih orangnya. Gak sembarangan orang bisa dapetin hati gue. Gak kayak kalian berdua cari pacar yang penting bernyawa doank."
"Eitss,, jangan salah. Karna bernyawa juga salah satu syarat biar bisa di ajak berkeringat bareng," sahut Sasha terkekeh.
"Elo mah yang di pikirin gituan mulu. Kenapa gak sekalian aja lo bawa pacar lo ke puncak biar bisa anget-angetan disana," ucap Rania.
"Pengennya sih gitu, biar kalian pengen. Tapi sayangnya doi gue lagi ada kerjaan di Beijing," sahut Sasha. El hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan absurd ke dua sahabatnya itu.
Perjalanan mereka memakan waktu hampir 4 jam karna jalanan padat merayap. Mungkin karna weekend membuat banyak orang yang juga ingin refreshing menghilangkan penat setelah hampir seminggu berkutat dengan pekerjaan masing-masing.
Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum hunting foto.
"Kita ke vila Fanny jam berapa?" tanya El saat dia sedang menikmati sop iga sapi di depannya.
"Paling jam 7 aja gimana? Kita mandi dan siap-siap dulu di vila gue," jawab Raina.
"Gue mah ngikut aja gimana enaknya," sahut Sasha.
"Huuwww... elo mah maunya yang enak-enak doang," sahut El dan Raina kompak.
"Lah gue normal lah. Mana ada orang yang mau di bikin gak enak," ucap Sasha.
"Serah lo dah," ucap El dan Raina makin kompak.
Mereka bertiga merebahkan tubuhnya dia atas ranjang. Ke tiganya baru sampai di vila Raina setelah tadi hunting foto di perkebunan teh. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan foto yang berhasil di jepret oleh kamera yang El bawa. Sudah banyak pose yang mereka lakukan, dari berdiri jongkok duduk miring kanan miring kiri. Bahkan foto sendiri berdua bertiga pun cukup banyak.
"Sha lo mandi duluan sana. Lo kan paling lama nanti siap-siapnya," ucap El yang kini sudah duduk dan menyenderkan kepalanya di headboard sambil melihat foto hasil jepretan mereka tadi.
"Wajar lah gue lama siap-siapnya. Wajah gue yang pas-pasan ini perlu banyak di manipulasi pakai make up biar gak kalah kalau saingan sama lo," ucap Sasha terkekeh.
Dia beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Raina sudah keluar kamar menemui penjaga vilanya.
Dan benar saja, saat El dan Raina sudah siap justru Sasha masih sibuk mendempul wajahnya sana sini, padahal sebenarnya tanpa make up berlebihan Sasha sudah terlihat cantik. Namun sayang gadis itu tidak percaya diri jika hanya make up tipis seperti El dan Raina.
"Ayo Sha, lo lama banget sih. Ini udah jam berapa loh, awas aja kalau sampai sana udah kelar acaranya. Trus kita gak kebagian makanan," rengek Raina. Pasalnya mereka bertiga sengaja tak makan dulu agar bisa makan banyak di party yang diadakan di vila Fanny.
"Lebay amat sih Rain, di sana kan bakal barbequean juga. Banyak lah makanan disana. Mau kamu makan sampai perutmu jebol juga masih bisa," sahut Sasha yang sedang menyisir rambut sebahunya. "Perfect..." ucap Sasha setelah melihat pantulan wajahnya di cermin.
Mereka pun berangkat dengan Sasha yang menyetir mobil. Karna Rania masih sedikit lelah setelah macet-macetan tadi pagi.
gimn Megan thort