[Season 1 (Tamat) : Bab 1 - 136 + Extralove]
[Season 2 (On-Going)]
Season I
Tidak pernah kusangka pada akhirnya aku akan menikah.
Kehilangan keluarga tercintanya dalam satu kecelakaan tragis menjadi satu alasan yang sangat cukup bagi Nana untuk menutup dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Menghilang bertahun-tahun dan siap melupakan apa itu cinta, hingga akhirnya satu telepon mendadak dan tanpa disangka menjadi awal dari langkah bangkitnya hingga berujung pada pertemuannya dengan pria antah berantah yang juga sama kelamnya dengan dirinya dan berakhir pada perjodohan tidak terduga.
Nana adalah seseorang yang sudah siap melupakan masa lalu dan terpuruk pada masa depannya, sedangkan Al adalah pria gila kerja yang lupa pada kebutuhan hatinya sendiri.
Mereka berdua terbenam dalam pusaran rasa yang sama hingga di satukan dalam sebuah perjodohan. Lantas, mampukah mereka berdua untuk belajar saling membuka diri? Belajar saling menerima?
Mampukah mereka pada akhirnya merengkuh cinta yang telah lama dilupakan?
Season II
Tak pernah kusangka, berawal dari tak suka namun berakhir cinta. Namun, apakah jalan cinta akan semudah itu untuk kita? [Alesha]
Di antara dua hati, manakah yang harus kupilih? [Atha]
Jika jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan, maka kumohon, hapuskan rasa cintaku padanya. [Zahra]
Salahkah jika aku mencintainya? [Zahran]
Dia bilang kami berbagi apapun, lantas, apakah aku juga jatuh cinta pada orang yang sama? [Zayyan]
Bagiku, cinta bukanlah segalanya. [Alvarendra]
Aku mencintainya! [Maxmillan]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. DRIVING ME CRAZY
N A N A POV
Pukul 20.05 WIB Kediaman Keluarga Nasution, Pekanbaru.
Setelah selesai menunaikan segala kewajiban yaitu shalat maghrib dan isya, packing beberapa barang dan juga pamitan ke Papa, Mama dan Nia, Aku dan Abang siap pulang ke rumah kami di Duri.
Mobil kami pun mulai keluar gerbang rumah lalu tampak lah jalanan malam Pekanbaru yang gemerlap memnuhi langit malam tanpa bintang.
Aku masih menggunakan pakaian tidur yang ku pilih tadi sore, Abang bilang “Kita nggak ada berhenti nanti karena bahan bakar mobil nya sudah Abang isi penuh, jadi kalau Nana mau pake baju tidur aja nggak apa-apa.” ucap nya lembut seperti biasa.
Hoaaam, nguap ku pelan seraya menutup mulut ku.
“Hem, sudah ngantuk, Na?” tanya nya.
Wajah ku pun menoleh ke arah Abang dengan mata ku yang sudah sayu, “Hem, Nana kalau sudah di dalam mobil emang biasanya langsung tidur, Bang. Maaf ya, Nana nggak bisa jadi navigator cantik Abang, hoaaam.” ucap ku seraya menguap.
“Nggak apa-apa, lagi pula perjalanan kita nggak lama kok, apalagi sekarang sudah ada tol, jadi dua jam perjalanan juga sudah nyampe rumah, Sayang.” balas nya seraya fokus menatap ke depan.
“Oh iya, kursinya di rendahin aja, jadi Kamu nyaman tidur nya ya,” tambah nya lagi.
“Iya, Nana tidur dulu ya, Sayang. Assalamu’alaykum,” salam ku seraya mengulas senyum.
“Wa’alaykumussalam.”
...***...
Pukul 04.44 WIB Kediaman Muhammad Al Nasution, Duri.
Tubuh ku berat seperti ada sesuatu yang berat dan besar menindihi sebagian tubuh atas ku.
“Ehmmh,” geliat ku kemudian seraya mulai buka mata.
Mata ku masih tertutup namun tangan ku mulai meraba sesuatu tersebut.
“Ehmmh,” geliat ku lagi dan oh ternyata tangan Abang serta sebagian tubuh nya sedang memelukku erat.
“Abang, berat. Nana mau bangun, hem, Abang.” panggil ku lagi, duh serius, badan Abang tuh gede banget kalau dibandingin sama Aku, hem bukan berarti Abang gendut ya, of course not, massa otot Abang berat, itu maksud ku.
Abang tuh punya postur tubuh tinggi sekitar seratus delapan puluh tujuh sentimeter, terus bahu nya lebar tapi pinggang nya ramping, dada nya bidang dan kekar, cuma perut nya nggak sixpack bukan berarti buncit juga, hanya rata nggak sixpack gitu.
Itu mengapa Aku tidak kuat untuk mendorong tubuhnya yang cukup berat ini, sungguh. Soal nya walaupun Aku lemah tapi Aku tipe yang kurang suka menunjukkan kelemahan ku itu.
“Hemm?” gumam Abang kemudian.
Kelopak mata nya kemudian perlahan terbuka pelan, “Morning Love,” sapa nya lembut.
Ahhh, you driving me crazy baby in this morning! Wahh, how speechless I am, pekikku.
“Hahah, suka banget ya di sapa pake ‘love’?” ucap nya usil.
“I love it,” ucap ku seraya mengecup dada nya.
Dengan rakus ku hirup harum tubuh nya lambat-lambat, arghh, suka.
“Bang, jadi ini kamar kita?” tanya ku kemudian.
“Iya, gimana? Suka nggak, Nana?” jawab nya sekaligus bertanya kembali.
“Suka, nggak terlalu besar dan perabotan di dalam nya nggak terlalu rame, jadi nggak sumpek.” ucap ku jujur.
“Bang, berat. Geser, Nana mau ke kamar mandi.” tambah ku lagi.
“Ah, nggak mau. Abang mau peluk Nana sampe shubuh. Masa nggak boleh?” tanya nya usil seraya semakin meng-eratkan dekapannya.
“Ih,” ucap ku singkat dan tanpa sadar memajukan bibirku.
Tanpa aba-aba Abang pun kemudian tertawa pelan—ah tepat nya seperti cekikikan gitu.
“Jadi gitu kalau lagi merajuk, iya deh iya,” ucap nya seraya melepas pelukannya.
Aku kemudian beranjak turun dari kasur seraya nyengir kuda di depannya dan dengan cepat masuk kamar mandi.
Ah sampai lupa, handuk nya belum di bawa. Namun belum sempat Aku keluar lagi, pintu kamar mandi ku dibuka dari luar, dan “Nih, Adek lupa lagi bawa handuk nya,” ucap nya lembut seraya tersenyum jenaka.
“Makasi,” balas ku seraya mengulas senyum.
Lima belas menit kemudian berlalu dan bukan hanya Aku yang sudah selesai mandi, namun Abang juga. Kami pun kemudian menunaikan ibadah shalat shubuh berjamaah. Setelah shalat dilanjutkan dengan doa dan baca alqur’an.
“Abang mau sarapan apa pagi ini?” tanya ku seraya merapikan mukenah dan sajadah.
“Hem, Abang biasanya kalau pagi gini sarapannya roti tawar panggang pake selai vanila plus kopi sih,” ucap Abang menerangkan.
“Oh, hampir sama kayak Nana. Nana juga biasanya sarapan roti tawar tapi pake selai coklat plus susu coklat.” balas ku kemudian .
“Hem, oh iya, bahan-bahan untuk sarapan dan makan siang plus makan malam nya sudah ada Bang?” ingat ku.
“Ada, kemarin Abang hubungi karyawan toko Abang untuk siapin bahan-bahannya mulai dari sembako juga sayur, ikan, daging dan snack untuk Nana.” jawab nya.
“Alhamdulillah kalau gitu, Nana mau langsung cek rumah dulu sekalian cari dapur yah.” usul ku. Namun belum sempat Aku melangkah jauh, tangan Abang sudah memeluk perut ku erat hingga Aku jatuh terduduk di atas paha nya.
Masih dengan posisi memelukku dari belakang, kepala nya kemudian bertumpu di atas bahu ku, lalu…
CUP.
Kecup nya di lekukan leher kiri ku.
“Hemm, Abang ih mulai lagi.” seru ku gemas.
“Mulai? Kita bahkan belum memulai apapun, Sayang.” ucap nya gemas seraya kembali mengecup leher hingga menyibak sedikit kerah baju untuk mengakses bahu kiri ku.
CUP.
Kali ini kecupannya lembut dan juga lama.
“Hemm, Abaang..” panggil ku seraya menggeliat pelan. “Geli, sungguh.” tambah ku lagi.
“Nana ingat tidak kita belum melakukannya loh.” ucap nya kemudian.
Kepala ku refleks miring ke kanan setelah mendengar ucapannya barusan—itu kebiasaan setiap ada hal yang tidak ku mengerti maksudnya.
“Maksud Abang?” tanya ku kemudian.
“Hem, masa Nana nggak tahu?” tanya nya kemudian dengan nada sedikit tidak percaya.
CUP.
Kecup nya kemudian pada punggung atas ku.
“Heeeemm, Abang, ih gelii,” seru ku tanpa sadar.
Dan Abang pun dengan cepat tanpa mampu ku halau menarik tubuh ku kebelakang hingga kami berdua terjerembab bersama di atas kasur.
“Nana beneran nggak tahu?” tanya nya lagi memastikan—ia sudah mengubah posisi kami dimana Aku terperangkap dalam kurungan kedua lengannya.
“Ih, ini soal apa sih Bang? Nana nggak paham? Apa yang belum kita lakukan?” tanya ku heran.
CUP.
Kecup nya kemudian lembut, dalam dan hangat tepat di bibirku. Oh, ini hal yang sangat baru bagiku. Sensasinya sungguh berbeda. Menggelitik atau apa ya?
“Hemmm,” gumam ku.
Perlahan kemudian bibir Abang mendekat ke telinga kanan ku, suara nya rendah dan bergumul pelan memenuhi telingaku. Bisiknya pelan dan pelan, ucapannya lembut, oh tidak, informasi apa ini yang sebenarnya Abang ceritakan? Huaaa, wajah ku, wajah ku memerah seperti kepiting rebus rasanya—Abang bisikin soal apa saja kewajiban seorang suami dan istri.
“Jadi, sudah benar-benar paham kan?” tanya nya kemudian.
Aku malu, sungguh. Malu sekali, entah sudah seperti apa warna pipi ku saat ini.
Abang pun kemudian menundukkan kepala nya lagi lalu berbisik di telinga kananku, “Sayang, Abang, ingin.” pinta nya penuh arti.
DEG.
DEG.
Detak jantung ku berdenyut kencang dan entah mengapa tubuh ku rasanya terguncang hebat, tidak, maksudku bagian dalam nya—seperti hati atau organ apa pun yang di dalam nya. Darah ku berdesir hangat dan seakan ingin meledak mendengar permintaan nya barusan.
Suara nya dalam dan lembut.
Argggh! You really driving me crazy, Baby!
...***...
Thor aku padamu