Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Aroma Parfum
Setelah mereka sampai di lantai teratas gedung itu, Steve kemudian meminta Jesslyn untuk menunggunya sejenak di luar ruang kerja Jayden. Di lantai lima puluh ini hanya ditempati oleh beberapa orang pekerja yang memang berhubungan secara langsung dengan Jayden setiap harinya. Selain asisten pribadinya--Steven Wei--ada juga beberapa orang wanita yang merupakan sekretaris pria itu.
Jesslyn pun tersenyum ramah kepada ketiga wanita muda itu yang sedang melihat ke arahnya. Satu di antara mereka membalas senyum Jesslyn, sementara dua lainnya hanya terdiam seraya memindai Jesslyn dengan tatapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Tak lama kemudian, Steve pun keluar dari ruangan Jayden dan mempersilahkan Jesslyn untuk langsung masuk ke dalam ruangan atasannya itu. Jesslyn berdecak kagum dengan tatanan interior ruang kantor Jayden. Ruangan itu beberapa kali lebih luas dan terlihat apik dari pada ruangan mantan atasannya dulu, Ryan Huang.
Namun, Jesslyn pun segera tersadar. Ia berada di sini bukan untuk mengagumi ruangan ini ataupun pemiliknya yang menurutnya sangatlah menyebalkan. Jesslyn hanya ingin menyelesaikan urusannya dan harus pergi secepatnya dari sini, sebelum Diana datang dan mencari masalah lagi dengannya.
"Presdir Zhou, Nona Jiang sudah datang," ucap Steve. Jayden pun segera memberi isyarat agar Steve meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Selamat datang, Nona Jiang. Silahkan duduk," ucap Jayden seraya berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Presdir Zhou."
Jesslyn menjabat tangan Jayden dengan cepat dan segera melepaskannya lagi. Hal itu berlangsung hanya sekitar sepersekian detik dan membuat Jayden mengerutkan dahinya. Namun, kemudian ia pun mengerti, mungkin saja Jesslyn masih kesal dengannya karena kejadian kemarin siang.
"Baiklah. Silahkan duduk."
Jayden pun kembali duduk di kursi kebesarannya. Begitu pun dengan Jesslyn, ia menarik kursinya perlahan dan duduk di depan meja kerja Jayden. Kursi yang sama seperti yang diduduki oleh Peter beberapa hari yang lalu saat pria itu mencoba untuk memeras Jayden.
Sesaat keheningan pun tercipta. Jesslyn masih setia menunggu apa yang akan diucapkan oleh Jayden, sementara pria itu hanya duduk bersandar di kursinya dan sibuk memandangi wajah Jesslyn dalam diam. Membuat wanita itu menjadi gugup dan tak nyaman karena merasakan Jayden yang menatapnya dengan intens.
Tak tahan akan situasi canggung ini, maka Jesslyn pun memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu kepada pria itu.
"Presdir Zhou, kapan Anda akan menandatangani surat pemecatanku?"
"Kapan aku mengatakan akan menandatangani surat itu?"
Jayden balik bertanya dengan nada santai, membuat Jesslyn mengerutkan keningnya karena bingung.
"Apa maksud Anda? Bukankah Anda sudah memecatku? Jadi tentu saja Anda harus menandatangani surat pemutusan kontrak kerja itu, agar aku bisa secepatnya pergi dari perusahaan Anda dan mencari pekerjaan lain."
"Kapan aku memecatmu?" tanyanya lagi masih dengan nada yang sama.
"Apa?!"
Jesslyn terkejut, sementara Jayden hanya tersenyum melihat raut wajah Jesslyn yang kebingungan bercampur kesal.
"Presdir Zhou, aku mohon berhentilah bermain-main."
"Berhenti? Aku bahkan belum mulai," seringai Jayden yang membuat Jesslyn semakin kesal.
Jesslyn pun menarik napasnya dalam untuk meredakan emosi. Karena emosi berlebihan tidak baik bagi janinnya. Gerakan tangan Jesslyn yang mengelus lembut perutnya pun, tak luput dari pantauan Jayden. Ia pun kembali tersenyum melihat tingkah Jesslyn.
"Presdir Zhou, bukankah Anda sudah memecatku kemarin? Sekarang Anda malah tidak ingin menandatangani surat itu. Lalu untuk apa Anda memintaku datang ke sini?"
"Bagaimana kalau aku katakan aku rindu padamu?"
Jesslyn pun menatap tajam Jayden yang sedang menggodanya. Selesai sudah. Ia sangat kesal dengan tingkah aneh bos besarnya ini.
"Presdir Zhou, aku sungguh tidak mempunyai waktu untuk melayani lelucon Anda. Jika Anda tidak ingin menandatangani surat itu, maka aku tidak akan mengganggu Anda lagi. Permisi."
Jesslyn pun berdiri dari kursinya karena merasa Jayden hanya mempermainkannya saja. Ia tak berharap lagi akan gaji dan pesangonnya karena ia sungguh tidak tahan berdekatan dengan Jayden.
Entah mengapa ia kembali merasa pusing dan mual, padahal Jesslyn telah mengkonsumsi vitamin pereda mualnya pagi tadi. Jadi sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri dengan muntah di hadapan pria itu, maka lebih baik ia segera pergi dari sini.
Melihat mangsanya yang akan pergi lagi darinya, Jayden pun segera menghentikannya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Jayden bangkit dari kursinya dan menghampiri Jesslyn. Ia menarik tangan Jesslyn untuk mencegah kepergian wanita itu.
"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai berbicara."
"Presdir Zhou, lepaskan aku!"
Jesslyn meronta agar pria itu melepaskan tangannya, tetapi Jayden tetap memegangnya erat dan semakin mendekati wanita itu.
"Apa yang Anda lakukan?! Menjauh dariku!"
Wajah Jesslyn semakin pucat. Bukan hanya karena ia menahan mual, tetapi juga karena takut Jayden akan bertindak tidak sopan kepadanya, karena kini pria itu telah menyudutkannya hingga ke tepi meja kerjanya.
"Presdir Zhou, kumohon menjauh dariku!"
"Bagaimana jika aku tidak mau? Bukankah kau datang untuk mengambil surat pemecatanmu? Apa kau sudah tak menginginkan uang gaji dan surat referensi kerjamu itu lagi? Hem?"
Jesslyn menahan dada Jayden dengan kedua tangannya. Memberi jarak di antara mereka karena Jayden semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Jesslyn.
"Tidak, aku tidak mau surat itu lagi. Anda juga bisa memiliki gaji dan uang pesangonku. Aku akan menganggapnya sebagai sedekah. Jadi sekarang menyingkirlah. Lepaskan aku!"
Jesslyn terus berusaha untuk mendorong tubuh kekar Jayden agar menjauh darinya. Karena kini pria itu telah melingkarkan salah satu lengannya di pinggang Jesslyn.
"Heh! Sedekah?" Jayden tertawa sinis. "Apa kau pikir aku kekurangan uang hingga aku harus mengambil uang receh itu darimu?"
Ia menahan dagu Jesslyn agar wanita itu menatapnya. Namun, Jesslyn pun menepis tangan Jayden dan segera menutup mulutnya. Ia sungguh tidak tahan lagi dengan aroma parfum yang dikenakan oleh pria ini.
"Presdir Zhou, aku mohon menjauhlah dariku. Kau membuatku mual."
Kata-kata Jesslyn membuat Jayden salah paham, karena mengira jika Jesslyn jijik saat berdekatan dengannya. Ia pun menjadi semakin naik pitam.
"Kau bilang apa?!"
Jayden geram dan mencengkeram rahang Jesslyn dengan kencang. Namun, saat melihat wajah Jesslyn yang semakin pucat, dengan air mata yang menggenang di bola matanya, Jayden pun segera melepaskannya.
"Toilet. Aku ingin ke toilet," ucap Jesslyn seraya menutup mulutnya yang hampir saja muntah di hadapan Jayden. Dan dapat dipastikan maka ia akan mengotori setelan jas mahal bos besarnya itu.
Melihat Jesslyn yang terlihat panik, Jayden pun segera menunjuk ke arah ruang istirahatnya.
"Di sana!" ujar Jayden seraya meraih remote control dan membuka pintu ruang istirahatnya.
Jesslyn kemudian berlari ke arah kamar Jayden dan segera masuk ke dalam toilet.
Seperti biasa, ia langsung mengeluarkan semua isi perutnya yang sudah ia tahan sejak tadi. Hanya berupa cairan putih yang merupakan susu kehamilan yang ia minum saat sarapan tadi. Karena memikirkan Peter, maka Jesslyn tidak berselera makan dan hanya meminum segelas susu hangat saja.
'Ada apa denganku? Mengapa aku selalu mual saat berada di dekatnya? Apa vitamin itu tidak manjur? Tetapi, mengapa aku tidak merasakan apa pun saat berdekatan dengan yang lainnya? Kurasa pria itu memang bencana untukku.'
Jayden berdiri menghadap ke jendela dan menyalakan rokoknya. Ia sangat kesal karena tingkah Jesslyn tadi. Lagi-lagi wanita itu menolak untuk bersentuhan dengannya. Bagaimana ia bisa mendapatkan Jesslyn, jika wanita itu selalu saja menolak saat Jayden akan mendekatinya?
"Permisi, Presdir, ini kontrak kerja yang baru untuk Nona Jiang."
Steve datang ke ruangan Jayden dan seketika ia pun bingung karena tidak mendapati kehadiran Jesslyn di sana.
"Lho?! Ke mana Nona Jiang? Apa dia sudah pergi?"
"Dia di toilet!" ucap Jayden kesal dan segera duduk kembali di kursinya. Ia meletakkan rokoknya di asbak kecil tanpa mematikannya.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi seseorang yang membuka pintu ruang peristirahatan Jayden. Steve pun membelalakkan matanya saat melihat Jesslyn yang baru saja keluar dari sana.
"Toilet di luar terlalu jauh."
Jayden berkilah. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Steve. Karena Jayden tidak suka jika ada orang lain yang menggunakan barang-barang pribadinya. Bahkan Diana pun tak pernah diizinkan untuk masuk ke ruang istirahatnya itu. Namun, saat Jesslyn berteriak mencari toilet tadi, Jayden pun tanpa sadar menunjuk ke arah ruang istirahatnya itu.
Steve pun hanya tersenyum dan mengangguk mengerti. Ia kemudian memberikan dokumen kontrak kerja tadi kepada Jayden.
"Ini dokumennya, Presdir."
Jesslyn berjalan mendekati meja kerja Jayden dan berniat mengambil tas-nya yang tadi terjatuh saat ia berlari ke toilet. Namun, karena Jayden sempat merokok tadi, maka Jesslyn pun kembali mual karena menghirup asap rokok yang masih terlihat mengepul di ruangan ber-AC itu. Jesslyn pun kembali berlari ke dalam ruang istirahat Jayden lagi.
"Apa ada dengannya?! Mengapa ia selalu mual jika berdekatan denganku?! Apa menurutnya aku begitu menjijikan?!" teriak Jayden kesal dan membanting dokumen itu ke atas mejanya.
'Selalu mual?! Apa mungkin Nona Jiang ...?'
Steve pun segera meraih pengharum ruangan dan menyemprotkannya ke seluruh ruang kerja Jayden. Ia juga meminta Jayden untuk berdiri dan melepaskan jas kerjanya. Kemudian Steve menyemprotkan parfum baru dengan aroma yang lebih ringan ke tubuh Jayden. Beruntung, beberapa sample parfum itu masih ada di etalase ruang kerja Jayden.
"Hey! Apa-apaan ini?! Kau sudah bosan hidup, ya?!" teriak Jayden marah.
"Patuhlah sebentar, Presdir. Anda tidak ingin membuat Nona Jiang mual lagi, 'kan? Apa Anda tidak kasihan kepadanya yang terus berlari bolak balik ke toilet? Lihatlah tadi, wajahnya sudah pucat."
"Kau ...! Apa maksudmu?! Apa kau ingin mengatakan jika aku memang menjijikan?!"
.
.
.